
Marcell terjaga dari tidur nya setelah sempat tertidur akibat letih yang ia rasakan di sekujur tubuh. Pemandangan yang ia lihat masih sama selama satu minggu ini. Hatinya merasakan perih setiap detik melihat kondisi istrinya yang tak kunjung membaik. Kedua orang tuanya, mertua, juga Nala dan Zayn bergantian mengunjungi Loli dan mengajaknya bercengkrama. Namun Loli masih begitu betah dalam tidurnya.
"Selamat pagi sayang" Marcell mencium kening Loli seperti yang selalu ia lakukan saat membuka mata selama ini.
"Merindukan ku? sama aku juga sangat merindukan mu. Segeralah bangun" Bisik Marcell. Ia mulai lelah namun sedikitpun tak ada niatan untuk menyerah. Ia tak akan pernah bisa mengikhlaskan Loli untuk meninggalkannya meski dokter mengatakan bahwa saat ini hanya bisa berharap pada keajaiban.
Marcell merogoh sakunya saat ponselnya berbunyi. Ketika dibuka ternyata sang mama yang menelfon. Marcell berjalan menuju sofa sambil mengangkat panggilan telefon dari mama Rita.
"Hallo ma" Sapa Marcell.
"Hallo sayang, dari tadi mama telfon kok nggak angkat? baru bangun tidur ya?" Tanya mama Rita, ada nada kecemasan dalam suara itu.
"Iya Marcell baru bangun tidur ma" Terdengar nafas lega diujung telefon.
"Marcell, nanti siang mama dan mertua kamu akan membawa bayi kalian ke rumah sakit. Dokter sudah mengizinkan untuk membawa nya ke kamar Loli sebagai upaya terakhir untuk membuat Loli sadar" Karena kondisi bayi Marcell dan Loli sempat drop dokter baru mengizinkan sekarang membawa bayi itu ke kamar Loli.
"Upaya terakhir?" Marcell tak suka mendengar kalimat sang mama. Seolah setelah ini mereka tak akan melakukan apapun lagi untuk membuat Loli sadar
"Nggak akan pernah ada upaya terakhir ma, selalu akan ada upaya untuk membuat istriku kembali" Tegas Marcell menahan sesak.
"Iya maksud mama bukan itu sayang. Kita akan selalu berusaha dan melakukan berbagai cara untuk menyembuhkan Loli. Udah ya nak, mama cuma mau kabarin itu aja" Mama Rita memutuskan sambungan telefon. Ia merasa bersalah karena salah bicara sehingga ucapannya pasti sangat menyakiti hati putranya.
Marcell membuang nafas kasar. Ia meremas kepalanya frustasi. Pria itu lalu berjalan kembali ke arah ranjang di mana Loli berada.
__ADS_1
"Sayang cepatlah kembali, jangan biarkan mereka berfikir untuk menyerah." Bisik Marcell kelu.
🍁🍁🍁
Marcell menatap terpana pada bayi nya. Ini pertama kali ia melihat buah hatinya dan Loli kembali setelah hari ia dilahirkan. Selama ini ia takut merasa lebih bersedih saat menatap wajah putranya sehingga ia memilih untuk menghindar.
Namun ternyata justru berbeda, ada perasaan membuncah memenuhi hatinya. Semangatnya seakan terisi penuh menatap mata bening putranya. Ia seakan kembali melihat cahaya setelah seminggu ini merasa berada dalam kegelapan yang pekat.
"Maafkan papa yang egois sayang, papa hanya meratapi kesedihan papa hingga lupa bahwa ada kamu yang juga butuh papa" Marcell menciumi wajah putranya, air matanya tumpah karena rasa bahagia yang bercampur haru dan juga pilu. Semenjak Loli Koma ia jadi lebih sering menangis. Biarlah jika dianggap cengeng nyatanya perasaan sedih yang tengah melilitnya membuatnya benar-benar tak berdaya.
"Bawa bayi kalian bertemu Loli Marcell" Ucap mama Dita. Mata mama dan mama mertua Marcell tampak berkaca-kaca menyaksikan bagaimana Marcell memeluk dan mencium bayinya.
"Iya ma" Marcell mengangguk patuh.
"Iya ma semoga saja" Loli harus merasakan betapa dahsyat kebahagiaan yang memenuhi jiwa dan perasaan nya saat melihat mata bening bayi mungil dalam dekapannya.
Marcell dengan semangat baru dan keyakinan penuh membawa putranya yang baru berusia satu minggu itu memasuki kamar rawat istrinya. Ia memasang senyum terbaik sambil mendekat ke ranjang Loli. Meski Loli tak melihat senyumannya Marcell berharap istrinya dapat merasakan.
"Hai istri, lihatlah aku membawa malaikat kita di sini" Marcell meletakkan buah hatinya di sebelah Loli.
"Kamu tidak ingin bertemu dengan nya? lihatlah dia sangat tampan. Bayi kita lucu dan menggemaskan, dunia kita pasti akan penuh warna warni dengan kehadirannya sayang. Kebahagiaan kita benar-benar lengkap" Marcell menatap bayinya dan Loli secara bergantian. Ia juga mengusap lembut rambut istrinya.
"Bayi kita sangat tampan seperti papa nya" Marcell terkekeh dengan matanya yang basah.
__ADS_1
"Sebenarnya wajah putra kita perpaduan antara wajahku dan kamu, sepertinya dia takut salah satu dari kita iri makanya dia mengambil bagian wajah kita secara adil"
"Matanya seperti mataku, tapi bulu matanya lentik seperti bulu mata kamu sayang. Ah lucu sekali ya, masa laki-laki bulu matanya lentik tapi dia terlihat begitu tampan. Kamu harus melihatnya sendiri agar tau betapa tampannya putra kita dan aku harus mengakui bahwa aku kalah tampan darinya. Tapi aku berharap cintamu padaku tetap sama walaupun ada dia" Marcell meraih tangan Loli dan menciuminya.
"Dia lebih banyak tidur, kata mama bayi yang baru berusia satu minggu memang seperti itu. Tapi saat lapar ia bangun. Aku harap kamu juga seperti itu. Jangan tidur terus menerus, terlalu banyak waktu yang kamu lewatkan. Tau nggak salah satu kerugian terbesar kamu? kamu sudah terlalu lama melewatkan senyum menawanku" Marcell tertawa lagi sambil menghapus air matanya.
"Oh ya hidung putra kita seperti hidungmu, tapi bibir nya menduplikat bibir ku. Sepertinya dia sangat paham kalau bibir papa nya adalah yang terbaik di dunia yang membuat mamanya tergila-gila" Marcell berharap ada respon dari Loli, namun tak ada satupun tanda yang ditunjukkan Loli bahwa ia mendengar dan merasakan keberadaan nya dan bayi mereka.
"Sayang, cepat bangun agar bisa memeluk bayi kita. Dia sangat membutuhkan kamu, aku sudah tidak sabar mengajak kalian berjalan-jalan seputaran komplek saat pagi dan sore hari. Ah iya kita juga harus segera membuat foto keluarga" Marcell mulai terisak, hatinya kelu karena Loli tetap diam tak bergerak.
"Sampai sekarang ia belum punya nama, aku nunggu kamu sadar dulu. Aku mau kamu orang pertama yang mendengar nama bayi kita" Ia menelungkup kan kepalanya dengan isakan yang semakin kuat. Ia tak ingin putus asa namun hatinya perlahan lelah untuk terus berharap.
Isakan Marcell mengganggu tidur bayi laki-lakinya hingga membuatnya terbangun dan mulai menangis. Marcell mengangkat kepalanya, ia panik mendengar tangisan putranya. Ia dengan berhati-hati mengangkat tubuh mungil itu berharap bisa menenangkan bayi montok nya.
Marcell mengayun tubuh bayi dalam dekapan nya. Namun tangisannya masih tak berhenti.
"Kamu haus sayang?" tanya Marcell, ia berniat membawa putra nya keluar dan memberikannya pada mamanya untuk diberi susu.
Saat akan berpamitan pada Loli sekilas ia melihat jemari istrinya tampak bergerak.
🍁🍁🍁
Maakkk... Niat nyantetnya tolong dibatalin ya 😂😂😂
__ADS_1