Trapped In Past Love

Trapped In Past Love
(Chapter 37) Hapus Akun


__ADS_3

Durasi berjalan dengan gesit, tanpa terasa sudah sebulan saja saat kabar penolakan karyaku. Aku masih bingung harus merubah seperti apa.


Tapi bukan berarti aku menyerah, karena didunia ini tidak hanya ada satu tempat untuk menerbitkan novel.


Dan sebagaimana dalam firman Allah : “Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.” (Qs. Az-Zumar ayat 53)


Selama aku punya Allah, dan selama denyut jantungku berdetak, aku takkan menyerah, hingga Allah berkata, 'Saatnya kamu menyerah, istirahatlah dengan tenang.'


Yaa Robb, bantulah aku. Jika belum saatnya, masukan aku dalam golongan hambamu yang berserah diri. Bismillah!


Tringg!


Email terkirim.


“Put, kamu lagi apa sih? aku perhatiin dari beberapa minggu lalu sibuk didepan laptop terus, perasaan belum ada tugas juga, kan?”


Aku tersenyum. “Gak lagi apa-apa sih, cuma lagi main sosmed aja.”


Aku sengaja tak memberitahu siapapun kalau aku tengah merintis kedalam dunia penulisan.


Bukan meremehkan, tapi karena aku memang tak ingin dikenal. Syukur alhamdulillah jika ada yang minat dan membacanya.


Namun, bagaimana jika kali ini gagal lagi? tidak masalah! masih ada Allah. Dan masih banyak cara untuk meraih segala mimpi kita.


“Oh ya, Luc! channel beauty kamu gimana? udah banyak yang nonton?”


“Alhamdulillah udah hampir tujuh ratus ribuan,” jawabnya tak bersemangat.


“Syukurlah, aku turut senang. Semoga Allah mudahkan jalanmu dalam meraih mimpi kamu ya my friend.”


“Kok caramu ngomong sama kayak Nia, Put?”


“Eh! emang iya, ya? kok aku gak sadar, haha.”


Lucy tampak fokus menatap ponselnya, hingga iapun tak mersepon ucapanku. Entah kenapa dengan anak ini, gak seperti biasanya dia jadi alim begitu.


Jika karena Fakri, dia pasti sudah berceloteh sedari tadi, namun kini Lucy malah membisu. Raut wajahnya pun hanya menunjukan satu ekspresi sedih.


Aku menutup laptopku dan berjalan mendekati Lucy yang duduk dilantai samping kasur. “Kamu kenapa? lagi ada masalah sama Fakri ya?” tanyaku.


“Gak ada kok.”


“Yang benar? jangan berdusta gitu, wajahmu saat ini gak bisa bohong lho?” tanyaku kembali nan sudah duduk disampingnya.


“Benaran kok, emang gak ada masalah sama Fakri, hanya ....”


Lucy menghentikan ucapannya dan tampak ragu untuk berbagi kisah.

__ADS_1


“Hanya apa?” tanyaku lagi.


Lucy melengos. “Put!”


“Ya, kenapa?”


“Apa selama ini usahaku sia-sia?”


Alisku mengernyit. “Maksudnya?” tanyaku yang tak mengerti arti dari perkataannya.


“Sebelum aku dan Fakri dekat, semua kontenku hanya mencapai dua ratus viewers dan gak lebih, malah kadang kurang,” paparnya tak luput dengan ekspresi sedih pilunya.


“Tapi ... saat aku bikin konten dan Fakri sebagai modelnya, viewersku melonjak. Aku merasa usahku kali ini gak ada apa-apanya dibanding pesonanya Fakri,” ungkapnya nan kini kristal bening itu telah terjun.


“Kenapa kamu berspekulasi kayak gitu? menurutku, hari ini juga hasil kerja kerasmu. Karena kamu terus berusaha dan pantang menyerah,” ujarku.


“Sedangkan Fakri itu, salah satu cara Allah untuk mengapresiasi usahamu selama ini. Aku yakin, walau bukan dengan Fakri, viewersmu akan tetap bertambah,” lanjutku tersenyum.


“Putri ... thanks ya my best friend.” Lucy mendekap memelukku erat penuh haru.


Syukurlah, sekarang ekspresinya sudah berubah.


Ting!


Dalam keheningan penuh haru ini, ponselku berdenting, mungkin dari papa atau Elvina. Karena sekarang adalah hari Jum'at dan iapun libur.


Ting!


Ting!


“Haha ....”


Aku meraih dan mengecek notif dari siapa. Lanjamku terbelalak, di luar pikiranku. Ternyata bukan dari papa ataupun Elvina, melainkan dari ia nang hampir kulupakan.


“Dari siapa, Put? kok kamu malah diam mematung gitu? dari Firuz ya?” tanya Lucy mengamatiku.


“Hah? oh! bu—bukan kok, ini cuma pesan salah kirim.”


“Salah kirim kok notifnya banyak banget?” tanyanya kembali.


“Ya, kan ... dia sambil minta maaf dan kasih tahu kalau salah kirim ....”


“Oh ya udah deh, kalau gitu aku mau ke depan dulu ya?”


Ia bangkit dan berjalan mendekati kursi belajar, di mana dalam papan sandarannya terdapat sebuah long cardi berwarna cream.


“Iya ... oh? mau jajan ke warung kak Nita?”

__ADS_1


“Bukan, tapi ke mamang bakso yang sering mangkal di depan kos.” Lucy memakai long cardi nya. “Kamu mau juga gak?” imbunya menawarkan.


“Boleh deh, tapi jangan kasih toge sama cabai ya?”


“Siap bos,” ujarnya menutup pintu. “Assalamu'alaikum.”


“Wa'alaikumussalam,” jawabku dari dalam.


Aku kembali melihat pesan dari akunnya, sebuah akun nang saat ini foto profilnya kembali menjadi anak kecil.



📱“Maaf ya salah kirim.”


Aku membalasnya, “Iya gak apa.”


Hanya sebatas itu, tak ada lagi pesan yang mampir darinya. Mungkin ia mengirim fotonya untuk tunangan dia nang di Turki.


Mengapa kamu bisa salah kirim pesan? jika ingin salah kirim, kenapa gak ke akun orang lain saja?


Rutukku dalam hati. Kamu yang sudah berusaha aku lupakan dengan segala kesibukanku. Namun orang-orang disekitarmu kembali hadir mengusik kalbu.


Dan kali ini, kamu hadir dengan pesan salah alamat. Ingin rasanya aku berpikir, kalau aku masih ada dalam denyut nadimu. Bayangan siluetku masih merayap gentanyangan di benakmu.


Tapi itu semua tak mungkin aku pikirkan, karena statusmu yang sudah menjadi tunangannya orang lain. Aku takut, jika itu adalah dosa, dan Allah akan murka padaku.


Apa yang harus kulakukan ya Robb?


Rasa lelah dan letih, lanjamku menatap kosong ponsel nan masih menyala.


Tanpa sadar dalam lamunan, aku masuk kedalam pengaturan. Bukan keluar, tapi aku menghapus tuntas akunku. Saat ini, aku benar-benar letih bermain sosmed.


...***...


Keesokan harinya. Aku baru sadar dan menyesali perbuatanku. Padahal aku harus mempromosikan karyaku.


Ya, selain berusaha untuk mengirim karya ke penerbit. Akupun menulis novel di platform online. Ada beberapa platform nan kusinggahi dengan judul dan nama pena yang tetap sama.


Inilah caraku berusaha dan ikhtiar, satu aplikasi saja rasanya gak cukup untuk mewujudkan mimpiku.


Pagi ini sebelum ke kampus, akhirnya aku mendaftar kembali akun yang baru, hanya saja kali ini berbeda. Aku hanya menerima follow khusus akhwat, dan no follow akun ikhwan.


Ya, bisa jadi karena hatiku juga telah lelah nan letih. Aku hanya ingin kembali fokus dengan cita-citaku, dan mendekatkan diri pada Robb-ku tanpa adanya makhluk lain yang bersemayam dalam kalbu.


Aku memutuskan untuk menamai akun Instagramku dengan nama penaku—Pelangi. Sebuah pena yang terinspirasi darinya.


Namun tentu saja, aku tak menyebutkan namaku. Seperti di akun lama, akupun menggunakan nama lain. Tapi tak menyelipkan satu katapun dalam nama Instagramku.

__ADS_1


Baik itu Putri, Marsha maupun Canda. Tak akan ada, hanya ada sebuah nama—Hamba Allah.


__ADS_2