
Hari berganti, bulan beralih, hari ini perasaanku untuknya telah tumbuh karena kebiasaan. Namun, pada hari ini pula, tiga bulan hubunganku dengan Firuz berjalan, aku mengetahui fakta baru.
Tanpa sengaja, aku dan Viona ternyata sudah berteman di instagram sebelum aku dekat dengan Firuz. Tanpa sadar pula, gadis ini pernah curhat tentang pacarannya.
Dunia yang begitu luas, terasa sempit adanya jaringan teknologi. Kini, gadis itu kembali mengeluh tentang cowok yang ternyata adalah orang nang sama.
Hubungannya dengan pria itu telah membaik, mereka pun CLBK. Aku turut senang, karena teman sosmedku tengah berbahagia.
Dan ... aku tahu, pria seperti apa yang telah meluluhkan hatinya. Malam ini, perempuan dengan akun bernama a_novi mengirimkan foto kekasihnya.
Aku terperangah membelalak, dan segera menutup mulutku yang menganga dengan telapak tangan kanan, rupanya pria itu adalah Firuz.
Pria yang tiga bulan lalu menyatakan cintanya. Lelaki yang kini berhasil masuk ke halaman hatiku.
“Luc!” panggilku pada wanita yant tengah berbaring di kasur lantai.
Aku menunjukan foto yang Novi kirim, karena aku selalu memanggil nama instagramnya, dan tak pernah bertanya tentang nama asli. Begitupun sebaliknya, ia selalu memanggilku Nona.
“Ini, kan?!” tanya Lucy yang ikut terlonjak kaget dan langsung bangun dan duduk.
“Iya ... menurutmu, apa akun ini mantannya Firuz?”
“Gak tahu, aku gak pernah dekat sama si Viona, tapi coba kulihat postingannya.”
Lucy mengambil alih smartphone yang masih ku genggam, ia mulai men-stalk akun Novi.
“Benar, Put. Ini fotonya Viona,” ujarnya menunjukan padaku. “Kamu belum pernah ketemu sama Viona?” lanjutnya kembali.
“Belum! lagi pula aku, kan selalu nolak Firuz tiap kali ngajak jalan.”
“Kamu masih trauma ya?”
Aku hanya diam, mendengar kata trauma membuat benakku kembali pada ingatan masa lalu yang sangat aku benci.
Hanya Lucy yang tahu tentang insiden 7 tahun lalu itu, bahkan keluargaku sendiri aku tak punya keberanian untuk mengatakannya.
Entah Allah menciptakan hatiku dari apa, tapi ia memberi ujian itu karena yakin aku mampu untuk melewatinya. Meski, aku masih terbelenggu dari bayangan kelam nan pekat ini.
Lucy menilikku untuk beberapa menit. “Terus, kamu mau gimana Put? apa kamu bakal putusin Firuz?”
“Iya!” jabwabku dengan gercap singkat, jelas dan padat.
“Bukannya beberapa minggu terakhir kamu—”
“Aku memang sudah mulai suka, tapi aku gak ingin menjadi PHO!” tukasku.
“Aku dukung apapun keputusanmu.”
“Terimakasih, Luc!” Aku tersenyum.
__ADS_1
Lucy membalas, “Sama-sama.”
Saat perasaan ini tubuh, memang sempat muncul keraguan dalam kalbu. Aku sadar, tanpa sengaja aku telah melakukan kesalahan karena menerima cintanya.
Sebuah pelampiasan, itulah kata yang pantas untuk keadaanku kala itu. Aku hanya menjadikannya sebagai pelampiasan rasa yang belum sempat aku kubur karena pria Turki.
Dan mungkin, rasaku pun hanya sebentuk balasan karena rasa bersalahku telah menjadikan sebagai pelampiasan.
Tanpa tahu, keduanya sama-sama menyakiti hatinya. Tapi, bukankah ia yang menjalin hubungan dengan dua wanita juga telah mematahkan kedua hati?
“Kamu masih ada hubungan dengannya ya?”
📱“Maafin aku Put!”
“Ya gak apa, tapi aku gak bisa melanjutkan hubungan ini.”
📱“Aku bakal putus dengannya.”
“Gak! jangan lakukan itu, dia sangat mencintaimu. Dan, aku juga gak mau di cap sebagai PHO.”
Sebuah gelar yang sangat memalukan.
📱“Kalau memang itu mau mu, aku cuma bisa pasrah. Sekali lagi, aku minta maaf. Tapi aku benar-benar mencintai kamu.”
Aku tak menggubris pesannya, hanya di read saja. Saat ini, aku benar-benar lelah dengan permainan ini. Rasanya, untuk saat ini memang lebih baik sendiri.
Waktu ini, hatiku memang sangat kecewa dengannya, namun rasa kecewa ini tak sebesar saat aku tahu kabar kak Nathan dari wanita yang membuatku cemburu.
Yaa Robb, hari ini engkau menunjukkan kebenaran untukku. Terimakasih ... karena mu, aku menutup satu pintu dosa dari perbuatan yang dari awal memang tak engkau ridhoi.
Dan ... engkau pula telah menjauhkanku dari patah hati sebelum cinta ini bersarang dalam kalbu.
Untuk pertama kalinya, aku merasa bahagia atas pengkhianatan seorang pria. Walau ada secuil lara di hati, tapi masih bisa diajak kompromi.
Lucy yang sedari tadi hanya menatapku tanpa mengalihkan pandangannya. Ia mulai bicara saat aku tak lagi mengetik pesan.
“Kamu baik-baik saja, kan?” tanyanya dengan tatapan penuh cemas.
Aku tersenyum. “Iya, aku baik-baik saja kok!”
“Kamu gak usah sok tegar gitu, kalau kamu mau nangis gak apa-apa nangis aja,” ujarnya. “Nih, aku kasih bahuku untukmu bersandar,” lanjutnya menepak-nepak bahunya.
“Haha ... terimakasih ya, berkatmu aku jadi baik-baik saja.”
Aku bangkit dari kasur lantai dan menuju tempat charge HP. “Jangan dicabut ya kalau belum penuh!”
“Iya-iya, kali ini kamu pakai aja sampai pagi. Itung-itung penghiburan buat hatimu.”
“Kalau mau ngehibur traktir dong.” Aku berjalan kembali mendekati kasur lantai.
__ADS_1
“Sini uangnya, nanti aku belikan cemilan kesukaanmu.” Lucy menadongkan tangannya.
“Itu sih namanya bukan traktir.” Aku berbaring merebahkan diri.
“Hehe ...” Lucy menggaruk punggung kepalanya. “Kamu udah mau langsung tidur?” imbunya.
“Iya!” jawabku yang sudah mengerjapkan mata.
“Besok, kan hari Minggu? kenapa gak begadang aja sekalian keluarin semua unek-unek kamu, Put?”
“Gak ada unek-unek yang ingin aku keluarkan. Udah ah, aku mau tilem hela dah ngantuk nih!” Aku memutar badan memunggungi Lucy.
“Ya udah deh!”
“Kamu jangan begadang terus, mentang-menang sekarang udah di notif sama Fakri,” ejekku.
“Aaah rese banget sih kamu Put!” rajuknya.
“Hahaha ....”
“Udah tidur aja sana, biar hatimu lekas sembuh,” ledeknya.
“Emang ini mau tidur kok!”
“Ya udah cepatan merem.”
“Nih udah merem, tuh?!” Aku melengos mengangkat alis ku dengan mata yang tertutup rapat.
“Kalau gitu, kunci juga mulutmu biar gak ngerocos!”
“Hahaha ... emang kenapa sih? kan kamu jadi ada teman begadang.”
“Ogah, ditemanin sama kamu yang ada aku malah diledekin habis-habisan,” gerutunya.
“Ka—”
“Udah! jomblo baru tidur aja!” celetuknya.
“Lah?! ngatain orang jomblo, dia sendiri aja masih PDKT sama si Fakri,” gumamku.
“Biarin, yang penting perasaanku akhirnya terbalas. Daripada kamu, mau ngbalas perasaan Firuz tapi malah diselingkuhin,” cemoohnya.
“Kamu ... mau ngehibur apa ngeledek sih?!” Aku langsung duduk karena merasa geram dengan kalimat Lucy.
“Hehe ... sorry! makanya kalau udah niat mau tidur tuh ya tilem, bobok, ojo ngoceh mulu,” ambek nya.
Aku menatap Lucy yang masih cengar-cengir. Ditambah suasana hatiku agak sedikit buruk, lebih baik aku diam dan langsung tidur.
Cewek kalau suasananya gak bagus bisa bahaya, yang kecil pun jadi besar. Apalagi sama-sama cewek, bisa-bisa malah adu mulut dan mengganggu tetangga kos kita.
__ADS_1