Trapped In Past Love

Trapped In Past Love
(Chapter 10) Doa di Sepertiga Malam


__ADS_3

Mataku bengkak, hidungku tersumbat, kepalaku pusing dan sakit, tak terasa sudah sejaman aku menangisinya.


Kurebahkan diri dan kupejamkan kelopak mataku, namun otakku terus bekerja, hingga membuatku susah nak tilem.


Segala ayat kursi, tasbih, syahadat, dzikir puluhan kali usaiku borong semua. Namun tak jua mencipta molorku melambung.


Aku bangkit dari tempat bobok yang nyaman, ku sepak terjang kakiku mendatangi lapak bersiram.


Sesampainya di kamar mandi, ku putar kerannya ke arah kanan, terdengar desiran air jatuh menghantam lantai.


Ku sapu telapak tanganku dengan bismillah, aku berkumur-kumur tiga kali, juga ku hirup air di kedua telapak tanganku sebagai wadah.


Ku bersihkan lubangnya dengan air yang tadi aku hirup, dan di buanglah ia. Kulakukan sampai tiga kali.


Ku tapung air itu di telapak tangan, menjedanya di atas kepala sambil berniat dalam hati, “Niat aku wudhu menghilangkan hadats kecil lillahi ta'ala.”


Air itu jatuh perlahan membasahi wajah. Selesai berniat, kusapu rata ke seluruh wajah bulatku. Dan aku mengulanginya hingga 3 kali.


Begitupula urutan selanjutnya, hingga sampai pada kaki kananku. Aku menyucikannya hingga di sela-sela kuku, sehingga benar-benar tak ada cela terlewatkan.


Selesai pada kaki kananku, kini beralih pada kaki kiriku. Dengan cara yang serupa, dan bilangan yang sama. Setelah usai, tak luput aku membaca doa selepas wudhu.


Kini aku melangkah keluar dengan di dahulu kaki kanan, sambil berucap “Alhamdulillahilladzi adzhaba 'annil adza wa 'aafaanii.”


Kakiku melaju menuju musholla kecil yang terdapat di dalam rumah, pertengahan ruang tamu dan keluarga.


Sepuluh menit berlalu, hanya ada detakan jantung dan jam mengisi kekosongan malam.


Suaraku berbisik pada keheningan membaca tahiyyat akhir. Hingga sampai pada doa agar terhindar dari fitnah Ad-Dajjal. Kini kuakhiri dengan salam.


Aku menadahkan kedua tanganku dan mulai membisikan sebutir doa untuk kesembuhan seseorang yang telah mengisi relung hatiku.


“Yaa Allah, yaa Rahman, yaa Rahim, hanya padamu aku bermunajat. Sembuhkan ia, angkatlah penyakitnya, hanya engkaulah sebaik-baiknya penyembuh tanpa rasa sakit setelahnya ....”


Di tengah-tengah untaian doa, aku terisak hingga membuatku terjeda, nafasku terseguk-seguk, sambil menahannya, aku melanjutkan doaku.


“Yaa Robb, jika sebuah rasa sakit bisa di tukar, aku ridho, aku bersedia, biarlah aku yang menggantikannya ....”


Entah apa yang ada di dalam benakku, aku hanya berfikir bahwa pria itu memang benar-benar telah merenggut seluruh hatiku tanpa tersisa.


Jika kalian berfikir aku bodoh, terlalu berlebihan dalam mencintainya. Ya, itu benar adanya. Aku telah dibutakan oleh cintanya.


Seorang pria yang masih awam. Meninggalkan kampung halamannya, merantau ke sebuah kota dan negara yang asing dan jauh dari keluarga.


Dia melakukannya tanpa ragu untuk sepasang mahkota yang akan ia persembahkan bagi kedua orangtuanya di akhirat kelak.


Jika ingin menjudge silahkan! aku pun tak bisa mengatur hatiku untuk jatuh cinta pada siapa yang ingin kuhendaki.


Akupun tak mengira, jika cinta pertamaku akan berlabuh pada ia yang MaaShaa Allah buatku yang Subhanallah.


...***...

__ADS_1


Suara ayam berkokok, tampaknya telah menjelang waktu subuh. Aku menggerakkan kelopak mataku berkedip berkali-kali, alisku mengernyit.


Tubuhku semuanya terasa sakit, apalagi leherku, subhanallah, nyeri sekali.


Rupanya semalam aku tertidur lelap tanpa melepas mukenah yang masih melekat ditubuh.


Aku bergumam, “Oh astaga! sepertinya aku–”


“Put! Putri! bangun, Nak! sholat subuh!” Mama berseru memanggil membangunkan.


“Iya, Mah! udah bangun, kok!” sahutku dari dalam kamar dengan suara agak serak.


Aku menjelangak, rupanya masih jam 04:01 WIB.


Sebelum adzan berkumandang, aku membersihkan diri lebih dulu. Saat menuju ke dapur, aku berpapasan dengan mama, dan langkahku di hentikan olehnya.


“Put, matamu kenapa?” tanya mamaku memeriksanya.


“Kamu habis nangis, ya?” imbuhnya.


“Enggak kok, Mah! mungkin efek kebanyakan tidur.” Aku berdalih dihadapan kedua mata yang dipenuhi kekhawatiran.


Mama mulai menginterogasiku. “Emang semalam kamu tidur jam berapa?”


“Kalau gak salah jam delapan. Udah dulu ya, Mah! aku mau mandi dulu.” Aku langsung melarikan diri menghindari mama.


“Terus yang nangis dini hari itu siapa?”


Deg!


“Kenapa, Mah?” tutur papaku menyapa mama dari belakang.


“Gak ada apa-apa, Pah.” Mamaku melaju pergi menuju musholla.


Sedangkan papa yang masih berdiam diri di tempat menatap ke arahku dan mama secara bergilir.


“Putri mau kemana?” tanya papaku memecahkan lamunanku yang beberapa menit lalu menjadi patung.


“Mandi,” sahutku.


“Kok malah ngejedog wae kayak patung.”


“Hehe, kan tadi Putri di panggil sama Papa,” terang ku berkomentar.


“Bisa ae kamu ini. Udah sana mandi, nanti imaman sama mama,” titah papahku.


“Papa juga?”


“Ya nggaklah, Papa mah ke masjid.”


“Oh, kirain, hehe.”

__ADS_1


Setelah obrolan singkatku dengan papa di waktu subuh ini, aku segera bergegas membersihkan diri.


Suara adzan mulai berkumandang, aku pun telah tuntas mandi. Usai berpakaian, aku pergi ke kamar adikku, Elvina.


Aku mencari mukenahnya, namun tak jua kutemukan. Sekarang aku pergi ke musholla kecil dalam rumah, yang memang papa desain khusus untuk sembahyang.


“Mah!” panggilku melangkah masuk.


“Kenapa? mau curhat?” tanya mamaku yang sudah memakai mukenah.


“Iiih, bukan, Mah!” ringisku menghampiri mama.


Mamaku bertanya, “Kalau gitu apa?”


“Mukenah Vina dibawa semua ya, Mah?”


“Emang kenapa? bukannya kamu juga ada mukenah?” interogasi mamaku on.


“Mukenahku masih basah belum kering, terus yang itu ....”


“Kenapa?”


“Kena air ... liur,” terangku mengernyitkan dahi menundukkan kepala, bersiap mendengar mama merutukiku.


“Mama, kan udah bilang berkali-kali! kalau habis sholat tuh yo dilepas dulu itu mukenah! jangan di bawa tidur apalagi dijadikan selimut bantal!” hardik mamaku.


“Iya, Mah. Maafin Putri, aku khilaf gak sengaja kebawa tidur,” terangku.


Beberapa menit kemudian, aku dan mama sholat subuh berdua. Mama sebagai imam, dan aku akhirnya mengenakan mukenah milik mama.


Dua jam kemudian, aku kembali pada aktifitas yang berulang-ulang, yang kukerjakan setiap pagi. Yakni bersiap-siap, tapi kali ini aku mau menjenguk adik tersayang dan tercintaku.


“Putri! gera, Nak! nanti Vina bisa ngomel kalau datang pas sedang ngaji,” hardik mama di depan teras rumah.


“Iya, Mah! bentar lagi!” sahutku sambil mencari sesuatu.


“Aduh, di mana sih sepatuku yang itu,” gumamku.


Aku mencari-cari sepatu kesayanganku berwarna putih seperti sepatu balet, hanya saja dia tidak memiliki tali panjang.


Sudah kucari di setiap sudut kamar tak jua kutemukan, entah di mana ia bersembunyi.


“Mah! liat sepatuku yang itu enggak?” tanyaku menghampiri mama dan papa yang sudah duduk di mobil paman.


“Sudahlah, Put! pakai yang ada aja, jangan kau susahkan diri kamu untuk cari yang belum tentu kau temukan,” singkap mamaku yang tak mau turun dari mobil.


“Kok kata-kata mama kayak ada maksud lain, ya nggak sih?” Prasangka batinku.


Beberapa menit kemudian, kita segera melaju ke tempat Elvina mengemban ilmu. Aku juga sudah membawa ponsel milk Elvina, dan tinggal membeli titipannya.


Aku memilih untuk berkendara dengan motor saja, karena kalau ikut naik mobil aromanya langsung berubah seketika dan membuatku mabuk.

__ADS_1


Di tengah-tengah perjalanan, kita berhenti di toko buku yang menjual Al Qur'an dan kitab-kitab untuk santri.


Setelah mendapatkan apa yang kita cari, motorku dan mobil paman kembali melaju ke tempat tujuan.


__ADS_2