
Sepanjang perjalanan Loli terus menatap pada Marcell, hatinya terasa hangat mengingat sikap tegas suaminya saat menghadapi Arimbi. Ternyata sikap nya yang berusaha mempertahankan Marcell bukanlah suatu hal yang sia-sia. Nyatanya Marcell memang pantas ia perjuangkan dan pertahankan.
Namun ada keresahan yang tiba-tiba hadir. Loli merasa Marcell sejak tadi mendiamkan nya. Sejak keluar dari restoran hingga kini mereka hampir sampai di rumah Marcell sedikitpun tak berucap. Bahkan pria itu sejak tadi tak menoleh padanya. Jika Marcell marah Loli merasa bingung karena seingatnya ia tak melakukan kesalahan apa pun.
Setibanya mereka di rumah Marcell tetap membukakan pintu mobil dan mengulurkan tangan nya untuk membantu Loli keluar, pria itu juga tak melepaskan genggaman nya saat berjalan memasuki rumah. Yang berbeda hanya diamnya pria itu.
"Maaf" Loli memberanikan diri memeluk Marcell dari belakang saat pria itu melepaskan genggaman nya ketika mereka telah sampai di dalam kamar.
"Maaf karena apa?" Ucap Marcell. Nada bicaranya yang datar semakin meyakinkan Loli bahwa ia sudah melakukan kesalahan di mata Marcell.
"Sebenarnya aku juga nggak tau aku salah apa, tapi aku tau kakak marah sama aku. Jadi aku minta maaf" Ucap Loli lembut. Ia masih tak melepaskan tangannya, Loli malah menyandarkan kepalanya di punggung hangat suaminya.
"Kalau tidak merasa salah kenapa harus minta maaf" Tanya Marcell lagi.
"Kalo aku nggak salah kakak nggak mungkin marah. Kakak marah karena aku langsung pergi tanpa menunggu izin dari kakak ya?" Marcell memutar tubuhnya dan menghadap pada Loli. Satu hal lagi yang sangat ia sukai dari Loli adalah ini, ia tak segan meminta maaf meski ia sendiri tak sadar kesalahan apa yang ia buat. Biasanya kebanyakan wanita akan lebih marah saat suaminya marah meski jelas-jelas ia bersalah.
"Salah satunya itu, adek lagi hamil. Gimana kalo Arimbi nekat ngelakuin sesuatu yang bisa mencelakai kamu dan bayi kita?" Ucap Marcell sambil menatap dalam pada mata polos Loli, mata yang berhasil menenggelamkan Marcell pada perasaan yang begitu dalam.
"Kakak sangat takut terjadi apa-apa saat membuka pesan yang adek kirim, untung saja tempat kakak ketemu klien itu nggak jauh dari restoran tempat adek ketemu Arimbi. Kakak sudah membayangkan yang tidak-tidak" Ucap Marcell kalut.
"Maafin aku ya kak lain kali nggak lagi kayak gini, aku fikir bu Arimbi wanita berkelas yang berpendidikan. Bu Arimbi nggak mungkin berniat mencelakai aku kak"
"Iya jangan diulangi lagi, nggak semua orang di dunia ini sama seperti kamu sayang. Jangan berfikir bahwa semua orang itu sebaik kamu yang nggak pernah mau nyakitin orang lain. Mulai sekarang kamu harus waspada" Wajah polos itu mengangguk dan tersenyum tipis.
"Tadi kakak bilang aku pergi tanpa izin adalah salah satu kesalahan aku, artinya masih ada kesalahan yang lain?" Tanya Loli yang membuat Marcell tersenyum getir.
__ADS_1
"Kakak kecewa saat adek bilang ke Arimbi untuk meminta hati kakak, dan kalo kakak mau memberikannya adek akan pergi dengan suka rela" ucap Marcell.
"Aku salah?"
"Kakak ngerasa nggak berarti buat kamu sayang, adek bisa semudah itu ninggalin kakak tanpa berniat sedikitpun untuk memperjuangkan kakak. Adek nggak mau mempertahankan pernikahan kita" Ucap Marcell kelu. Loli menghela nafasnya, ternyata tanpa sadar ucapannya sudah menyakiti hati Marcell. Padahal jelas itu bukan maksudnya.
"Aku bilang kayak gitu karena aku yakin suami aku adalah pria yang bertanggung jawab. Dia nggak mungkin memberikan hatinya pada wanita lain lalu mengorbankan istri dan anaknya, karena itu aku percaya diri mengatakan nya kak. Ternyata aku benar kan? jawaban kakak pada bu Arimbi itu sesuai dengan yang aku harapkan" Loli memberanikan diri mengusap lembut pipi suaminya. Pria itu tampak melipat bibirnya untuk menahan perasaannya. Ia sangat bahagia mendengarkan ucapan manis istrinya.
"Kakak dengar semua nggak pembicaraan aku sama bu Arimbi?" tanya Loli lagi. Pria itu menggeleng.
"Kakak cuma dengar saat adek bilang gitu aja. Karena kakak baru datang" Loli menghela nafas lega. Entah rasanya begitu memalukan andai Marcell mendengar ucapannya pada Arimbi yang sempat mengatakan Marcell selalu meminta jatah padanya.
Tapi di sisi lain Loli juga merasa akan lebih baik andai Marcell mendengar semuanya. Dengan begitu Marcell tak perlu merasa kecewa atas ucapan terakhirnya pada Arimbi, suaminya akan tau bahwa ia sudah berjuang untuk mempertahankan miliknya.
"Nggak ngomong apa-apa kak" ucap Loli dengan senyum malu-malu. Untuk menceritakan ulang Loli tak memiliki keberanian.
"Ceritain dong apa aja yang kalian bicarain?" Marcell malah semakin penasaran. Ia menuntun Loli menuju ranjang mereka karena tak ingin membiarkan Loli terlalu lama berdiri.
"Kakak nggak ke kantor lagi?" Loli berusaha mengalihkan pembicaraan. Marcell bukannya menjawab malah meraih ponselnya.
Pria itu menekan kontak sang papa.
"Pa, tadi Marcell uda ketemu sama Mr. Januar, semuanya uda oke."
"Bagus, terus?" Jawab sang papa diujung telfon.
__ADS_1
"Marcell izin nggak balik ke kantor ya pa. Loli lagi nggak mau ditinggal. Mungkin baby nya lagi manja sama papanya" Loli menatap tak percaya pada Marcell yang membawa-bawa dirinya.
"Ya udah jaga Loli baik-baik. Salam buat menantu papa ya"
"Iya pa, makasih papa" Marcell tersenyum penuh arti pada Loli yang mengerucutkan bibirnya. Ia meletakkan ponselnya ke atas nakas setelah Sambungan telfonnya dengan sang papa sudah berakhir.
"Kakak kenapa bilang gitu sama papa, bawa-bawa aku sama adik bayi segala" Loli merasa malu pada papa mertuanya.
"Jadi adek nggak mau kakak temenin? maunya kakak ke kantor aja?" Tanya Marcell dengan sudut bibir terangkat melihat keraguan di wajah istrinya.
"Mau ditemenin" ucap Loli nyaris tak terdengar. Marcell terkekeh, wajah menggemaskan Loli membuat pria itu tak bisa menahan diri. Ia mendaratkan banyak ciuman di wajah istrinya.
"Lanjut dong cerita yang tadi" Loli tak menyangka Marcell masih mengingatnya padahal Loli berharap Marcell tak mengingatnya lagi.
Mau tidak mau Loli mulai menceritakan semua yang terjadi saat ia bertemu Arimbi. Semua pembicaraannya dengan gurunya tersebut juga ia ceritakan tanpa ada yang terlewat.
Marcell terlihat kesal saat mengetahui apa saja yang Arimbi katakan namun Marcell juga beberapa kali tertawa ketika Loli menceritakan jawaban yang ia berikan pada Arimbi.
"Maaf ya kakak sempat berfikir dan bersikap buruk tadi sama kamu"
"Nggak apa-apa. Tapi lain kali jangan diemin aku kayak tadi ya. Kakak harus bilang kalo lagi kesal biar akunya ngerti. Kakak selalu gitu kalo kesal sama aku, aku bingung jadinya"
"Adek juga tau alasan kenapa kakak diam sayang. Kalo kakak uda nggak emosi kakak pasti akan ngomong kok" Marcell memeluk tubuh istrinya dengan penuh kasih sayang.
🍁🍁🍁
__ADS_1