
Nala terpaku menatap benda pipih di tangannya. Meski dirinya sudah menduga namun ia tetap merasa shock saat melihat hasilnya.
"Kenapa kamu harus hadir? tidak bisakah membiarkan aku bebas dari bocah kecil menyebalkan itu?" Bisik Nala disela lelehan air matanya. Ia meraba perutnya nya, ia tak menginginkan bayi ini tapi ia juga tak sampai hati menyakitinya.
"Aku harus gimana sekarang" Tanya Nala pada bayangan wajahnya di cermin. Ia melihat dirinya begitu menyedihkan. Untuk beberapa saat Nala membiarkan dirinya menangis. Meluapkan segala perasaan yang begitu menyesakkan.
Setelah puas menangis, gadis itu membersihkan dirinya lalu keluar menemui Zayn di meja makan.
"Selamat pagi, kamu habis menangis?" padahal Nala sudah berusaha menutupi dengan make up namun nyatanya jejak tangisan di wajahnya masih dapat dilihat oleh bocah kecil itu. Apa memang Zayn tipe pria yang memiliki kepekaan yang terlalu tinggi?
"Iya aku habis menangis karena kangen mama. Jadi bolehkah aku pulang?" tanya Nala tanpa basa basi.
"Benarkah? kamu uda dewasa Nala. Masa hanya karena kangen mama kamu, kamu sampai menangis? padahal cepat atau lambat kamu pasti akan berpisah sama orang tua kamu untuk ikut suami"
"Terserah aku, kamu kok jadi ngatur-ngatur perasaan aku? salahnya di mana kalo aku nangis karena kangen mama aku? Lagian syarat yang diajukan mama kalo aku menikah suami aku harus setuju untuk tinggal di rumah orang tua aku" ucap Nala ketus.
"Jadi kita bakalan tinggal di rumah orang tua kamu? hemm nggak apa-apa sih aku setuju-setuju aja" ucap Zayn santai.
"Emang siapa yang mau nikah sama kamu? aku mah ogah!" Zayn mengulum senyum melihat kekesalan di wajah Nala.
"Duh galak banget sih calon istri" Ekspresi Zayn semakin membuat Nala meradang.
"Aku lagi serius! aku mau pulang"
"Kalo mau pulang harus sama aku, kita langsung datang ke orang tua kamu. Kita nikah" jawab pria itu tanpa beban.
"Aku nggak mau nikah sama kamu Zayn" Ucap Nala lirih.
"Ulang dong, duh suka banget deh denger kamu sebut nama aku." Ucap Zayn penuh semangat. Pria itu tersenyum lebar dengan mata berbinar. Nala jarang sekali menyebut namanya atau bahkan bisa dibilang ini pertama kalinya.
"Uda dong, aku beneran mau pulang" Zayn terdiam sejenak mendengar nada suara Nala yang tak seperti biasanya. Jika selama ini Nala selalu bicara ketus dan judes kali ini ia terlihat begitu memohon.
__ADS_1
"Aku nggak hamil, aku lagi datang bulan" Ucap Nala lagi. Zayn menatap kaget pada Nala, gadis itu mengerutkan keningnya saat melihat gurat kekecewaan di wajah Zayn. Namun Nala menepis hal itu, ia menganggap dirinya salah melihat.
"Kamu beneran datang bulan?" Nala mengangguk yakin
"Ayo kita lihat kalo kamu nggak percaya" tantang Nala. Hatinya bergejolak, takut Zayn menyetujui.
"Nggak usah, aku percaya sama kamu" ucap Zayn lesu.
"Jadi aku uda boleh pulang kan?"
"Kamu beneran nggak hamil?" Zayn menatap serius pada Nala.
"Enggak aku nggak hamil!" Jawab Nala pasti.
"Ya udah kamu boleh pulang kapan aja kamu mau. Tapi tahun depan setelah aku lulus kuliah aku bakalan datang buat lamar kamu. Jadi selama satu tahun ini kita sama-sama belajar untuk saling mencintai. Jangan coba-coba buat dekat sama cowok lain" ucapan Zayn membuat hati Nala bergetar. Jika sebelumnya ia sangat yakin untuk menutupi kehamilannya dari Zayn dan mengasingkan diri selepas ia pergi dari pria itu sekarang ia mulai dilingkupi keraguan. Keyakinan Zayn untuk bertanggung jawab sedikit menggoyahkan ego Nala.
"Aku mau pulang besok" ucap Nala lirih. Matanya tak lepas menatap pada Zayn.
🍁🍁🍁
Nala menatap pada Zayn sepanjang perjalanan menuju bandara. Pria itu sejak pembicaraan terakhir mereka kemarin tak lagi mengajaknya bicara.
"Zayn, aku mau ucapin terimakasih ke kamu karena kamu uda berniat untuk bertanggung jawab meskipun aku nggak bisa nerima" Nala merasa perlu mengucapkan rasa terima kasihnya.
"Bukan nggak bisa, tapi belum. Aku pastikan kamu akan menerimanya nanti" Tidak ada seringai jahil seperti biasanya. Tatapan tegas pria itu membuat nyali Nala menciut. Ia mengalihkan tatapan nya keluar jendela. Nala memilih tak berbicara lagi.
Nala menatap kaget pada Zayn saat mobil yang mereka tumpangi bukan berhenti di bandara. Saat membaca tulisan yang tertera Nala semakin panik karena tempat mereka berhenti saat ini adalah rumah sakit.
"Ke-kenapa ke sini? kalo aku telat gimana? penerbangan aku sebentar lagi Zayn" tanya Nala. Wajahnya berubah pucat.
Zayn menatap tajam pada Nala, ia meraih saku nya dan mengeluarkan sebuah benda kecil dan menunjukkan nya pada Nala.
__ADS_1
"Aku menemukan ini di meja rias kamu" ucap Zayn dingin.
Flashback on
Tadi malam Zayn merasa begitu gelisah, sudut hatinya merasa tak rela untuk membiarkan Nala pergi darinya. Meski malam sudah semakin larut matanya tak kunjung terpejam.
Zayn memutuskan untuk pergi ke kamar Nala. Beruntung gadis itu sudah tertidur dan kamarnya tidak dikunci dari dalam.
Memandangi wajah Nala yang tertidur begitu lelap menghadirkan perasaan berbeda di hati pria itu. Ia semakin tidak rela melepaskan Nala begitu saja.
"Kamu nggak boleh ke mana-mana Nala, kalaupun kamu pergi maka harus ada aku yang membersamai mu" Zayn merasa sudah benar-benar terikat pada gadis itu.
Setelah puas memandangi wajah Nala, Zayn berniat keluar dari kamar gadis itu. Namun seolah ada yang menuntunnya Zayn tiba-tiba menatap ke arah meja rias gadis itu dan mendapati sebuah benda yang menarik perhatiannya.
Zayn meraihnya dan mengamati benda tersebut. Dari tulisan yang tertera Zayn meyakini bahwa itu adalah alat tes kehamilan. Untuk lebih meyakinkan lagi Zayn segera membawa benda itu keluar dari kamar Nala. Pria itu meraih ponselnya dan membuka internet untuk mencari tau kebenaran alat itu. Dada pria itu terasa membuncah saat membaca hasil tes yang terbaca berdasarkan petunjuk yang ia lihat di internet.
Namun rasa kecewa memenuhi hatinya saat menyadari Nala mencoba berbohong dan berniat pergi darinya.
Flashback Off
"Kamu hamil Nala"
"I-ini bukan.." Ucapan Nala terhenti saat Zayn memotong ucapannya.
"Jangan menyangkal lagi Nala! kamu mau pergi dari aku dan memisahkan aku dari anak kita hum? kamu tega melakukannya?" Zayn sedikit membentak, dan itu membuat Nala sadar bahwa apa yang ia lakukan telah melukai hati pria itu.
"Kita periksa ke dokter sekarang. Kalo memang kamu nggak hamil aku nggak akan menghalangi kamu untuk pergi" Nada tegas Zayn membuat Nala tak berkutik.
Ia menerima uluran tangan Zayn dan ikut keluar dari mobil. Ia sudah pasrah sekarang, mungkin semesta memang tak menginginkan dirinya terbebas dari perangkap bocah kecil itu.
🍁🍁🍁
__ADS_1