
Nala menatap wajah Zayn yang masih tidur dengan begitu lelap. Terlihat begitu nyaman dan tenang. Gadis itu tak pernah membayangkan sebelumnya akan menikah dengan pria lain selain Marcell. Karena semenjak menjalin hubungan dengan laki-laki yang kini menjadi adik iparnya itu Nala telah menaruh semua keyakinannya untuk merangkai kisah hingga helaan nafas terakhir dengan pria itu.
Ternyata Takdir yang tertulis tidak demikian. Nala malah menikah dengan pria yang jauh dari angannya, Nala harus bisa menerima hari-hari ke depan hidupnya akan terisi dengan rangkaian kisah bersama pria yang belum lama ia kenal. Wajah inilah yang akan ia lihat sebelum memejamkan mata di malam hari dan ketika membuka mata ketika pagi menyapa.
Nala tersenyum tipis, dari perlakuan nya selama ini ia yakin Zayn adalah pria yang baik. Masalah yang ada diantara mereka kini hanyalah perkara cinta yang belum hadir, dan Nala berharap cinta itu akan segera datang mewarnai pernikahan dan melukis kebahagiaan untuk ia, Zayn dan buah hati mereka nanti.
Setelah puas memandangi wajah suaminya, Nala beranjak dari posisi tidurnya. Ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Entah kenapa Nala ingin terlihat cantik dan wangi di mata Zayn ketika pria itu membuka matanya nanti. Ia tak mau terlihat kusut dan berwajah bantal di depan Zayn.
Nala memutuskan untuk berendam air hangat sejenak, merelaksasi tubuhnya agar kembali bugar. Gadis itu memejamkan matanya menikmati air yang masuk ke dalam pori-pori tubuhnya. Aroma sabun menambah sensasi nyaman yang menenangkan.
30 menit berlalu, Nala keluar dari kamar mandi dengan tubuh segar dan lebih ringan. ia mengenakan dress santai yang melekat sempurna di tubuhnya.
"Kerbau!" Gumam Nala kala melihat Zayn masih menikmati lelapnya. Padahal ia berlama-lama di kamar mandi dengan harapan ketika ia selesai dengan ritualnya Zayn sudah terbangun dari mimpi dan menyambut dirinya.
Nala berjalan ke arah jendela, ia membuka gorden kamar sehingga cahaya mentari bisa masuk ke dalam. Sepertinya hal itu membantu menarik Zayn dari tidurnya yang lelap. Pria itu tampak mengerjap-ngerjapkan matanya untuk menyesuaikan dengan cahaya. Senyum Zayn mengembang kala matanya menangkap sosok Nala yang tengah berjalan mendekat dengan mata yang menatap padanya.
"Selamat siang" Ucap Nala datar, ia tersenyum sinis pada Zayn yang masih memasang wajah bantal nya.
"Ini masih pagi sayang, lagi pula bisa nggak lebih lembut ngucapin nya?" Sungut Zayn, pria itu menutupi mulutnya saat menguap. Kantuk masih bergelayut hanya saja melihat Nala yang sudah begitu cantik berhasil mengalihkan perhatian Zayn.
"Wah istriku sudah cantik, sudah siap menyerahkan diri rupanya." goda Zayn dengan tatapan penuh arti.
__ADS_1
"Mandi dulu sana, abis itu sarapan. Aku lapar" ucap Nala berusaha menutupi rasa gugup yang tiba-tiba menyerang ketika mendapat tatapan lapar dari bocah itu.
"Sayang telfon pelayan hotel ya. Suruh antar ke kamar aja sarapan kita. Aku nggak mau buang-buang waktu kalo sarapan di restoran hotel" Lagi-lagi Zayn memasang ekspresi penuh arti sambil berjalan menuju Nala dan mencium kening istrinya. Ia kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi. Zayn sama sekali tak peduli pada cebikan istrinya.
Nala menuruti permintaan Zayn saat pria itu menghilang di balik pintu kamar mandi. Ia memesan sarapan dan meminta diantar ke kamar mereka.
Nala duduk di sofa dan membuka-buka majalah sembari menunggu pelayan hotel mengantarkan sarapan juga menunggu Zayn selesai membersihkan dirinya.
Setelah menunggu beberapa saat, Nala terperanjat saat Zayn tiba-tiba memeluk dan menciumnya. Majalah yang ada di tangannya sampai terlepas saking kagetnya.
"Kamu tu apaan si bocah, ngagetin tau nggak" protes Nala, ia memberontak berusaha melepaskan diri dari rengkuhan Zayn yang terlihat gagah dengan kaos putih dan celana pendek berwarna khaki.
"Udah jangan banyak gerak, suami lagi pengen peluk-peluk istri dulu" ucap Zayn. Nala masih berusaha untuk melepaskan diri, sebenarnya aroma segar suaminya membuat Nala betah berada di dalam dekapan Zayn. Namun gadis itu terlalu gengsi untuk mengakuinya. Ia berusaha mempertahankan harga dirinya karena tak mau Zayn menilai dirinya begitu mudah untuk ditaklukan.
"Udah" jawab Nala singkat
"Kok lama? nggak usah sarapan aja yuk" Bisik Zayn lagi.
"M-maksud kamu apa?" Tanya Nala gugup. Ia seolah mampu menangkap niat suaminya.
"Nggak mungkin kamu nggak tau maksud aku" Nafas kasar Zayn menerpa telinga dan leher Nala, membuat tubuh gadis itu bergetar.
__ADS_1
"Aku nggak ngerti" Kilah Nala, ia semakin kewalahan saat Zayn mulai mencium pipi lalu bergerak ke arah telinga dan kini menyusuri lehernya. Desiran halus mulai menjalari hingga ke seluruh sel di tubuhnya.
"Z-Zayn hentikan" Ucapnya, namun Nala sama sekali tak memberikan perlawanan. Ia malah memejamkan matanya seolah menikmati sensasi panas yang Zayn ciptakan, respon tubuhnya sangat bertentangan dengan penolakan yang terucap dari bibirnya.
Zayn akan melancarkan aksinya semakin dalam, tangannya yang semula hanya mengusap punggung Nala kini menelusup ke dalam dress Nala melalui bagian atas. Namun suara bel membuyarkan semuanya dan mau tidak mau menghentikan niat pria itu. "Oh ****" umpat Zayn penuh kekesalan sementara Nala malah tertawa. Ia segera bangkit dari sofa lalu berjalan menuju pintu.
Nala mengatur detak jantungnya sebelum membuka pintu kamarnya. Sesuai dugaan pelayan hotel yang datang membawakan sarapan yang dipesan oleh Nala.
Pelayan menghidangkan sarapan yang ia bawa di meja makan yang tersedia di ruangan lain dari kamar itu.
"Ayo sarapan kita uda siap" ajak Nala pada Zayn yang tampak meremas frustasi rambutnya. Ia kecewa karena lagi-lagi hasratnya harus diredam paksa.
"Ingat ya setelah ini nggak ada alasan lagi. Nggak boleh ada gangguan sekecil apapun. Aku bakalan melahap habis kamu sayang" Ancam pria itu dengan senyuman yang mengerikan.
"Ih serem banget sih kamu" Nala bergidik membayangkan ancaman suaminya. Ia berjalan cepat menuju meja makan demi menutupi rasa gugupnya yang sejak tadi tak kunjung reda. Zayn mengikuti langkah Nala dengan senyum penuh arti. Melihat pergerakan lincah Nala semakin membuat hasrat Zayn bangkit dan begitu sulit dikendalikan. Ia benar-benar sudah tidak sabar untuk menerkam tubuh istrinya.
Namun laki-laki itu masih berusaha meredamnya untuk beberapa waktu. Ia sadar istri dan bayi yang ada di dalam kandungannya butuh asupan nutrisi, terlebih sebentar lagi ia akan menguras tenaga istrinya itu.
'Aku pastikan kamu akan kembali mendesah nikmat di bawah kendaliku sayang' batin Zayn di dalam hati.
🍁🍁🍁
__ADS_1
Readers temenin Zayn bersabar ya... 😂😂