
"Maaf uda ganggu kamu Loli" Arimbi tersenyum ramah menyambut kedatangan gadis yang pernah menjadi qaanak didiknya.
"Nggak apa-apa bu, kebetulan Loli memang lagi nggak kerjaan" Loli sebenarnya bingung saat Arimbi mengajaknya bertemu. Namun untuk menolak Loli merasa tak enak hati sehingga dirinya mengiyakan ajakan guru cantik nya tersebut.
"Mau makan apa?" Tanya Arimbi sambil melambaikan tangannya ke arah pelayan restoran.
Loli membuka buku menu yang disodorkan oleh pelayan. Sayang tak ada makanan yang mengundang seleranya. Tapi mengingat tadi pagi ia hanya sarapan segelas susu karena agak mual Loli merasa kasihan pada bayi yang ada di perutnya jika ia menunda makan siang nya juga.
"Teriyaki salmon aja mbak, minumnya lemon tea" Loli menyerahkan kembali buku menunya.
"Samain aja mbak" Ucap Arimbi. Wanita itu kini mengalihkan pandangannya pada Loli
"Marcell tau kamu ketemu ibu di sini?" tanya Arimbi selepas kepergian pelayan.
"Iya tau bu" Loli memaksakan senyumnya, ia mulai merasa tidak enak.
"Marcell nggak ngelarang?"
"Tadi Loli cuma kirim pesan, karena tadi kak Marcell uda berangkat ke kantor" Loli sudah berusaha menelfon tapi suaminya tidak mengangkat. Mungkin Marcell sedang rapat atau sedang bertemu klien, Loli berharap Marcell tak marah karena langsung pergi tanpa menunggu pria itu memberi izin.
"Kira-kira Marcell marah nggak ya" Arimbi terlihat gelisah.
"Kayaknya enggak bu, kalo boleh tau ibu kenapa ngajak Loli ketemu?"
__ADS_1
"Makan aja dulu ya, nanti kita lanjutin ngobrolnya" ucap Arimbi saat pelayan sudah menghidangkan makanan pesanan mereka. Mau tidak mau Loli mengangguk meski ia sudah sangat penasaran tentang hal itu.
"Salmon salah satu makanan kesukaan Marcell, kamu tau?" tanya Arimbi di sela kunyahan nya.
"Iya tau" Sebenarnya Loli tak mengetahuinya, karena jujur ia belum tau banyak tentang suami yang baru menikahinya satu bulan ini. Namun ia tak mau menjadi istri yang tak tau apa-apa di depan wanita yang jelas-jelas masih menyukai suaminya.
"Marcell itu selain tampan dia juga manis banget sikapnya, sangat bertanggung jawab dan pintar memperlakukan wanita. Sampai sekarang dia masih kayak gitu kan?" Ucap nya lagi, Loli merasa tidak nyaman mendengar pujian yang Arimbi lontarkan untuk suaminya.
"Iya, karena sikapnya itu kak Marcell berhasil merebut hati Loli sehingga rela mengorbankan impian untuk kuliah dan memilih untuk menerima lamarannya" ucap Loli disertai senyuman. Ia sengaja memasang ekspresi bangga dan mulai waspada menghadapi Arimbi.
"Yah kamu tau kan bagaimana istimewanya Marcell, karena itu sampai detik ini ibu nggak pernah bisa ngelupain dia Loli. Kamu pasti paham kan perasaan ibu" Dada Loli bergemuruh mendengar ucapan Arimbi. Selera makannya benar-benar hancur padahal ia susah payah mencoba menikmati makanan nya.
Loli menghentikan makanannya lau meraih lemon tea dan mulai menyesapnya hingga tersisah setengah.
"Aku agak mual bu, tau sendiri kan bu kalo lagi hamil muda agak susah makan" Keluh Loli dengan ekspresi mengiba. Loli merasa puas saat melihat wajah Arimbi yang jelas begitu shock.
"Ka-kamu ha-hamil? kok bisa?"
"Iya bu aku hamil, kan Loli sama kak Marcell uda menikah. Wajar kan bu kalo hamil?" tanya Loli dengan nada polosnya.
"Hem maksud ibu, kok cepat banget?"
"Kak Marcell selalu minta jatah nya nggak tau waktu bu. Mungkin karena itu cepat banget jadinya" ucap Loli malu-malu. Ada rasa bersalah di hatinya, ia merasa jahat harus mengatakan hal ini pada Arimbi yang masih menaruh perasaan pada suaminya. Ia tau Arimbi pasti sangat terluka, namun Loli merasa harus menyelamatkan pernikahan nya dari kuman-kuman yang akan mengganggu.
__ADS_1
"Loli, maaf untuk mengatakan hal ini. Sebagai sesama wanita ibu yakin kamu mengerti perasaan ibu. Kamu tau kan wanita kalo uda mencintai satu pria dia akan selalu menjaga perasaan nya pada pria tersebut tak peduli apapun kondisinya. Seperti itu juga perasaan ibu pada Marcell Loli" Loli ternganga, ia tak menyangka Arimbi akan sejujur ini.
"Sebagai sesama wanita, tolong ibu Loli. Ibu masih sangat mencintai Marcell. Kamu masih muda, masa depan kamu masih panjang. Bisakah kembalikan Marcell pada ibu? maaf ibu tau ini kejam. Tapi ibu tak bisa menahan perasaan ibu lebih lama" Air mata menetes dari pipi Arimbi, tapi Loli merasa tak iba. Hilang sudah kekagumannya pada guru cantiknya yang selama ini ia nilai begitu pintar dan berwibawa.
"Maaf bu, mengembalikan kak Marcell? kenapa aku harus mengembalikannya bu? aku nggak pernah merasa meminjam kak Marcell dari ibu." Loli berusaha menekan emosinya. Bagaimana pun Arimbi tetaplah guru yang pernah berjasa memberikan ilmu padanya.
"Tapi tidak ada kata putus antara kami berdua di masa lalu. Jadi Marcell masih milik ibu kan?"
"Apa hubungan kalian di masa lalu itu sah di mata hukum dan agama sehingga ibu bisa mengklaim kak Marcell sebagai milik ibu?" Tanya Loli, kini tak ada lagi senyuman dan ekspresi lembut di wajah Loli. Ia ingin menunjukkan kalau ia tak suka pada sikap Arimbi.
"Baiklah, ibu ubah kalimatnya. Bolehkah ibu meminta Marcell padamu Loli?" Ternyata benar cinta bisa mengubah orang yang berpendidikan tinggi pun menjadi bodoh.
"Kak Marcell bukan barang bu, dia punya perasaan. Kalau memang ibu ingin silahkan minta langsung padanya. Aku nggak bisa memutuskan apapun. Tapi kalau mau dilihat dari sisi aku, sebagai seorang wanita ibu tentu paham tidak ada satu wanita pun di dunia ini yang mau memberikan atau membagi suaminya pada wanita lain" tegas Loli.
"Ibu tak apa berbagi dengan mu Loli jika kamu nggak bisa memberikannya hanya untuk ibu. Asalkan bisa bersama Marcell ibu rela menjadi istri kedua sekalipun" Loli kembali dibuat terpana oleh ucapan ibu gurunya yang cerdas itu.
"Tapi aku yang nggak mau bu. Silahkan ibu temui kak Marcell dan minta hatinya. Jika memang kak Marcell memberikannya aku akan pergi dengan suka rela" Loli langsung beranjak dari posisinya, ia sudah tidak tahan berhadapan dengan wanita itu. Ia takut kesabarannya benar-benar habis dan melontarkan kata-kata kasar pada gurunya tersebut.
Langkah Loli terhenti saat merasakan tangan nya ditarik lalu tubuhnya masuk dalam rengkuhan sebuah lengan kokoh. Loli mendongakkan kepalanya dan tersenyum pada Marcell yang juga sedang menatap tajam padanya.
"Kenapa kakak ada di sini?" Marcell bukannya menjawab malah membawa Loli kembali menghadap pada Arimbi yang juga tengah terpana melihat kedatangan Marcell yang tiba-tiba.
"Aku cuma mau bilang, aku nggak akan pernah memberikan hati aku pada wanita lain. Dia sepenuhnya sudah dimiliki dan dikuasai oleh Loli istriku" ucap Marcell penuh penekanan.
__ADS_1
🍁🍁🍁