Trapped In Past Love

Trapped In Past Love
(Chapter 56) CLBK?


__ADS_3

Jantungku berhenti bedetak. Saraf nadiku mengkristal beku. Lidahku kelu membisu. Aku mematung terlongo-longo.


“Apa kamu Marsha?” tanya untuk kedua kalinya, jarak Lucy dengan kami pun hampir dekat.


Aku berbalik menghadap nya dengan pandangan tertunduk. Bisa saja aku berkelit dan mengatakan ‘Bukan!’ tapi tenggorokanku terasa kering.


Semuanya ikut membeku hanya karena mendengar suaranya menyebut memanggil namaku.


Kak Nathan kembali bertanya, “Namamu Putri Marsha Canda, bukan?!”


Kali ini kedua bibirku memberi celah yang akan mengeluarkan setiap abjad-nya dalam menjawab pertanyaan kak Nathan kali ini.


Baru saja aku menganga, Lucy langsung menyergah dan menjawab pertanyaan kak Nathan dengan balik bertanya, “Apa kamu kenal Putri?”


Aku berbalik pada asal suara itu dan rupanya jarak Lucy telah dekat dan tepat berada di sampingku.


“Put, kamu kenal dengan pria bewok ini?”


Lucy memanggilnya demikian, mungkin karena jambang tipis di wajahnya yang memberi kesan brewok jikalau kak Nathan tak menipiskannya.


“Hai! kenapa malah ketawa?” tutur Lucy menyikut lenganku.


Aku melongo bingung. “Tertawa? aku?!” tanyaku pada sahabat baikku ini. Lucy menjawab, “Iya, kamu! tanya aja sama mas brewok di depanmu itu, dia juga melihatnya kok!”


Matanya menunjuk arah pada kak Nathan. Aku beralih menatapnya dengan refleks. Senyuman terukir di sana, sangat indah dan menyejukkan.


Aku gak tahan lagi, aku harus pergi dan bawa Lucy dari sini! bisa-bisa aku akan tertangkap basah kalau aku adalah Marsha yang dulu chattingan dengannya!


Aku lekas bangkit dan langsung menarik Lucy yang masih penuh penasaran dengan pria di hadapanku.


“Tolong jawab dulu! apa kamu Marsha yang kukenal?!”


“Iya!” pekiku yang terus menarik Lucy dan pergi menjauhi kak Nathan. Aku tak tahu kalau jawaban tanpa sengaja terucap itu akan berdampak seperti apa untuk kedepannya.


“Hei-hei! Put! kenapa kamu menarikku dengan tiba-tiba? apa kamu dengan pria tadi saling kenal?”


Lucy menghentikan langkahku dan kembali berkata, “Oh! jangan-jangan—”


“Gak seperti yang kamu pikiran, kok! aku sama dia juga baru kenal hari ini!”


Lucy tampak kecewa dengan balasanku. Aku juga malas dan tak berniat untuk menceritakan kisah masa lalu yang menurutku sangat pahit ini.


“Terus? kalau baru kenal kenapa kamu bilang, iya?”


“Maksudmu?”


“Dia, kan tanya kamu itu Marsha apa bukan dan kamu menjawab iya!”

__ADS_1


“Serius!” Aku berteriak tepat membuat bising gendang telinganya. Sungguh, Luc, aku gak sengaja dan refleks gitu aja.


Lucy mengeluh dan menutup satu telinganya. “Ih Putri! telingaku bisa budek mendadak nih!”


“So—sorry! aku gak sengaja!”


Di sisi lain, tempat pertemuan pertama Putri dan Nathan datang seorang wanita berhijab menghampiri tempat Nathan sekarang.



“Ciee yang ketemu sama mantan! roman-romannya bakal ada yang CLBK, nih!” godanya saat gadis itu sudah berdiri dekat di samping Nathan.


“Gak ada CLBK, kami juga gak sengaja ketemu, kan?!”


“Eh ... tunggu-tunggu! jadi, Kak Nathan sama kak Crystal emang pernah dekat?”


Nathan menjawabnya ‘iya’ dengan datar dan lesu. Entah apa yang ada dalam benaknya saat ini.


Mungkin sama seperti yang Putri rasakan, atau jauh berbeda dengan perasaan Putri, entahlah!


Nathan mengajak wanita berhijab abu yang tak lain adalah adiknya, Melati. Keduanya pun pergi meninggalkan gedung itu dan berjalan menuju parkiran.


Selama meninggalkan tempat itu, Melati terus berfikir dan merenung dalam hatinya, “Lalu, cewek mana yang kak Nathan maksud? yang sebelum tunangan apa yang sudah?”


“Besok kamu udah mulai masuk, apa semua perlengkapan untuk berangkat ke pondok sudah siap semua?” tanya Nathan pada Melati yang masih diam melamun.


Nama Melati pun kembali Nathan serukan dengan lebih lantang. Meski begitu, masih terkesan lemah lembut dalam panggilannya.


Melati tersentak dan sadar, arah pandangannya melirik Nathan lalu bertanya, “Kenapa, Kak?”


“Adiknya Kakak yang imut dan manis kenapa tiba-tiba bengong? apa masih ada yang belum di siapkan?”


“Bukan itu, Kak!”


“Lalu?” tanya Nathan pada adik perempuan satu-satunya yang sangat Nathan manjakan.


“Kak Crystal itu ... cewek—”


“Kak Crystal? Crystal siapa?”


“Wanita yang tadi aku mintai tanda tangannya!”


Nathan hanya menjawab ‘Ooh’ dengan singkat tanpa ekspresi dan masih fokus menatap jalanan.


Melati pun semakin yakin, kalau kakaknya dan sang novelis itu pernah menjalin hubungan.


“Walaupun pradugaku salah, pasti mereka pernah dekat dan saling kenal,” pikir Melati dalam benaknya lalu berseru dengan jelas, “Jadi ... apa dia cewek yang dekat sama Kakak sebelum tunangan apa sesud—”

__ADS_1


“Sebelum tun—”


“Serius?! kak Crystal cewek yang dulu sering chatting sama Kak Nathan?”


Jawabannya sama hanya satu kalimat dua huruf yang Nathan berikan pada Melati.


“Pantas aja Kakak merasa feel-nya itu ngena banget, ternyata percintaan Maryam itu emang di ambil dari kisah nyatanya kak Crystal sendiri?!”


Nathan cuek dan tampak tak peduli, meski sebenarnya celotehan sang adik sangat mengganggu fokusnya.


Memori masa lalu yang terbuang pun kembali terangkat dan tersusun sehingga membuat puzzle yang sempurna.


“Kalau kalian pernah chatting, berarti Kakak punya nomor HP-nya dong?”


“Kalau itu, aku gak punya!”


Melati mendesah kecewa. “Yang benar saja! kalian kenal selama itu tapi gak pernah tukar nomor?”


“Kalau di bilang lama, kami cuma dekat kurang dari setahun. Berapa bulannya aku gak tahu. Tapi beberapa tahun lalu kita ada kontekan lagi, tapi setelah itu Marsha menghilang, seperti menjauhiku.”


Melati yang mendengar penuturan dan penjelasan Nathan, kembali bersua dan berkata, “Mungkinkah saat itu kak Crystal sudah punya orang lain?”


“... Entahlah, aku gak tahu!”


Melati membaut tiruan suara seperti berdehem dan menaruh tangannya menopang dagu. Ekspresi-ekspresi yang dibuatnya pun mencerminkan orang yang sedang berpikir keras.


“Apakah ... kak Crystal salah faham sama Kakak dan mengira Kak Nathan sudah menikah?!” tebak nya dan kembali berkata, “Aku rasa karena inilah dia jadi menghilang kembali dari kehidupan Kakak!”


“Harusnya sih, nggak! karena waktu itu Kakak juga bilang kalau pertunanganku telah batal. Dia pun sempat bersimpati dan memberikan doa-nya juga!”


“Kalau begitu ... jawabannya cuma satu! kak Crystal udah gak suka sama Kakak!”


Nathan diam membisu, karena perasaannya pun benar-benar abu. Pertama kali telponan dan mendengar suara Putri, hanya perasaan senang dan gak lebih yang Nathan rasakan.


Tidak ada rindu yang bersemayam dan terobati, justru perasaan Nathan benar-benar keram, tak merasakan apa-apa, bahkan pada hari ini ketika dirinya bertemu dengan Putri.


Hanya ada perasaan senang karena berjumpa dengan teman yang dikenalnya lewat ponsel dan tak lebih dari itu!


.


.


.


Salah faham? menikah?


Deg!

__ADS_1


Tunggu ... gak mungkin dia salah faham soal aku dengan ....


__ADS_2