
"Aku uda mau pulang" ucap Loli dengan wajah takutnya saat Marcell sudah berada di hadapan nya. Marcell hanya mengangguk dan meraih tangan Loli, pria itu menyelipkan jari-jarinya ke jemari tangan istrinya.
"Saya harap ini yang terakhir kalinya kamu mencoba menemui istri saya" Ucap Marcell pada Zayn. Ia kemudian membawa Loli menjauh dari tempat itu sebelum Zayn menjawab ucapan nya.
"Kita mau langsung pulang atau ada yang mau adek beli dulu?" tanya Marcell, nada suaranya cenderung datar meski terdengar lembut namun tak seperti biasanya. Loli tau Marcell menahan emosinya.
"Langsung pulang aja" ucap Loli. Marcell tak menjawab lagi, ia melanjutkan langkahnya dengan tangan yang masih bertaut pada tangan Loli.
Keduanya sama-sama diam, tak ada yang memulai pembicaraan bahkan saat mobil mereka sudah menembus jalanan. Loli berniat menjelaskan semuanya setiba mereka di rumah nanti. Ia berharap Marcell tidak salah paham dengan nya.
Sesekali Loli melirik Marcell, namun pria itu sedikitpun tak melihat ke arahnya pandangan Marcell hanya fokus ke depan. Hati Loli semakin gelisah dibuatnya.
Sementara itu Sania dan Zayn tampak diliputi kegusaran mengingat ekspresi panik dari Loli sebelumnya.
"Kasihan Lilo, kalau suaminya marah gimana" Keluh Sania. Ia ingin marah pada Zayn tapi pria itu tak sepenuhnya bersalah, ia ikut andil dalam kekacauan ini. Harusnya ia bisa menolak permintaan pria itu.
"Mudah-mudahan enggak San" Meski Zayn sendiri tidak yakin.
"Aku ngerasa bersalah banget sama Lilo, mungkin sekarang dia benci banget sama aku" Sania ingin menangis rasanya.
"Maafin kakak ya San, tapi kamu tenang aja Loli bukan orang yang suka menyimpan dendam. Dia baik banget orang nya"
"Iya aku tau, justru karena itu aku ngerasa bersalah banget. Lilo tu sahabat aku yang paling baik selama ini, tapi aku malah menyulitkan dia sekarang" Sania tak bisa menutupi kegusaran nya.
"Maafin kakak San, kakak nggak nyangka semua akan Sekacau ini"
__ADS_1
"Yah mau diapain lagi, udah terlanjur ini. Aku pulang dulu kalo gitu kak" ucap Sania, mood nya benar-benar memburuk.
"Nggak makan dulu?" Sania menggeleng, ia meninggalkan Zayn sendirian dalam kekalutan nya.
Zayn menghembuskan nafas nya dengan kasar. Ia sama sekali tak berniat membuat hubungan Loli dan Marcell menjadi runyam begitupun hubungan Sania dan Loli. Ia hanya ingin menuntaskan segala perasaan nya pada Loli sebelum ia memulai hidupnya yang baru, setelah ini ia akan menjalani hidup tanpa mimpi-mimpi masa depan bersama Loli.
Zayn kembali terhenyak, ia mengumpat berkali-kali di dalam hati. Sepertinya kesialan tengah berpihak padanya saat ini, bagaimana tidak hanya berjarak satu meja dengan nya tampak Nala sedang tersenyum sinis padanya. Zayn yakin gadis itu menyaksikan apa yang terjadi sebelumnya.
Tanpa pria itu duga Nala mendekat padanya dan duduk di kursi yang tadi ditempati oleh Loli.
"Kamu lucu, menawarkan tanggung jawab padaku sementara kamu sendiri belum lepas dari masa lalu" ucap Nala dengan nada mengejek.
"Aku justru ingin mengusaikan semua perasaan ku agar aku bisa bertanggung jawab penuh padamu setelah ini, aku tak ingin ada ganjalan lagi di hatiku sebelum aku melangkah lagi. Loli gadis pertama yang aku cintai, aku merawat perasaan ku selama bertahun-tahun. Bukan mudah untuk menghapusnya dalam hitungan hari. Aku yakin perasaan mu pada suami Loli juga belum sepenuhnya hilang atau bahkan belum berkurang sama sekali" Wajah Nala berubah masam, tadinya ia ingin menyudutkan pria itu namun Zayn malah menghantam balik dirinya.
Nala merasa begitu geram melihat Marcell dengan nyala cemburu di matanya, ia juga marah melihat luapan cinta yang masih begitu besar di mata Zayn pada Loli. Sementara dirinya? ia seperti dipecundangi oleh adiknya sendiri. Jika tau akan melihat kejadian ini tentu Nala akan menolak ajakan teman nya untuk makan siang di kafe ini.
🍁🍁🍁
Loli dengan ragu mendekati Marcell yang sedang menatap langit malam di teras rumah mereka.
Tadi setiba nya di rumah Marcell langsung meminta Loli makan siang lalu beristirahat, pria itu sama sekali tak memberi kesempatan bagi Loli untuk meluruskan permasalahan yang terjadi.
Malam ini Loli bertekad untuk memperbaiki semuanya, melihat Marcell yang tak banyak bicara bahkan saat makan malam tadi membuat Loli merasa resah.
"Kakak marah?" Sekian banyak kata yang sebelumnya Loli rangkai hilang begitu saja hingga hanya tersisah 2 kata itu saat ia sudah berada di dekat suaminya.
__ADS_1
"Aku minta maaf, aku nggak tau kalo ada kak Zayn di sana" Ucap Loli saat Marcell hanya diam tak merespon pertanyaan nya.
Mendengar helaan nafas putus asa Loli, pria itu membalikkan badan nya menghadap pada istrinya.
"Astaga sayang kenapa pakai baju ini? di sini dingin nanti masuk angin" Marcell begitu panik saat melihat Loli berpakaian seperti tadi siang. Ia segera memeluk tubuh istrinya.
"Kan kakak bilang bajunya dipake malam ini?" jawab gadis itu polos. Ia hanya ingin menuruti apa yang suaminya perintahkan, apalagi saat ia merasa bahwa Marcell sedang marah padanya. Ia tak mau pria itu semakin kecewa jika ia tak menuruti permintaannya.
"Buat di kamar aja sayang, jangan dibawa keluar" Marcell menatap ke arah pos security untung saja pak Ardi sedang tidak berada di sana. Yah kepanikan yang ia tunjukkan bukan hanya karena takut Loli masuk angin saja, tapi juga karena ketidak relaan nya jika keindahan tubuh Loli dinikmati oleh pria lain.
Marcell segera membawa Loli untuk masuk ke dalam rumahnya dengan tidak melepaskan pelukan nya pada gadis itu.
Setibanya mereka di kamar Marcell mengajak Loli duduk di ranjang. Ia menatap pada istrinya seolah mempersilahkan Loli untuk melanjutkan penjelasan nya.
"Kak soal tadi siang, aku benar-benar nggak ada niat buat bohongin kakak. Sania nggak bilang kalo ada kak Zayn di sana, kalau aku tau aku pasti menolak. Kalaupun aku emang berniat ketemu dia aku pasti mati-matian menolak untuk kakak antar. Bahkan tadi aku tawarin kakak buat ikut masuk kan? aku juga langsung mau pergi saat tau kak Zayn ada di sana" Marcell tau Loli tak mungkin membohonginya, ia tau Loli tidak bersalah. Namun rasa kesal tetap memenuhi hatinya, ia begitu tidak suka istrinya bertemu dengan pria itu.
Tadi siang entah mengapa perasaan nya begitu tidak enak karena itu ia memutuskan untuk menyusul Loli, ternyata kecurigaan nya benar-benar terjadi. Ia mendapati pria itu di sana.
"Kakak nggak marah sayang, kakak cuma kesal. Kakak nggak rela istri kakak ketemu dan dirayu sama si Jin itu. kakak takut dia minta peluk lagi" Membayangkan itu kembali menyulut emosi pria itu.
"Tapi kalo kakak nggak marah kenapa kakak kayak menghindar dari aku? ngomong nya juga dikit banget" Marcell tersenyum lalu meraih wajah Loli dan menatap nya.
"Kakak lagi kesal sayang, kakak takut ucapan kakak jadi macam-macam karena sedang dikuasai emosi. Bukan emosi sama adek, tapi sama Jin itu. Sayang, saat sedang cemburu fikiran jadi keruh. Semuanya jadi salah, kakak nggak mau dengar penjelasan adek dalam kondisi seperti itu. Makanya kakak lebih baik diam dulu, tunggu emosinya mereda baru bicara. Maafin kakak ya uda bikin adek nggak nyaman?"
🍁🍁🍁
__ADS_1