
Diwaktu yang sama, berbeda lokasi dan kosan. Tampak seorang pria tengah duduk merenung, dimana sebuah kasur yang tingginya hanya lima senti sebagai alasnya.
Dengan tangan kirinya menarik rambut depan atasnya seperti orang yang tengah stres, dan satu lagi masih menggenggam erat benda mungil nan kerdil bercorak hitam persegi panjang. Pandangannya tak lepas dari layar yang masih menyala.
Hatiku betul-betul hancur. Tapi inipun salahku karena telah menduakanmu. Maafkan aku Put!
Kurobohkan dan melentangkan tubuhku di atas kasur, memikirkan kejadian beberapa hari yang lalu. Saat Putri menolak pergi kencan denganku.
Hingga, pernah terpikir dalam benakku. ‘Sebenarnya kita ini pacaran apa temanan?’
Rasanya gimana gitu? setatus pacar tapi berasa teman, kalau dianggap teman tapi terlalu mesra.
Ya gimana enggak? sering perhatian, manggil sayang walau cuma sepihak. Kalau kamu gimana, Bro?
Malam itu penuh bintang, dan aku tengah berdiri seorang diri diatas teras kosan ini. Aku melamun di pembatas dinding yang tingginya hanya sepinggang.
“Woy!” sergahnya menepuk pundak ku dengan kasar, hingga membuyarkan lamunanku.
“Kalau mau ganggu, pulang aja sono!” celetukku tanpa menoleh kearahnya.
“Ih, gitu amat sih. Kita main yuk?”
“Sorry ya! aku gak ada waktu untuk main sama lu?” sahutku.
“Kamu kenapa? kok gak semangat gitu?” tanyanya.
“Gak usah kepo! udah sana balik ke kamar lu! ngapain sih selalu datang kesini tiap malam ganggu aja—”
“Sorry! aku juga gak mau ganggu kamu, tapi aku ....”
Ucapannya terpotong, ia menangis sesegukan. Aku gak tahu harus berbuat apa untuk menenangkan cewek yang lagi sedih.
“Vi?! lu kenapa?” Aku mulai panik, berusaha untuk menenangkannya semampuku. “Kalau kata-kataku menyakiti perasaan lu, aku benar-benar minta maaf, aku cuma pengen sendirian aja malam ini. Aku—”
“Firuz!” tukasnya.
“Ya, kenapa?”
“Kalau seandainya ... kamu tahu alasan aku kenapa putusin kamu, apa kamu masih mau melihatku?”
“Hah? maksudmu?”
Aku tak faham maksudnya Viona, namun sampai detik ini aku memang masih penasaran dengan alasannya.
“Perusahaan ayahku bangkrut, dia ...” ucapnya tertelah karena isak tangis yang begitu pilu.
“Ki—kita masuk dulu ya? habis itu lu bisa lanjut atau gak juga gak apa-apa.” Aku membawanya masuk kedalam, namun ia menghentikan langkahku.
“Aku mau di sini saja ... aku mau ngobrol sampai tuntas ....”
Viona berjalan mendekati pembatas, dia menaruh tangannya di atas pembatas nang tingginya sejajar dengan dadanya.
__ADS_1
“Malam ini bintangnya sangat indah ya?” ujarnya menatap bintang yang bertabur dengan indah diatas langit nang pekat dengan kegelapan.
“Kamu tahu? aku sangat suka bintang dibanding taman bermain,” sambungnya.
“Terus kenapa—”
“Karena aku tahu, bintang itu tak bisa kuraih. Meski dahulu, bintang disampingku telah kumiliki.” Kini pandangan Viona bergilih pindah menatapku.
“Aku menyukai taman bermain sebagai kencan pertama kita, karena mimpiku untuk bersenang-senang dengan sang bintang akhirnya terwujud.”
Ia tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya dariku. Membuat aku menjadi salting dihadapannya.
Aku telah dibuat malu dengan tatapan matanya. Sehingga akupun mengalihkan pandanganku darinya. “Vi ... kamu—”
“Dan hari itu pun ... hari terakhir aku bermain dengan sang bintang yang harus ku lepaskan, karena keadaan yang tak mengijinkan kita untuk terus bersama.”
“Hah? maksudnya?” gumamku dalam kalbu, yang masih menatap kebawah.
Viona kembali memandangi langit malam. “Ayahku menjual diriku untuk bisa menutupi hutang nya. Dan pada malam hari saat kita pulang dari taman, pria yang kamu lihat itu adalah ....”
Aku tersentak terlonjak membelalak menjegil. Bisa-bisanya pria itu menjual putrinya. Walau Viona bukan anak kandungannya, tapi tetap saja dia itu orangtua pertama untuk Viona.
Dan aku terus masih menyimak dan meresapi semua kata perkata yang Viona rangkai menjadi kalimat. Hingga kelanjutan yang Viona ujarkan membuatku semakin murka.
“Apa?! kamu—”
“Iya! aku udah kotor, Ruz! aku gak pantas lagi buat kamu, makanya aku mutusin kamu dengan sepihak. Aku ... aku ....”
Viona menangis semakin menjadi-jadi, aku langsung mendekap erat dirinya. Aku tak sangka, kalau seorang wanita yang kucintai harus membayar untuk kesenangan hidup ayahnya.
Viona meronta-ronta. “Lepasin aku, Ruz! aku udah kotor banget, sudah banyak pria yang—”
“Gak! Viona! nggak! di mataku kamu masih sama seperti Viona yang dulu! Viona yang aku cintai!” Aku semakin erat memeluknya.
Viona terus tersedu-sedu menangis dalam dekapanku. Dan ia membalas pelukanku hingga tangisnya tak terbendung lagi, ia semakin menjadi-jadi. Dia menangis dengan histeris untuk beberapa jam.
Langit semakin gelap, terlebih kita sekarang tinggal di kosan, walaupun campuran tapi tetap memiliki aturan.
Aku yang melihat Viona sudah agak membaik langsung memberi jarak antara kita. Jika tidak, aku dengannya bisa disangka yang bukan-bukan karena berpelukan di teras yang tak memilik cukup cahaya.
“Firuz!” panggilnya dengan lirih.
“Ya!” Aku menatap perempuan di depanku nang masih menundukkan pandangannya, serta jari-jemarinya tak luput ia mainkan.
“A—Aku ... aku cemburu liat kamu sama wanita berhijab itu, yang namanya Putri. Aku masih suka sama kamu, tapi aku tahu dan sadar diri ... kalau aku gak pantas lagi buat—”
“Ayo kita balikan!” celetukku.
__ADS_1
“Hah?” Viona menjuling mendongak menatapku. “Kamu serius?” lanjutnya.
“Iya! aku serius!” balasku tanpa keraguan.
“Tapi aku, kan—”
“Viona!” Aku meraih kedua tangannya. “Aku sudah bilang sama kamu bukan? kalau kamu akan tetap menjadi Viona yang ku kenali dari dulu, wanita yang sangat aku cintai.”
“Terimkasih Firuz!” Viona memeluk erat diriku.
“Lalu ... bagaimana dengan Putri?” tanyanya yang masih belum melepaskan dekapannya.
“Aku akan bicara pelan-pelan dengannya.”
Mungkin, jawabanku ini dapat Viona fahami dalam kalbunya. Bahwa dalam hatiku, memang sudah ada Putri yang menggantikan posisinya. Dan, posisi Viona dalam hatiku hanya tersisa secolek saja.
Tapi mendengar kisah pilunya, aku benar-benar gak mau Viona menderita lagi. Dan besok, aku akan mendatangi ayahnya agar mau melepaskan Viona.
Album memori telah usai.
...***...
Keesokan harinya, Viona menghampiri kamar kos ku. Akupun telah bersiap untuk kencan dengannya. Bukan taman bermain ataupun restoran, tapi ke rumahnya.
Toh hari ini hari Minggu, jadi gak masalahlah kalau bolak-balik ke Bandung-Jakarta.
Saat diperjalanan, Viona terus bercerita dengan riang. Tawa yang manis nang selalu aku lihat di wajahnya, “Kapan aku bisa melihatmu tertawa disampingku, Put?” tutur batinku.
“Honey!” panggilnya. Sebuah panggilan yang sudah lama tak kudengar dari Viona.
“Ya? kenapa?” sahutku yang tersadar dari lamunan.
“Sebenarnya kita mau kencan kemana sih? kok dari tadi belum sampai juga?” Viona sibuk celingukan mengamati jalan.
“Hari ini kita bukan mau kencan, tapi pulang ke Jakarta,” balasku yang masih fokus mengendarai roda dua ini.
Viona terperangah. “Kamu mau ngapain Honey!”
Aku menghentikan laju motorku. “Ya mau apalagi?!!! jelas aku mau kasih pelajaran sama ayah tiri kamu yang gak tahu diri itu!!! bisa-bisa dia ngancurin hidup kamu!!! aku gak terima Vi!!
“Tapi dia tetap ayahku, Ruz! cuma dia yang menginginkan aku ketika kedua orangtua kandungku sendiri malah membuangku.”
“Aku juga menginginkanmu!! jadi kamu stop belain dia!! pria itu gak pantas kamu sebut ayah!!”
“Aku tahu, tapi dia yang menyambut ku pertamkali saat aku lahir kedunia ini. Dunia yang sangat asing dan berbahaya bagi simungil yang belum tau apa-apa, bagiku yang hanya bisa merengek meminta asi.”
Aku terdiam, aku menahan amarahku.
Kenapa Vi? kenapa kamu malah bertemu dengan ayah angkat sepertinya? aku tetap gak bisa memaafkan pria itu.
__ADS_1