Tragedi Bachelor Party

Tragedi Bachelor Party
Empat Puluh Sembilan


__ADS_3

"Nggak usah cemburu gitu sayang, kan kak Marcell uda miliknya Loli begitupun sebaliknya" Marcell menggigit pipi Loli dengan gemas hingga membuat gadis itu menjerit tertahan.


"Kakak suka ya di puji-puji setinggi langit kayak gitu" ucap Loli masih dengan nada kesalnya sambil mengusap pipinya yang basah akibat gigitan suaminya.


"Nggak lah, pujian kayak gitu nggak ada artinya kalo bukan keluar dari bibir istriku" ucap pria itu. "Jadi gimana menurut adek, kak Marcell tampan seperti yang cewek-cewek itu bilang nggak?" Lanjut Marcell lagi.


Dengan polosnya Loli menganggukkan kepalanya, wajah lugu istrinya membuat Marcell semakin gemas.


Pria itu mendekatkan wajahnya ingin mencium istrinya namun Loli yang mengira Marcell akan menggigit kembali pipinya segera menjauhkan diri.


"Sakit kak, kayak angsa aja ih suka asal nyosor" gerutu Loli.


"Abisnya istrinya Marcell menggemaskan banget" Marcell berhasil menangkap tubuh Loli dan menciumi istrinya. Ia terus mendaratkan ciuman bertubi-tubi tak peduli pekikan Loli yang minta dilepaskan.


Bukan nya menuruti Marcell malah menyasar bibir Loli dan menyesapnya dengan begitu rakus, meredam semua protes dan teriakan istrinya.


Loli yang sebelumnya meronta kini menghentikan pemberontakan nya, sesapan bibir Marcell membuat tubuhnya melemah. Ia tak bisa menepis getaran hangat yang merambat di setiap sel tubuh saat Marcell melancarkan cumbuan padanya.


Seperti malam-malam yang sudah mereka lewati sebelumnya kamar mereka mulai dipenuhi erangan dan des ahan dari sepasang suami istri yang seolah tak pernah puas memuja tubuh masing-masing pasangannya.


Gairah Marcell selalu bangkit dengan mudah tiap kali mulai mencumbu tubuh istrinya. Sejauh ini ia selalu kewalahan untuk menekan hasrat nya. Beruntung trauma Loli sudah benar-benar hilang dan tak kembali lagi sehingga ia bisa mencumbu istrinya sebanyak yang ia mau, jika saja tidak mengingat ada bayi yang sedang tumbuh di rahim Loli mungkin ia akan terus meminta bercinta sepanjang malam.


🍁🍁🍁

__ADS_1


"Tapi kenapa pak?" Nala kebingungan saat pimpinan perusahaan tempat di mana dia bekerja yang tak lain adalah papa Zayn pria yang beberapa waktu ini selalu mengganggunya meminta Nala untuk pergi ke luar negeri, ke Sydney tepatnya.


Tentu Nala tidak akan keberatan jika ini berkaitan dengan pekerjaan. Namun atasan nya meminta Nala ke Sydney untuk urusan pribadi yaitu menemui Zayn. Gadis itu yakin ini adalah ulah pria menyebalkan itu yang sengaja ingin menjebaknya.


"Zayn butuh bantuan mu, dia butuh teman diskusi untuk menyelesaikan tugas akhir kuliahnya." Ucap pak Suseno.


"Maaf tapi kenapa harus saya pak?" Nala masih tak habis fikir pada alasan yang menurutnya terlalu dibuat-buat.


"Karena jurusan yang kalian ambil sama Nala. Zayn yakin kamu akan bisa membantunya" jawab pak Suseno. Perintah pria itu sepertinya begitu sulit untuk Nala tawar


"Tapi pekerjaan saya di sini bagaimana pak? saya masih memegang satu proyek penting" Nala berusaha berkelit, mencari celah agar bisa terbebas dari tugas aneh yang dibebankan padanya.


"Kamu dibebas tugaskan sementara, tapi kamu jangan khawatir gaji kamu tetap akan dibayarkan setiap bulan, biaya hidup kamu di sana juga ditanggung." Nala tak bisa berkata. Tak ada alasan apapun lagi yang bisa ia kemukakan untuk menolak perintah tersebut.


"Kalau masalah itu kamu tanyakan pada Zayn, karena saya tidak tau persisnya harus berapa lama" Pembawaan pak Suseno begitu tenang namun Nala merasa bagaikan diterpa gelombang besar.


"Selama di sana saya tinggal di mana?" Nala berharap kegilaan ini tidak lebih parah. Semoga ada keajaiban sehingga ia tak harus berada satu atap dengan bocah gila itu.


"Di penthousenya Zayn tentu saja" Nala semakin terhenyak, kata-kata umpatan terus ia layangkan di dalam hati. Ia sudah tak lagi berminat menyela atau menjawab ucapan pria di hadapan nya.


"Besok kamu berangkat, semua dokumen yang kami perlukan besok pagi akan diantarkan oleh Juan kamu hanya perlu menyiapkan keperluan kamu sendiri. Karena kami harus bersiap maka kamu boleh pulang lebih awal" Nala tak lagi fokus mendengarkan penjelasan pak Suseno. Otaknya dipenuhi oleh bayangan menyeramkan, entah akan seperti apa hidupnya selama terjebak bersama bocah menyebalkan itu.


"Kamu boleh keluar dan pulang sekarang Nala" ucap pak Suseno.

__ADS_1


"Baik pak, saya permisi" Ucap Nala lemah. Ia membungkukkan tubuhnya sebelum undur diri dari hadapan bos nya tersebut.


Sesuai instruksi dari atasannya Nala langsung pulang lebih awal ke rumah. Ia sudah tidak sabar untuk segera tiba di kamarnya, bukan karena terlalu bersemangat untuk bersiap namun ia ingin segera melampiaskan kekesalannya pada si pembuat ulah.


Dengan tangan gemetar karena diliputi amarah yang membara Nala mencari riwayat panggilan karena ia memang tak sudi menyimpan nomor pria itu. Untunglah riwayat panggilan tak sempat Nala hapus sehingga ia bisa langsung menghubungi Zayn.


"Brengsek!!! bocah manja! anak kecil egois, menyebalkan!" Nala berteriak mengumpati Zayn ketika panggilan telfon sudah tersambung.


"Kenapa harus ada manusia paling menyebalkan seperti kamu di dunia ini brengsek!!! memanfaatkan kekuasaan untuk urusan pribadi. Sama sekali tidak dewasa, jauh dari kata profesional!" Nala terus berteriak seperti kesetanan, ia benar-benar kesal pada kondisi di mana ia tak bisa berbuat apapun untuk menolak permintaan yang sangat tidak ia sukai.


"Uda marah-marah nya? nggak malu sama bayi kita teriak-teriak kayak anak balita?" ucap Zayn saat Nala tak lagi berteriak setelah hampir 15 menit gadis itu menceracau mengumpati nya, kini hanya terdengar deru nafas gadis itu. Amarah Nala yang sempat mereda tersulut lagi mendengar ucapan pria itu.


"Bocah brengsek aku uda berapa kali bilang kalo aku nggak hamil, aku nggak punya bayi! sekali lagi kamu bilang kayak gitu aku santet kamu!" Nala bertingkah seperti orang gila akibat ulah Zayn yang sangat menguras emosinya.


"Uda sebaiknya kamu bersiap lalu istirahat. Jangan marah-marah terus. Sampai jumpa, salam buat bayi kita. Papa tunggu kalian di sini" Sebelum Nala kembali menyemburkan amarahnya Zayn langsung mematikan sambungan telfon.


"Bocaaaaahhhh brengsek!!!" Teriak Nala.


Nafasnya terasa payah, air matanya kini berlinangan. Untuk sesaat Nala menikmati tangisan nya, namun ada yang berbeda kali ini. Nala merasa puas dan lega setelah sekian lama menyimpan sesak.


Berteriak pada Zayn yang dilanjutkan dengan menangis ternyata ampuh mengangkat semua beban nya. Dadanya kini terasa lebih ringan seolah semua kesakitan yang menyiksa semenjak pernikahan nya batal terangkat habis.


🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2