Tragedi Bachelor Party

Tragedi Bachelor Party
Sembilan Puluh


__ADS_3

Marcell menemani istrinya menidurkan bayi mereka sambil menyusui. Hal itu selalu Marcell lakukan jika ia sedang berada di rumah. Pria itu benar-benar sosok ayah siaga yang selalu membantu Loli dalam mengurusi bayi tampan mereka.


Baby Ettan sudah berusia 2 bulan sekarang, ia terlihat semakin gembul dan menggemaskan.


"Hei bayi, papa pinjamkan ini selama 2 tahun aja ya. Setelah itu kembalikan pada papa oke" Marcell menunjuk-nunjuk dada Loli.


"Sayang nggak boleh ngomong kayak gitu di depan bayi kita, nanti ketularan mesum kayak papanya" Sungut Loli sambil mencubit perut suaminya yang tertawa geli.


"Papa cuma kasih tau bayi kita supaya tahu diri sayang. Bahwa itu yang sedang dia sedot milik papanya. Dia cuma meminjam sementara, jadi jangan sampai sok berkuasa" lanjut Marcell semakin tertawa saat melihat wajah Loli yang memerah. Istrinya masih saja malu-malu padahal mereka sudah menikah cukup lama.


"Papa suka ngomong asal, jangan didengerin ya sayang" Loli pura-pura menutup telinga bayi montoknya.


"Ma, papa udah kangen banget loh. Udah lama banget puasa" entah ini sudah ke berapa kalinya Marcell mengeluh pada Loli sepanjang 2 bulan ini.


"Bukannya aku uda kasih ya? kamu sendiri kan yang menolak?"


Sebenarnya sejak lepas masa 40 hari Loli sudah bersedia menyerahkan diri untuk Marcell nikmati. Hanya saja pria itu tak pernah tega untuk melakukan lebih jauh. Ia takut Loli masih kesakitan. Apalagi saat melihat jahitan bekas operasi di perut istrinya jelas sekali raut kesedihan di wajah pria itu.


Marcell hanya mencumbu Loli namun tak pernah ia tuntaskan hingga benar-benar selesai. Hal itu membuat Loli kasihan karena Marcell terus menahan hasratnya. Akhir-akhir ini Loli mulai curiga ada yang tak beres pada suaminya itu.


"Aku hanya takut kamu masih belum siap sayang" Marcell mencium puncak kepala istrinya. Loli meletakkan Baby Ettan yang sudah terlelap ke dalam ranjang bayi nya lalu mengajak Marcell berjalan menuju ranjang mereka.


"Apa jangan-jangan sebenarnya kamu uda nggak na*su karena ada bekas operasi di perut aku ya? kamu jijik? atau kamu uda punya orang lain untuk menumpahkan hasrat kamu?" tanya Loli dengan suara bergetar saat mereka sudah duduk di atas ranjang bersiap untuk istirahat malam.


"Sayang kamu kok bisa berfikiran seburuk itu tentang aku? apa menurut mu aku tipe pria yang akan tega melakukan hal itu? mengkhianati istriku yang bahkan hampir mati karena melahirkan putraku? apa aku sejahat itu di mata kamu?" Marcell berusaha untuk menahan intonasi suaranya agar tetap lembut dalam ketegasannya. Loli melipat bibirnya dengan tatapan takut pada Marcell. Ia tau tuduhannya sudah keterlalua.


"Yah sebenar nya kamu benar sayang, semua karena luka di perut kamu. Luka itu selalu mengingatkan ku tentang 1 minggu terburuk dalam hidupku saat aku harus mendapati kamu tidak berdaya selepas melahirkan putra kita. Luka itu membuatku tak sanggup menyentuhmu lebih jauh, bukan karena aku kehilangan hasrat lelakiku tapi karena aku takut jika menyentuhmu benihku akan kembali tumbuh di rahim kamu dan kejadian kelam itu akan kembali menimpamu. Aku nggak sanggup mengulang hari-hari suram itu sayang, jika itu kembali terjadi aku nggak yakin aku masih memiliki tenaga untuk menjalaninya. Karena itu lebih baik aku menahan hasrat ini dari pada aku harus kehilangan kamu" Menjelaskan alasannya tak menyentuh Loli lebih jauh membuat Marcell harus kembali mengingat momen menyakitkan yang mencabik-cabik hatinya.


Loli terperangah melihat air mata berhamburan di wajah Marcell. Loli tak menyangka bahwa suaminya mengalami trauma atas peristiwa saat dirinya terbujur koma. Melihat kesakitan di wajah suaminya membuat hati Loli kelu hingga air matanya tak tertahankan. Namun secara bersamaan hati nya menghangat. Lagi-lagi Marcell menunjukkan betapa suaminya itu sangat mencintainya.


Marcell rela menahan gairahnya karena takut kehilangan istrinya. Loli tau itu sangatlah tidak mudah.

__ADS_1


"Maaf sempat menuduh mu yang tidak-tidak sayang" Loli menangkup wajah kalut Marcell, masih dengan berurai air mata ia mencium kedua mata suaminya secara bergantian.


"Terima kasih sudah mencintaiku sedalam ini. Aku benar-benar wanita yang beruntung memiliki kamu" Loli gantian mencium bibir Marcell. Keduanya tergugu dengan tubuh yang saling bertaut.


"Besok kita konsultasi ke dokter ya? kita konsultasi tentang pemakaian kontrasepsi. Jadi kamu bisa melakukannya tanpa takut aku hamil lagi" Loli harus memahami ketakutan suaminya.


🍁🍁🍁


"Sa-sayang?" Marcell terpaku menatap Loli dalam balutan lingerie yang menonjolkan bagian-bagian tubuh istrinya.


Loli tersenyum menggoda, ia melangkah mendekat lalu melingkarkan tangannya di leher Marcell yang beberapa kali menelan ludah.


"Berbukalah, jangan takut lagi. Aku merindukanmu dan sangat menginginkan kamu sayang" Bisik Loli begitu dekat di telinga Marcell. Bukan mudah baginya untuk bertingkah liar seperti ini. Tapi demi menghalau segala risau suaminya Loli harus rela. 3 Hari yang lalu mereka sudah berkonsultasi pada dokter mengenai cara-cara menunda kehamilan. Loli berharap suaminya tak akan merasa ragu lagi untuk menggaulinya.


Marcell meraih wajah Loli, menatap nya dengan penuh hasrat. Lalu tanpa basa-basi ia segera menautkan bibir mereka. Marcell menyesap bibir Loli penuh kerinduan, ia merengkuh tubuh istrinya dan membawanya ke atas ranjang. Ia merebahkan tubuh Loli dan dalam satu tarikan ia melepaskan lingerie yang melekat di tubuh indah istrinya. Ia sangat menyukai dada Loli yang terlihat lebih besar.


Loli mendes ah tertahan saat Marcell mulai bermain di dadanya. Pria itu sangat berhati-hati dan begitu lembut memberikan sesapan di puncak dada Loli agar jangan sampai sumber kehidupan baby Ettan keluar akibat sesapan nya. Namun hal itu justru membuat Loli kewalahan menahan rasa nikmat di bagian sana.


"Terima kasih sudah berkorban untuk ku dan bayi kita" Bisik Marcell lalu mendaratkan kecupan di atas luka istrinya.


Tubuh Loli menggelinjang saat ciuman Marcell turun hingga bagian bawah lalu bertemu bagian intinya.


"Ja-jangan...." Terlambat sudah, Marcell telah lebih dulu menyesapnya dengan dalam hingga Loli seolah hilang kesadaran akibat rasa ngilu namun begitu nikmat di bagian inti nya. Tubuhnya bergetar hebat dengan kepala terdongak ke atas.


Nafas keduanya saling memburu, rasa rindu pada diri Marcell membuatnya tak bisa menahan lebih lama. Ia segera mengarahkan miliknya pada milik Loli meski ia tau istrinya masih menikmati pelepasan pertamanya.


"Arghhh..." keduanya mende sah saat kedua inti mereka saling menyatu dan memanjakan.


Marcell tersenyum melihat wajah bergairah Loli yang tampak memerah. Ia melihat ekspresi terkejut sekaligus menikmati saat ia mulai memacu tubuhnya dengan penuh cinta, menjemput titik tertinggi dari persembahan cinta keduanya.


"Aku mencintaimu" Bisik Marcell dalam setiap sentuhannya. Loli adalah bagian terbaik dari perjalanan hidupnya..

__ADS_1


_____________The End________________


🍁🍁🍁


Hai guys Akhirnya....


Kisah ini selesai juga.


Sangat luar biasa rasanya bisa menyelesaikan novel ke 3 ku ini.


Ribuan terima kasih pada readers setia yang turut membersamai ku menghalu bilu dalam kisah Loli_Marcell dan Zayn_Nala.


Terima kasih untuk dukungan, Like, komen, vote, dan hadiah.


Mohon maaf apabila masih banyak kekurangan, baik dari jalan cerita, penulisan, tata bahasa dan lainnya.


pokoknya aku love banget sama kalian semua


❀️❀️❀️


Jangan lupa mampir ke cerita aku yang lainnya ya...


🌸🌸Untuk novel on going ada Kisah Zio_Davina dalam My Lovely Davina


🌸🌸 Untuk Novel End ada kisah


Aleena_Ivan dalam Affair dengan Tunangan Sahabatku


dan


Kisah Alex_Bianca dan Brian_Bella dalam My Brother's Friend is My Partner

__ADS_1


See u πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°


__ADS_2