
Loli masih bisa menahan tangisan nya ketika masih di rumah mama nya, ia tak mau kedua orang tuanya bersedih melihat kekalutan nya. Namun saat mobil mulai berjalan meninggalkan pekarangan tangis gadis itu pecah, ia mulai tersedu dengan begitu menyedihkan. Bertemu dengan Nala dan melihat kekecewaan di mata kakaknya yang masih terpancar jelas membuat hati Loli kembali dihantam rasa bersalah.
"Sayang..." Marcell yang terkejut akan tangisan Loli menghentikan mobilnya, ia menarik dan memeluk Loli yang menangis pilu.
"Rasa bersalah aku nggak ilang-ilang, sakit banget rasanya" Keluh Loli yang sukses mencabik-cabik hati Marcell.
"Maaf, karena kakak kamu harus dihantui oleh rasa bersalah yang nggak seharusnya. Padahal kamu sama sekali nggak salah sayang" ucap Marcell perih.
"Kasihan kak Nala kak, harusnya aku terima aja tanggung jawab dari kak Nathan supaya kakak bisa tetap menikahi kak Nala. Aku egois banget. Aku cuma mikirin perasaan aku aja saat itu" Marcell melepaskan pelukan nya dan memegang pundak Loli. Mendengar ucapan Loli hatinya begitu tak terima.
"Kamu jangan bicara seperti itu, kakak nggak suka. Bayi kita juga akan kecewa kalo kamu lebih memilih untuk menikah dengan Nathan yang bukan papanya. Nggak ada yang boleh menikahi kamu selain kakak. Tolong jangan berfikir seperti itu terus sayang. Hidup kita harus berjalan, kita nggak boleh terus terpenjara pada permasalahan yang sama. Bayi kita butuh kamu dan juga kakak jadi kita harus segera bangkit sayang. Nala pasti akan segera pulih, dia gadis dewasa yang cerdas dek. Dia pasti bisa mengatasi ini. Dia akan segera menata hatinya agar kembalu mebaik" Ucap Marcell.
"Iya kak Nala dewasa dan cerdas, beda sama aku yang masih kekanakan dan berpendidikan rendah. Ijazah SMA aja belum dapat" Loli menepis tangan Marcell yang berada di pundaknya. Ia lalu menghadap ke arah luar. Loli tak mengerti saat hatinya tiba-tiba merasa kesal mendengar pernyataan Marcell yang memuji Nala.
Sementara Marcell hanya bisa termangu untuk sesaat melihat perubahan sikap Loli yang tiba-tiba.
"Sayang kamu kenapa?" Marcell berusaha menarik lembut tubuh Loli agar menghadap padanya. Namun gadis itu tetap bertahan pada posisinya.
"Aku capek mau tidur, cepetan pulang kak" Ucap Loli tanpa menatap pada Marcell.
"Iya, kita pulang sekarang" Pria itu mau tidak mau menuruti permintaan istrinya meski otaknya masih dipenuhi berjuta tanya. Ia segera melajukan mobilnya kembali. Namun ia terus berfikir, berusaha memahami dan mencerna ucapan Loli agar ia bisa tau apa yang membuat istrinya terlihat kesal.
__ADS_1
Marcell tersenyum lebar saat menyadari sesuatu. "Istri kak Marcell itu emang belum terlalu dewasa, wajar sih karena emang baru tamat SMA. Masih unyu-unyu menggemaskan, Makanya kakak sayang banget. Istri kakak juga cerdas banget kok, nanti juga mau lanjut kuliah kan kalo baby uda lahir?"
"Apaan sih nggak jelas" sungut Loli, namun diam-diam wajahnya merona mendengar ucapan pria itu.
"Tuh kan jadi makin gemes, pengen cepat-cepat sampai rumah supaya bisa peluk-peluk kesayangan nya kakak" Ucap Marcell semakin bersemangat menggoda istrinya.
"Kak Marcell kesambet apaan aneh banget" Gerutu Loli berusaha menahan detak jantung nya yang tak menentu. Ia pura-pura mencebik pada suaminya untuk menutupi rasa gugup akibat rayuan pria itu.
🍁🍁🍁
"Adek suka nggak?" tanya Marcell setibanya mereka di sebuah rumah yang akan mereka tempati. Rumah minimalis berlantai satu sengaja Marcell pilih agar Loli tak perlu capek-capek naik turun tangga. Rumah itu cukup luas untuk ukuran mereka yang hanya tinggal berempat dengan asisten rumah tangga.
"Iya aku suka kak" Jawab Loli.
"Kenalin sayang ini mbak Imah dan mbak Sari yang akan membantu mengurus rumah ini. Di depan itu namanya pak Ardi security di rumah kita" Kedua wanita yang berusia sekitar 40 tahunan itu mengangguk hormat pada Loli. Gadis itu membalas dengan senyum ramah nya.
"Kalian boleh istirahat, aku sama Loli mau langsung ke kamar. Kami uda makan tadi di rumah mama"
"Baik pak, kami permisi" Keduanya berpamitan menuju kamar mereka sesuai perintah dari Marcell.
"Kita langsung ke kamar ya sayang?" ajak Marcell pada istrinya. Rumah itu terdiri atas 4 kamar. Satu kamar utama yang akan mereka tempati, satu kamar tamu, satu kamar mbak Imah dan mbak Sari dan satu kamar lagi yang berada tepat di samping kamar utama adalah kamar yang Marcell siapkan untuk anak mereka nanti.
__ADS_1
"Kita satu kamar?" tanya Loli gugup.
"Iya dong, kan sejak awal kakak uda bilang kita ini menikah beneran bukan menikah pura-pura atau menikah dengan perjanjian kayak di novel-novel yang sering kamu baca" ucap Marcell sambil mengulum senyum. Mengingat istrinya sempat menunjukkan kecemburuan nya Marcell tak bisa menahan letupan kebahagiaan yang memenuhi hatinya.
"Ayo dek katanya uda capek mau tidur" Marcell meraih tangan Loli dan menggenggam nya erat, ia menuntun Loli menuju kamar mereka.
Setibanya mereka di kamar utama yang cukup luas Loli mengedarkan pandangan nya pada kamar itu. Terlihat begitu nyaman dengan dekorasi yang simple namun elegan. Warna kamar itu di dominasi oleh warna coklat dan krem salah satu warna yang Loli sukai.
"Suka kamarnya?" Marcell langsung memeluk Loli dari belakang dan meletakkan dagunya di pundak istrinya.
"I-iya suka" jawab Loli yang merasa begitu gugup.
"Nggak usah mandi ya sayang, tadi sore uda mandi kan? kita langsung tidur aja ya" tanpa basa-basi Marcell langsung membopong tubuh Loli dan membawanya ke arah ranjang. Setibanya di sana Marcell merebahkan tubuh Loli dengan tatapan dalam pada wajah istrinya yang masih terlihat gugup.
Loli memejamkan matanya dengan rapat saat Marcell semakin mendekatkan wajahnya. Tubuh gadis itu menegang saat merasakan benda kenyal mendarat di bibirnya, nafas hangat Marcell dapat ia rasakan memberikan getaran halus di seluruh tubuhnya.
Loli menahan rasa takutnya, ia berusaha menikmati sentuhan Marcell. Gadis itu semakin tak menentu saat merasakan lum* atan-lum* atan kecil di bibirnya. Usapan lembut Marcell di rambutnya mengalirkan rasa nyaman yang berhasil mengalahkan rasa takut yang perlahan mulai merayapinya.
Saat merasakan ciuman Marcell mulai berubah liar bayangan malam kelam itu kembali menghantui, beruntung sebelum ketakutan itu benar-benar menguasai Marcell telah menghentikan aksinya. Pria itu paham bahwa ia belum bisa menyentuh Loli lebih jauh meski dirinya telah diterjang gairah yang menggelegak.
"Selamat tidur istrinya Marcell. Semoga mimpi indah" Pria itu mendaratkan kecupan di kening Loli, ia kemudian memeluk erat gadis itu.
__ADS_1
🍁🍁🍁