Tragedi Bachelor Party

Tragedi Bachelor Party
Enam Puluh Empat


__ADS_3

"Maaf kita kesiangan ma" Loli dan Marcell paling akhir datang ke meja makan untuk sarapan. Keduanya mengambil tempat bersisian.


"Nggak apa-apa sayang, gimana Marcell rasanya tidur di kamar Loli, nyaman?" tanya mama Dita pada menantunya. Karena ini pertama kalinya bagi Marcell menginap di rumah ini. Mama Dita tersenyum melihat Loli yang tampak mulai telaten melayani suaminya.


"Nyaman banget ma, makanya bangun aja sampe kesiangan" padahal ia dan Loli semalam baru tidur jam 1 dini hari. Tentu saja Marcell tak mau melewatkan malam panas bersama Loli di kamar yang ditinggali istrinya sebelum mereka menikah. Ia ingin merasakan bercinta di suasana yang berbeda.


"Zayn uda dikasih tau sama Nala kan kalian akan tinggal di sini ketika sudah menikah nanti" kali ini mama Dita beralih menatap pada Zayn yang duduk di sebelah Nala tepat di seberang Marcell.


"Iya tante, Zayn nggak keberatan" Marcell sangat terkejut ketika mengetahui ada Zayn di sana. Tadi ia sama sekali tak menyadarinya. Sontak ia menarik kursi Loli agar lebih dekat dengannya. Ia mengawasi Zayn agar jangan sampai menatap istrinya, ia sangat tidak rela pria itu memandang wajah cantik Loli.


"Ah syukurlah kalau begitu" Mama Dita terlihat bahagia. Andai saja Loli dan Marcell bisa ikut tinggal di rumah ini, kebahagiaannya pasti akan terasa sempurna. Namun mama Dita tau itu tidak mungkin, dan ia tak boleh egois dengan memaksakan keinginan pada anak-anaknya.


"Aku uda selesai, kita berangkat sekarang" Nala yang sejak tadi hanya diam menatap pada Zayn.


"Iya sayang, kami pamit ya tante. Marcell Loli kami duluan ya" Ucap Zayn ramah sebelum beranjak dari sana. Marcell menghela nafas lega melihat kepergian Zayn. Marcell masih belum nyaman berada di dekat pria itu, ia belum bisa mengontrol perasaannya dengan baik.


"Kak Nala mau ke mana ma?" tanya Loli yang baru saja menghabiskan segelas susu untuk ibu hamil yang dibuatkan mamanya. Jika di rumah biasanya Marcell yang selalu membuatkan susu untuknya di pagi dan malam hari.


"Mereka mau ngukur baju pengantin sayang"


"Uda ditetapin hari pernikahannya kapan ma?" Tanya Marcell. Ia tampak menikmati roti dengan selai cokelat yang dibuatkan Loli.


"Udah, berdasarkan kesepakatan tadi malam pernikahan nya akan digelar 2 minggu lagi" jawab mama Dita


"Dua minggu? Bentar lagi dong ma? emang sempat ya nyiapin semuanya cuma dalam waktu 2 minggu?" Loli menatap heran pada mamanya. Ia tau Zayn dari keluarga kaya apalagi Zayn anak tunggal. Tidak mungkin pernikahan mereka akan digelar secara sederhana.


"Mamanya Zayn yang menyiapkan semua katanya. Kita tinggal terima beres, Ya udah kita ngikut aja maunya mereka. Yang penting kakak bahagia" ucap mama Dita sendu. Sebenarnya ia ingin ikut mengurusi pernikahan Nala, tapi karena pihak Zayn akan mengurusi semuanya mama Dita terpaksa hanya menerima semuanya.

__ADS_1


"Papa ke mana ma kok nggak ikut sarapan, nggak mungkin ke kantor dong weekend gini?" Marcell segera mengalihkan topik pembicaraan, melihat wajah sedih mamanya pasti akan kembali menyulut rasa bersalah pada diri Loli. Marcell tidak mau istrinya terus-terusan dihantui perasaan yang tak seharusnya.


"Papa pagi-pagi sekali uda berangkat ke luar kota supaya urusan cepat selesai mengingat pernikahan Nala yang dua minggu lagi"


🍁🍁🍁


"Kenapa lihat-lihat? mau aku tusuk mata kamu huh?" Nala merasa risih karena sejak tadi Zayn tak mengalihkan tatapan dari nya. Untung saja mereka diantar sopir, kalau tidak mereka pasti sudah mengalami kecelakaan karena pria itu tak fokus melihat jalanan.


"Ya ampun sayang, masa sama calon suami galak banget" Zayn menggelengkan kepalanya melihat sikap Nala yang masih sering tak bersahabat.


"Nggak usah panggil-panggil sayang. Aku nggak suka" Nala mendelik kesal pada pria itu.


"Mulai sekarang kamu harus suka, karena aku akan panggil kamu sayang terus" jawab Zayn cuek.


"Sebaiknya kamu juga mulai membiasakan diri panggil aku sayang ya." ucap Zayn lagi


"Ogah!" Nala memelototi Zayn yang malah terkekeh.


"Dasar bocah, nyebelin, brengsek!!" Nala memukuli tubuh pria itu.


"Udah nggak boleh kasar sama calon suami, dosa" Zayn berhasil menangkap pergelangan tangan Nala hingga gadis itu tak bisa berkutik.


"Jangan kasar-kasar gitu sayang, nanti bayi diperut kamu jadi meniru perilaku bar-bar mamanya" Nala semakin kesal mendengar ucapan Zayn.


"Aku benci banget sama kamu" ketus gadis itu


"Nggak apa-apa. Bentar lagi juga kamu bakalan cinta kok" meski sangat kesal namun Nala memilih diam. Sampai kapanpun sepertinya ia tak akan pernah menang berdebat dengan bocah kecil itu.

__ADS_1


"Gitu dong, kalo nurut gini makin cantik. Makin nggak sabar pengen cepat-cepat nikahin. Ya nggak sayang?" Zayn mengusap perut Nala.


"Nggak usah sentuh anak aku" Nala menepis tangan Zayn yang berada di perutnya.


"Anak kita sayang, bukan cuma anak kamu"


"Kan di perut aku, ya anak aku lah"


"Tapi kan bibitnya dari aku, mana bisa kamu hamil kalo aku nggak nebar benih nya"


ucap Zayn lantang.


Mereka kembali berdebat hampir sepanjang perjalanan. Untung saja sopir mereka sedang mendengarkan lagu dengan menggunakan headset, kalau tidak mungkin ia akan merasakan sakit kepala yang hebat mendengar perdebatan kedua majikan yang tak kunjung usai.


"Senyum dong, nanti desainernya nyangka kita lagi berantem lagi kalo kamu cemberut gini" Zayn menautkan jarinya pada jari tangan Nala saat mereka memasuki butik terkenal yang mereka pilih untuk mendesain pakaian pengantin yang akan dikenakan saat menikah nanti


"Emang kita lagi berantem kan, ngapain pura-pura akur" jawab Nala yang berhasil menyulut kekesalan Zayn


"Dasar batu, keras kepala, egois, untung aja calon istri" Gerutu Zayn.


"Bodo!" Nala merasa puas karena berhasil memancing emosi pria itu.


Keduanya terdiam saat pemilik butik menyambut mereka dengan ramah. Wanita cantik itu mempersilahkan Zayn dan Nala masuk ke ruangannya untuk mulai mendiskusikan desain pakaian yang mereka mau.


"Mbak Nala mau model baju yang seperti apa?" Tanya sang desainer sambil menyerahkan katalog sebagai referensi bagi calon pengantin itu.


Pertanyaan desainer itu membuat Nala teringat pada pakaian pengantin yang ia desain sendiri untuk pernikahannya dengan Marcell. Hatinya merasa perih, gaun itu adalah gaun yang ia impikan sejak dulu. Namun sayang gaun impiannya tak sempat ia pakai dan tak akan pernah sanggup untuk ia kenakan sampai kapanpun.

__ADS_1


"Tanya calon suami aku aja mbak, aku mau dia yang pilihin" Zayn tersenyum pada Nala, mendengar Nala menyebutnya calon suami sungguh menggetarkan perasaannya.


🍁🍁🍁


__ADS_2