Tragedi Bachelor Party

Tragedi Bachelor Party
Tujuh Puluh Tiga


__ADS_3

Zayn tersenyum menatap Nala yang sibuk melayaninya di atas meja. Menyiapkan sarapan ke piring dan memberikan padanya.


Nala semakin hari terlihat semakin cantik di mata pria itu


"Makasih ya sayang" Zayn mengambil sarapannya sambil mengerling nakal pada istrinya.


"Ganjen" Cebik Nala.


"Tapi suka kan?" Zayn malah semakin bersemangat menggoda istrinya


"Enggak" Nala memelototkan matanya. Ia kembali memasang mode galak menghadapi suaminya.


"Ah masa sih nggak suka? siapa coba yang selalu ngomong gini, Oh Zayn lebih cepat..." Nala beranjak dengan panik menutup mulut jahil suaminya sebelum pria itu semakin jauh mengungkit hubungan ranjang mereka.


Untung saja mama dan papanya tidak ikut sarapan karena pagi-pagi sekali mereka sudah pergi karena ada hal yang harus mereka selesaikan. Entah apa jadinya jika Zayn menggodanya di depan kedua orang tuanya, Ia pasti akan merasa sangat malu.


"Dasar bocah tengik, nggak usah ngomongin yang gitu-gitu. Nyebelin!" gerutu Nala. Sebenarnya ia merasa malu atas ucapan suaminya. Karena segalak apapun dirinya pada pria itu nyatanya ia selalu saja takluk dan dibuat menge rang tak berdaya ketika pria itu membawanya ke atas ranjang.


"Loh kenapa? nggak salah dong. Aku cuma mau kasih bukti kalo kamu suka sama keganjenan aku. Buktinya kamu selalu mende sah tiap kali kita bercinta" Zayn kembali mengerling nakal pada Nala yang semakin gusar.


"Zayn udah!" Wajah Nala memerah, ia memanyunkan bibirnya karena rasa kesal sekaligus malu. Ia juga mengutuk dirinya sendiri yang selalu berisik, menceracau dengan tidak sadar tiap kali Zayn sedang menidurinya.


"Nggak ada siapa-siapa. Nggak usah malu dong sayang" Zayn mencubit dengan gemas pipi sang istri, dan tentu saja Nala semakin kesal dibuatnya.

__ADS_1


"Udahan ngomongnya. Lanjutin sarapan sana, kamu harus cepat-cepat ke kantor. Nggak enak hari pertama kerja uda telat" Omel Nala.


Setelah empat hari menghabiskan waktu di hotel mereka telah kembali ke rumah orang tua Nala.


"Nggak apa-apa telat juga. Perusahaan itu kan punya papa, nanti juga aku yang bakalan jadi bos di sana" ucap Zayn.


"Tapi sekarang kamu kan cuma karyawan biasa Zayn. Walaupun perusahaan itu punya papa, kamu tetap harus profesional dan disiplin. Gimana mau jadi pemimpin yang baik kalo kamu menyepelekan hal sepenting itu" Hari ini adalah hari pertama Zayn mulai bekerja di perusahaan papanya sebagai karyawan. Selain karena pendidikannya yang belum selesai, menurut sang papa Zayn masih harus banyak belajar sebelum mengambil alih posisinya sebagai pemimpin perusahaan. Tentu saja perusahaan itu akan jatuh pada Zayn mengingat dirinya adalah pewaris tunggal.


Sementara Nala memutuskan untuk berhenti bekerja dan memilih fokus menjalankan peran nya sebagi istri dan calon ibu. Dulu saat berencana menikah dengan Marcell Nala memang sudah berniat untuk berhenti bekerja.


"Iya sayang siap" Zayn tau ucapan istrinya seratus persen benar, jadi pria itu tak ingin membantahnya. Zayn segera memakan sarapannya dengan lahap.


Nala menuangkan air minum ke dalam gelas dan memberikannya pada Zayn. Karena Zayn sempat menggodanya ia sampai lupa menyiapkan air minum untuk suaminya.


Nala cuek tak menimpali ucapan suaminya, ia fokus menyantap sarapan miliknya. Beruntung bayinya sangat pengertian pagi ini, ia tak membuat sang mama merasakan mual dan muntah. Nala bisa menikmati sarapan paginya dengan tenang.


"Sayang, aku uda selesai nih. Aku berangkat dulu ya. Baik-baik di rumah, jaga diri. Abis kerja aku langsung pulang, jadi jangan terlalu merindukan ku" Zayn mencium puncak kepala Nala. Ia beranjak dari kursi diikuti oleh Nala.


"Mau ke mana?" Tanya Zayn heran melihat istrinya yang mengikuti langkahnya


"Nganterin kamu ke depan"


"Sarapan kamu belum habis sayang, nggak usah repot-repot nganterin ke depan. Kamu lanjutin sarapan dulu aja ya" Ucap Zayn. Nala tak peduli. Ia tetap berjalan bahkan mendahului Zayn. Ia merasa kesal karena pria itu sungguh tidak peka, ia hanya ingin menjalankan peran nya sebagai istri dengan sebaik-baiknya. Namun suaminya malah tak mengerti dan menolak niat baiknya.

__ADS_1


Mungkin inilah resiko menikahi anak kecil yang belum siap untuk menikah. Ia tak tau apa saja yang biasa dilakukan sepasang suami istri. Zayn hanya tau perihal urusan ranjang.


Zayn awalnya sempat melongo melihat sikap istrinya yang begitu sulit untuk ia pahami. Ia tak merasa melakukan kesalahan namun Nala terlihat begitu kesal. Zayn akhirnya mengikuti langkah istri galak nya sambil berfikir letak kesalahannya.


"Hati-hati di jalan, kerja yang fokus. Ingat ada anak istri yang harus kamu nafkahi dengan hasil keringat kamu sendiri" Ucap Nala sambil mengulurkan tangan nya. Zayn tersenyum saat mengerti apa yang istrinya ingin kan. Ia segera meraih uluran tangan Nala, setelah sang istri mencium tangannya gantian Zayn mendaratkan kecupan di kening Nala.


"Terimakasih untuk pagi ini sayang. Aku berangkat kerja dulu. " ucap Zayn yang diangguki oleh Nala dengan wajah datar nya.


"Senyum dong sayang biar suaminya kerja dengan semangat. Kalo istrinya cemberut gitu yang ada suami jadi lemes kerjanya" protes Zayn.


"Ih banyak maunya" Gerutu Nala namun tak urung ia memberikan senyum nya yang terlihat begitu dipaksakan.


"Cantik banget kalo senyum, apalagi kalo senyumannya tulus, enggak terpaksa" Zayn mencuri ciuman di bibir Nala, Ia segera memasuki mobilnya sebelum Nala melayangkan protes atas aksinya.


Pria itu membuka kaca mobilnya dan melambaikan tangan pada Nala. Gadis itu membalas lambaian tangan suaminya dan hal itu berhasil mengukir senyum di wajah Zayn.


Selepas kepergian Zayn Nala masuk ke dalam rumah. Ia langsung berjalan menuju kamarnya dan tidak melanjutkan sarapannya meski masih tersisah, Ia sudah tak berselera harus makan sendirian dalam sepi.


Ternyata meski tingkah Zayn sangat menyebalkan namun jauh di lubuk hatinya Nala mengakui bahwa hidupnya yang sempat begitu kelam kini perlahan mulai kembali melukis warna-warna yang mencerahkan harinya semenjak kehadiran pria itu di hidupnya. Zayn menghadirkan perasaan yang berbeda dengan caranya sendiri.


Nala merasa perlahan ia mulai terbiasa dengan kehadiran Zayn dan merasa asing saat pria itu tak ada. Nala berharap hal ini adalah pertanda baik, ia menginginkan perasaan cinta akan segera hadir dalam pernikahannya dengan Zayn agar mereka bisa meneruskan cinta itu pada anak mereka nanti.


🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2