Tragedi Bachelor Party

Tragedi Bachelor Party
Empat Puluh Tiga


__ADS_3

Loli menatap penuh rasa bersalah pada Marcell yang tengah menggenggam tangan nya. Harus nya mereka bersiap untuk berbulan madu namun kondisi kesehatan Loli malah menurun.


Tadi pagi Loli diserang mual muntah yang parah, tadinya ia tetap pura-pura kuat dan bersikeras melanjutkan rencana mereka untuk pergi bulan madu meski Marcell terus meyakinkan Loli bahwa mereka bisa melakukan honeymoon kapan saja jika memang belum bisa hari ini.


Namun kondisi Loli yang lemah membuatnya jatuh pingsan dan berakhir di ranjang rumah sakit.


"Kak aku minta maaf" Ucapnya lirih.


"Minta maaf kenapa?" Marcell meletakkan tangan Loli yang ia genggam di wajahnya.


"Udah merusak rencana bulan madu kita" Marcell tersenyum dan mengusap rambut istrinya, wajah Loli masih terlihat pucat meski tak sepucat pagi tadi.


"Besok-besok masih bisa sayang, jangan difikirkan. Mungkin bayi kita cemburu, takut dikasih adik kalau papa dan mama nya honeymoon makanya dia ngambek ngerjain kita" ucap Marcell sambil terkekeh. Pria itu beralih mengusap perut Loli.


"Kakak ada-ada aja" tak urung sebuah senyuman terbit di bibir Loli.


"Kak aku nggak nginap kan di sini?" Loli begitu malas jika harus dirawat di rumah sakit.


"Nanti kalo adek uda kuat boleh pulang kok kata dokter"


"Kita langsung berangkat bulan madu aja kak kalo uda dibolehin pulang hari ini" Loli seolah mendapatkan semangatnya kembali. Ia tak tega harus mengecewakan Marcell yang sudah begitu pengertian dan sabar menghadapinya.


"Adek nggak sabar banget pengen kasih adik buat anak kita ya?" Wajah Loli memerah seketika mendengar ucapan Marcell belum lagi raut wajah menggoda pria itu.

__ADS_1


"Kakak nyebelin" Loli pura-pura merajuk untuk menutupi rasa gugup dan malunya.


"Duh istrinya Marcell lucu banget kalo lagi malu-malu gini. Gemes banget tau nggak" Marcell mencium pipi Loli, ia ingin melakukan lebih namun melihat kondisi Loli yang tak memungkinkan Marcell harus bisa berpuas diri hanya dengan mencium pipinya saja.


"Dokter bilang jangan bepergian dulu sayang, jadi sepertinya rencana bulan madu kita harus ditunda dulu" Marcell sama sekali tak menampakkan kekecewaan yang ia rasakan demi menjaga perasaan Loli. Namun tak urung gurat kesedihan tergambar di wajah istrinya.


"Maaf ya kak"


"Sayang nggak salah, jangan meminta maaf. Ini demi kebaikan bayi kita juga" ucap Marcell lembut.


"Aku belum bisa bahagiain kakak, padahal kakak uda baik banget sama aku" Loli mulai menangis, ia merasa kesal pada dirinya sendiri yang begitu lemah.


"Loh kok mikirnya gitu? adek bersedia jadi istri kakak aja uda bikin kakak bahagia, apalagi sekarang adek juga uda kasih hadiah paling berharga buat kakak" Marcell menyapu air mata yang menetes di wajah Loli.


"Kakak titip dia dan tolong sayangi bayi kita ya?" Marcell mengusap pipi istrinya. Marcell tau Loli belum terbiasa dengan keberadaan bayi mereka, mungkin juga rasa sayang nya belum tumbuh secara utuh. Marcell jarang sekali melihat Loli berinteraksi dengan bayi mereka meski hanya mengusap perutnya.


"Iya aku sayang bayi kita" Jawab Loli. Senyuman gadis itu memberikan kehangatan di hati Marcell.


"Makasih sayang" Bisik Marcell.


🍁🍁🍁


Marcell mendapati Nala duduk di kursi tunggu depan pintu kamar rawat Loli. Pria itu bermaksud ke luar sejenak untuk membeli makanan karena sedang ada mama Dita yang menemani istrinya.

__ADS_1


"Nala, kenapa nggak masuk?" Sapa Marcell. Nala yang sedang memainkan ponselnya mengangkat kepala mendengar suara Marcell. Saat pulang ia melihat mamanya yang tergesa keluar dan mengatakan adiknya masuk rumah sakit. Padahal mama Dita tidak meminta pada Nala untuk diantar namun gadis itu berinisiatif menawarkan untuk mengantar mamanya, tapi setiba di rumah sakit hatinya masih berat untuk bertemu Loli dan Marcell hingga ia memutuskan untuk menunggu di luar.


"Nggak apa-apa" nada bicara Nala masih terdengar ketus. Marcell menghela nafasnya menyadari Nala masih menyimpan kekecewaan yang begitu besar padanya. Marcell paham Nala tidak akan bisa secepat itu untuk bersikap biasa saja. Namun dengan kedatangan Nala ke rumah sakit itu sudah membuktikan bahwa gadis itu masih begitu peduli pada Loli.


"Loli uda nggak apa-apa. Mungkin nanti sore sudah boleh pulang" Marcell duduk di samping Nala yang tak menyahuti ucapan nya. Gadis itu terlihat kembali fokus pada ponselnya, namun Marcell tau Nala mendengar ucapan nya.


"Seandainya kamu berada di posisiku apa yang akan kamu lakukan Nala? kamu merenggut masa depan seorang gadis kecil yang belum tau apa-apa. Apa kamu akan sampai hati untuk lepas tanggung jawab?" Marcell merasa sudah saat nya ia memberi pengertian pada Nala meski ia sedikit ragu Nala sudah bisa menerima penjelasan nya. Marcell ingin hubungan Loli dan Nala kembali seperti semula sebelum dirinya menghancurkan semuanya. Ia tak peduli andai Nala akan membencinya seumur hidup, tapi ia tak sampai hati jika istrinya terus dibenci karena kesalahan yang tidak ia lakukan.


"Masa depan Loli sudah aku hancurkan, dia bahkan mengandung anakku. Aku nggak bisa untuk nggak peduli dan lepas tangan padanya" lanjut Marcell.


"Bukan berarti aku nggak peduli sama kamu, aku bukan mengabaikan perasaan mu. Tapi aku berusaha untuk realistis. Meskipun hati kamu hancur tapi masa depan kamu masih bisa kamu tata bersama pria lain, kamu masih utuh dan kamu masih bisa melanjutkan hidup dengan kepala tegak. Sementara Loli? kepercayaan dirinya sudah luruh ke tanah." Nala menatap tajam pada Marcell, ia kesal dengan pernyataan pria itu.


"Menata hati itu tak semudah mengucapkan nya Marcell. Lagipula saat itu Nathan bersedia bertanggung jawab pada Loli. Tapi kamu lebih memilih menghancurkan perasaan ku"


"Kamu yakin hati kamu nggak akan hancur kalo kita tetap menikah? sementara kamu tau aku sudah meniduri wanita lain terlebih itu adik kamu sendiri bahkan sampai ia hamil? aku yakin perasaan kamu akan tetap hancur, seumur hidupmu akan dihantui rasa bersalah. Lagipula apa kamu nggak jijik menikah sama pria yang nggak bertanggung jawab pada perbuatan kejinya? aku yakin kita nggak akan bahagia Nala, seumur hidup kesalahan itu akan membayangi pernikahan kita" Nala tersenyum getir. Ia mengalihkan tatapan nya ke arah lain. Otaknya mengakui bahwa apa yang Marcell ucapkan tak sepenuhnya salah, namun hatinya enggan menerima.


"Kamu nggak apa-apa kalo mau terus benci sama aku Nala karena aku memang pantas untuk dibenci. Tapi Loli enggak, dia nggak boleh mendapat penghakiman dari kamu karena dia sama sekali nggak salah. Jangan tutupi kasih sayang kamu untuk Loli dengan kekecewaan kamu terhadap aku. Hubungan kalian begitu berharga, jangan sampai hancur hanya karena aku"


🍁🍁🍁


Doain semoga nanti malam bisa up ya guys, tapi kalo misal nggak bisa aku minta maaf 🙏😘


Makasih uda selalu setia menemani aku menulis kisah ini. Sayang kalian selalu 😍😍🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2