Tragedi Bachelor Party

Tragedi Bachelor Party
Delapan Puluh Lima


__ADS_3

"Zayn aku takut" ucap Nala yang tidur di dalam dekapan suaminya.


"Takut kenapa?" Zayn mengusap lembut rambut Nala yang tampak resah.


"Aku takut apa yang menimpa Loli juga terjadi sama aku." Lirih Nala, selain karena terpukul akan kondisi adiknya Nala juga merasa takut mengingat bulan depan ia juga akan melahirkan.


"Harus berfikir positif sayang, aku tau kamu kuat. Kamu akan baik-baik aja, percaya sama aku" Zayn berusaha menenangkan kegelisahan istrinya meski diam-diam ia juga menyimpan kekhawatiran yang tak kalah besar.


"Usia kamu uda cukup untuk hamil dan melahirkan, berbeda dengan Loli yang baru berusia 18 tahun. Andai bisa memilih harusnya Loli memang jangan hamil dulu. Tapi kita nggak bisa mengubah apa yang sudah terjadi. Berdoa saja sayang, semoga kelahiran bayi kita nanti berjalan lancar juga kamu serta bayi kita sehat dan selamat" Lanjut Zayn sambil mencium puncak kepala Nala berkali-kali untuk menetralisir rasa tidak nyaman yang menghantui hatinya. Ia juga tak sanggup apa yang menimpa Loli juga terjadi pada istrinya.


"Aku juga takut terjadi sesuatu pada Loli, dia adik aku satu-satunya, aku sayang banget sama Loli. Aku nggak mau kehilangan dia Zayn, aku nggak sanggup. Aku kasihan pada Marcell dan juga bayi mereka" Tak terasa air mata mengaliri pipi Nala. Ia begitu takut membayangkan kemungkinan buruk yang akan terjadi pada adik nya. Saat seperti ini bayangan saat ia bersikap buruk pada Loli begitu menyiksanya.


"Enggak Loli akan baik-baik aja sayang. Kita jangan pernah putus untuk mendoakan Loli agar ia segera sadar dan pulih seperti semula" Berada pada posisi Zayn amatlah sulit, ia harus berusaha meyakinkan Nala dan yang lainnya bahwa Loli akan baik-baik saja sementara ia sendiri merasa ragu.


Ia tak kalah kalut, bukan karena Loli pernah mengisi hatinya namun semata karena tali kekeluargaan yang telah mengikat mereka. Ia juga tak kuasa melihat kesedihan di wajah istri, mertua maupun Marcell. Bagaimanapun sekarang mereka adalah keluarga yang akan merasakan sakit saat salah satu diantara mereka terluka.


🍁🍁🍁


"Sayang, bangunlah. Mama sedih adek tidur terus seperti ini nak. Bayi kamu butuh dekapan dari mamanya. Ayolah sayang bangun yah?" Mama Dita memegang tangan Loli. Wajahnya bersimbah air mata, ini sudah hari ke tiga meski dokter mengatakan kondisinya stabil namun Loli masih belum menunjukkan tanda-tanda akan sadar.

__ADS_1


"Iya sayang bangun, kasihani kami nak. Jangan tidur terus seperti ini. Kasihani juga Marcell dan bayi kalian yang terus menantikan kesadaran kamu" Wajah papa Rudi tak kalah kelam. Kesedihan tampak jelas di matanya, putri bungsu yang amat ia sayangi kini terbaring tak berdaya.


Mama Dita dan papa Rudi bergantian mencium putri mereka saat akan ke luar dari ruangan. Mereka tak boleh berlama-lama ada di kamar Loli. Untunglah Marcell diizinkan oleh dokter untuk menemani Loli di sana, andai tidak mungkin Marcell akan lebih hancur lagi.


"Loli masih tidur ma?" tanya Marcell sendu saat mendapati mertuanya keluar dari kamar rawat istrinya. Setiap detik ia selalu berharap ada keajaiban yang datang dan istrinya kembali sadar. Putranya sudah di bawa pulang ke rumah orang tua Loli, mama Marcell dan mertuanya bergantian merawat bayi merah itu. Sampai sekarang Marcell masih belum sanggup melihat bayi mereka, ia tak sanggup menahan rasa pilu yang menusuk andai menatap wajah putranya dan Loli.


"Sabar Marcell, Loli pasti akan segera sadar. Kita tidak akan berhenti berusaha dan berdoa" Papa Rudi menepuk pundak menantunya karena mama Dita tampak tak bisa berucap menjawab pertanyaan Marcell. Wanita paruh bayah itu hanya bisa menangis dan memeluk Marcell, ia mengerti perasaan menantunya karena keinginan mereka untuk melihat Loli kembali sadar sama besarnya.


"Jaga kesehatan kamu juga Marcell, Loli akan sedih kalau tau kamu mengabaikan diri kamu sendiri." Papa Rudi tau Marcell kerap melupakan waktu makan dan tidurnya, jika tidak ada yang memaksa tak akan ada makanan atau pun air minum yang akan masuk ke dalam tubuhnya. Tidak heran jika Marcell terlihat kuyu, selama 3 hari ini pria itu tampak letih dan tak terurus.


"Iya pa" Marcell mengangguk lemah.


Rindunya pada Loli kian terasa mencabik hatinya, ia ingin segera berkumpul dengan bahagia merawat putra mereka. Ia ingin memberikan kebahagiaan dan kasih sayang yang utuh pada bayi yang Loli lahir kan.


Marcell makan dengan cepat, ia sama sekali tak menikmati makanan yang masuk ke dalam mulutnya, bahkan untuk mengunyah saja ia enggan. Ia hanya makan untuk sumber tenaga nya saja, karena fikiran nya hanya berputar pada Loli istrinya.


Setelah menghabiskan makanan nya dengan susah payah ia segera kembali ke kamar rawat Loli, ia membersihkan tubuhnya dan memakai pakaian steril sebelum masuk ke dalam kamar tempat Loli dirawat.


Mama dan papa Loli menatap iba pada menantu mereka. Mereka semakin menyadari betapa Marcell sangat menyayangi putri mereka dengan tulus.

__ADS_1


"Hai istrinya Marcell, masih tidur aja, kapan bangunnya sih? kakak merindukan mu sayang" Marcell berusaha ceria namun hatinya begitu pilu untuk berpura-pura.


Sejak diizinkan oleh dokter, selama tiga hari ini ia selalu menemani Loli dan terus mengajak istrinya berbicara. Ia menceritakan banyak hal, terkadang ia tertawa saat mengenang kisah lucu mereka. Lalu ia akan menangis saat menyatakan betapa ia merindukan Loli dan mengiba meminta istrinya segera sadar


"Kangen bayi kita nggak ma? kasihan dia sayang, bayi kita merindukan dan ingin segera merasakan dekapan mama juga papanya"


"Bangun ya sayang, kakak sangat merindukanmu" Bisik Marcell lalu mendaratkan kecupan di kening istrinya. Ia terus memerintahkan hati dan fikiran nya agar tak menyerah meski Loli seperti tak merespon semua yang ia lakukan. Terkadang Marcell ingin menjerit agar bisa mengusir sesak yang menghimpit dadanya.


Semua hal buruk yang pernah menimpanya sama sekali tak ada artinya dibandingkan saat melihat Loli seperti ini. Ia bahkan ingin menukar hidupnya asalkan istrinya bisa kembali.


"Kembalilah sayang, aku dan bayi kita menunggu mu. Kami merindukan mu, kami mencintai mu, kami sangat membutuhkan mu" Marcell mengiba lagi.


🍁🍁🍁


Sekali-sekali bikin cerita sad ending asik kali ya? 🤭🤭


Tapi gimana yah author pecinta happy ending, suka nggak tega kalo ada yang menderita.


duh gamang kan jadinya 😂😂😂

__ADS_1


__ADS_2