
"Kak aku boleh keluar sebentar nggak hari ini?" tanya Loli setelah membaca pesan dari Sania yang ingin mengajaknya bertemu.
"Ke mana?"
"Ketemu Sania, belum tau dia ngajak ketemuan nya di mana. Dia bilang mau jemput 1 jam lagi kalo kakak bolehin aku pergi" Loli sebenar nya tak enak hati meninggalkan Marcell sementara pria itu saja masih cuti demi menghormati pernikahan mereka. Namun Sania begitu memaksanya sehingga mau tidak mau Loli menyetujui ajakan gadis itu.
"Boleh tapi kakak yang antar" Marcell tak mungkin membiarkan Loli pergi tanpa dirinya. Fikiran bahwa Loli akan kabur darinya membuat pria itu sangat berhati-hati.
"Tapi Sania bilang dia yang jemput kak" Sanggah Loli, tentu saja hal itu membuat Marcell sedikit curiga.
"Bilang sama Sania, adek boleh pergi kalo kakak yang antar. Kakak janji cuma nganter nggak akan ganggu kalian. Nanti saat adek ketemuan sama dia kakak tunggu di mobil nggak akan ikut masuk. Tapi kalo Sania nggak setuju kakak nggak bisa kasih izin sayang" Tegas Marcell yang diangguki Loli. Gadis itu tampak mengetikkan pesan di ponselnya.
"Iya kak, Sania setuju" Ucap Loli setelah menunggu beberapa saat. Loli juga memberitahu Marcell di mana dia akan bertemu dengan sahabatnya itu.
"Kalo gitu aku mau siap-siap dulu ya kak?" Pamit Loli. Setelah mendapat izin dari Marcell Loli berjalan meninggalkan pria itu menuju kamar mandi.
Sepeninggal Loli Marcell juga bersiap, karena baru 2 jam yang lalu membersihkan tubuhnya Marcell memutuskan untuk tidak mandi lagi.
Pria itu mengenakan kaos santai berwarna putih yang ia padukan dengan celana selutut berwarna krem. Ia sengaja berpenampilan santai karena niatnya memang hanya mengantar istrinya.
Mata Marcell terpaku saat melihat Loli keluar dari kamar ganti, istrinya hanya memakai tanktop berwarna hitam dan rok mini berwarna magenta. Sangat cantik, kulit putih nya terekspose sempurna.
"Adek pergi pakai baju kayak gini?" Loli mengangguk bingung melihat ekspresi tak bersahabat suaminya.
"Nggak boleh sayang, kakak nggak rela keindahan tubuh istri kakak dilihat banyak orang. Ganti ya?" Marcell berusaha menekan suaranya agar tak terkesan terlalu otoriter pada Loli yang masih remaja.
"Yang diganti bajunya aja atau roknya juga?" Meski Loli terlihat bingung namun ia tak menolak apa yang suaminya minta.
__ADS_1
"Ganti semuanya sama yang lebih tertutup ya?" kelembutan suara dan tatapan Marcell membuat Loli tak kuasa untuk menolak. Ia kembali ke ruang ganti dan memilih pakaian yang akan ia kenakan.
Pilihan nya jatuh pada crewneck over size berwarna abu-abu yang ia pasangkan dengan jeans 3/4. Loli rasa ini pakaian yang aman sesuai yang suaminya inginkan. Setelah selesai mengganti pakaian nya Loli keluar menemui suaminya.
"Kayak gini boleh?" tanya Loli, Marcell tersenyum melihat penampilan Loli yang khas remaja seusianya. Marcell yakin jika bertemu orang yang tak kenal mereka akan menyangka bahwa ia dan Loli adalah om dan keponakan.
"Iya boleh, baju yang tadi dipake nya nanti malam aja ya?" ucap Marcell dengan tatapan penuh arti. Loli yang tak mengetahui niat tersembunyi Marcell mengangguk patuh.
"Ayo" Marcell mengulurkan tangan nya yang disambut oleh Loli. Pria itu menggenggam erat tangan Loli seolah gadis itu akan kabur darinya jika ia tak melakukan itu.
🍁🍁🍁
"Jangan lama-lama ya" Ucap Marcell saat mereka tiba di kafe yang Sania pilih untuk tempat pertemuan mereka, pria itu membukakan pintu untuk Loli.
"Nggak usah, kakak nggak mau ganggu. Siapa tau Sania nggak nyaman kalau ada kakak" Marcell mencium kening Loli dan mengusap kepalanya. "Sana, nanti Sania ngambek kelamaan nunggu" ucap Marcell.
"Aku masuk dulu ya kak" Loli meraih tangan Marcell dan menciumnya, apa yang istrinya lakukan mengalirkan kehangatan di hati Marcell.
Marcell memandangi punggung Loli yang semakin menjauh dengan senyum yang tak sirna.
Loli mengedarkan pandangan setibanya ia di dalam kafe, ia mencari sosok Sania hingga pencarian nya berhenti saat melihat Sania melambaikan tangan nya.
Loli mendekat pada gadis itu yang berjarak tak begitu jauh dari tempatnya berdiri. Ia duduk di hadapan Sania.
"Ini minuman siapa?" Tanya Loli heran ketika mendapati gelas minuman yang tinggal setengah. Tak mungkin itu minuman yang Sania pesankan untuknya.
__ADS_1
Belum sempat Sania menjawab sosok Zayn tiba-tiba datang dan duduk di sebelah Sania berhadapan dengan nya. Loli melemparkan tatapan pada Sania yang tersenyum salah tingkah.
"Uda lama datang nya dek?" sapa Zayn ramah. Ia mati-matian menahan perasaan nya yang meronta sakit saat melihat Loli.
"Baru aja" lirih Loli, matanya masih menatap pada Sania.
"Kakak yang minta Sania buat ajak ketemu kamu Loli, jangan marah sama Sania ya?" Loli tak menjawab, ada rasa kesal di hatinya atas kebohongan Sania. Ia merasa dijebak oleh sahabat nya itu. Loli tak bisa membayangkan andai Marcell tau ia menemui Zayn apalagi Loli tau suaminya itu begitu tak suka pada kakak kelasnya ini. Seketika Loli merasa telah mengkhianati suaminya.
"Maaf Lilo" ucap Sania dengan wajah mengiba. Melihat wajah Loli Sania didera rasa bersalah, namun untuk menyesal juga percuma semua sudah terjadi.
"Aku mau pulang sekarang" Ucap Loli, ia tak mau sampai Marcell mengetahui ini dan salah paham dengan nya.
"Loli jangan pergi dulu, kakak cuma mau mengucapkan salam perpisahan sama kamu karena besok kakak akan pergi. Kakak cuna mau melihat kamu sebelum kita berpisah" ucap Zayn menatap dalam pada Loli, cintanya pada gadis itu belum surut sedikitpun. Namun Zayn bertekad setelah hari ini ia hanya akan menyimpan semua hal tentang gadis itu dalam kenangan.
"Keinginan kakak uda terpenuhi kan? selamat jalan. Semoga selamat sampai tujuan. Sekarang aku uda boleh pergi kan?" Tegas Loli pada Zayn.
"Nggak mau makan dulu?" Tanya pria itu putus asa.
"Nggak kak, suami aku uda nunggu di luar. Dia kira aku cuma mau ketemu Sania, bahkan dia menolak untuk aku ajak masuk karena nggak enak mengganggu pertemuan sepasang sahabat. Aku harap ini pertama dan terakhir kalinya kamu kayak gini San. Aku nggak suka" ucap Loli.
"Iya, maafin aku Lilo" Lirih Sania. Melihat kekecewaan Loli membuat Sania tak tenang.
Loli berdiri dan akan beranjak dari sana, namun tubuhnya menegang saat mendapati Marcell yang berjalan mendekat ke arahnya. Tatapan mata pria itu tajam terasa menusuk hingga menembus jantung.
"Kak Marcell" Gumam Loli dengan wajahnya yang berubah pucat. Sania dan Zayn menoleh secara bersamaan. Keduanya tak kalah terkejut menyadari kedatangan suami Loli yang terlihat menahan marah.
🍁🍁🍁
__ADS_1