Tragedi Bachelor Party

Tragedi Bachelor Party
Tiga Puluh Delapan


__ADS_3

"Sayang... Oh syukurlah. Kakak kira adek pergi ninggalin kakak" Marcell langsung meraih dan mendekap erat tubuh gadis itu. Marcell begitu kalut saat membuka mata sudah tak menemukan Loli di samping nya. Ia juga sudah memeriksa kamar mandi namun istrinya tak ada di sana.


Pria itu keluar dari kamar dengan tergesa bahkan ia sudah membawa kunci mobil untuk mencari Loli. Namun ia begitu lega saat melihat istrinya tengah duduk di kursi dapur sambil mengobrol dengan mbak Imah dan mbak Sari yang tengah sibuk memasak.


"Pergi?" tanya Loli heran, tadi ketika bangun Marcell masih begitu lelap. Sepertinya pria itu kelelahan, saat Loli sudah selesai mandi pun belum ada tanda-tanda pria itu akan bangun. Loli memutuskan untuk pergi ke dapur, meski belum bisa ikut memasak namun ia ingin melihat cara memasak dari asisten rumah tangga nya sambil belajar.


"Iya kak Marcell kira adek ninggalin kakak" Ulang Marcell. Suara Pria itu terdengar begitu gelisah, Marcell sangat takut mengingat semalam Loli sempat menyesali pernikahan mereka karena rasa bersalahnya pada Nala. Ia mengira Loli memutuskan untuk menyerah dari pernikahan ini. Hanya memikirkan nya saja sudah membuat nya demikian kacau apalagi Jika Loli benar-benar meninggalkan nya.


"Enggak kok, aku nggak ke mana-mana" Loli membalas pelukan Marcell saat menyadari suaminya itu sangat gusar. Ia berusaha menenangkan Marcell dengan mengusap punggung pria itu.


"Kamu ngapain di sini? harusnya jangan ke mana-mana sebelum kakak bangun. Nanti adek kelelahan" keresahan Marcell belum sepenuhnya sirna. Ia menciumi puncak kepala Loli berkali-kali.


Mbak Imah dan mbak Sari tidak berani menoleh kepada sepasang suami istri yang masih berpelukan erat tersebut. Mereka terpaksa harus pura-pura fokus pada masakan mereka.


"Aku mau lihat mbak masak, sekalian belajar" Ucap Loli. Marcell melepaskan pelukan nya lalu menuntun gadis itu menuju ruang santai.


"Adek nggak usah belajar masak. Ngapain repot-repot." Pria itu menarik Loli agar duduk di pangkuan nya. Terlihat wajah gadis itu merona. Ia belum terbiasa dalam posisi sedekat ini dengan suaminya.


"Kata mama biar suami betah di rumah istri harus pintar memanjakan perut suaminya" jawab Loli polos. Ia memalingkan wajahnya, tak kuasa menatap pada Marcell yang menatap dalam padanya. Pria itu menyunggingkan senyum mendengar alasan Loli.

__ADS_1


"Kakak tetap akan betah di rumah walaupun adek nggak bisa masak. Kakak mempekerjakan asisten rumah tangga karena kakak nggak mau adek kecapean." Marcell meraih wajah Loli dan mendaratkan kecupan di sana. Walaupun tubuh Loli masih bergetar dengan wajahnya yang memerah namun Marcell dapat merasakan bahwa Loli mulai terbiasa dan mulai menikmati ciuman dari nya. Loli tak terlihat takut seperti sebelumnya.


"Kakak nggak kerja?" tanya Loli, ia meraba dadanya yang bergemuruh hebat.


"Kakak ambil cuti sayang, kita baru menikah dua hari masa kakak langsung kerja ninggalin istri. Mau honeymoon nggak sayang?" Tawar Marcell.


"Honeymoon?"


"Iya. Adek mau honeymoon ke mana?" tanya Marcell lagi.


"Biasanya orang bulan madu tujuan nya supaya cepat dapat baby kan kak? kita uda punya di sini, jadi buat apa?" ucap Loli sambil menunjuk perut nya. Marcell terkekeh, begitu gemas dengan pemikiran polos istrinya. Ia menciumi wajah Loli hingga membuat gadis itu setengah berteriak karena merasa kegelian.


Loli memanyunkan bibirnya saat Marcell berhenti menciuminya. Namun hal itu malah menjadi boomerang karena Marcell kini menyasar bagian bibirnya. Pria itu melahap dan menyesap bibir Loli dengan rakus. Namun tidak begitu lama Marcell melepaskan nya, ia tau Loli mulai merasa takut.


"Nggak apa-apa dong bulan madu walaupun baby kita uda hadir di sini, kita bisa sekalian kasih adik buat dia" ucap Marcell sambil mengusap perut istrinya. Ia sengaja menggoda Loli karena begitu menyukai wajah kaget sekaligus kesal gadis itu.


"Yang ini aja belum lahir, gimana mau kasih dia adek" ucap Loli begitu shock, ia tak menyangka Marcell masih melanjutkan pembahasan mengenai ajakannya untuk bulan madu.


🍁🍁🍁

__ADS_1


"Ngapain? Loli nggak ada di sini" Ucap Nala ketus saat mendapati Zayn ketika ia membuka pintunya. Nala sudah rapi dengan pakaian kerjanya.


"Aku bukan cari Loli, aku datang emang sengaja mau ketemu kamu. Kita harus bicara" Ucap pria itu.


"Mau bicara apa lagi, aku buru-buru mau kerja. Jadi nggak bisa" Nala berlalu dari hadapan Zayn namun dengan sigap pria itu segera menangkap pergelangan tangan Nala dan menghentikan gadis itu.


Zayn tidak menyukai sikap Nala yang amat keras kepala, sangat berbeda dengan Loli yang penurut dan selalu bersikap lemah lembut. Ternyata begitu sulit untuk tidak membandingkan Nala dengan Loli.


"Aku nggak akan lama, aku ke sini cuma mau pamit sama kamu. Aku mau kembali ke luar negeri besok. Kalau ada apa-apa sama kamu karena kejadian malam itu kamu bisa hubungi aku di kartu nama yang uda aku kasih ke kamu, aku pasti akan langsung pulang. Kalaupun kamu nggak hamil nanti setelah aku lulus aku tetap akan cari kamu untuk bertanggung jawab" ucap Zayn yang membuat Nala mencebik sinis.


"Nggak akan terjadi apa-apa sama aku kamu tenang saja, satu lagi kamu nggak usah repot-repot buat tanggung jawab sama aku. Karena etelah kamu lulus nanti aku pasti sudah menikah dengan pria lain" Nala menghempaskan tangan nya hingga terlepas dari genggaman pria itu.


Nala tau Zayn masih mencintai Loli, semua tampak jelas dari kilatan luka di mata pria itu. Ia tak akan mungkin bisa menikah dengan pria yang masih menyimpan nama gadis lain di hatinya. Ia pun sama nama Marcell masih utuh mendiami hatinya.


Selepas kepergian Nala, Zayn mengedarkan pandangan nya ke sekeliling rumah itu, meski jelas Nala mengatakan bahwa Loli tidak ada namun ia masih saja berharap bisa melihat gadis pujaan nya sebelum ia pergi. Kuliah nya belum akan dimulai namun Zayn merasa tak sanggup untuk berada di kota ini lebih lama lagi.


Berada di kota yang sama dengan Loli membuat kerinduannya nya begitu membuncah dan itu teramat menyakitkan mengingat ia tak akan bisa bertemu penawar rindunya.


Karena itu Zayn memutuskan untuk kembali ke luar negeri, berharap jarak akan mampu membunuh setiap rindu dan perasaan nya pada Loli yang sudah terlarang baginya.

__ADS_1


Bukan hanya karena Loli telah memiliki suami, namun juga karena ada tanggung jawab yang kini membebaninya.


🍁🍁🍁


__ADS_2