
Aku tahu, kak Nathan dengan Elvira tak lagi memiliki hubungan. Sebab ... tiga bulan yang lalu aku mendapati akun lain dan sangat akrab dengannya.
Aku pun menemukan sebuah do'a dan harapan yang mereka panjatkan dalam kolom komentar di sebuah foto yang ukhty itu posting.
Yang berkomentar pun tak sedikit dari santri tempatnya menimba ilmu.
‘Semoga kamu sama ustadz Nathan langgeng sampai pelaminan.’
Seperti itulah do'a yang juga di aamiin-kan oleh sang pemilik akun.
Aku gak tahu ada perkara apa antaranya dengan Elvira. Tapi, aku cukup kecewa dengan kak Nathan, padahal aku pernah berpesan agar dia tak menyakitinya.
Namun, yang kulihat justru berbanding terbalik. Dan ....
“Apakah Melati ini, pemilik akun Syakira Nadzhifa?” tebak hatiku, serta praduga batinku, “Tapi, kalau dilihat dari interaksinya, kak Nathan sangat care dan sayang banget sama Melati.”
Melati juga kelihatannya wanita yang baik nan sholihah.
Aku menghela nafas lega dan kembali bertutur dalam hati, “Syukurlah! meski bukan aku, Elvira ataupun mantan tunangannya. Setidaknya, dia bersama dengan wanita yang tepat menurut versimu, ya Robb.”
Kak Nathan berdeham kecil bak orang yang tengah menahan batuk. Melati dan aku hanya mengamatinya saja.
Ketika mataku dengannya bertemu, sekilas aku melihat senyuman samar kak Nathan dan itu mampu membuatku tersipu.
Aku melengos ke samping kiri entah apa yang kulihat di sana, aku menatap random, netraku berkeliling hanya pada satu tempat.
Pertemuan dengannya membuatku kian gerogi dan menjadi salah tingkah. Padahal, aku harus menjaga sikap dan hatiku, terlebih wanita di hadapanku adalah tambatan hatinya.
“En ... A—aku ke toilet dulu, ya!”
Melati berpamitan, sepertinya Melati juga menyadari sikap kami yang aneh. Aku menatap lurus arah Melati pergi. “Apa yang harus kulakukan?” gelisah hatiku.
“Ka—kalau gitu ... sa—saya juga ... permisi, ya!”
Aku berdiri dari tempat dudukku dengan kaku dan gugup. Aku masih tak berani melihat pria di hadapanku.
Dan perasaan ini, sungguh membuatku gila. Sedari tadi, ia tak kunjung berhenti berdegup dengan kencang, seakan-akan jantungku akan meledak karena pria ini.
“Tu—tunggu, Mbak!”
Deg!
__ADS_1
Aku menghentikan gerakan kakiku dan berdiri dalam jarak lima senti dengan posisi menyampingi dirinya.
“A ... adikku, dia ... dia belum foto bersama denganmu, aku rasa dia akan kecewa kalau Anda pergi begitu saja.”
“Perempuan tadi ... adik Kakak?”
“Iya!” Nathan membisu tak ada lagi percakapan, dia sendiri bingung harus bertanya darimana. Tapi keduanya, baik Putri ataupun Nathan, mereka sama-sama canggung dan kikuk.
“Bi—bisakah aku juga meminta tanda tanganmu—”
“Apa?!” Aku terkejut dan refleks melengos ke arahnya. “Oh, ma—maaf, ma—maksudku ... boleh! ka ... lau gitu, silahkan duduk!”
Aku kembali duduk di kursi yang rasanya sudah membuatku panas karena hampir tiga jam aku terus duduk di sana dan sekarang, aku harus kembali duduk lagi.
“Aku jadi semakin yakin, kalau wanita ini pasti mengenalku. Tapi ... kok aku gak ingat sama sekali ya? kira-kira kami kenal di mana, atau ... mungkinkah dia santriyah Al Iman?” cerocos batinnya Nathan.
Al Iman ialah pondok pesantren tempat di mana Nathan menambah pengetahuannya tentang islam.
“Tadi ... saya gak sengaja dengar kalau Mbak manggil nama saya, jadi ....”
Aku membelalak dan menyalahkan diriku sendiri dalam hati, “Dasar aku ini! kok bisa-bisanya keceplosan manggil dia?!”
Aku menenangkan diriku sebelum menjawab pertanyaan. Aku memejamkan nayam satu detik lalu menghela nafas dan berkata, “Maaf, Kak! sepertinya Anda salah dengar.”
“Maksudnya? salah dengar gimana?”
“Iya! tadi itu saya menyebut nama tokoh wanita dalam novel saya dan visualnya mirip banget kayak Kakak gini. Jadi tanpa sadar saya nyebut nama tokoh wanita dalam novel ....”
“Nathan ... Intan? apa masuk akal? visualnya mirip? yang benar saja?” gerutu Nathan dalam hatinya dan terus-terus menimbang namanya dengan Intan, si karakter cewek dalam novel Putri.
Intan itu seorang wanita cantik dan hampir sempurna, benar-benar ideal dan menjadi kekasih Martin, tokoh pria yang jadi cinta pertamanya Maryam, pemeran utama wanita dalam novel.
Intan memang di gambarkan seusia dengan Nathan, bisa di bilang dia juga kakak tingkatnya Maryam.
Dan di sudut lain, wanita berhijab abu terus mengawasi Putri dan Nathan dari kejauhan. Perempuan itu bersembunyi di balik tembok.
“Kenapa aura-aura disekitar mereka serius amat, ya? sebenarnya apa yang sedang mereka bahas, sih?!”
__ADS_1
Melati terus menatap ke arah mereka. Dan betapa terkejutnya saat sang kakak tiba-tiba mengeluarkan kertas dari dompetnya.
“Di ... sini?!” Aku gak tahu harus bersikap kayak gimana. Jujur, kak Nathan benar-benar lucu sampai-sampai aku sudah menyerah untuk menahan tawa.
“Ka—kamu jangan ketawa terus dong!”
“Maaf ... maaf, habisnya lucu banget sih!”
“Ya mau gimana lagi, aku gak punya kertas dan ....” ucapnya terpotong, aku jadi penasaran dan bertanya-tanya, “Dan, apa?“ tapi hanya sampai tenggorokan saja.
“Dan ... gak mungkin juga aku minta di baju, kan aneh banget!” lanjut Nathan dalam hati. Sedangan Melati yang memperhatikan justru membuat ekspresi heran dan semakin bingung.
“Sekarang kenapa lagi? tadi serius banget, sekarang tiba-tiba saling ketawa gitu? ada apa ini?”
Melati menjerit dalam hatinya dan melanjutkan ucapan di benaknya, “Aku ingin sekali ke sana, tapi firasat ku mengatakan, sembunyi di sini lebih baik.”
Wanita yang di lihat Melati kini tengah mencoret selembar kertas yang di kasih Nathan. Tanpa tahu kalau kertas itu bukanlah secarik buku, melainkan selembar uang lima puluh ribuan.
“Ini, Kak!” Aku mengembalikan uangnya, dan kak Nathan tersenyum ramah sambil berkata, “Terimakasih!”
“Hai! Putri sahabatku!”
Teriak seorang wanita cantik dari kejauhan. Putri dan Nathan melongok ke arahnya yang sedang berjalan menghampiri tempat mereka berada.
Deg!
“Siapa wanita cantik seperti bule itu? apakah temannya Kak Crystal?” bisik Melati bertanya dalam hatinya dan menatap lurus ke arah Lucy.
Demikian juga dengan orang yang namanya terpanggil dan pria yang berada di depan Putri pun ikut terpanggil untuk menengok ke asal suara.
“Lucy?! astaga! kenapa kamu datang di waktu yang gak tepat!” cemasku dalam hati dan melirik melihat pria yang masih duduk di hadapanku.
Nathan melihat Lucy dan terlintas ingatan yang sudah lama sekali namun masih tertinggal.
Putri? mungkinkah ... Putri yang kukenal itu? aku benar-benar melupakan wajahnya yang kulihat lima tahun lalu.
“Marsha!” panggilnya dengan lirih tanpa mengubah posisi pandangan matanya, lalu berkata kembali, “Kamu ... Marsha, kan?!”
Deg!
__ADS_1
Jantungku seakan berhenti berdetak tatkala kak Nathan memanggil namaku, bukan melalui telepon tapi benar-benar ... aku gak tahu harus berkata apa lagi untuk mengungkapkan perasaanku saat ini.