Tragedi Bachelor Party

Tragedi Bachelor Party
Tujuh Puluh Enam


__ADS_3

"Kak Nala dan kak Zayn lucu dan menggemaskan ya sayang?" Ucap Loli saat ia dan Marcell sudah bersiap untuk tidur. Mama Dita kembali meminta mereka untuk menginap malam ini.


"Apanya yang lucu?" tanya Marcell cepat, Ia mengurungkan niatnya untuk merebahkan diri, mau tidak mau Loli juga masih bertahan dengan posisi duduk sambil bersandar pada ranjang. Ada raut tidak suka di wajah Marcell yang ia tangkap. Loli mengerutkan keningnya, mungkinkah ia salah bicara?


"Ya tingkah mereka lucu, berantem-berantem tapi manis gitu" ucap Loli hati-hati. Loli semakin heran saat Marcell menatap dan tersenyum curiga padanya.


"Beneran tingkahnya atau wajah kakak ipar yang menurut kamu lucu dan menggemaskan?" Loli menghela nafas sambil menggelengkan kepalanya.


"Papa cemburunya uda kelewatan banget ya dek?" Loli menatap dan mengusap perut nya, mengadu pada sang buah hati mengenai tingkah papanya dengan raut wajah yang amat manis. Loli tak menyangka Marcell begitu excited melihatnya melakukan hal ini. Karena memang bisa dibilang Loli jarang sekali mengajak bayi yang ada di perutnya mengobrol jika ada Marcell.


"Papa kayak gitu karena papa sayang banget sama mama. Takut mama diambil orang, papa juga takut mama masih menyukai cinta monyetnya itu" Marcell bergabung mengusap perut Loli namun wajahnya kini ia hadapkan pada perut istrinya.


"Tapi kan mama juga sayang sama papa, jadi nggak mungkin mama mau kalo ada yang mau ambil mama dari sisi papa. Mama juga cuma suka sama papa, nggak ada orang lain" ucap Loli dengan wajah merona, ternyata ia masih saja merasa malu merayu suaminya sendiri. Sementara Marcell seakan melayang mendengar ucapan istrinya.


"Duh dek papa jadi gemes sama mama, mau ketemu papa nggak nak?" Marcell menatap penuh arti pada istrinya.


"Tadi sebelum ke sini kan udah ketemu adek bayi pa" Loli memalingkan wajahnya. Tatapan mata Marcell membuatnya salah tingkah.

__ADS_1


"Tapi adek masih kangen sama papa nya ma" Balas Marcell, ia menciumi sambil mengusap lembut perut sang istri.


"Mau ya?" tanya Marcell lagi dengan tatapan dalam nya. Jika sudah ditanya begini mana mungkin Loli menolaknya, meski Loli menggeleng sekalipun Marcell tetap akan melakukannya.


Untuk kedua kalinya di kamar Loli sepasang suami istri itu merenda kenikmatan bersama.


🍁🍁🍁


"Nggak usah peluk-peluk" Nala menepis tangan Zayn yang melingkari perutnya. Ia masih kesal dengan tingkah Zayn yang menceritakan sikap nya di depan Loli dan Marcell serta kedua orang tuanya.


"Loh kenapa, masa nggak boleh peluk istri sendiri" Zayn makin mengeratkan pelukannya. Bahkan menciumi pipi hingga turun ke leher istrinya.


"Kamu kan emang galak sayang. Ingat kata mama loh, sama suami nggak boleh galak-galak nanti dosa" Zayn kembali mendaratkan kecupan di pipi Nala yang masih menahan kekesalan pada pria itu.


"Kalo suaminya nyebelin kayak kamu nggak apa-apa. Kamu nya aja kekanakan gitu. Tapi wajar emang masih bocah sih, beda sama Marcell yang dewasa dia bisa memperlakukan istrinya dengan baik juga bisa menyenangkan hati istrinya terus. Jadi wajar kalo istrinya bersikap lemah lembut" ucap Nala ketus. Seketika Zayn melepaskan pelukan nya dari tubuh Nala. Ia menatap tajam penuh kekecewaan pada istrinya. Menyebut nama Marcell dan membandingkan nya dengan pria itu begitu menusuk hatinya. Zayn merasa Nala melemparkan harga dirinya hingga ke jurang terdalam. Nala benar-benar merendahkan dirinya.


"Yah kamu benar Nala. Marcell memang luar biasa, dia dewasa, dia tampan, dia punya segalanya dan aku memang kalah jauh dari dia, terbukti dia bisa merebut hati Loli dan hati kamu, bahkan saat sudah menjadi istriku pun kamu masih dibayang-bayangi oleh kisah masa lalu kalian. Aku memang pecundang jika sudah disandingkan dengan Marcell. Nggak perlu diperjelas pun aku udah tau Nala!" Ucap Zayn dengan penuh penekanan, sorot mata serta raut wajah menahan luka dan kekecewaan mendalam.

__ADS_1


Seketika Nala tersentak mendengar ucapan maupun melihat ekspresi Zayn. Ia tersadar bahwa ia sudah menyakiti hati suaminya. Tak seharusnya ia menyebut nama Marcell di dalam pembicaraan mereka. Ikatan diantara mereka masih terlalu rapuh untuk membahas hal-hal sensitif tersebut.


"Z-Zayn bukan itu maksud aku" Nala mendekat pada Zayn yang kini sedikit menjauh darinya.


"Aku mau kamu tau Nala, Loli emang pembawaan nya udah lemah lembut. Sifat dasarnya emang uda begitu ketika berhadapan sama siapapun termasuk sama aku. Tapi meski begitu apa pernah aku ngebandingin kamu sama dia, apa pernah aku meminta kamu untuk menjadi seperti Loli? enggak Nala! aku berusaha untuk menerima kamu apa adanya karena aku ingin hatiku menerima keberadaan kamu karena kamu adalah Nala, bukan karena melihat bayangan Loli pada diri kamu!" Hati Nala semakin kalut, ia belum pernah melihat kekecewaan yang begitu dalam di mata Zayn selama ini sekasar apapun ia bersikap dan berucap.


"Aku juga mau kamu menerima aku sebagai apa adanya diriku bukan karena memiliki kesamaan dengan Marcell. Kita harus saling menerima tanpa bayang-bayang masa lalu."


Lanjut Zayn, nada bicaranya kini berubah datar dan dingin.


Nala terdiam. Ia merasa bersalah, seharusnya ia memang tak membandingkan suaminya dengan mantan kekasih nya. Apalagi pernikahan mereka terjadi karena terpaksa juga masing-masing mengetahui bahwa mereka belum benar-benar lepas dari masa lalu ketika memutuskan untuk menjalani pernikahan ini. Namun Nala terlalu gengsi untuk mengakuinya pada Zayn saat ini. Mulutnya terkunci, terlalu sulit hanya untuk meminta maaf pada suaminya.


Zayn melangkah menuju balkon meninggalkan Nala yang terpaku sendirian, Nala ingin mengejar namun ia takut saat Zayn menolak dirinya. Ia masih belum siap menerima penolakan dari pria itu, harga dirinya masih terlalu tinggi. Karenanya Nala memilih untuk membiarkan suaminya sendiri.


Zayn menatap langit malam dengan gusar, dadanya terasa amat sesak. Beberapa kali ia menghembuskan nafas kasar. Harga dirinya terluka mendengar Nala menyebut nama Marcell. Ia semakin merasa kalah dari adik iparnya. Marcell tidak hanya merebut hati Loli dari nya namun juga masih meninggalkan kenangan di hati istrinya. Ia merasa direndahkan oleh keadaan.


Ia bisa menerima sikap kasar Nala selama ini, selagi Nala tak menyebut nama pria lain sebagai perbandingan apalagi jika membandingkan nya dengan Marcell, pria yang jelas-jelas pernah melempar dirinya pada ketidak percayaan diri yang begitu dalam. Dan di saat ia tengah bersusah payah membangun kembali kepercayaan dirinya Nala malah kembali menghancurkannya.

__ADS_1


🍁🍁🍁


__ADS_2