Tragedi Bachelor Party

Tragedi Bachelor Party
Lima Puluh


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan hampir 7 jam Nala tiba di bandar udara Sydney. Rasa lelah karena menempuh perjalanan panjang membuat mood Nala begitu buruk. Ia berharap Zayn tak membuat ulah yang akan merusak moodnya hingga semakin buruk.


"Selamat datang sayang" Zayn tanpa basa basi langsung meraih pinggang Nala serta mendaratkan kecupan di pipi gadis itu. Nala yang tak mengira akan mendapat perlakuan demikian tak sempat mengantisipasi segala sentuhan dari Zayn.


"Aku bukan sayang nya kamu! satu lagi jangan sembarang menyentuh ku!" Nala ingin berteriak namun ia sadar ia sedang berada di keramaian.


"Kamu semakin cantik saja, apalagi saat sedang marah begini" ucap Zayn dengan tatapan penuh artinya. Ia sama sekali tak melepaskan rengkuhan nya di pinggang Nala.


"Lepasin aku bocah gila!" bisik Nala penuh penekanan dengan tatapan tajam yang menusuk. Bukannya melepaskan, Zayn malah kembali mendaratkan kecupan di pipi gadis itu.


"Kita pulang sekarang" bisik pria itu dan menggigit kecil telinga Nala. Tubuh gadis itu menegang dengan bulu kuduk yang meremang.


Darah Nala terasa mendidih, kemarahan nya sudah berada pada puncaknya karena ulah Zayn yang dinilainya sudah keterlaluan. Ia menginjak kaki Zayn dengan sepatunya hingga membuat pria itu berteriak kesakitan.


"Aw ini sakit Nala!" ucap Zayn kuat yang menarik perhatian orang-orang di sekitar mereka.


"Salah sendiri, makanya jangan mesum!" ucap Nala dengan senyum sinis nya.


"Bayi kita akan marah kalau tau papanya dianiaya" Zayn masih meringis merasakan nyeri di kakinya.


"Aku lelah" keluh Nala putus asa. Zayn terus saja mengungkit perihal bayi yang masih belum pasti keberadaan nya.


"Ayo kita pulang biar bisa langsung istirahat" Zayn kembali meraih pinggang Nala dan membawanya berjalan keluar dari bandara menuju mobil jemputan mereka. Nala hanya menurut, ia sudah terlalu lelah untuk meladeni Zayn dengan segala tingkah menyebalkan pria itu.


Nala membuang muka ke arah jalanan, ia hanya diam meski Zayn beberapa kali bertanya padanya. Fikiran nya menerawang, ia kini berada jauh dari keluarganya. Meski hatinya sesak sejak Marcell meninggalkan nya ketika berada di sana, namun Nala merasa nasip nya lebih menyedihkan saat harus berada di negeri orang bersama pria yang belum terlalu ia kenali ditambah dengan segala sikapnya yang selalu menyulut emosinya. Nala tidak tau akan berapa lama ia terpenjara pada jerat pria itu.

__ADS_1


20 menit berlalu mobil mereka berhenti di komplek hunian yang Berlokasi di 211-223 Pacific Highway di North Sydney.


"Ayo turun" Ucap Zayn yang memecahkan lamunan Nala.


"Kita uda sampai?" tanya gadis itu. Ia menatap ke sekeliling nya. Ia menyadari kini mereka sudah berada di basement.


"Iya kita sudah sampai, ayo turun" Zayn mengulurkan tangan nya pada Nala. Gadis itu dengan ragu menerima, ia berpaut pada tangan pria itu.


Nala terpana setelah menyadari keadaan di mana ia bediri saat ini, gadis itu dapat menyimpulkan bahwa Zayn tinggal di hunian mewah mwski hanya dengan melihat penampakan basement nya.


"Ayo sayang" Bisik Zayn sambil meraih tubuh Nala dan membawanya berjalan masuk menuju lift. Nala hanya menurut dan lebih banyak diam, ia tak lagi melayangkan protes atau merespon ucapan Zayn yang menjelaskan banyak hal padanya. Hingga mereka akhirnya tiba di tempat yang Nala yakini sebagai tempat tinggal pria itu.


Lagi-lagi Nala dibuat terpana ketika pintu terbuka menampilkan keadaan penthouse milik Zayn dengan desain interior yang jauh untuk dikatakan sederhana.


"Aku cuma bercanda, jangan marah nggak baik buat bayi kita" Zayn seenaknya mengusap perut Nala.


"Zayn!!! Aku nggak hamil! berhenti berhalusinasi" Teriak Nala. Ia benar-benar tak tahan lagi, bukan nya takut Zayn malah terbahak. Wajah kesal Nala begitu lucu di matanya.


"Uda jangan marah lagi, ayo aku tunjukkan kamar kamu" Zayn membawa Nala menuju sebuah kamar.


"Ini kamar aku" Zayn menunjuk kamar yang tepat berada di sebelah kamar yang akan ditempati oleh Nala.


"Aku pilih kamar yang lain yang jauh dari kamar kamu" Ucap Nala ketus.


"Nggak bisa. Kamar satunya khusus buat kamar kerja aku" Jawab Zayn cuek. Ia membuka pintu kamar untuk Nala. Kamar yang pria itu pilihkan untuk Nala terlihat luas dan didominasi warna cokelat dengan furniture yang serba wah. Ini semakin membuktikan bahwa Zayn bukan pria biasa-biasa saja.

__ADS_1


'Jelas saja, bocah kecil ini anak dari pemilik salah satu perusahaan terbesar' Ucap Nala di dalam hati.


"Kamu lapar? di dapur ada makanan yang sudah disiapkan oleh maid. Oh ya di sini ada 3 maid yang bekerja setiap hari. Tapi mereka hanya bekerja di siang hari dan akan pulang ketika jam 5 sore" ucap Zayn.


"Aku masih kenyang, aku hanya mau istirahat. Kamu bisa keluar sekarang? aku benar-benar lelah" ranjang king size di depan nya seolah melambai memanggil untuk segera ia tiduri efek lelah yang menerpa selama perjalanan.


"Iya kamu istirahat aja dulu kalo gitu, nanti 2 jam lagi aku tunggu di meja makan" ucap Zayn.


Zayn berlalu dari hadapan Nala setelah berhasil memeluk tubuh mungil gadis itu dan mendaratkan kecupan di keningnya. Tentu saja Nala memberontak namun tenaganya tak cukup kuat untuk melepaskan diri.


Nala merebahkan dirinya di ranjang empuk yang begitu memanjakan tubuhnya. Pandangan nya tertuju pada langit-langit kamar dengan fikiran menerawang.


Tadi Marcell dan Loli ikut mengantar ke bandara, mungkin mama Dita memberitahu keduanya perihal keberangkatan nya ke luar negeri untuk waktu yang cukup lama. Sepasang suami istri itu mengira ia kembali memegang proyek penting. Entah bagaimana respon mereka andai keduanya tau tujuan nya ke luar negeri yang sebenarnya.


"Kak Nala hati-hati di sana, jangan lupa kabarin ya kak. Kalau butuh bantuan langsung bilang aja" ucap Loli, gadis itu terlihat sedih karena akan berpisah cukup lama dengan nya. Karena itu Loli memberanikan diri untuk berbicara dengan sang kakak setelah cukup lama mereka tak berinteraksi secara normal.


Sementara Marcell tak mengucapkan apapun, mungkin ia menghormati istrinya agar menjaga batasan nya terhadap Nala.


Nala hanya mengangguk merespon ucapan adiknya.


"Jaga diri ya kak, aku pasti akan merindukan kak Nala" Loli memeluk Nala meski sang kakak hanya diam, namun setelah beberapa saat Nala akhirnya membalas pelukan Loli.


Bahkan saat Nala sudah akan memasuki ruang tunggu Marcell tetap tak mengucapkan apapun. Nala sempat berusaha mencari adakah rasa kehilangan di mata pria itu. Namun Nala tersadar ia sudah tak boleh melakukan nya.


🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2