Trapped In Past Love

Trapped In Past Love
(Chapter 6) Salah Orang


__ADS_3

Kini aku dan Elvina berjalan masuk ke rumah, tak lupa juga kita mengucapkan salam. Namun, rumah tampak sepi sekali. Dan ternyata, rupanya mama tengah beristirahat di ruang tengah.


Sekarang aku dan adik manisku pergi ke kamar kita masing-masing, yang posisinya seperti kamar kosan. Adikku yang sudah selesai, kini ia berdiri di depan pintu kamarku.


“Teh, aku duluan ya?”


“Iya. Tapi nanti kamu saja yang jadi imam ya, Vin!” kataku yang sedang memilih-milih baju di lemari pakaianku.


“Ish! si Teteh mah gitu, kan Teteh yang lebih tua.”


“Imam itu selain sudah baliqh dan berakal, ia juga harus fasih bacaan Al Qur'annya. Lagipula, Teteh kan bukan anak pondok kayak kamu. Bacaan Al Qur'an Teteh juga gak sebagus kamu,” ujarku.


Aku mengambil set rok dengan atasan rumbai warna pink, dan rok tutu warna putih.




“Kalo misalnya ada tajwid atau makharijul hurufnya salah, kan berabe bisa merubah artinya,” sambungku kembali. Kini tanganku naik keatas mengambil khimar segiempat warna abstak pink putih.


“Udah sana, katanya mau wudhu duluan?”


Cklek!


Aku mengunci kembali lemariku, sambil menunggu Elvina selesai wudhu, aku mengganti pakaian sekolahku dengan baju yang sudah kupilih.


Lima menit kemudian, Elvina kembali dengan wajah yang basah karena telah tersapu air wudhu. Akupun segera bergegas mengambil wudhu.


Dan karena di rumah kita hanya ada satu kamar mandi, jadi tiap kita mau wudhu ataupun mandi selalu mengantri.


Beberapa menit kemudian, aku dan adikku sudah selesai sholat dzuhur, kini kita kembali pada aktifitas kita masing-masing.


Adikku gemar sekali membaca buku, berbanding terbalik denganku. Tapi bukan berarti aku gak suka baca buku. Aku juga suka, tapi sukanya musiman.


Aku mengambil benda kerdil di atas laci dekat kasur, yang sudah kuberi makan sejak pagi tadi. Ia juga sudah terisi penuh, dan aku bisa menggunakannya sampai subuh. Ya, itu kalau bisa sih!


“Oh tidak! ternyata kuota internetku sudah habis masa aktifnya. Sayang sekali, padahal masih 5GB,” batinku meratapi kuota yang sudah melayang.


“Vin! Elvina!” pekikku dari dalam kamar.


“Kenapa, Teh?”


“Hotspot dong.” Aku menunjukan gigi atasku saat melihat adikku tengah menengok ke dalam kamarku.


Adikku langsung balik lagi ke kamarnya, dan hotspot dengan username sedekah wifi akhirnya tersambung.


Belum ada 3 detik ponselku sudah berisik dengan suara notifikasi yang menumpuk, dan salah satunya dari kak Nathan.


Aku awali dengan membalas pesannya lebih dulu, kemudian teman-teman baikku dan kak Gilang.


Oh ya, aku lupa. Aku dan kak Nathan gak pacaran, meski kita saling suka. Setelah ungkapkan cintaku yang ceroboh kemarin, kak Nathan melanjutkan balasannya yang membuatku berdecak kagum.

__ADS_1


📱“Tapi aku gak boleh pacaran sama ayahku. Kata beliau, kalau mau pacaran sekalian aja gak usah mondok.”


Tentu saja aku faham. Dan akupun gak mengharapkan perasaanku bisa terbalas apalagi meminta status pacaran darinya.


Murni, aku hanya ingin mengutarakan perasaan yang selalu membuat gelisah hatiku. Seakan setiap harinya cinta itu terus tumbuh, sampai aku tak lagi mampu untuk memendam api cinta di dasar hatiku.


Ternyata perasaan ini terbalas, benar-benar di luar ekspektasiku. Dan aku menanggapi balasannya tanpa masalah, juga kuselipkan kata kagum atas ucapan ayahnya.


“MaaShaa Allah iya gak apa-apa, Kak. Aku juga gak mau pacaran.”


Prinsipku yang gak mau pacaran tetap aku pegang teguh. Dan kita sepakat menggantungkan status hubungan ini, walau itu mungkin akan memberi jarak pada hati kita. Meski bukan sekarang.


Satu bulan kemudian, aku mendapati sebuah pesan baru. Dan gak tau kapan kita saling berteman di sosial media, aku selalu meng-add tanpa mencari tahu asalnya.


📱“Kamu Cyra ya? pacarnya Nathan?”


Membaca kalimat akhirnya membuatku tercenung, diam-diam bertafakur. Dan hampir saja, pikiranku di penuhi prasangka.


“Cyra? apa dia salah orang? tapi kok bawa-bawa nama kak Nathan,” batinku menyelingar, terdiam heran.


Aku membalas pesannya. Tentu saja, aku tidak membenarkan. “Bukan, mungkin Kakak salah orang.”


📱“Tapi kamu kenal sama Nathan, kan?”


“Iya.”


📱“Kamu santri putri sini juga, ya?”


📱“Kalau gitu kamu kenal Nathan di mana?”


“Aku kenal kak Nathan lewat instagram.”


“Oh! cuma di read aja. Syukurlah,” batinku merasa lega.


Lagi, dan lagi. Pertanyaan yang sama, foto dan namanya saja yang berbeda. Padahal baru 3 hari pertanyaan itu terlontar untukku oleh temannya.


Seperti biasa, aku menjawabnya singkat. Sampai pertanyaannya berhenti dimana kita saling mengenal. Tapi kali ini bertambah satu pertanyaan.


📱“Kamu orang mana?”


“Jakarta.”


Satu bulan kemudian, pesan itu menghantuiku lagi.


Mataku lelah, batinku tenat, “Hah! lagi! ya Allah, kenapa mereka selalu mengira aku Cyra?! aku capek ya Robb!” Sayatan ini semakin bertambah.


Qolbuku merasa gundah, pertanyaan yang hanya sepintas di pikiranku kini melekat. Bahkan berubah jadi racun, hanya saja racun itu belum menyebar ke seluruh tubuh.


Dua hari kemudian, aku memberanikan diri bertanya padanya. Malam ini terasa sunyi dari malam kemarin. Aku menyiapkan hatiku, jika pertanyaan nyasar mereka benar adanya.


“Aku boleh tanya sesuatu gak?”

__ADS_1


📱“Boleh. Mau tanya apa?”


“Apa kak Nathan pacaran sama Cyra?”


📱“Enggak.”


📱“Kamu dengar itu darimana?”


“Dari teman Kakak. Beberapa hari yang lalu mereka chat aku, dan salah mengira aku ini Cyra, pacar Kakak.”


📱“Dia emang suka sama aku, tapi aku cuma anggap dia adik aja gak lebih.”


“Oh ... gitu.”


📱“Iya, mereka pasti cuma salah faham.”


Ingin rasanya aku percaya, tapi hati ini menolak. Walau demikian, aku paksa hatiku untuk percaya pada kata-katanya.


Beberapa hari hubunganku dengannya baik-baik saja. Bertukar kabar dan perhatian, sampai chat yang membuatku ragu padanya muncul kembali.


Di tambah ada temannya yang ingin ngobrol denganku. Karena aku menyukai kak Nathan dan perasaanku juga terbalas, aku bertanya padanya lebih dulu.


“Ada teman Kak Nathan chat aku, katanya boleh gak telponan sama aku?”


📱“Ya gak apa-apa.”


Qolbuku tersentak, “Bagaimana bisa dia dengan gampang dan membalasnya dengan kata-kata seperti itu. Apa dia gak merasa cemburu?”


Kita yang hanya berhubungan secara virtual membuatku merasa sulit untuk memahami hatinya.


Apa dia memang orangnya sangat terbuka? dan apa hanya aku yang terlalu berlebihan?


Atau, apa dia sebenarnya merasa cemburu tapi gak bisa menolaknya karena aku bukan siapa-siapa baginya? ya walaupun hatiku berhasil dicuri olehnya.


Dan, apa karena kita yang tak berstatus membuat kita kesulitan untuk mengekspresikan hati kita? tapi, sebisa mungkin aku selalu terbuka padanya.


Batinku merajuk, “Kenapa kamu gak bisa terbuka? walau hanya sedikit saja.”


Keesokan harinya. Hatiku terasa panas, seperti terkena panahan iblis tepat pada jantung hatiku.


Aku diam-diam menjadi detektif, bertanya tentang Cyra pada santri putri tempatnya belajar, tapi hasilnya tetap sama.


“Maaf ya Robb, aku telah su'udzhon dengan hamba mu. Seorang pria yang engkau tumbuhkan rasa cinta dihatiku untuknya,” cetus batinku melahirkan prasangka.


Hatiku yang masih memanas, pikiranku yang berhasil di kuasai oleh prasangka buruk. Kalimat yang aku rangkai menyesakkan seluruh ruang dalam relung hati.


Batinku berkalut, “Apa benar kalau dia itu pacarmu? tapi, bukankah kamu gak mau pacaran? kenapa mereka semua mengira kalian lebih dari adik? mana yang harus aku percaya? aku tak mengenal baik dirimu, juga mereka.”


Air terjun yang aku tahan-tahan, kini aku biarkan ia jatuh, aku biarkan ia rebah di dasar pipi chubbyku.


Berharap air mata ini dapat mengurangi sesak dalam hati, memberi secercah ruang untukku bernafas.

__ADS_1


__ADS_2