
Sejak pertengkaran malam itu, dan pesan di pagi hari setelahnya, kak Nathan benar-benar menghilang. Gak ada jejak, sosial media pun gak pernah ia tengok.
Aku bingung, aku gak tau kenapa ia begitu. Aku mencoba menunggunya, menanti kabar darinya.
Sampai hari ini, sebuah chat asing singgah di ikon pesan instagramku. Username yang gak aku kenal, isinya membuatku percaya gak percaya.
📱“Assalamu'alaikum.”
“Wa'alaikumussalam.”
📱“Apa kabar? kamu baik-baik saja, kan?”
“Alhamdulillah, sehat. Kalo boleh tau, ini siapa ya?”
Batinku bertanya, “Kok dia bisa tahu namaku? apa temannya kak Nathan? tapi kok kayak sok akrab gitu?”
Aku bimbang, sebenarnya siapa orang di balik akun ini. Aku mengetuk profilnya, melihat setiap unggahan yang ia post di instagram.
Sebuah kota yang asing bagiku, juga terselip satu kota yang gak asing. Dia sama sepertinya, bukan dari Indonesia. Tapi dia juga teman seperjuangan kak Nathan.
Kini ia mulai memberitahu siapa dia sebenarnya, sungguh sulit untukku percaya.
📱“Aku Nathan.”
Jelasnya memberitahu kalau dirinya adalah kak Nathan. Seorang pria yang pergi tanpa pesan perpisahan.
Seorang pria yang sudah 2 pekan lebih gak ada kabar, bahkan akunnya juga masih belum aktif sampai detik ini.
Batinku tersentak, pupil mataku bergetar, aku tak percaya kalau dia adalah kak Nathan. Tapi setidaknya itu bisa menghibur qolbuku sejenak.
“Kamu benaran kak Nathan?”
📱“Bukan, tapi temannya.”
“Oh, kirain.”
📱“Menurutmu aku Nathan apa bukan?”
“Ya mana aku tahu.”
📱“Tebak aja dulu.”
“Bukan.”
📱“Hahaha, salah.”
“Jadi, kamu benaran kak Nathan?”
📱“Iya.”
Kelopak bawah mataku mengeluarkan butiran bening, ia masih tampak setia disana. Sampai akhirnya ia terjun sendiri. Aku ternganga, terkesiap.
Hatiku berdegup senang, sungguh tak menyangka kalau kita bisa kembali bersapa. Hanya timbul prasangka, aku dengannya takkan lagi bisa bersapa.
Saluran air mataku tak hentinya ia menerjunkan air. Sambil bercakap lewat chat di instagram, ku sapu air itu lagi dan lagi.
__ADS_1
“Kak Nathan kok bisa aktif di akun orang?”
📱“Ponselku hilang, jadi aku pinjam akun temanku untuk chat kamu.”
“Oh gitu, terus sekarang kabar Kak Nathan gimana?”
📱“Baik-baik saja.”
“Syukurlah.”
Hatiku lega mengetahui kalau dirinya baik-baik saja. Malam ini mahabbah rinduku terobati. Sungguh tak bisa ku utarakan lewat untaian kata.
📱“Aku mau jujur sama kamu, tapi kamu jangan marah ya?”
“InShaa Allah. Mau ngomong apa, Kak?”
Kenapa atmosfernya jadi berubah gini, sebenarnya dia mau jujur tentang apa? kenapa hatikku kembali gak tenang.
📱“Sebenarnya aku bukan Nathan.”
Jdeerrr! aku terlongo-longo bengong. Tidak tahu harus berkata apa, hatiku runtuh. Sungguh! aku seperti kehilangan akal membaca pesannya.
📱“Maaf, ya!”
“Iya. Gak apa-apa,” balasku, dengan keadaan yang masih tepinga-pinga dengan permainan yang ia mainkan.
Aku menangis terisak, air terjun kebahagian saat ini beralih menjelma tangis pilu kesedihan.
“Betapa polos dan bodohnya diriku,” sesalku dalam hati, karena telah percaya dan terjebak atas permainannya.
Jika tahu akan begini, aku takkan melepas hatiku untuk terpaut padamu. Keindahan wajah yang sukses memikat relung hati.
Dan ketenangan wajahmu yang terserap kedalam lubuk hatiku, membuatnya jatuh dan mengalir begitu saja. Aku tak tahu, jika wajahmu yang mendamaikan itu bisa memikat hati seorang gadis sepertiku.
...***...
Hari ini aku berangkat sekolah sendirian, karena adikku sudah pulang ke pondok pesantren.
Beberapa hari terakhir aku memang kehilangan semangatku. Di tambah sebuah pesan yang mempermainkan qolbuku. Membuatku jadi semakin tak bersemangat.
Aku melalui hari-hariku tanpa pelangi. Awan mendung di hatiku kadang kala ia hujan, kadang kala menurunkan badai. Gak terasa aku sudah sampai di kelasku.
Teng tong~ teng tong~ bel masuk berbunyi, aku kembalikan fokusku. Jangan sampai karena cowok nilai akademisku jadi menurun.
Pelajaran pertama adalah matematika, sebuah pelajaran yang aku senangi sewaktu SMP dulu.
Beberapa menit pak guru menerangkan rumus yang di anggap rumit oleh beberapa siswa/i kini sampai di sebuah soal yang di berikan untuk kita kerjakan.
Aku mengerjakan dengan teliti dan hati-hati, walau pikiranku sedang kacau balau.
“Ada yang bisa kerjakan soal nomor satu?”
“Saya, Pak!”
Fakri maju lebih dulu untuk mengerjakan soal pertama. Beberapa menit ia selesai dan kembali ke tempat duduk.
__ADS_1
“Nomor 2 ada yang mau maju?”
“Saya, Pak!”
Kini giliranku maju, semoga saja gak ada yang terlewat. Aku mulai menjawab soal itu, sama seperti jawaban di buku latihanku.
Aku kembali ke tempat duduk, yang kemudian di susul oleh ketua kelas menjawab soal nomor 3 dengan lancar.
Sekarang 3 soal itu telah terjawab semua. Tibalah saatnya pengoreksian, dan dimulai dari nomor 1 yang Fakri kerjakan.
Waktu berlayar begitu cekat, tak terasa sudah bel istirahat saja. Aku dan Lucy pun pergi ke kantin berbarengan.
Seperti biasa, kita ke kelas 2 sahabat kita lebih dulu. Tapi ternyata kelas Nia dan Mira selesai lebih awal.
Aku menghampirinya. “Tumben kalian udah selesai?”
“Iya, soalnya pak Akmam lagi gak masuk,” papar Nia.
Tanpa membuang waktu, kita langsung melaju pergi ke kantin sambil bercakap-cakap.
“Enak dong bisa bebas,” ucap Lucy yang sudah berjalan di depan bersama Mira.
“Boro-boro bebas, Luc! sakit kepala mah iya!” sergah Mira yang sepertinya pak Akmam memberi tugas banyak untuk kelas mereka.
...***...
Satu minggu kemudian, sejak chat permainan itu aku menemukan sebuah akun yang juga di ikuti oleh teman instagramku.
Akun itu membuatku terkesiap, tersendat, tertegun. Sebuah akun dengan nama Muhammad Nathan CR Taheem.
Aku sungguh mengenal nama akhir itu, di tambah sebuah foto balita sebagai foto profilnya, membuatku semakin yakin.
Foto balita yang sama seperti waktu itu ia kirimkan padaku. Dan sebuah nama tengah singkatan yang membuatku langsung bisa menebak siapa itu CR.
Aku memberanikan diriku. Karena cuma akun itu satu-satunya jalan untukku. Aku follow dan chat akun itu, bertanya padanya.
“Assalamu'alaikumussalam. Ini kak Nathan bukan?”
Beberapa menit ia follback akunku, tapi belum juga ada balasan. Sambil menunggu balasannya, aku mampir ke profilnya.
Batinku membeku, “Ternyata memang benar dia.”
Aku menemukan foto yang ia posting, sebuah kata-kata menggunakan bahasa Turki.
‘Kimse için yapmaz, deme uygun koşullar sağlandığında herkes her şeyi yapabilir.’
Aku faham betul artinya, karena sebelum ia menjadi pelangi, dia mengirimkan foto itu jua untukku.
Pada saat itu aku bertanya padanya, “Itu artinya apa, Kak?”
Ia membalasku, memberitahukan artinya.
📱“Artinya itu, jangan mengatakan tidak bisa, sebab pada kesempatan yang tepat semua orang akan bisa melakukannya.”
Sebuah motivasi untukku. Karena pada saat itu aku mencoba menulis novel. Tapi novelku selalu di tolak.
__ADS_1
Nostalgia selesai.