
Zayn menatap foto Nala di ponselnya. Ia rindu juga khawatir pada kondisi istri dan bayinya. Namun rasa kecewa memaksa Zayn untuk menahan diri agar tak menghubungi Nala lebih dulu.
Zayn merasa perlu bersikap tegas untuk kali ini. Ia ingin menunjukkan bahwa ada batasan prinsip yang tak boleh Nala langkahi. Namun sesakit apapun ia kini tak terbesit sedikitpun niat untuk mengakhiri pernikahan mereka. Ia hanya ingin Nala menyadari kekeliruan yang ia buat, Zayn ingin Nala menghargainya sebagai suami meski hanya sedikit.
Beberapa hari tanpa melihat Nala juga tanpa komunikasi apapun sama sekali tidak mudah baginya. Seburuk apapun sikap Nala selama ini padanya tetap saja Zayn merasakan kehadiran Nala melukis warna lain di dalam hidupnya. Ia merasa lebih bersemangat dan seolah menemukan tujuan hidupnya tiap kali melihat senyum Nala yang ia sadari begitu memabukkan.
Zayn melirik jam di tangan nya, pria itu menghembuskan nafas kasar. Ia harus segera berangkat ke kampus, 1 jam lagi ujian nya akan dimulai.
Sekuat tenaga pria itu berusaha menenangkan perasaan nya agar bisa fokus menjawab soal. Ia ingin mengesampingkan sejenak permasalahan nya dengan Nala demi masa depan mereka juga.
Setelah meraih tas di atas meja dan memastikan semua perlengkapan yang ia butuhkan tak ada yang ketinggalan Zayn melangkah keluar dari penthouse nya. Menyusuri jalanan menuju kampus hingga beberapa menit berlalu ia tiba di tempat ia menimba ilmu selama ini. Ia memasuki ruangan tempat ujian akan dilaksanakan, ujian akan segera dimulai beberapa menit lagi.
🍁🍁🍁
Hari sudah gelap saat Zayn memutuskan untuk pulang setelah melewati serangkaian ujian. Sebenarnya ujian telah berakhir sejak beberapa jam yang lalu, namun Zayn tidak langsung pulang ke penthousen nya. Ia pergi ke perpustakaan cukup lama lalu bersantai sejenak ke coffee shop yang tak begitu jauh dari kampusnya. Ia ingin menghibur diri sebelum kembali ke penthouse nya dan tenggelam dalam kesunyian.
__ADS_1
Rasa penat di tubuhnya membuat Zayn mempercepat langkahnya memasuki lift yang terhubung langsung ke unit nya. Ia ingin segera mengistirahatkan tubuh dan otaknya yang lelah. Mungkin dengan tidur beberapa jam semua akan terasa lebih baik.
Ada rasa sepi yang Zayn rasakan selama beberapa hari ini setiap kali ia pulang, ingatan tentang Nala selalu menyapanya. Kenangan saat Nala tinggal di sana menari-nari di otaknya, membuat nya diamuk rasa rindu.
Zayn tersenyum pahit, ia memasuki kamarnya yang terasa dingin. Ia berharap ada Nala untuk mengusir segala kehampaan yang ia rasakan, meski terasa mustahil mengingat betapa keras kepalanya gadis itu.
Zayn terpaku saat matanya menangkap sosok yang tengah tersenyum padanya. Sosok yang terus memenuhi otaknya selama ia di sini. Zayn mengucek matanya beberapa kali untuk memastikan bahwa Nala benar-benar nyata, bukan sekedar halusinasi akibat gulungan rindu yang tengah melahapnya.
"Dari mana saja? kenapa baru pulang?" Suara itu begitu nyata, tak mungkin rasanya jika ini hanya khayalan nya belaka.
"Na-Nala? kamu Nala"
"Baru satu minggu pergi dan kamu udah nggak ngenalin aku? kamu keterlaluan Zayn!" sungut Nala dengan ketus. Sebenarnya di dalam hati Nala diam-diam resah melihat ekspresi kaget Zayn atas kehadiran nya. Pria itu tak refleks memeluknya, itu artinya Zayn tak merindukannya. Nala sedikit menyesal karena menuruti ucapan Loli untuk menyusul Zayn ke sini, ia merasa malu melihat respon Zayn yang biasa saja.
Dari nada bicara dan raut wajahnya yang begitu nyata Zayn yakin bahwa ini benar-benar Nala, bukan ilusi nya semata. Namun ia berusaha menahan gemuruh rindu di dadanya yang menuntut penuntasan. Ia ingin Nala lebih dulu menyerahkan diri padanya.
__ADS_1
"Ada apa Nala? kapan ke sini? sama siapa?" nada bicaranya Zayn buat sedatar mungkin. Padahal ada kekhawatiran yang besar tengah mengerubungi hatinya, bagaimana mungkin Nala yang tengah hamil menempuh perjalanan hampir 7 jam sendirian.
"Kamu serius nanya ada apa Zayn?" tanya Nala sendu, ia kecewa pada respon hambar suaminya. Namun Nala sadar ia tak bisa berharap lebih setelah apa yang sudah ia perbuat pada pria itu. Sangat wajar jika Zayn bersikap demikian. Gantian kini ia yang harus lebih sabar menghadapi suaminya
"Aku mau ketemu kamu, aku datang sendirian dari bandara langsung ke sini sejak 1 jam yang lalu." ucap Nala saat Zayn hanya diam tak berniat menjawab pertanyaan nya.
"Kenapa mau ketemu aku? nanti juga aku pulang. Kamu seharusnya nggak nyusul aku ke sini sendirian. Kamu lagi hamil Nala, kalau terjadi apa-apa sama bayi kita gimana?" Zayn menyayangkan kecerobohan Nala. Saat ia mengajaknya untuk ikut Nala menolak mentah-mentah, dan sekarang ia malah nekad datang sendirian menyusulnya.
"Emangnya salah kalo aku mau ketemu suami aku sendiri? salah kalo aku kangen kamu? kamu sama sekali nggak ada nelfon atau kirim pesan ke aku Zayn" Luruh sudah keangkuhan yang ia pertahankan. Melihat sikap Zayn Nala tiba-tiba merasa takut pria itu akan meninggalkannya. Benar kata Loli saat ini menyelamatkan pernikahan mereka jauh lebih penting.
"Aku kangen sama kamu, aku sedih kamu pergi gitu aja. Aku gelisah nunggu pesan kamu, aku terus berharap kamu telfon aku. Kamu jahat Zayn, kamu sama sekali nggak ingat sama aku. Aku tau aku salah, aku minta maaf. Jangan tinggalin aku Zayn, aku nggak bisa jauh dari kamu. Aku benar-benar minta maaf" ucap Nala dengan kepala menunduk, ia terlalu malu untuk menatap wajah suaminya mengingat betapa ia bersikap tinggi hati selama ini. Sementara Zayn tampak melongo, ia tak menyangka istrinya akan merendahkan dirinya dengan mengatakan perasaan nya.
"Aku janji akan berubah Zayn, aku akan jadi istri yang baik buat kamu. Kasih aku kesempatan Zayn, aku benar-benar minta maaf untuk semua sikap aku selama ini ke kamu, tetaplah di sisiku dan anak kita Zayn. Ayo kita jalani pernikahan ini dengan baik" Nala memberanikan diri menatap ke arah Zayn yang terpaku menatap padanya.
Seulas senyum terbit di bibir Zayn, ia dengan cepat meraih tubuh Nala dan mendekap nya erat. Zayn lalu menciumi seluruh wajah Nala yang masih tampak kaget dengan perlakuan tiba-tiba suaminya.
__ADS_1
Air mata Nala luruh begitu banyak merasakan rengkuhan tangan Zayn pada tubuhnya. Getaran di hatinya menggila merasakan kecupan bibir Zayn di seluruh wajahnya. Hatinya lega, apa yang Zayn lakukan menunjukkan bahwa pria itu tak lagi marah padanya. Nala berharap Zayn memaafkannya dan bersedia melanjutkan pernikahan mereka
🍁🍁🍁