
Nala menatap wajahnya yang pucat di cermin. Ia baru saja mengeluarkan isi perutnya, sudah 3 hari ini ia selalu merasa mual setiap bangun di pagi hari.
Nala meneteskan air matanya. Sebagai wanita dewasa ia paham bahwa apa yang terjadi padanya adalah salah satu kemungkinan telah tumbuh kehidupan di rahimnya.
Nala ingin menyangkal hal ini, namun otaknya tetap memaksa menerima kemungkinan tersebut.
Ketukan di pintu membuat Nala menghapus air matanya dengan cepat. Ia mencuci mukanya dan menepuk-nepuk wajahnya untuk menghilangkan jejak tangisan di sana. Untuk saat ini Nala tidak ingin Zayn tau kondisinya, meski hubungan nya dengan Zayn tidak sepanas biasanya namun Nala belum bisa sepenuhnya berdamai dengan pria itu. Naluri untuk melindungi diri dari rasa sakit yang mungkin akan Zayn berikan padanya membuat Nala enggan untuk membuka hatinya dengan cepat.
"Ayo sarapan, kenapa lama?" ucap Zayn saat Nala sudah membuka pintunya. Biasanya Nala lebih dulu berada di meja makan karena itu Zayn menyusul gadis itu ke kamar setelah menunggu hampir 15 menit namun Nala tak kunjung keluar.
"Aku sedang buang air besar"
"Oh gitu, yah uda ayo sarapan udah siap" Zayn meraih tangan Nala dan menariknya menuju ruang makan.
Nala menatap ngeri pada segelas susu dan sandwich di piring, Nala tau itu adalah menu sarapan miliknya. Baru melihatnya saja Nala sudah merasa ingin muntah entah akan seperti apa jika makanan itu ia masukkan ke dalam mulutnya.
"Kenapa?" Tanya Zayn saat melihat Nala hanya diam memandangi sarapan miliknya.
Nala sama sekali tidak berselera untuk menyantap apapun, tapi jika ia tak memakan nya ia takut Zayn akan curiga.
"Nggak apa-apa" Nala dengan berat hati meraih sandwich di piring dan mengarahkan ke mulutnya. Hanya gigitan kecil namun berhasil membuat perutnya bergejolak. Aroma daging asap seolah mengaduk-aduk isi perutnya.
"Kamu kenapa?" ternyata sejak tadi pria itu mengamati gerak gerik Nala.
"Nggak apa-apa, kamu apaan sih dari tadi nanya kenapa mulu" ucap Nala ketus. Ia mengunyah makanan di mulutnya sambil menahan nafas agar aroma daging asap yang menjadi salah satu isian dari sandwich nya tak tercium.
__ADS_1
"Abisnya kami aneh" Ucap Zayn sambil mengigit jatah sarapan miliknya.
"Hari ini aku ke kampus sampai siang. Kamu nggak apa-apa kan aku tinggal?" Lanjut pria itu
"Nggak apa-apalah, aku malah senang kalo nggak ada kamu" ucap Nala sambil mencebik kan bibirnya.
"Nanti aku usahain buat cepat pulang, jangan sedih ya sayang" ucap Zayn dengan senyum yang membuat Nala begitu jengkel.
"Aku uda bilang aku senang kamu nggak ada. Jadi lama juga nggak apa-apa"
"Aku beneran nggak akan lama kok" Nala menghela nafas nya, ia sungguh lelah menghadapi bocah menyebalkan itu.
"Kata orang-orang cewek tu suka ngomong kebalikan nya. Kalo kamu bilang aku pergi nya yang lama itu berarti sebaliknya kan? kamu sedih kalo aku pergi lama-lama" ucap pria itu.
"Udah ah ngomelnya, abisin sarapan kamu terus susunya juga. Supaya baby kita kuat dan sehat" Zayn tidak menyadari bahwa ucapan nya itu membuat hati Nala terasa ngilu. Jika sebelumnya ia akan merasa sangat kesal saat Zayn menyinggung perihal kehamilan maka berbeda untuk sekarang, ia merasa sangat sedih.
🍁🍁🍁
"Nala kangen" Setetes air mata membasahi pipi gadis itu setelah panggilan telfonnya pada sang mama sudah tersambung.
"Kamu nggak apa-apa kan sayang?" mama Dita begitu khawatir, tak biasanya Nala seperti ini. Dulu saat Nala kuliah dan berjauhan darinya tak sekalipun putrinya itu menangis hanya karena merasa rindu.
"Nggak apa-apa, Nala cuma kangen mama" Saat sendirian di kamar Nala tiba-tiba sangat merindukan mamanya, ia merasa dekapan sang mama bisa menjadi penawar keresahan yang tengah melandanya.
"Belum ada satu bulan kamu pergi masa uda kangen sampai nangis begini" Senyuman mamanya cukup mampu mengobati kegelisahan Nala, ia jadi tak sabar untuk segera pulang dan bertemu wanita yang menjadi sumber kehidupannya.
__ADS_1
"Kapan pulang?" tanya mama Dita, wanita itu merasa sangat khawatir namun ia tak mampu membuat Nala semakin menangis jika ia menampakkan kegelisahan nya.
"Belum tau kerjaan di sini belum beres" Keluh gadis itu, air matanya menyeruak semakin banyak.
"Nggak bisa ditinggal dulu ya? coba ngomong sama bos kamu, siapa tau dibolehin pulang bentar" Usul mama Dita meski ia tau hal itu sangat tidak mungkin.
"Ya nggak mungkin lah ma, Nala juga nggak mau ke sini lagi kalo udah pulang"
"Ya udah kamu sabar aja kalau gitu sayang, atau kamu mau mama sama papa nyusul ke sana?" meski hanya lewat layar kaca ponselnya namun Nala dapat melihat kasih sayang yang dalam terpancar di mata mamanya. Hatinya menghangat seketika melihat betapa wanita itu sangat mencintainya. Nala jadi menyesal karena pernah mengatakan yang tidak-tidak saat sedang emosi, hati mama nya pasti sakit.
"Nggak usah ma, mungkin sebentar lagi Nala pulang. Doain semua lancar ya ma supaya Nala bisa cepat pulang"
Setelah mengobrol beberapa saat, Nala akhirnya memutuskan sambungan telfon setelah berpamitan pada sang mama.
Nala sedikit lega sehabis bercengkrama pada mama Dita, sesak yang tadi ia rasakan kini menghilang.
"Ma, maafin Nala karena uda ngecewain mama" Ucap Nala sambil memegangi perutnya. Meski belum melakukan tes namun gejala yang ia rasakan semua mengarah pada kehamilan berdasarkan pada artikel yang ia baca.
Bayangan Loli melintas, rasa rindunya pada sang adik begitu membuncah. Mungkin bersumber dari rasa bersalah atas sikapnya pada gadis itu. Nala kini dapat merasakan apa yang Loli rasakan dulu, didera kebingungan dan rasa takut yang begitu besar, ia juga paham beban yang Loli tanggung saat mengetahui kehamilan nya jauh lebih berat dari yang ia rasakan sekarang.
Nala yakin dulu Loli pasti sangat kebingungan menghadapi kehamilannya karena ayah dari bayi yang ia kandung adalah calon suami dari kakaknya sendiri, belum lagi luka yang diakibatkan oleh kesuciannya yang terenggut paksa. Berbeda dengan dirinya, meski mereka tak saling mencintai namun ayah dari bayi yang ia kandung tak terikat hubungan dengan siapapun.
"Maafin kakak uda egois dan mikirin perasaan kakak sendiri dek, maafin kakak uda bersikap buruk sama kamu seolah kakak adalah pihak yang paling menderita padahal kamu juga tak kalah terluka" Nala tergugu menangis sambil memandangi foto sang adik di ponselnya. Saat ini selain sang mama Nala juga begitu ingin memeluk adik manjanya itu.
🍁🍁🍁
__ADS_1