Tragedi Bachelor Party

Tragedi Bachelor Party
Tujuh Puluh Sembilan


__ADS_3

Loli meringis mendengar cerita Nala tentang bagaimana ia dan Zayn bisa bertemu hingga melewati malam panas dan berbuah janin di rahim Nala.


Nala hanya menceritakan nya secara rinci pada sang adik. Keduanya sedang berada di kamar Nala sehabis makan siang sementara mama Dita diminta papa Rudi untuk ke kantor dan menemaninya menghadiri Sebuah acara. Papa Rudi memang pantang menghadiri acara tanpa didampingi oleh istrinya.


"Jangan merasa bersalah, karena ini murni kesalahan kakak dan Zayn. Harusnya kami bisa berdamai dengan goresan takdir bukan malah melampiaskan kekecewaan dengan melakukan hal yang dilarang" ucap Nala sambil menggenggam tangan adik nya.


"Ini sudah jalan hidup yang mau tidak mau harus kita lalui dek, meski caranya teramat menyakitkan. Maaf kakak terlambat menyadarinya. Setelah melihat bagaimana Marcell memperlakukan kamu kakak jadi yakin kalau Marcell memang tercipta untuk kamu sayang. Selama 5 tahun bersama Marcell tidak pernah menatap kakak seperti dia menatap kamu sekarang. Perlakuannya pun jauh berbeda, kakak yakin rasa cinta yang Marcell miliki untuk kakak dulu sama sekali tak sebanding dengan rasa cinta yang dia miliki ke kamu. Kakak sudah ikhlas sekarang dek, jadi kakak mohon jangan merasa bersalah. Berbahagialah" Lanjut Nala dengan senyuman tulus dan tatapan hangat. Setetes air mata haru jatuh dari mata Loli. Ia merasa benar-benar lega.


"Kak Zayn juga pria yang sangat baik kak, Loli yakin kak Zayn akan membahagiakan kak Nala" Mendengar nama Zayn disebut membuat hati Nala kembali gundah. Wajahnya berubah sendu.


"Yah, Zayn pria yang baik. Tapi selama ini kakak tidak mensyukuri keberadaan nya dek. Kakak terus melukai hatinya, dan sekarang dia pergi." lirih Nala dengan air mata yang berhamburan, hati Nala terasa perih. Sesal bercampur rindu teramat menyiksanya.


"Maksud kakak" Loli mengusap pundak kakaknya yang semakin terisak, Ia merasa tak tega melihat kesedihan di mata sang kakak.


Nala mulai bercerita dengan terbata karena isakan tangisnya semakin kencang, semakin Nala bercerita semakin ia merasakan kerinduan yang mendalam pada suaminya. Nala juga menyadari betapa berartinya sosok Zayn bagi dirinya kini.


"Kakak harus gimana dek?" tanya Nala mengiba. Ia kebingungan mengambil langkah.


"Dibalik sikap yang ia tunjukkan pada kak Nala selama ini, pada dasarnya perasaan kak Zayn itu begitu halus kak. Dia nggak mungkin menyimpan kemarahan nya terlalu lama pada kak Nala. Percayalah saat ini kak Zayn sedang menata hatinya, dia pasti akan kembali bersikap seperti semula pada kakak" ucap Loli meyakinkan.


"Kakak uda minta maaf?" Tanya Loli lembut


"Kakak nggak berani" Nala terlalu malu untuk mengakui pada Loli bahwa ia merasa gengsi untuk meminta maaf lebih dulu pada suaminya.

__ADS_1


"Kalo menurut Loli, ada baiknya kakak minta maaf dulu sama kak Zayn. Bicara dari hati ke hati, Loli yakin kak Zayn akan langsung memaafkan kakak" yah Nala pun sangat meyakini itu, hanya saja saat ini terlalu sulit baginya untuk meruntuhkan egonya.


"Se-sebenarnya kakak sedang berusaha menaklukan ego kakak dek, karena jujur berat banget buat minta maaf. Kakak juga nggak tau kenapa begitu sulit, mungkin karena usia Zayn lebih muda dari kakak. Jadi kakak merasa harga diri kakak akan jatuh jika meminta maaf"


Loli menatap tak percaya pada Nala, namun ia berusaha untuk tak menunjukkan betapa ia sangat gemas pada pemikiran sang kakak.


"Kak menurut Loli sekarang ini bukan saatnya memikirkan tentang harga diri. Meminta maaf nggak membuat posisi kakak lebih rendah dan kak Zayn jadi lebih tinggi. Loli yakin kak Zayn juga nggak akan memandang rendah kak Nala atau menginjak-injak harga diri kakak jika kak Nala meminta maaf. Sekarang Loli tanya ke kak Nala menurut kakak mana yang lebih penting sekarang, keselamatan rumah tangga kalian atau harga diri kakak? lagi pula saat ini justru harga diri kak Zayn yang sudah kak Nala lukai, jadi memang sudah seharusnya kakak yang minta maaf. Oh ya kak maaf kalau ucapan Loli menyinggung hati kakak"


"Jadi kakak harus gimana?" Tanya Nala sendu.


"Kakak telfon atau kirim chat ke kak Zayn kak, atau enggak temui dia"


🍁🍁🍁


Loli balas tersenyum, lalu kembali memejamkan matanya. Ia merasa lucu pada dirinya sendiri, mungkinkah ia terlalu rindu hingga belum 24 jam berpisah dengan suaminya Loli sudah bermimpi tentang keberadaan pria itu di kamarnya.


"Sayang" Loli mendengar bisikan suaminya, Loli kembali tersenyum. Ia menikmati mimpinya dengan bahagia, setidaknya kerinduan nya bisa terobati dengan kehadiran Marcell di alam mimpi.


"Ngantuk banget ya istrinya Marcell?" Loli mendengar bisikan itu lagi bersamaan dengan kasurnya yang bergerak lalu ia juga merasakan dekapan hangat di tubuhnya.


Loli mengerutkan kening tanpa membuka matanya, ia merasa mimpi ini begitu nyata. Bahkan ia bisa mencium aroma suaminya. Loli memaksakan matanya untuk terbuka, ia beberapa kali mengusap wajahnya lalu tubuhnya berbalik.


Loli terbelalak kaget mendapati Marcell yang tersenyum padanya. Ternyata Marcell benar-benar ada di dekatnya dan ini bukan mimpi.

__ADS_1


"Sa-sayang kok di sini?" Tanya Loli bingung. Ia melirik jam di dinding, saat itu menunjukkan pukul 02.00 dini hari.


"Kangen" Marcell mencium bibir Loli sekilas.


"Aku nggak tenang ninggalin kamu, makanya aku memutuskan untuk pulang. Kerjaan nya juga uda beres" ucap Marcell. Ia nekad menembus malam menempuh perjalanan hampir 4 jam untuk pulang ketika urusannya sudah selesai.


"Bahaya banget pulang malam-malam, kenapa nggak ditahan sampe besok?" Untung saja pria itu tak mengabarinya dulu, ia pasti tak akan tenang sebelum suaminya tiba.


"Kan sama sopir" Ucap Marcell kembali memeluk erat tubuh Loli. Lelah yang ia rasakan sebelumnya tak lagi berbekas saat sudah menatap wajah teduh Loli, menghirup aroma tubuhnya dan memeluknya dengan erat


"Kalo sopirnya ngantuk gimana? kan bahaya banget pa" Loli sampai merinding membayangkan sesuatu yang buruk terjadi pada suaminya.


"Yang penting sekarang aku uda ada di sini sayang. Jangan berfikir terlalu jauh"


Loli tiba-tiba menangkup pipi Marcell dengan kedua tangan nya.


"Tapi ini beneran kamu kan sayang?" Loli menatap wajah Marcell seolah tengah meneliti tiap inchi wajah itu untuk memastikan bahwa yang ada di hadapannya itu benar-benar Marcell suaminya.


"Maksud kamu?" Tanya Marcell dengan menahan tawanya.


"Siapa tau kamu arwah yang ingin memberi petunjuk bahwa terjadi sesuatu sama kamu" ucap Loli dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca. Sontak saja Marcell tertawa keras, istrinya benar-benar polos. Namun melihat wajah khawatir istrinya membuat Marcell juga tak tega untuk menertawakan nya terlalu lama. Ia segera memegangi tangan Loli yang berada di pipinya


"Sayang ini beneran aku suami kamu, papanya anak kita. Aku nyata sayang, masih hidup" Marcell membawa tangan istrinya untuk meraba seluruh wajahnya. Ia juga menciumi tangan itu untuk meyakinkan Loli bahwa ia benar-benar nyata.

__ADS_1


🍁🍁🍁


__ADS_2