
"Perusahaan papa sudah memenangkan proyek ini dari banyak pesaing yang menawarkan pada pak Ardi kan? kenapa sekarang pak Ardi ingin membatalkan nya hanya karena urusan remeh seperti ini?" Ucap Marcell. Ia berusaha menekan emosinya agar tak membuat semua semakin runyam. Ia masih ingin berusaha menyelamatkan kerja sama ini.
"Kebahagiaan Arimbi bukan urusan remeh nak Marcell"
"Dan pak Ardi berani mempertaruhkan keprofesionalan bapak sebagai pengusaha ternama dan pemimpin perusahaan terbesar karena urusan cinta monyet anak remaja yang menurut satu pihak belum usai?" Tanya Marcell dengan senyum tak percayanya.
"Sudah saya katakan di awal, apapun akan saya lakukan demi memenuhi permintaan anak saya" tegas pak Ardi.
"Saya tidak menyangka pak Ardi yang terkenal cerdas, berkelas dan bertangan dingin di dunia bisnis akan mencampur adukkan urusan pribadi dengan urusan bisnis. Terlebih hanya perihal romansa anak remaja" Marcell tersenyum meremehkan.
"Sehebat apapun saya di dunia bisnis saya tetap seorang ayah yang ingin memberikan kebahagiaan untuk anaknya"
"Tetapi tidak dengan mengorbankan kebahagiaan orang lain pak. Istri saya tidak bisa ditukar dengan hal apapun pak Ardi, proyek ratusan triliyun pun tak ada artinya dibandingkan istri saya. Meminta seorang suami mengkhianati istrinya adalah sikap yang begitu rendah dan murahan, sangat tidak sesuai dengan image yang bapak miliki selama ini. Saya rasa memutus kerja sama dengan orang yang tidak profesional itu sama sekali tidak rugi. Karena dalam hidup ini tidak melulu harus mempertimbangkan perihal untung dan rugi dalam hal materi. Saya permisi" Tegas Marcell, tak ada keraguan sedikitpun untuk menolak tawaran busuk pria itu. Marcell berdiri dan melangkah meninggalkan pak Ardi yang tampak menegang.
"Kamu akan menyesal Marcell" ucap pria itu dingin.
"Seperti halnya pak Ardi yang rela melakukan apapun untuk kebahagiaan anak bapak, saya pun demikian. Akan mengorbankan apapun demi mempertahankan istri yang sangat saya cintai termasuk proyek ini, pak Ardi tenang saja sampai mati pun saya tak akan pernah menyesal atas keputusan ini" Marcell berjalan cepat meninggalkan ruangan itu. Dadanya terasa panas, ia takut tak bisa menahan diri lebih lama dan akhirnya melakukan sesuatu yang buruk pada pak Ardi.
"Kita pergi dari sini pak Anton" ucap Marcell pada asisten papanya.
"Kontrak kerja sama nya belum ditanda tangani pak Marcell" Anton menunjukkan map di tangannya.
"Kerja sama nya dibatalkan. Pak Anton kembali saja ke kantor, Kalau papa bertanya nanti saya akan jelaskan. Saya mau pulang dulu" Meski bingung Anton mengikuti langkah putra dari bosnya itu meninggalkan restoran tempat pertemuan dengan pak Ardi.
Marcell memasuki mobilnya, wajahnya masih terlihat tegang dan menyimpan amarah.
__ADS_1
"Pulang ke rumah pak" Ucap Marcell pada sang sopir. Ia ingin segera pulang dan memeluk Loli untuk meredam perasaan kacau di hati nya.
Ucapan pak Ardi membuatnya begitu geram. Bisa-bisanya pria itu menilai rendah dirinya dengan menawarkan keuntungan untuk menyakiti hati istrinya. Harga dirinya seolah ingin dibeli dengan uang. Sungguh Marcell merasa dilecehkan.
Marcell keluar dari mobil dengan tidak sabar setibanya di rumah. Ia melangkah cepat untuk segera melepaskan segala kegelisahan hatinya.
"Sayang..." panggil Marcell saat melihat Loli yang tengah merebahkan diri di ranjang sambil membaca novel, ia tampak terkejut dengan kepulangan suaminya.
"Sayang kok uda pulang?" Loli melingkarkan tangan nya di tubuh Marcell saat pria itu memeluk erat dirinya. Melihat sekilas wajah kusut Marcell serta bagaimana Marcell memeluk dan menciuminya cukup membuat Loli mengerti ada sesuatu yang tengah mengganggu perasaan suaminya. Loli tak bertanya lagi, ia mengusap lembut punggung Marcell.
Setelah cukup lama pada posisi itu, Marcell melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Loli. Ia menatap dalam wajah teduh istrinya. Keresahan hatinya perlahan melayang, sesak di dadanya terangkat hanya dengan menatap mata jernih istri kecilnya.
Marcell merasa begitu tenang, ia tersenyum bangga. Sampai kapanpun tak akan ada yang bisa menukar posisi Loli dalam hidupnya. Ia semakin sadar tak akan pernah bisa kehilangan Loli.
"Aku mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu" Bisik Marcell penuh perasaan.
"Ka-kamu beneran uda cinta sama aku?" Tanya Marcell dengan kilatan bahagia yang terpancar jelas.
"I-iya aku cinta kamu" Loli mengangguk pasti. Marcell tampak tak bisa berkata-kata lagi, dicintai oleh wanita yang ia cintai adalah kebahagiaan terbesarnya saat ini. Ia kembali memeluk erat istrinya.
"Kamu kenapa?" Loli memberanikan diri untuk bertanya saat dirasa Marcell sudah tenang.
Marcell melepaskan pelukannya. Ia mengubah posisi bersandar di ranjang, dan Loli ia tuntun untuk bersandar di dadanya.
"Pak Ardi papanya Arimbi" ucap Marcell.
__ADS_1
Loli mengangkat tubuhnya menatap pada Marcell.
"Lalu?"
"Dia minta aku untuk kembali pada Arimbi jika kerja sama tetap ingin dilanjutkan. Kalo aku nolak maka kerja sama dibatalkan" Marcell mengusap pipi istrinya yang tampak begitu kaget, wajahnya memucat.
"Kamu menerima tawarannya?" Tanya Loli dengan suara bergetar, matanya sudah berkaca-kaca. Rasa takut memenuhi perasaan nya. Ia takut rasa cinta yang baru bermekaran akan dipaksa layu.
"Tentu saja aku menolaknya sayang, apa menurutmu aku akan menukar istri dan anakku dengan proyek sialan itu? istri Marcell jauh lebih berharga dari apapun. Mana mungkin aku rela melepaskannya hanya untuk sebuah proyek kerja sama" Loli menghela nafas lega, namun air matanya tak urung keluar, keresahannya berubah rasa haru.
"Tapi bukankah proyek itu penting? papa akan rugi"
"Bekerja sama dengan mereka yang tak manusiawi itu jauh lebih merugikan sayang. Kita bisa mendapatkan proyek kerja sama dengan perusahaan lain yang jauh lebih bermoral" Marcell mengusap air mata istrinya.
"Tapi bisa aja pak Ardi mempengaruhi perusahaan lain agar tidak bekerja sama dengan perusahaan papa"
"Perusahaan kita meski tak sebesar perusahaan pak Ardi juga bukan perusahaan kecil yang akan mudah tumbang. Banyak perusahaan yang bekerja sama merasa puas dengan kinerja perusahaan kita sayang. Tenang saja mereka tak akan terpengaruh" Loli mengangguk tanda mengerti.
"Papa uda tau? papa marah nggak sama kamu?"
"Papa belum tau, Mungkin awalnya akan marah, tapi setelah mendengar penjelasanku papa pasti mengerti. Percayalah sama seperti ku bagi papa menantunya jauh lebih berharga dari kerja sama itu." Loli meski masih sangat muda namun begitu peka. Marcell tau perasaan istrinya begitu halus. Ia benar-benar beruntung memiliki Loli meski kisah mereka harus diawali dengan tragedi yang begitu menyakitkan.
Marcell mengeratkan dekapannya pada sang istri.
🍁🍁🍁
__ADS_1
Uda pada tau kan Marcell bukan laki-laki murahan yang gampang goyah... 😀😀😀