Tragedi Bachelor Party

Tragedi Bachelor Party
Enam Puluh Lima


__ADS_3

Hati dan tubuh Nala bergetar kala bibir Zayn menyebut lantang namanya dalam janji pernikahan. Ia tak menyangka bahwa pria itu adalah laki-laki yang semesta pilihkan untuk ia dampingi dalam menjalani kehidupan.


Pria tengil yang baru dikenalnya lebih kurang 2 bulan, pria yang usianya lebih muda hampir 6 tahun, pria yang pernah menaruh hati dan harapannya pada sang adik, dan pria yang tak pernah ada dalam kriteria idamannya. Namun pria itu adalah pria yang telah menebar benih kehidupan di dalam rahimnya. Mau tidak mau mulai detik ini ia harus meletakkan semua mimpi-mimpinya dipundak pria itu, menghormatinya dan berbakti kepadanya.


Nala meneteskan air mata saat meraih tangan Zayn untuk ia cium sebagai awal penghormatannya pada sang suami. Nala memejamkan matanya saat merasakan kecupan di keningnya. Hatinya terus berharap semoga mulai detik ini semua perhatian dan perasaan nya hanya akan tercurah pada Zayn begitupun sebaliknya.


Nala terisak dalam dekapan sang mama saat acara dilanjutkan dengan sungkeman pada kedua orang tua, ingatan saat ia menuduh sang mama lebih menyayangi Loli membuat tangisan Nala semakin kencang. Sungguh ia merasa amat berdosa. Begitupun saat kehangatan beralih ketika lengan kokoh pria pertamanya mendekap erat tubuhnya. Saat ini Nala merasa hidupnya sangat-sangat sempurna. Memiliki kedua orang tua yang sangat mengasihinya, adik yang baik dan selalu bersikap manis, karier yang bagus serta dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya. Untuk sesaat Nala menyesali dirinya yang buta akan semua itu hanya karena satu kemalangan yang menimpanya.


"Selamat kak semoga bahagia, maaf sempat merusak mimpi indah kakak" Bisik Loli dalam pelukan sang kakak saat gadis itu menghampiri Nala yang sudah duduk di pelaminan setelah acara sungkeman selesai. Sementara para tamu lainnya yang terdiri atas keluarga inti dari kedua belah pihak mulai menikmati hidangan yang disediakan. Acara resepsi yang mengundang sejumlah rekan dan kolega bisnis serta teman-teman Nala dan Zayn akan digelar nanti malam.


"Sst jangan dibahas lagi, jangan merasa bersalah karena kamu sama sekali nggak bersalah sayang" Nala mengusap punggung sang adik dengan penuh kasih sayang.


"Berjanjilah untuk selalu berbahagia kak"


"Iya dek, kakak pasti akan bahagia. Adek juga harus bahagia ya. Jangan merasa bersalah lagi" ucap Nala yang telah melepaskan dekapannya. Ia mengusap pipi sang adik dan memberikan senyum hangat nya.


Di sebelah Nala sudah ada Zayn, namun Loli sengaja belum ingin menyapa pria itu karena takut Marcell akan merasa cemburu. Ia beralih ke sisi lain Marcell saat sang suami sudah berhadapan dengan Nala.


"Maaf untuk kesalahan yang pernah aku buat yang mungkin secara sengaja ataupun tidak sengaja telah sangat menyakiti hati kamu Nala. Kita sama-sama tidak menyangka jalan hidup yang harus kita lalui akan seperti ini. Semoga kamu selalu bahagia dan semoga kisah yang pernah ada tidak akan menghambat jalan kita untuk menjalin hubungan keluarga" Nala menghela nafas nya lalu bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman tulus.


"Terimakasih adik ipar. Jaga adikku baik-baik meskipun aku tau tanpa aku minta pun kamu akan menjadi suami yang baik yang akan selalu membahagiakan adik aku. Yah aku sudah mengikhlaskan semuanya, hilangkan semua rasa bersalah itu dan mari menjadi keluarga yang sebenarnya yang seperti katamu tak terhambat kisah lama yang sudah usai" Nala tidak menyangka ketika memilih berdamai dan melepaskan semua luka rasa nya akan selega ini. Hatinya terasa luas dan ringan. Beban nya seakan benar-benar terlepas.


"Iya terimakasih Nala" Marcell dan Nala saling bersalaman. Melepaskan semua ketegangan yang sempat menjadi tembok diantara keduanya.

__ADS_1


Marcell menggenggam erat tangan Loli membawanya beralih pada Zayn.


"Selamat atas pernikahan kalian kakak ipar. Semoga bahagia. Semoga kita bisa menjadi keluarga yang kompak" Marcell tersenyum, ia berusaha menekan ego dan kecemburuannya.


"Terima kasih adik ipar" Zayn terkekeh. Rasanya cukup canggung menyebut pria yang lebih tua darinya sebagai adik ipar.


"Apa adik ipar ku Loli nggak boleh memberikan ucapan selamat pada kakak iparnya ini?" tanya Zayn pada Marcell ketika melihat Loli hanya diam tak mengucapkan apapun.


"Sayang?" Marcell menatap pada istrinya. Pria itu tersenyum lembut pada Loli, ia merasa bahagia karena Loli berusaha untuk menjaga sikap demi menghargainya.


"Boleh sayang" Bisik Marcell lagi. Loli mengangguk sambil tersenyum. Ia memalingkan wajahnya ke arah Zayn yang tersenyum lebar padanya.


"Selamat ya kak Zayn, tolong jaga kakak ku dengan baik. Jangan menyakitinya, walaupun kak Nala kadang-kadang suka usil dan galak tapi kakak ku sangat baik. Dia yang terbaik" Ucap Loli. Ia meringis menahan cubitan dari Nala di perutnya.


"Aduh-aduh sorry kak"


Zayn dan Marcell tertawa sekaligus lega melihat hubungan kakak adik yang sempat memanas itu kini mulai membaik.


"Tenang aja sayang, Loli benar kok walaupun kamu galak dan usil tapi kamu yang terbaik" Zayn merangkul tubuh Nala yang kini memasang wajah cemberut nya. Nala menahan bibir Zayn yang ingin menciumnya.


"Ah sebaiknya kami permisi ya, nggak enak ganggu pengantin baru yang sudah mulai menyicil" Goda Marcell sambil merangkul istrinya dan membawanya berlalu dari hadapan pengantin yang wajahnya merona menahan malu.


Hati mereka kini benar-benar lega. Kebekuan diantara mereka perlahan mencair. Ada doa tulus yang diam-diam terlantun di hati masing-masing semoga tak akan pernah lagi ada konflik diantara mereka setelah memilih berdamai dan menekan ego masing-masing.

__ADS_1


"Jadi uda nggak cemburu lagi?" Tanya Loli pada suaminya.


"Tetap harus jaga sikap ya. Hindari untuk tersenyum di depannya" Marcell membawa Loli menuju meja kosong dan mengajak nya duduk di sana.


"Aku nggak ngelarang kakak buat senyum ke kak Nala"


"Kalo adek mau ngelarang kakak nggak masalah" ucap Marcell dengan senyum dan tatapan mesranya pada Loli. Sebenarnya Loli masih seringkali salah tingkah tiap kali Marcell menatap lekat dirinya.


"Nggak lah, aku nggak mau suami aku kelihatan judes"


"Tapi kakak masih belum rela kakak ipar menikmati senyum cantik istri kakak, biarin aja mau dibilang judes" Sepertinya Marcell masih pada pendiriannya. Loli menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sikap suaminya yang seperti ini. Sikap kekanakan yang hanya ditunjukkan padanya saja.


"Eh sayang, ganti ya panggilan nya. Kakak nggak mau deh panggilannya sama kayak panggilan kamu ke kakak ipar" ucap Marcell tiba-tiba.


"Ganti? jadi aku mesti panggil apa?" Tanya Loli.


"Panggil sayang aja, hubby, honey, cintaku, suamiku, papa atau apa aja asal jangan kakak" Loli tersenyum salah tingkah. Sebenarnya Ia merasa tak terbiasa jika harus mengubah panggilan pada Marcell. Tapi demi menyenangkan hati suami Loli akan melakukannya.


"Kalo Om gimana? kayaknya cocok" Ucap Loli mengulum senyum.


"Hemm istrinya Marcell mulai berani menggoda ya sekarang, jadi nggak sabar pengen bawa ke ranjang" Ucap Marcell dengan gemas. Loli mengerutkan keningnya, ia tampak berfikir bagian mana dari ucapannya yang menggoda? dasar Om-om.


🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2