
Marcell terpana melihat jari Loli yang bergerak. Untuk sesaat Marcell tak beranjak dari posisinya, rasa takjub sekaligus bahagia yang memuncak membuatnya terpaku di tempat. Fokus Marcell pada putranya teralihkan, telinganya seolah tersumbat hingga tak mendengar tangisan bayinya yang semakin kencang.
"Marcell ada apa" Mama dan mama mertuanya terpaksa masuk ke ruangan karena mendengar tangisan histeris cucunya. Mama Dita menatap bingung pada Marcell yang menatap ternganga ke arah Loli dengan air mata yang berhamburan keluar. Sementara mama Rita mengambil alih cucunya dan berusaha mendiamkan tangisannya.
Mama Dita mengikuti arah pandang menantunya, wanita itu ikut terperangah saat ia mendapati mata Loli bergerak seolah akan terbuka.
"Sayang!!" Mama Dita berlari cepat ke arah ranjang putrinya. Marcell yang tersadar dari keterpakuan nya ikut berlari mendekat.
"Sayang, kamu bangun? ayo sayang buka mata kamu. Ini mama nak" mama Dita mengusap rambut Loli. Ia berharap mata Loli segera membuka.
"Sayang ayolah buka matamu. Ini aku Marcell suami kamu. Ada anak kita juga di sini sayang" Marcell menggenggam tangan Loli dan menciuminya sambil tersedu.
Mama Rita ikut mendekat membawa putra Marcell dan Loli yang masih menangis, bayi mungil itu menolak botol susu yang terus disodorkan oleh sang nenek.
"Sayang, putra kita menangis. Pasti dia merindukan mu dan ingin meminum ASI darimu. Bangun sayang" Marcell masih tergugu dalam tangisan. Mereka terus memanggil Loli dengan harapan yang meluap.
Semua yang ada di ruangan itu menjerit tertahan saat mata Loli benar-benar membuka dengan perlahan, ada air mata yang mengalir dari sudut mata indah itu. Rasa lega, bahagia dan bersyukur membaur menjadi satu memenuhi hati Marcell juga mama dan mama mertuanya.
"Oh ya Tuhan terima kasih" Mama Dita terisak kuat. Begitupun dengan Marcell yang langsung menciumi seluruh wajah Loli dengan penuh rasa syukur.
"Sayang kamu sadar? kamu kembali? aku sangat mencintaimu, jangan pernah berfikir untuk meninggalkan ku lagi" Marcell memeluk Loli yang masih terdiam meski matanya tampak bergerak seperti meneliti ruangan tempatnya berada.
"Ayo sayang bicaralah, oh ya lihatlah bayi kita sayang" Marcell menoleh pada mama Rita yang juga tampak menangis terharu karena menantunya telah sadar.
Mama Rita yang mengerti maksud Marcell semakin mendekat pada ranjang Loli, ia menyerahkan bayi kecil mereka yang terus menangis meski tak sekencang sebelumnya.
"Sayang bayi kita merindukan mu. Aku benar kan dia sangat tampan" Loli menatap pada bayi yang ada dalam gendongan Marcell, namun ia tetap diam. Tak menunjukkan respon apapun, hal itu membuat Marcell kebingungan.
__ADS_1
"Mama akan memanggil dokter" Ucap mama Rita saat melihat kondisi Loli yang seperti kebingungan.
"Sayang, ini mama nak. Kamu ingat mama kan sayang?" Mama Dita berusaha memancing Loli agar berbicara. Namun sama seperti sebelumnya Loli hanya diam.
🍁🍁🍁
"Ayolah jangan memandangiku terus seperti itu" wajah Loli merona karena sejak tadi suaminya terus memandanginya dengan senyum yang tak surut dari bibirnya. Tangan pria itu juga terus menggenggam tangan nya dengan erat, bahkan sesekali Marcell menciumi tangan Loli.
Loli sudah dipindahkan ke ruang perawatan, butuh berjam-jam baginya untuk menyesuaikan keadaan dan mengingat apa yang menimpa dirinya. Air matanya berhamburan keluar saat mulai mengingat satu demi satu peristiwa yang ia alami sampai ia mengingat putra kecil yang ia lahir kan.
Rasa bahagia dan haru memenuhi jiwanya saat melihat wajah putranya untuk pertama kali. Ia benar-benar bersyukur masih memiliki kesempatan untuk hidup dan merawat bayinya.
"Aku kangen banget sama kamu, kamu membuatku sangat takut" Bisik Marcell. Ia merasa bagaikan mimpi bisa melihat kembali mata jernih Loli, mendengar suara manja istrinya serta mendapati semburat kemerahan dan wajah malu-malu wanita tercintanya itu. Senyuman Loli bagaikan obat yang mengusir semua resahnya.
"Aku uda nggak apa-apa sayang" Loli paham ketakutan suaminya. Ia bisa merasakan betapa besar pria itu mencintainya, ia sangat mengerti betapa Marcell sangat terluka saat ia tak sadarkan diri selama 1 minggu ini. Apalagi saat mendengar cerita dari mamanya mengenai kondisi Marcell yang sangat menyedihkan hatinya ikut merasakan kepiluan mendalam, Loli kembali bersyukur sebanyak-banyak nya karena kembali sadar dari komanya dan bisa melanjutkan hidup bersama pria yang sangat mencintai dan dicintainya.
"Aku kesulitan bernafas selama berhari-hari. Ah semuanya benar-benar menakutkan sayang. Aku tidak mau lagi berada pada situasi itu. Kamu harus cepat sehat, temani aku menjalani hidup ini sayang" Marcell kehilangan kata untuk menggambarkan kondisi suram hatinya saat Loli koma.
"Terimakasih sudah kembali. Tanpa kamu aku benar-benar akan mati" Lirih Marcell yang membuat hati Loli bagaikan disayat-sayat.
"Jangan ngomong gitu sayang, aku jadi takut" ucap Loli manja. Wajah Marcell berbinar, tak ada apapun lagi yang ia inginkan saat ini. Kesadaran Loli adalah hal yang paling membahagiakan untuknya.
"Kita akan selalu bersama kan sayang? ada aku, kamu, dan putra kita" Ucap Marcell.
"Iya sayang, oh ya siapa nama putra kita?" Loli mengingat bahwa ia belum sempat bertanya nama putranya yang sekarang sudah di bawa pulang oleh mamanya. Karena kondisi Loli yang belum memungkinkan untuk sementara waktu sampai Loli pulih dan keluar dari rumah sakit bayi mereka akan di rawat oleh mama dan mama mertuanya di rumah.
"Ettan Savero Raihan" ucap Marcell.
__ADS_1
"Bagus, apa artinya?" tanya Loli sambil terus mengeja nama putranya.
"Emang harus punya arti?" Marcell tersenyum menggoda istrinya.
"Iya tentu saja, nama itu bagian dari doa sayang. Jadi orang tua harus memberikan nama yang mengandung arti baik untuk anaknya, bukan cuma bagus atau terdengar keren"
"Emang nya arti nama Kairolie itu apa?" Marcell menatap gemas pada Loli yang tampak berfikir.
"Enggak ada kayaknya" Ucap Loli malu.
"Makanya aku mau nama anak kita punya arti yang bagus"
Marcell terkekeh akan kepolosan istrinya.
"Artinya nafas yang menerangi, semoga kehadiran nya bisa memberi kehidupan juga menjadi petunjuk bagi orang lain dengan cahaya nya sayang" ucap Marcell.
"Gimana suka nggak?" tanya pria itu saat Loli hanya mengangguk.
"Suka banget" Jawab Loli dengan senyum nya yang mempesona.
"Sekarang tidur ya, biar cepat sehat dan bisa cepat pulang" ucap Marcell saat melihat jarum jam sudah bertengger diangka 10 malam.
"Kamu lupa ya aku uda satu minggu nonstop tidurnya?" ucapan Loli kembali membuka luka di hati Marcell. Perubahan ekspresi suaminya menyadarkan Loli bahwa ia sudah salah berbicara.
"Sayang, tidur di sini ya sama aku. Aku kangen tidur dalam pelukan kamu" ucapnya berharap bisa membuat hati Marcell kembali membaik.
"Nggak muat sayang sempit"
__ADS_1
"Muat kok, tuh kan masih nyisah banyak. Cukup buat tempat tidur kamu" Loli menggeser tubuhnya, memberikan tempat untuk suaminya.
🍁🍁🍁