
"Apalagi sayang?" Tanya Loli heran, Ini sudah ketiga kalinya Marcell yang sudah siap berangkat dan sudah memasuki mobilnya kembali turun.
"Peluk sekali lagi" Marcell memeluk Loli erat dan menciumi wajah istrinya. Jika bukan karena diminta papanya untuk menemui pak Ardi untuk tanda tangan kontrak kerja sama yang akan mereka lakukan Marcell tak ingin berangkat ke kantor, entah kenapa ia merasa berat berpisah dengan Loli hari ini. Padahal sang papa sudah memberikan kelonggaran pada dirinya, papa Indra tak memberi Marcell banyak pekerjaan, tidak memintanya untuk lembur, dan bahkan membiarkan Marcell pulang lebih awal karena papa Indra ingin Marcell lebih fokus memperhatikan Loli yang tengah hamil.
"Sayang buruan, nggak enak sama pak Ardi kalo telat" Loli mengusap wajah suaminya yang masih memeluknya erat.
"Istirahat di kamar aja ya, jangan ngerjain apapun. Tunggu aku pulang aku nggak lama" Loli mengangguk. Marcell kembali mencium ke dua pipi Loli, lalu bibir dan terakhir ciumannya mendarat di kening sang istri.
"Aku berangkat ya" Meski berucap demikian Marcell masih merangkul erat tubuh istrinya.
"Iya, hati-hati. Cepat berangkat biar urusannya cepat selesai dan kamu juga bisa cepat pulang" ucap Loli.
"Iya sayang" Dengan berat hati Marcell melepaskan tubuh Loli. Ia kembali naik ke dalam mobilnya.
Loli melambaikan tangan ke arah Marcell yang membuka jendela mobilnya. Pria itu melemparkan ciuman jarak jauh. Loli menghela nafas lega saat mobil suaminya sudah keluar dari pekarangan, tadinya ia takut Marcell akan keluar lagi. Loli juga heran akan sikap Marcell yang begitu banyak drama pagi ini, tidak seperti biasanya.
Marcell meminta sopir langsung menuju tempat pertemuannya dengan pak Ardi setelah sang papa mengirimkan lokasi pertemuan, sang papa meminta Marcell langsung menemui pak Ardi dan tak perlu datang ke kantor lebih dulu.
"Aku kangen"
Marcell mengetik pesan dan mengirimkannya pada Loli. Ia membayangkan istrinya sedang tersipu dengan wajah nya yang merona saat membaca pesan yang ia kirimkan. Hal itu semakin membuatnya tak sabar untuk segera pulang.
"Aku juga kangen, yang semangat kerjanya papa 💪💪"
Setelah menunggu hampir lima menit Marcell menerima balasan dari istrinya. Senyum lebar terukir di bibir Marcell saat membaca balasan pesan dari Loli. Ia merasa begitu gemas pada istri nya apalagi dengan sebutan 'papa' yang Loli berikan semakin membuat hatinya berbunga, ia tak menyangka gadis kecil itu bisa merebut dunianya dan memberikan pengaruh yang demikian besar pada hidupnya.
__ADS_1
"Iya sayang, papa cinta kalian berdua 😘" Marcell terus tersenyum, tingkahnya bagaikan abg puber yang baru saja mengenal cinta.
"😘😘"
Marcell akan kembali mengetikkan pesan balasan untuk istrinya. Namun ia urungkan saat mobilnya sudah berhenti di parkiran sebuah restoran yang pak Ardi pilih untuk pertemuan mereka.
Marcell memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku jas nya. Saatnya fokus pada pekerjaan agar bisa segera pulang dan memeluk istri tercintanya.
Marcell berjalan menuju ruang VIP restoran diantarkan oleh pelayan.
"Pak Ardi uda datang?" Tanya Marcell pada Anton asisten sang papa yang menunggu nya di depan pintu ruangan.
"Sudah pak Marcell, beliau sudah menunggu di dalam" Marcell mengangkat tangannyan untuk melihat jam. Masih jam 10 kurang 5 menit itu artinya ia belum terlambat dari waktu janjian yang ditentukan.
"Ayo masuk"
"Maaf membuat anda menunggu pak?" Marcell mengulurkan tangannya pada pak Ardi yang didampingi oleh asistennya.
"Tidak apa-apa nak Marcell. Saya juga belum lama datangnya" jawab pak Ardi ramah.
Keduanya terlibat obrolan-obrolan ringan sebelum membahas lebih lanjut perihal kerja sama.
"Nak Marcell sebelum menanda tangani kontraknya boleh kita bicara berdua? ada sesuatu yang ingin saya bicarakan." Ucap pak Ardi serius. Jantung Marcell berdetak melihat perubahan ekspresi wajah rekan bisnis sang papa.
"Pak Anton bisa keluar sebentar? nanti saya panggil lagi" Ucap Marcell meski ia masih dilanda banyak pertanyaan.
__ADS_1
"Nak Marcell kenal Arimbi?" Tanya pak Ardi saat asisten keduanya sudah keluar dan menyisah kan mereka berdua saja.
"Iya pak Ardi, Arimbi teman SMA saya" Jawab Marcell setelah diam beberapa saat.
"Kebetulan Arimbi itu anak saya" Ucap pak Ardi dengan senyumannya.
"Oh kebetulan sekali pak" Marcell memaksakan senyum nya. Tiba-tiba perasaannya berubah tidak enak.
"Arimbi sudah cerita banyak tentang kamu" ucap pak Ardi lagi. Marcell hanya diam, menunggu apa inti dari pembicaraan ini. Perasaannya semakin tidak enak.
"Termasuk perasaan nya pada nak Marcell, juga tentang hubungan kalian semasa SMA yang belum ada kata berakhir" Marcell belum juga angkat bicara, pria itu hanya tersenyum masam. Ia seperti sudah bisa menangkap apa yang ingin pria itu sampaikan, dan itu membuatnya sedikit kehilangan simpati pada pria yang seumuran dengan sang papa itu.
"Jadi Arimbi itu anak saya satu-satunya, melihatnya bersedih dan kehilangan semangatnya membuat hati saya sangat terluka. Bisakah nak Marcell mengerti perasaan nya?" Tatapan pak Ardi berubah memohon pada Marcell.
"Maksud pak Ardi apa?" Marcell sudah tak bisa menahan perasaan nya lagi.
"Arimbi masih sangat mencintai nak Marcell, bisakah kalian kembali lagi? saya akan mengabulkan semua permintaan nak Marcell asal nak Marcell bisa kembali lagi dengan anak saya" Marcell tersenyum masam. Ternyata sifat Arimbi masih belum menyerah, ia melakukan hal bodoh demi tercapainya keinginan mereka. Marcell yakin pak Ardi akan menjadikan kontrak kerja sama ini untuk menekannya mengingat perusahaan papa Indra yang menawarkan kerja sama tersebut.
"Pak Ardi tau kan saya sudah menikah? Arimbi pun sudah mengetahuinya. Kisah saya dan Arimbi itu hanya kisah anak remaja yang masih jauh untuk dikatakan serius" Marcell masih menjaga nada bicaranya dengan baik.
"Ya tapi Arimbi begitu tulus dengan perasaannya. Dia tak peduli meski nak Marcell sudah menikah. Saya akan melanjutkan kontrak kerja sama ini dan masih ada proyek-proyek yang bernilai puluhan miliar yang akan saya berikan pada perusahaan nak Marcell andai nak Marcell mau menikahi Arimbi" Marcell tau pak Ardi adalah salah satu pengusaha paling sukses di negeri ini. Ia adalah salah satu pemilik perusahaan yang cabang nya sudah menggurita.
"Maksud pak Ardi saya harus menukar istri saya dengan kerja sama kita? dalam artian pak Ardi akan membatalkan kerja sama yang baru akan terjalin andai saya menolak tawaran bapak?"
"Dengan berat hati saya mengatakan iya nak Marcell. Karena perasaan anak saya jauh lebih penting dari apapun. Arimbi tak pernah meminta apapun pada saya selama ini, ini pertama kalinya jadi saya akan merasa sangat gagal andai tidak memenuhi keinginannya" Pak Ardi tersenyum tipis, ada rasa percaya diri di wajah pria itu bahwa Marcell akan luluh. Mengingat perusahaan papa Marcell membutuhkan kerja sama ini.
__ADS_1
🍁🍁🍁