
Hari ketiga tanpa Zayn membuat hati Nala sangat kacau, apalagi pria itu bahkan tak mengirimkan pesan apalagi menelfon nya. Nala benci pada dirinya yang nyata-nyata merindukan Zayn namun masih begitu tinggi hati untuk menghubungi suaminya lebih dulu.
Untung saja baju terakhir yang Zayn pakai tak sempat dicuci sehingga ia bisa mencium aroma suaminya untuk mengurangi sedikit kerinduan nya, juga membawanya tidur agar ia bisa merasakan keberadaan Zayn.
"Ayo dong Zayn telfon" lirih Nala dengan mata tak lepas menatap pada ponselnya. Ia jadi tak bersemangat untuk melakukan apapun saat ini. Selama 3 hari ini pun ia lebih banyak menangis dan menghabiskan waktu di kamar.
"Kamu nggak kangen anak kita apa Zayn" Nala mengusap perutnya, mungkin saja kerinduan Nala pada Zayn juga karena faktor kehamilannya.
Nala berjalan menuju balkon kamarnya, untuk sekedar meredakan kegelisahan yang mendera. Matahari sudah terlihat tinggi dan jarum jam sudah menunjuk angka 8, namun jangan kan untuk sarapan Nala bahkan belum membersihkan dirinya. Sang mama sudah dua kali ke kamarnya mengajaknya sarapan namun Nala beralasan masih mengantuk, untunglah mama Dita tak curiga.
Nala terpaku saat melihat Loli adiknya serta Marcell baru turun dari mobil, Nala tersenyum getir melihat betapa Marcell dan Loli sudah sangat bahagia. Marcell tampak begitu menjaga adiknya, tangannya tak lepas melingkar di pinggang Loli saat keduanya berjalan memasuki rumah.
Menyaksikan hal itu membuat rasa rindu Nala pada Zayn semakin tak terbendung hingga matanya kembali basah.
Setelah terpaku cukup lama Nala menghapus air matanya. Ia memutuskan untuk membersihkan dirinya lalu turun menemui Loli. Mungkin bercengkrama dengan sang adik juga mamanya akan membuat hatinya lebih baik. Sudah cukup ia mengurung diri seperti ini, hatinya malah semakin sesak karena otaknya hanya fokus memikirkan Zayn.
"Hai dek, uda lama?" Tanya Nala saat menemukan Loli sedang bercengkrama dengan mama Dita di ruang keluarga padahal tadi ia sudah melihat kedatangan sang adik.
"Belum kok kak" Loli membalas pelukan kakak nya.
"Sendirian?" Tanya Nala sambil duduk di sebelah Loli, ia sudah tak menemukan keberadaan Marcell di sana.
"Enggak, tadi diantar kak Marcell"
"Marcell nya uda berangkat?" Loli mengangguk.
__ADS_1
"Kak Marcell ada kerjaan di luar kota, kemungkinan menginap makanya Loli diantar ke sini" Marcell terlalu khawatir meninggalkan Loli sendirian di malam hari. Meski ada asisten rumah tangga Marcell mengatakan akan lebih tenang jika Loli ke rumah orang tuanya selama ia pergi.
"Sarapan dulu Nak, tadi kamu belum sarapan" ucap mama Dita memotong obrolan kedua putrinya saat mengingat Nala belum sarapan pagi ini.
"Kamu uda sarapan dek?" Loli mengangguk, Marcell tak akan berangkat ke kantor kalau Loli belum memakan sarapan nya, pria itu selalu harus memastikan sendiri bahwa perut sang istri sudah terisi. Pria itu semakin cerewet setiap harinya.
"Kata mama kak Zayn uda berangkat ke Sydney ya kak?" pertanyaan Loli membuat Nala murung.
"Iya, uda 3 hari" ucap Nala sendu.
"Kak Nala uda kangen banget ya sama kak Zayn? kenapa nggak ikut?" Goda Loli saat melihat perubahan raut wajah sang kakak.
"Biasa aja" ucap Nala gelagapan.
"Padahal iya, kak Nala jadi malas sarapan, malas keluar keluar kamar selama Zayn pergi dan tau nggak dek kak Nala suka melukin baju nya Zayn" mama Dita ikut menggoda Nala sambil terkekeh.
"Kamu uda hamil sayang? kok belum kasih tau mama?" Nala jadi salah tingkah melihat ekspresi kaget sang mama juga Loli.
"I-iya ma, sengaja mau kasih surprise" Nala memaksakan senyumnya
"Uda berapa minggu kak?" tanya Loli bersemangat. Nala bingung untuk menjawab pertanyaan sang adik. Pernikahan nya dengan Zayn belum genap 2 bulan sementara kehamilannya hampir memasuki usia 12 minggu. Hanya saja perutnya belum terlalu kelihatan meski sudah sedikit membesar karena Nala memakai baju yang cukup longgar.
"12 minggu" Nala menunduk. Tak berani menatap wajah mamanya juga Loli. Ia tau pasti keduanya akan terkejut, tapi Nala merasa mungkin sudah saat nya mereka tau perihal kehamilannya. Toh cepat atau lambat mereka akan tau. Nala tak ingin menyimpan rahasia ini lagi.
"Ma-maksud kamu apa sayang?" Tanya mama Dita terbata. Sementara Loli hanya diam tak ingin ikut membuat kakaknya tak nyaman dengan pertanyaan nya. Sedikit banyak nya ia mengerti apa yang terjadi.
__ADS_1
"Maafin Nala ma" lirih Nala, ia masih tak berani memandang ke arah sang mama yang pasti sangat kecewa.
"K-kamu dan Zayn?" dari nada suara mama Dita Nala bisa mengetahui bahwa sang mama begitu shock.
"Maaf ma" Hanya kata itu yang kembali terucap dari bibir Nala. Namun kali ini ia memberanikan diri menatap wajah sang mama, dan ia melihat wajah mama Dita tampak memucat.
"Maafin Nala uda ngecewain mama, uda bikin malu mama" Nala merasa dirinya begitu buruk.
"Kenapa? kenapa bisa seperti itu nak" Jelas sekali ada kekecewaan di mata sang mama.
"Nala dan Zayn khilaf, waktu itu Nala merasa sangat frustasi karena pernikahan Loli sama Marcell ma. Nala mabuk dan nggak sengaja ngelakuin itu sama Zayn" Loli ikut terhenyak, ia menatap Nala dan mama Dita bergantian. Pengakuan Nala jelas teramat menusuk hati Loli, ia merasa apa yang terjadi pada Nala ada campur tangan dari nya.
"Maafin Loli kak" Loli menghambur ke dalam pelukan Nala sambil menangis. Rasa bersalah yang sempat hilang kini seolah kembali menyiksa Loli. Gara-gara dirinya Nala kehilangan kontrol hingga hamil dan mengecewakan mamanya.
"Kamu nggak salah dek, kakak yang salah. Kakak terlalu mengikuti rasa sakit di hati kakak hingga melakukan sesuatu yang bodoh" Ucap Nala.
"Tapi kalau Loli nggak nikah sama kak Marcell kakak nggak mungkin mabuk dan tidur sama kak Zayn"
Melihat kedua putrinya menangis membuat mama Dita iba. Perasaan nya campur aduk, Ia merasa kecewa dan merasa gagal menjadi orang tua. Namun di sisi lain mama Dita menyadari bahwa semua sudah terjadi, Nala dan Zayn sudah menyadari kesalahannya dan juga sudah bertanggung jawab atas apa yang mereka perbuat. Tak ada yang bisa dilakukan untuk mengubah semuanya. Mau tidak mau ia harus menerimanya meski terasa menyesakkan.
"Sudah nak, jangan menyalahkan diri sendiri. Semua uda terjadi" Mama Dita memeluk kedua putrinya yang terus menangis dan menyalahkan diri sendiri
"Nala uda ngecewain mama" ucap Nala sambil terisak
"Iya mama memang kecewa Nala, tapi semua uda terjadi. Uda nggak bisa diubah, yang penting ke depan nya putri mama harus menjadi lebih baik. Belajar dari kesalahan, perbaiki masa lalu dengan menjalani hidup saat ini dan ke depannya dengan baik. Loli juga jangan menyalahkan diri lagi, ini sama sekali bukan salah kamu" Memang sulit menerima ini tapi mama Dita tak bisa berbuat apa-apa. Meski ia marah sampai menangis darah sekalipun apa yang sudah terjadi tak akan pernah bisa diubah. Mama Dita juga tak tega pada Loli yang baru merasakan kebahagiaan harus kembali didera rasa bersalah.
__ADS_1
🍁🍁🍁