
Nala akhirnya mengangkat telfon dari nomor yang tak dikenal setelah panggilan ke 25. Sebenarnya Nala paling anti mengangkat telfon dari nomor yang tak dikenal. Namun karena si penelfon sepertinya sangat ngotot maka mau tak mau Nala akhirnya mengangkat panggilan tersebut.
"Astaga, kamu benar-benar menyebalkan. Setelah puluhan kali aku telfon baru diangkat sekarang" Baru saja tersambung Nala sudah harus mendapat gerutuan dari sang penelfon.
Nala berusaha mengingat suara itu, suara yang seperti tak asing.
"Kamu siapa?" tanya Nala dengan nada ketus.
"Udah ngangkatnya lama sekarang malah pura-pura nggak kenal" Omel nya lagi.
"Aku benar-benar lupa"
"Aku ayah dari bayi yang kamu kandung" Ucap pria itu yang berhasil menyalakan amarah pada diri Nala.
"Eh siapa yang hamil, Jangan asal ngomong ya! tau dari mana nomor aku?" Nala tak habis fikir kenapa pria menyebalkan itu bisa tau nomor ponselnya.
"Kamu lupa bos kamu di kantor itu siapa?" tanya pria itu dengan nada sedikit sombong.
Nala menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Kalo nggak ada yang penting aku matiin telfon nya aku sibuk" Nala tak berminat melanjutkan obrolan nya dengan pria itu.
"Sibuk apaan jam segini, jangan capek-capek nanti bayi kita sakit" protes Zayn.
"Ya terserah aku lah, lagian harus berapa kali sih aku bilang kalo aku nggak hamil bocah!!" umpat Nala, gadis itu melirik jam dinding dan waktu menunjukkan pukul sepuluh malam itu artinya di tempat Zayn sudah menunjukkan pukul 2 dini hari.
"Kamu sebaiknya tidur, nggak baik anak kecil begadang" lanjut Nala. gadis itu tau Zayn sangat kesal namun sebelum pria itu mengeluarkan umpatan nya Nala langsung mematikan sambungan telfon sekaligus mematikan ponselnya agar anak kecil menyebalkan itu tak lagi mengganggunya.
__ADS_1
Nala lalu meraih pigura yang berisi fotonya dan Marcell di nakas ia memandangi foto tersebut sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang, ia masih belum bisa membuang foto itu padahal usia pernikahan pria itu dan adiknya sudah berjalan hampir 3 minggu. Jelas ia tau kini ia sudah tak berhak menyimpan apapun tentang Marcell.
"Aku harus gimana Cell? kenapa susah banget buat lupain semuanya. Kenapa dunia ini nggak adil banget sama aku, kamu begitu cepat lupain aku sementara perasaan aku ke kamu masih sama" Nala mengusap dadanya yang terasa sesak, ia memang tak menangis lagi seperti malam-malam yang lalu. Hanya saja rasa sakit dan sedih itu belum mau beranjak.
Fikiran Nala tiba-tiba membawanya pada sosok Zayn juga apa yang sudah mereka lakukan di malam itu. Nala tersenyum getir, kembali memandangi foto Marcell yang tengah tersenyum lebar.
"Ternyata kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama, aku bukan Nala yang dulu lagi yang bisa berjalan dengan kepala tegak seperti katamu kemarin. Aku sudah kehilangan harga diriku Marcell. Aku memang nggak pantas buat kamu" Seketika Nala merasa benar-benar kehilangan kepercayaan dirinya. Ia merasa tak berhak lagi untuk berharap apapun pada Marcell dengan kondisinya yang sudah berbeda.
Nala memaksakan dirinya untuk segera sadar dan beranjak dari pengharapan yang tak seharusnya. Gadis itu segera bangkit dan mengumpulkan semua barang-barang yang berkaitan dengan Marcell termasuk pigura foto yang selalu ia pandangi setiap malam sebelum tidur dan memasukkan nya ke dalam kotak besar. Sebagai pertanda bahwa sudah saat nya ia mengubur kisah nya bersama Marcell seperti yang telah pria itu lakukan lebih dulu.
🍁🍁🍁
"Sayang, bisa nggak si Jin diblokir aja" Ucap Marcell sambil memandangi ponsel istrinya.
Loli yang baru saja keluar dari kamar mandi seusai mencuci muka merasa heran pada suaminya yang terlihat kesal.
"Lihat aku masukin foto pernikahan kita di IG kamu, dan si Jin ikut ngelike fotonya" ucap Marcell masih dengan nada gusarnya.
"Kakak masukin foto?" Tanya Loli kaget.
"Iya, biar orang-orang tau kalo Loli itu uda jadi istrinya Marcell, milik Marcell!" Marcell gerah saat melihat laman Instagram istrinya tak menemukan satu pun foto nya yang Loli pajang. Padahal Marcell sudah beberapa kali memposting Foto pernikahan ataupun foto mereka berdua. Terlebih saat melihat ada banyak sekali komentar-komentar bernada pujian dari laki-laki di setiap foto istrinya.
"Boleh pinjam ponselnya bentar?" tanya Loli, ia berusaha menahan keresahan nya. Entah mengapa ia belum siap teman-teman nya tau kalau dirinya sudah menikah.
Benar saja ada banyak sekali komentar teman-temannya yang sebagian besar bernada kaget pada foto pernikahan yang suaminya post.
"Kamu beneran nikah Loli?"
__ADS_1
"Kok nikah? kuliah kamu gimana?"
"Loh Loli kan murid teladan dan paling pintar di sekolah, masa uda nikah sayang banget"
Dan masih banyak lagi komentar-komentar serupa yang membuat Loli terhenyak, meski dalam setiap komentar tersebut selalu diakhiri doa untuk kebahagiaan pernikahan nya.
Inilah alasan Loli hanya memberitahu Sania, ia merasa belum siap dengan reaksi dan pertanyaan teman-teman nya yang akan membuat hatinya merasa sedih.
"Sayang marah ya kakak masukin foto ini? kakak cuma mau umumin sama laki-laki yang follow kamu supaya tau diri dan nggak sok kegantengan caper sama kamu" Marcell dapat merasakan kegelisahan istrinya.
"Mau dihapus aja?" Marcell menyesal terlalu mengikuti rasa cemburunya hingga lancang memposting Foto tanpa bertanya dan meminta persetujuan lebih dulu pada Loli.
"Nggak usah kak" Loli memaksakan senyumnya, ia tak bisa menyalahkan Marcell sepenuhnya karena Marcell berhak untuk melakukan itu demi menjaga pernikahan mereka.
"Kamu marah? kakak minta maaf sayang" Marcell kembali memeluk Loli setelah sebelumnya sempat terlepas.
"Nggak apa-apa. Aku nggak marah, maaf aku nggak peka kak. Harusnya sejak awal aku uda umumin pernikahan kita. Maaf karena aku terlalu memikirkan harga diriku" Sebelumnya Loli merasa begitu rendah di mata teman-teman nya karena tak melanjutkan kuliah padahal ia salah satu siswi teladan yang menjadi panutan. Sekarang Loli harus belajar menurunkan egonya dan lebih fokus pada Marcell maupun anak mereka.
"Maafin kakak yang nggak ngertiin kondisi kamu sayang"
"Eh kak, lihat deh nyebelin banget komen teman-teman aku yang cewek" Loli mengalihkan pembicaraan mereka saat menemukan banyak sekali komentar dari teman-teman nya yang memuji ketampanan suaminya.
"Wajar aja Loli nikahnya cepat, suaminya tampan gini. Kalo kelamaan nanti direbut orang"
"Kalo suaminya setampan ini jangankan tamat SMA, nikah sejak embrio juga aku hayuk"
Marcell terkekeh mendengar Loli membacakan beberapa komentar dengan nada sewotnya.
__ADS_1
🍁🍁🍁