
Arimbi tak pernah mengira penantiannya akan berakhir menyakitkan seperti ini. Berapa banyak pria yang mendekatinya tak pernah ia gubris karena ia menjaga hatinya hanya untuk Marcell, dan selama ini ia begitu yakin Marcell pun melakukan hal yang sama sepertinya.
Namun Arimbi merasa sangat terluka mendapati fakta bahwa perasaan mereka tidak sama, bahkan Marcell hanya menganggap kisah mereka sebagai cinta monyet.
"Sejauh apapun kamu pergi, kita akan bertemu lagi dan akan kembali bersama kalau Tuhan menggariskan kita berjodoh"
Arimbi masih mengingat dengan jelas ucapan Marcell saat ia berpamitan sambil menangis.
Papa Arimbi pindah tugas ke salah satu pulau di bagian barat Indonesia. Arimbi yang baru kelas 1 SMA itu mau tak mau ikut pindah meski hatinya begitu berat mengingat hubungan nya dengan Marcell yang sedang hangat-hangatnya karena baru menjalin kasih selama 3 bulan.
Arimbi merengkuh erat ucapan Marcell sebagai kekuatan saat berjauhan dengan pria pertama yang berhasil merebut hatinya itu. Andai kala itu komunikasi sudah semudah dan selancar sekarang mungkin ia tak akan kehilangan Marcell seperti ini.
Arimbi mengusap air mata yang membanjiri wajahnya. Ia merasa teramat kehilangan, ia tak pernah menganggap kisahnya dan Marcell sebagai kisah cinta anak ingusan yang akan berubah dengan mudah. Ia tulus mencintai Marcell. Arimbi hanya menginginkan pria itu untuk mendampingi hidupnya.
Arimbi merasa menjadi pecundang yang dipaksa menyerah begitu saja tanpa sempat berjuang.
Sementara itu setibanya Marcell dan Loli di kediaman mereka, sehabis membersihkan wajah dan mengganti pakaian Loli menaiki ranjang di mana Marcell telah menunggunya.
"Langsung tidur ya?" ucap Marcell meski ia tau istrinya sedang dirundung gelisah akibat ucapan Arimbi.
Loli melayangkan protes lewat matanya namun ia tak berani bersuara.
"Uda malam banget, kasihan adik bayi kalo diajak begadang. Apalagi kalo cuma buat ngebahas hal yang nggak penting"
"Tapi bagi aku penting, bu Arimbi mantan pacar kakak?" Loli sudah tak tahan menyimpan rasa penasaran nya. Ia selama ini mengira suaminya hanya memiliki satu orang mantan kekasih yaitu Nala kakaknya.
__ADS_1
"Iya waktu masih kelas 1 SMA cuma bentar juga karena dia pindah sekolah" Jawab Marcell sambil mengusap rambut Loli yang tubuhnya ia dekap erat.
"Kakak cinta sama bu Arimbi?" tanya Loli. Ada rasa tak nyaman di hatinya.
"Anak SMA kelas 1 kayaknya belum ngerti arti cinta dek, mungkin sebatas suka aja. Kakak bahkan lupa pernah pacaran sama dia loh sayang. Kalau bukan karena tadi ketemu mungkin kakak juga nggak akan pernah ingat pernah punya kenalan yang namanya Arimbi" ucap Marcell sambil tertawa.
"Ih kakak jahat banget, padahal kayaknya bu Arimbi masih cinta banget sama kakak" Satu sisi ia merasa kasihan dengan guru favoritnya itu, namun di sisi lain Loli juga merasa lega karena Marcell tak menempatkan bu Arimbi pada bagian spesial di hatinya.
"Yah mau gimana lagi sayang, kakak beneran lupa sama dia selama ini. Gimana dong? apa kakak harus maksain buat cinta sama dia ya?" tanya Marcell sambil menatap pada Loli yang juga sedang menatap padanya. Raut wajah Loli berubah masam.
"Terserah kakak" Ucap Loli sambil mengalihkan tatapannya. Loli ingin melepaskan diri dari dekapan Marcell namun tentu saja pria itu tak akan membiarkannya.
Marcell malah meraih wajah Loli agar menatap padanya.
"Makanya percaya sama kakak sayang, Arimbi sama sekali nggak meninggalkan jejak apapun di hati kakak. Jangan memberi celah pada segala hal yang bisa menyakiti hati kamu. Jangan biarkan prasangka buruk menguasai kamu"
"Jangan bahas itu lagi oke?" Bisik Marcell semakin mendekatkan wajahnya pada Loli. Gadis itu mengangguk dengan mata terpejam saat bibir Marcell mendarat di bibir nya. Sesapan nya terasa lembut namun bergelora.
Marcell memainkan bibir Loli dengan bibir dan lidahnya, rasa manis yang menguar menambah sensasi yang semakin meledakkan diri pria itu.
Tubuh Marcell semakin memanas kala mendengar des ahan dari bibir Loli disela pertautan bibir mereka. Loli bahkan mulai membalas sesapan Marcell menandakan dirinya telah ikut terbakar gairah yang suaminya ciptakan.
Marcell menurunkan sesapan nya setelah cukup lama menikmati bibir istrinya yang sekarang tampak memerah, leher jenjang sang istri adalah sasaran selanjutnya.
Erangan Loli tak tertahankan saat merasakan kecupan lembut yang kemudian berubah menjadi gigitan kecil, membuat tubuhnya meremang. Dan itu semakin membuat gairah Marcell memuncak. Batal sudah niatnya meminta istrinya untuk beristirahat. Kenikmatan yang Loli tawarkan begitu sayang untuk ia lewatkan begitu saja.
__ADS_1
Loli meremas rambut Marcell ketika merasakan benda kenyal nan basah itu menyelimuti puncak merah jambu di dadanya. Entah sejak kapan pria itu meloloskan pakaian yang melekat di tubuh Loli, gadis itu sama sekali tak menyadarinya.
"Agh k-kak..." De sah Loli saat Marcell semakin dalam menyesap dadanya, menciptakan denyutan menggila di bagian bawah tubuhnya. Ia ingin segera menuntaskan semua rasa yang membelenggunya.
Seakan mengerti keinginan istrinya, Marcell menghentikan aksinya lalu melepaskan pakaian yang menutupi tubuhnya. Ia ingin segera menyelimuti tubuh Loli dengan dirinya. Memanjakan hasrat mereka dengan penyatuan yang sempurna.
Loli menahan nafasnya kala merasakan sebuah benda tumpul menyapa bagian intinya. Nafasnya beradu dengan hembusan nafas kasar Marcell seiring milik pria itu yang akhirnya melesak masuk. Loli merasa intinya begitu penuh dan sesak. Erangan gadis itu kembali terdengar kala Marcell mulai menggerakkan tubuhnya, semula lembut dan perlahan namun lama kelamaan berubah cepat. Menciptakan kenikmatan yang mengalir hingga ke tulang.
Gerakan tubuh Marcell semakin tak teratur, deru nafas serta erangan keduanya ikut menyatu di keheningan malam.
"Kak... ak-khu... aghhh" Loli merasa tak sanggup lagi, sekujur tubuhnya bergetar lalu kemudian menegang merasakan kenikmatan yang terasa menghentak dan menggulung dirinya. Sementara Marcell semakin cepat memacu tubuhnya hingga beberapa saat kemudian Loli dapat merasakan tubuh Marcell ikut menegang.
"Loli, sayang...Aghhh" kepala Marcell terdongak dengan mata yang terpejam. Loli merasakan semburan hangat di kewanitaan dan bersatu dengan cairan miliknya.
Keduanya berpelukan erat menikmati sisah-sisah pelepasan dengan nafas yang sama terengah.
Marcell menatap wajah Loli, mengusap keringat yang memercik di wajah istrinya dengan penuh kasih setelah pelepasan nya mereda.
"Maaf" Bisik pria itu.
"Kenapa?" tanya Loli resah.
"Maaf karena nggak bisa menahan diri, karena kakak kamu jadi kelelahan" Loli tersenyum lega mendengar jawaban suaminya.
"Jangan meminta maaf, itu kewajiban ku kan? lagi pula aku juga menginginkan nya" Ucap Loli sambil mengulum senyum. Wajahnya terasa memanas karena rasa malu yang menderanya.
__ADS_1
🍁🍁🍁