Tragedi Bachelor Party

Tragedi Bachelor Party
Empat Puluh Satu


__ADS_3

"Maafin aku juga kak, lain kali aku akan lebih berhati-hati" Mungkin ini yang mama nya maksud. Meski suami tak membatasi ruang gerak, namun seorang istri tetap harus memiliki alarm di dalam dirinya untuk mengingatkan tentang batasan-batasan apa yang boleh dan yang tidak boleh ia lakukan.


"Adek nggak salah, emang dasar si Jin yang nggak tau diri suka sama istri orang. Adek nggak perlu minta maaf untuk kesalahan yang dibuat oleh orang lain" Marcell meraih tangan Loli dan menciumnya nya. Tatapan mata pria itu membuat Loli tercekat. Jika sudah begini nyali Loli menciut sudah.


Loli sama sekali tak keberatan mulai menerapkan wejangan-wejangan mama nya tentang bagaimana peran istri di dalam rumah tangga. Namun Loli masih belum bisa jika itu berkaitan dengan urusan ranjang. Bukan ia tak tau tentang kewajiban nya yang satu itu, namun Loli belum berhasil menaklukkan ketakutannya dan membunuh trauma akibat kejadian malam kelam yang pernah menimpanya.


"Dek, kakak pengen banget nyamperin bayi kita." Ucap Marcell, melihat penampilan Loli seperti ini adalah cobaan berat baginya. Namun pria itu belum tau harus bagaimana menghilangkan trauma Loli terhadap sentuhan nya.


"Nyamperin?" tanya Loli bingung. Biasanya jika Marcell ingin mencium dan mengajak bayi mereka mengobrol Marcell akan langsung saja melakukan nya. Tidak pernah basa basi apalagi memakai embel-embel 'nyamperin' seperti sekarang. Karena itu Loli merasa sedikit curiga akan maksud pria itu.


"Iya nyamperin" Marcell kemudian menepuk kening nya dan membuang nafas kasar. Ia sadar istrinya masih terlalu polos untuk diajak bermain kode.


"Adek masih takut banget ya sama kak Marcell?" Pria itu memutuskan untuk membahas masalah ini pelan-pelan. Mereka tak bisa terus seperti ini, pura-pura tidak tau tentang trauma yang Loli rasakan. Ia takut tak bisa menahan diri lebih lama, sebagai pria yang sudah pernah merasakan kenikmatan tubuh istrinya ia sadar tak bisa memendam hasratnya terlalu lama.


"Mak-maksud kakak?" Loli tau apa yang suaminya maksud namun gadis itu berpura-pura tak mengerti. Ia merasa belum siap membahas mengenai hal ini. Gadis itu menundukkan kepalanya lalu meremas jemari nya karena rasa gugup yang langsung menguasai dirinya.


"Sayang kita uda menikah, kakak pria dewasa yang sudah pernah merasakan 'itu' sama adek. Kakak nggak bisa selamanya memendam keinginan kakak untuk merasakan nya kembali. Jadi bisakah kalo kita... Ah lupakan sayang, kita tidur sekarang ya?" Marcell memotong kalimatnya. Entahlah, melihat istrinya yang begitu gugup membuat Marcell tak sampai hati untuk menuntut Loli lebih jauh.

__ADS_1


Ia tak mau Loli merasa tertekan karena permintaan nya, mengingat kondisi Loli yang tak kunjung pulih. Mungkin sebaiknya ia kembali bersabar sedikit lagi.


"Maaf, aku uda berusaha mengusir rasa takut itu. Tapi tetap nggak bisa" Suara Loli bergetar menahan tangis. Ia merasa bersalah namun juga tak berdaya menghadapi trauma nya.


"Iya kakak ngerti sayang, jangan terlalu difikirkan" Marcell mendekap Loli. Benar saja istrinya mulai terisak, Marcell mengutuki dirinya yang tak bisa lebih sabar hingga Loli harus merasa bersalah seperti ini.


"Aku akan terus berusaha sampai rasa takut itu benar-benar hilang. Aku minta maaf kalo sekarang belum bisa menjalankan kewajiban aku sebagai istri. Maaf belum bisa menjadi istri yang sempurna buat kakak" ucap Loli di tengah isakannya.


"Iya sayang, kakak ngerti. adek nggak salah, jangan meminta maaf. Udah ya jangan nangis lagi. Kakak juga akan mulai cari tau gimana caranya menghilangkan ketakutan yang adek rasakan. Kakak minta maaf ya, kakak nggak bermaksud membuat adek merasa tertekan" Marcell mencium puncak kepala Loli yang kini membalas pelukan nya.


Sebenarnya Loli sudah mengalami banyak kemajuan, setidaknya gadis itu sudah terbiasa dengan sentuhan Marcell seperti pelukan dan ciuman dari pria itu. Marcell yakin istrinya itu bisa segera pulih dari rasa trauma yang menderanya.


"Sayang neneran mau?" Marcell melepaskan dekapan nya dan menatap wajah Loli dengan senyum lebar nya. pria itu terlihat sangat antusias.


"Iya aku beneran mau" Loli membalas senyuman Marcell. Senyuman yang tulus, tidak dipaksakan seperti biasanya.


"Adek mau honeymoon ke mana? tapi bisanya di dalam negeri aja ya dek. Kalo ke luar negeri uda nggak bisa. Jatah cuti kakak tinggal 5 hari lagi" ucap Marcell dengan rasa bersalah di wajahnya. Meski ia bekerja di perusahaan papanya sendiri namun Marcell sama sekali tak mendapatkan perlakuan istimewa dari sang papa. Pria itu menerapkan aturan yang sama tak peduli meski Marcell adalah putranya sendiri.

__ADS_1


"Iya nggak apa-apa. Ke mana aja aku mau, terserah kakak yang nentuin ke mana" jawab Loli, ia kembali menyematkan senyum tulusnya. Terlihat cantik dan menggemaskan.


"Maaf ya, nggak bisa kasih honeymoon terbaik buat adek." Andai saja ia tau Loli akan menyetujui ajakan nya mungkin Marcell akan menyiapkan semuanya sebaik mungkin. Ia akan memberikan bulan madu yang berkesan dan tak terlupakan untuk istrinya itu.


"Emang bulan madu terbaik harus di luar negeri? enggak kan?" Sama seperti konsep pesta pernikahan Loli juga tak memiliki tempat bulan madu impian karena hal ini belum terfikirkan sama sekali olehnya.


"Iya adek benar. Bulan madu di rumah pun akan menjadi bulan madu terbaik jika pasangannya itu kamu" Marcell mengulum senyum melihat wajah Loli yang merona mendengar ucapan nya yang lebih mirip sebuah gombalan meski kalimat itu tulus berasal dari dalam hatinya.


"Kalo besok berangkat, adek kuat nggak?" tadi pagi Loli memang terlihat segar dan tak mengalami mual namun Marcell tetap saja merasa khawatir pada kondisi istrinya.


"Iya aku pasti kuat" Jawab Loli yakin.


"Ya udah, sekarang kita tidur dulu ya. Biar besok bangun nya segar" Marcell merebahkan tubuh Loli. Tak lupa mendaratkan kecupan di kening gadis itu. Pria itu juga sempat mencuri ciuman di bibir Loli, mel *umat nya sebentar dan seperti biasa sebelum trauma Loli menyerang ia sudah melepaskan sesapan nya. Namun hari ini ada sedikit kemajuan lagi, Marcell berhasil meninggalkan jejak kemerahan di leher jenjang nan mulus istrinya.


Marcell merapikan selimut Loli lalu kemudian ikut merebahkan dirinya di samping Loli. Marcell merapatkan tubuhnya dan memeluk Loli erat.


🍁🍁🍁

__ADS_1


Jadi Cover cerita ini diganti sama pihak NT. Kisah Ivan_Aleena juga covernya diganti. Mudah-mudahan para reader nggak tersesat ya gara-gara cover baru 🤭🤭


__ADS_2