Tragedi Bachelor Party

Tragedi Bachelor Party
Lima Puluh Lima


__ADS_3

"Kamu mau ngapain?" Nala memelototi Zayn yang ikut merebahkan tubuhnya di ranjang. Ia mengira Zayn hanya ingin mengantarkan ke kamar dan memastikan dirinya tidur lalu akan meninggalkan nya, tapi ternyata tebakan Nala salah.


"Ikut tidur" Ucapnya sambil memejamkan mata.


"Ngapain ikut tidur di sini? buruan tidur ke kamar kamu" Keganasan Nala telah kembali melihat ulah Zayn yang seenaknya.


"Aku mau tidur di sini, berhentilah berkicau aku lelah" ucap pria itu tanpa membuka matanya, ia malah menarik Nala dalam dekapan nya. Menyesap kan kepala gadis itu ke dalam dadanya. Suara teriakan protes Nala teredam, gadis itu akhirnya memilih diam setelah merasa usahanya untuk mengusir bocah kecil menyebalkan itu hanya akan sia-sia.


Nala memaksakan matanya untuk terpejam, tak ia pungkiri dada bidang Zayn begitu hangat dan Nala diam-diam merasa nyaman berada di sana.


"Ayo kita menikah" Ucap Zayn saat Nala baru akan memejam kan matanya. Hal itu sontak melenyapkan kantuk yang perlahan mulai menyapa


"Nggak mau!" Nala mendorong tubuh Zayn dan berusaha melepaskan rengkuhan tangan pria itu pada tubuhnya. Namun usahanya tak berhasil.


"Bayi kita butuh orang tua yang lengkap Nala"


"Bayi yang mana sih, aku nggak hamil!" Ucap Nala hampir menangis. Ia benar-benar lelah meyakinkan Zayn bahwa ia tidak hamil.


"Entah kenapa aku yakin banget kamu hamil" Zayn sama sekali tak peduli pada kekesalan Nala. Ia begitu santai mendaratkan ciuman di kening gadis itu.


"Sekalipun aku hamil aku nggak mau nikah sama kamu. Aku nggak mau menikah sama orang yang belum move on dari masa lalunya" ucap Nala dingin. Tatapan nya tajam menusuk.


"Aku sedang berusaha Nala. Aku butuh waktu" ucap Zayn tak kalah dingin.


"Kalau memang kamu mau menikahi aku, buang dulu masa lalu kamu. Aku nggak mau setiap malam menyaksikan suami aku mabuk sambil memandangi wajah gadis lain. Jangan pernah bermimpi untuk menikah dengan ku selagi masih ada nama Loli di hati kamu!" tegas Nala, ia tau Zayn tak akan menyanggupinya, ia dapat melihat besarnya cinta pria itu pada Loli.


"Aku pasti akan melakukan nya Nala, aku akan melupakan masa lalu aku. dan kamu pun harus melakukan nya, bersihkan hati kamu dari jejak-jejak kenangan mu bersama suami Loli" Zayn kembali membawa kepala Nala agar rebah di dadanya.


"Aku sudah tidak..."

__ADS_1


"Jangan menyangkal, aku tau kamu juga merasa terluka melihat kebahagiaan Loli dan mantan kekasihmu itu. Ayo saling menyembuhkan Nala" Zayn melepaskan rengkuhan nya pada tubuh Nala dan kini meraih wajah gadis itu agar menatap padanya.


"Percayalah aku akan mengobati luka hatimu, dan aku yakin kamu bisa menghapus bayangan Loli di hati aku. Hati kita akan pulih kembali lalu saling mencintai. Mari lakukan demi bayi kita" Nala selalu meradang setiap kali Zayn menyebut perihal bayi. Namun kali ini ia tak kuasa menyangkal saat melihat ketulusan di mata bocah kecil itu.


"Jangan keras kepala Nala, kita nggak bisa terus seperti ini. Ayo belajar untuk saling memahami, kita harus saling mendukung untuk bangkit dan melukis warna indah dalam hidup kita ke depan. Ayo saling menguatkan untuk menghapus semua harapan yang sempat kita gantung kan pada mereka" Kali ini Nala benar-benar tak berkutik. Alunan merdu suara Zayn membuatnya terbuai hingga tanpa sadari kepalanya mengangguk.


🍁🍁🍁


"Kita pulang sekarang sayang?" Acara hiburan tengah berlangsung namun jam sudah berada di angka 10 malam. Marcell takut Loli kelelahan.


"Iya kak ayo"


"Nggak apa-apa kita pulang duluan?" Marcell takut Loli masih menikmati pestanya. Ia tak mau mematahkan kebahagiaan istrinya begitu saja.


"Nggak apa-apa aku juga capek" ucap Loli, ternyata kehamilan membuat tubuhnya banyak berubah, Loli tidak selincah biasanya. Ia begitu mudah lelah dan sering dihinggapi kantuk. Beruntung meski masih mual muntah namun sudah tidak separah sebelumnya.


"Mau pamit sama Sania dulu?"


"Marcell? ternyata benar ini kamu Cell" sebuah suara menyapa mereka. Marcell menatap pada seorang wanita yang ada di hadapannya.


"Bu Arimbi?" Ucap Loli pada Arimbi yang kebetulan adalah guru Biologi Loli.


"I-iya Loli, kalian mau ke mana?" Arimbi mengalihkan tatapan nya yang sejak tadi terpaku pada Marcell.


"Kita uda mau pulang bu"


"Kenapa buru-buru, ibu aja baru datang loh" Ucapnya sambil terkekeh. Arimbi tau ia datang sangat terlambat karena ada urusan yang harus ia selesaikan lebih dulu.


"Hai Marcell apa kabar?" Loli merasa heran pada ekspresi yang tergambar di wajah gurunya itu saat menyapa Marcell. Ada kerinduan yang menyala di mata Arimbi.

__ADS_1


"Bu Arimbi kenal kak Marcell?" Tanya Loli antusias.


"Iya kenal, kita teman SMA. Loli siapanya Marcell?"


"Aku suaminya Loli Ar. Kamu apa kabar, lama ya kita nggak ketemu" Jawab Marcell. Pria itu tampak santai berbeda dengan Arimbi yang tampak tercekat.


"Su-suami? kamu bercanda Cell?"


"Enggak, kita uda menikah sebulan yang lalu" Jawab Loli.


"Ibu nggak nyangka Loli memutuskan untuk menikah secepat ini. Apa terjadi sesuatu pada kalian?" Ucap Arimbi dengan suara bergetar. Perasaan Loli berubah resah melihat ekspresi guru nya tersebut.


"Tidak ada yang terjadi, kami hanya terlalu takut untuk saling melewatkan karena itu kami memutuskan untuk segera menikah. Lagian tidak ada salahnya kan?" Timpal Marcell sambil menatap lembut pada Loli.


"Kalian saling mencintai?" Tanya Arimbi penuh selidik.


"Tentu saja, kamu guru nya Loli kan? kamu tau bagaimana istimewanya dia. Jadi bagaimana mungkin seorang Marcell memutuskan untuk menikahinya jika tidak mencintainya" Loli mengerutkan keningnya. Dari gerak geriknya Loli yakin pernah ada sesuatu diantara bu Arimbi dan suaminya.


"Kami permisi dulu Arimbi, Loli sudah lelah jadi butuh istirahat" Ucap Marcell sambil menyematkan senyum pada Arimbi.


"Bertahun-tahun aku mencari kamu Cell. Aku nggak nyangka kita bertemu dalam kondisi yang seperti ini. Apa benar-benar tidak tersisah lagi sedikitpun perasaan kamu padaku?" lirih Arimbi yang membuat Loli membulatkan matanya. Ia melihat kesedihan yang begitu nyata di wajah guru cantiknya itu. Ibu Arimbi adalah salah satu guru kesayangan Loli meski wanita itu tergolong guru baru, Arimbi baru satu tahun mengajar di sekolah Loli. Tidak hanya cantik Arimbi juga guru yang bijaksana, cerdas dan berkelas.


"Oh ya? padahal aku nggak ke mana-mana loh, aku cuma di sini aja. Tentang perasaan? ya ampun Ar kamu serius nanya itu? kisah yang pernah ada diantara kita itu cuma cinta monyet" Marcell terlihat begitu santai berbeda dengan Arimbi yang terlihat sangat sedih.


Marcell tersenyum pada Loli, dari matanya pria itu dapat merasakan ada jutaan tanya di sana atas peristiwa yang bahkan Marcell pun tak menduganya.


"Kami permisi dulu Ar" Ucap Marcell lagi. Ia segera meraih tangan Loli dan membawanya berlalu dari hadapan Arimbi yang tampak terpaku.


Selepas kepergian mereka, Arimbi membawa tubuhnya yang rapuh untuk duduk di kursi.

__ADS_1


🍁🍁🍁


__ADS_2