Trapped In Past Love

Trapped In Past Love
(Chapter 61) Ungkapan


__ADS_3

“Mama pingsan karena mendengar masa lalu, Putri, Pah!”


“Apa?”


“Reaksi Papa kok biasa aja? apa Papa udah tahu tentang masa lalunya teh Putri?”


Pertanyaan Elvina pada papa membina lanjamku kian ikut menilik ke arahnya. Memang benar apa yang dikatakan Elvina, reaksi papa beda gak seperti mama.


Apa benar papa udah tahu? tapi dari siapa? aku nggak pernah cerita ke siapapun selain Lucy.


Mungkinkah Lucy memberitahukannya pada papa? tapi Lucy bukan orang seperti itu, dia sangat amanah dalam menjaga rahasia.


“Elvina ....”


“Ya, Pah!”


“Kamu udah tahu soal kejadian yang menimpa kakakmu saat di Bandung?”


Bandung? jadi papa mengira kisahku yang ini tentang peristiwa itu? pantas saja papa tak bereaksi lebih.


Aku melihat Elvina, wajahnya jelas sekali merasa bingung dan bertanya-tanya. Sebab, sampai sekarang aku sendiri belum menceritakan kejadian itu padanya.


“Ini ... kejadian apa lagi, Teh?” Elvina menatapku dengan cemas-cemas merasa ketakutan.


Astaghfirullah ... ya Allah, apa hari ini akan menjadi hari dimana aku mengungkapkan semua masa lalu yang begitu pahit untukku alami?


Aku tertunduk menghela nafas menghembuskan nya dengan berat nan perlahan.


Sungguh, aku tak sanggup menceritakan semuanya bertubi-tubi seperti ini.


“Teh Putri! kenapa diam aja? apa yang sudah Teteh alami selama di Bandung?!” gertak Elvina mengguncang tubuhku dengan kasar.


Aku tak sanggup menatap wajah adikku yang sangat ingin mengetahui kejadian lima tahun lalu, saat aku seorang diri di kosannya tante Rosa.


Ya Robb, jika hari ini adalah waktu yang kau tentukan untuk menyingkap semua peristiwa pahit bagaikan pil obat yang sangat kubenci itu, aku mohon ....


Kumohan padamu, ya Allah! kuatkan aku untuk mengeluarkan kepahitan yang sudah kutelan dan menceritakan hal yang sama pada Elvina, adikku.


“Jawab Elvina, Teh! kenapa diam aja!”


Isak tangis suara Elvina terdengar olehku, ucapannya semakin lirih, “Jangan buat Elvina tambah takut ...” Elvina memudarkan cengkeramannya dan tak lagi erat.


“Ada apa dengan kalian semua?! kenapa seolah-olah cuma Elvina yang gak tahu apa-apa tentang teh Putri!”


“Sebenarnya kalian anggap aku siapa di rumah ini? mengapa mama, Papa dan Teh Putri gak memberitahuku sama sekali?!”


“Dua belas tahun lalu ... dan sekarang lima tahun lalu?”

__ADS_1


“Elvina—”


“Putri! maksudnya apa? dua belas tahun lalu? itu sudah lama sekali, kan?”


Aku menoleh ke arah papa. Beliau sedang merenung berfikir, mungkin papa sedang mencari jawaban dari kapan dan saat aku berusia berapa tahun.


“Wow! aku baru tahu, ternyata aku punya seorang kakak perempuan yang sangat mahir menyembunyikan lukanya dari kami semua, ya?!”


Tutur Elvina dengan ekspresi bak mencemooh diriku.


Kutahu, tak seharusnya aku bersembunyi dari kelamnya masa. Tapi aku tak sanggup untuk keluar dari sangkar yang bak menjadi tempat kutukanku.


Bukan kuingin menjadi kuat atau berpura-pura, karena dalam diriku yang terdalam, aku sangat hancur dan kehilangan arah tujuanku.


Aku takut untuk mencari sebuah perlindungan. Bahkan, aku tak punya kekuatan untuk mengutarakannya pada mama dan papa.


Apalagi Elvina yang masih kecil, nang saat itu belum tahu apa-apa selain dunianya nan hanya ada mainan dan bermain.


“Jangan bilang ... sebelum kamu SMP ada kejadian buruk yang menimpamu, Nak?”


Aku diam, lalu kemudian mengangguk pelan sembari menguatkan batinku untuk tidak menitikkan air mata.


“Ya Allah, Putri!”


Seru papa menekan namaku, sampai akhirnya di susul dengan Elvina yang melgang pergi dari kamar mama.


Aku diam-diam memperhatikan ekspresi adikku, raut wajahnya terlihat sangat marah, salam pun tak jua ia ucapkan.


Tentu saja, tak hanya pada Elvina tapi juga pada mama dan papa.


Apalah dayaku yang masih berpikiran pendek, tidak memiliki kekuatan untuk mengutarakan semuanya di usiaku yang masih kanak-kanak.


“Maafkan aku, Pah! saat itu Putri bingung dan gak tahu harus gimana. Aku takut ....”


Betapa beratnya kalbu ini untuk berucap. Aku menahan butiran kristal di peluk lanjamku. Aku menghela nafas dengan berat.


“Putri takut kalau kisahku akan dianggap hanya candaan sesama teman kelas saja!”


Papa menghela nafas kecil. “Putri, anakku! bagaimana bisa Papa menilai kalau kamu sendiri belum menceritakannya?”


“Mama kamu aja sampai jatuh pingsan saat tahu kisahmu, berarti ini sangat serius!”


“Meski Papa sangat penasaran sekali dengan apa yang Elvina dan mamamu dengar, tapi kalau Putri masih merasa berat untuk cerita, gak apa Sayang ....”


“Papa akan menunggu Putri siap untuk menceritakan semuanya dari awal hingga selesai. Papa nggak mau kalau kamu semakin terbebani.”


“Selama ini Putri udah bersusah payah menahan beban sendirian di atas pundak kecil ini. Sekarang lepasin, ya, Sayang, jangan ditambah lagi!”

__ADS_1


Tutur kata lembutnya bagai mutiara yang baru di keluarkan dari lautan biru, berjaya meluluhkan kalbu dan melongsorkan buih di telaga netraku.


Aku menangis begitu deras seperti hujan yang datang tanpa aba dan tetesan gerimis. Lacrimaku terus mengalir terjun.


Papa membawaku dalam dekapannya, membuat tangisku semakin pecah. Aku menumpahkan semua perih dan sesak dalam kalbu.


Mencurahkan seluruh rasa yang sudah menumpuk menggunung di dalam dasar hati.


Usai puluhan menit berlalu, aku yang sudah mulai tenang kini telah siap untuk menceritakan semuanya pada papa.


Aku berkisah tanpa melebih-lebihkan ataupun menguranginya. Tak lupa jua kusampaikan rasa keluh kesahku yang sampai menyalahkan takdir Allah.


Papa hanya diam menyimak perkataanku. Beliau benar-benar mendengarkannya dengan baik tanpa memotong ucapanku di tengah-tengah cerita.


Suasana yang terasa nyaman ini membinaku terbawa arus ketenangannya. Dari aku yang masih trauma hingga kalbuku terpaut pada satu pria.


Kisah cintaku yang tidak berjalan mulus pun menambah rasa traumaku pada hamba Allah yang bergender laki-laki.


Aku tidak membenci kaum Adam, tapi jarak yang kubuat semakin jelas. Serta rasa yang sulit untuk ku musnahkan.


Entah mengapa aku begitu mencintai pria itu. Dan entah bagaimana perasaan ini terus tumbuh tanpa kusirami. Namun, taman cinta ini harus kupapras habis sampai ke akar.


“Sayang ... Allah tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan hambanya. Kamu tahu itu, kan?”


Aku mengangguk tanpa melihat papa, diriku yang sekarang merasa sangat tidak pantas lagi untuk menjadi anaknya.


“Demi Allah, Papa tidak terima kalau puteri Papa dilecehkan!”


“Mungkin jika Papa tahu cerita ini dari awal, Papa pasti sudah menghabisi mereka dan tidak akan ada di sini bersama kalian.”


“Qodarullah! Allah telah menahan hatimu untuk bercerita dan menyembunyikannya dari papa dan mama.”


“Semua keputusan yang kamu ambil tidak pernah luput atas ijin darinya. Kamu tahu, Nak?”


“Papa dan paman Hanz diam-diam masih mencari pria yang mau melecehkanmu saat di Bandung.”


“Namun Allah lebih ridho kepada polisi yang telah menemukannya lebih dulu daripada Papa.


“Jika pria biadab itu ditemukan oleh Papa. Papa tidak akan membiarkannya menghembuskan nafas dengan lega setiap detiknya!”


Aku tertegun dengan pernyataan papa di kalimat terakhirnya. “Maksud, Papa?”


“Papa bukan lah orang yang baik, mamamu bahkan tidak mengetahui masa kelam Papa yang bersembunyi di balik topeng suami idaman.”


“Setelah menikah dengan mamamu lah Papa bertekad akan menjadi suami yang baik, ta'at pada Sang Kholik dan meninggalkan semua dunia gelap.”


Sangat mengejutkan mendengar kalau papaku pernah tinggal dalam dunia yang kuketahui hanya ada dalam novel dan film-film.

__ADS_1


Seorang papa yang begitu baik dan menjadi panutan bagiku dan Elvina, mungkinkah beliau memang pernah berada di dunia seperti itu?


Tapi, ya, tidak ada yang sempurna. Semua punya masa lalu yang buruk, semuanya memiliki kesempatan untuk bertobat dan mendekatkan diri pada Allah.


__ADS_2