
Keesokan harinya, tanggal 21 April. Hari dimana sang pejuang emansipasi wanita dilahirkan, dan ditetapkannya RA Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Indonesia.
Untuk memperingatinya, kita semua siswi memakai kebaya, bukan kebaya layaknya gaun ataupun bridesmaid, tapi ala Kartini.
Hari ini pun menjadi bebas, alias gak ada kegiatan kelas belajar mengajar. Kita juga diperbolehkan membawa ponsel, tapi hanya hari ini saja.
Sesuai yang kita rundingkan kemarin, aku dan teman baik ku memakai kebaya dengan warna senada. Dan, untuk meramaikan acara ini, sekolah juga mengadakan lomba yang sangat menarik.
Diantaranya seperti fashion show dengan pakaian tradisional, memasak masakan Indonesia, lomba memakaikan make up, menulis puisi dan pidato dengan tema 'Kartini'.
Sekolah juga membuka acara ini untuk umum, sehingga sekolah lain bisa ikut meramaikan lomba hari ini.
Dalam kelasku, ada Lucy dan Suci yang akan mengikuti lomba memakaikan make up. Kemudian Fakri sebagai peraga busana fashion show pakaian tradisional.
Sedangkan aku memilih lomba menulis. Aku ingin mencoba dan mengembangkan bakat secuilku dalam kesempatan kali ini.
“Kita ke kantin dulu aja, yuk?” ajak Nia menggandeng tanganku.
“Ngomong-ngomong kalian ikut lomba juga gak?” tanya Lucy yang berjalan mengikuti Nia dan aku.
“Aku sih cukup jadi supporter aja buat kalian,” sahut Mira.
Lucy tercengang. “Hah?”
Mira menengok ke arah Lucy. “Kamu sama Putri ikut lomba lagi, kan tahun ini?”
“Iya ... memangnya tahun ini kamu gak ikut?” tanya Lucy.
“Gak!” jawab Mira dengan gesit gercap singkat padat dan jelas.
“Si Mira masih dendam gara-gara si Fakri gak datang, jadinya dia berpasangan sama si Mamat,” beber Nia melengos kebelakang.
“Oh, iya juga ya ... tahun lalu si Fakri gak bisa ikut gara-gara dia sakit, kan?” ungkap Lucy.
“Betul.” Nia membenarkan. “Tapi, kan tahun ini Fakri di kelas kamu ikutan juga, kan?” imbuhnya.
“Iya, anak-anak juga pada maksa dia buat ikut.”
Jelas Lucy, dan tanpa sadar kita sudah sampai kantin. Memang semakin ramai kantinnya, jadi kita pun harus mengantri panjang.
“Terus yang jadi pasangannya siapa?” tanya Nia, yang berdiri dibelakang Lucy.
“Katanya sih, dia mau solo saja.”
“Tuh, kan! waktu itu si Fakri pasti sengaja gak datang! dia sakit tuh cuma alasannya aja,” sergah Mira dengan emosi dan ngegas
__ADS_1
“Ya udahlah, Mir. Itu udah setahun yang lalu, udah lewat. Gak usah dendam gitu.” Nia membalikkan muka dan menepuk-nepuk pundak Mira yang berbaris dibelakangnya.
Aku yang mengantri didepan Lucy hanya bisa menyimak saja. Akupun gak punya topik pembicaraan, dan ternyata Fakri sekelas dengan mereka.
“Pantas saja mereka tahu kalau Fakri itu model, rupanya kelas dua mereka pernah sekelas?” tutur batinku.
Saat kelas dua, aku dengan teman baikku yaitu mereka memang beda kelas. Aku kelas 11-A sedangkan mereka kelas 11-C.
Kendatipun demikian, mereka tetap menjemputku saat waktu istirahat tiba. Namun saat kelas mereka berakhir belakangan, aku menunggu mereka didalam kelas.
Aku memang gak ada teman dekat selain mereka berempat. Teman sekelasku juga hanya dekat saat mereka butuh. Seperti beberapa bulan lalu saat ulangan harian.
Sementara itu, diwaktu yang sama tampak dua pemuda gagah dengan pakaian tradisional dari Aceh, linto baro dan ulos, Sumatera Utara.
Mereka tengah bersenda gurau, namun pria yang memakai pakaian ulos itu tengah asik sendiri dengan ponselnya. Sedangkan teman bicaranya asik berkisah sendirian.
“Woi! Fakri!” Menabok pundaknya.
“Apasih!” pekiknya, dengan tilikan masih berfokus pada layar ponsel.
“Orang lagi curhat itu dengerin kek! jangan asik sama ML, menang kagak!” terangnya dengan sewot.
“Daripada dengerin cerita yang gak mutu, mendingan main game,” cibir Fakri tanpa memperdulikan teman ngobrolnya.
“Gak tahu dan gak peduli,” jawabnya dingin tanpa ekspresi.
“Ck! daripada aku jadi kacang mending cari tuan Putri saja.” Pria itu merajuk dan pergi meninggalkan kawannya sendirian dikelas.
Sebenarnya gak sendirian sih, ada beberapa murid cowok juga yang sedang ngobrol dan canda. Tapi mereka gak dekat sama Fakri, malah sebaliknya. Mereka pada iri dengan ketenaran Fakri Sinandar.
...***...
Saat ini lomba menulis dan make up tengah berlangsung, yang diadakan di kelas lantai bawah. Hari ini Lucy menggunakan Nia untuk menjadi modelnya.
Sementara itu, Mira ikut menonton lomba puisiku. Lebih tempatnya dia menemaniku, dan katanya ingin mendengarku membaca puisi. Hahaha, temanku yang satu ini memang unik.
Setelah beberapa siswa/i maju, kini tiba giliranku membacakan puisi. Aku benar-benar gerogi sekali. “Semoga saja suaraku gak gemetaran.” Doaku dalam hati.
Ditengah-tengah pembacaan puisi yang kupersembahkan untuk RA Kartini, ekor mataku menilik seseorang di jendela luar kelas tengah memberiku semangat.
“Semangat, ayo kamu pasti bisa! go-go!” ujarnya dengan semangat membara empat lima.
Aku refleks langsung gelagapan dan semangat yang tadi membara pudar ditelan oleh tatapannya. Dan Mira yang memperhatikan dari luar pintu tampak kebingungan.
“Ada apa dengannya? kok jadi gugup ditengah-tengah?!”
__ADS_1
Selang beberapa menit aku tamat membaca puisi dengan nada yang berantakan dan gak beraturan. Aku langsung keluar dan merangkaki menghampiri Mira.
“Kamu kenapa, Put?!” tanya Mira ketika aku sudah berdiri dihadapannya.
“Itu ...” Aku mengarakan telunjukku ke arah seseorang yang masih setia menatapku sampai sekarang.
Lanjam Mira melengos mengikuti ujung telunjuk yang aku arahkan.
“Dia ... bukannya cowok waktu itu?”
“He'eh.” Aku mengangguk.
Pandangan Mira masih belum lepas dari pria itu, dan dia memberikan lambaian saat sadar kalau Mira dan aku menyadari keberadaannya.
“Dia datang kesini, Put!”
Aku langsung menarik tangan Mira, menghindari cowok yang masih mematung dibelakang. “Ka—kalau gitu ayo kita segera pergi dari sini.”
“Hah?! emang kenapa? bukannya bagus ya? kita bisa sekalian kenalan juga, siapa tahu tuh cowok naksir sama kamu.”
Sementara pria itu tergemap bingung dan tertegun tercengang terheran-heran. “Lho?! kok aku malah dikacangin? baru juga lambaikan tangan.”
“Apa senyumku terlalu silau sampai membuat mereka malu dan berpaling dariku? sepertinya memang begitu,” sambungnya dengan narsis sekali.
Pria itu mulai bergerak dan mengikuti kita. Saat sadar cowok aneh itu masih mengikuti kita, aku memperbesar langkah kakiku.
Ciiit!
Sepatunya berdecit saat dia tiba-tiba ngerem mendadak dihadapan kita. Refleks aku dan Mira berhenti.
“Maaf kalau sempat membuat kalian gak nyaman,” ujarnya garuk-garuk kepalanya sambil cengar-cengir.
“Iya gak apa-apa ... santai aja,” respon temanku, Mira.
“Btw, kenalin ...” Mengulurkan tangannya. “Namaku Firuz,” lanjutnya.
“Furuz?” gumam dalam batin kita, dan tawa dalam hati Mira hampir lolos.
Mira tersentak sadar. “Ekhem ...” kini mereka telah berjabat tangan. “Aku Mira ... dan ini Putri, sahabatku.”
Mira memperkenalkan aku padanya, saat ini tangannya bergilir kearahku. “Hai, aku Firuz.”
Aku menolak jabat tangannya, dan membalasnya menjadi salaman untuk yang bukan mahrom. “Putri,” responku dengan dingin tanpa senyum.
“Subhanallah, bidadari dunia memang beda,” dalam hatinya Firuz mengagumi tindakan Putri.
__ADS_1