Trapped In Past Love

Trapped In Past Love
(Chapter 13) Doa Mama Untukku


__ADS_3

Aku pikir, kamu adalah seseorang yang Allah pilih untuk menjadi labuhan di qolbuku. Rupanya aku telah melampaui batas rencana Tuhanku.


Mungkinkah, aku telah memberimu tempat terlalu tinggi dalam tahtaku?


Ya ... mungkin ... secara tidak sadar, aku telah membuat Robbku cemburu.


“Apa seperti ini rasanya patah hati? begitu nyeri, sakit, pedih, lara hingga menyesakkan!” ratapan batinku.


Aku menyesal karena tak bisa menjaga hatiku untukmu ya Robb. Namun, aku tetap bersyukur karena engkau mengijinkan aku untuk mengenalnya.


Seorang pria yang hanya selisih satu tahun denganku. Yang kehadirannya begitu memikat relung hati.


Dini hari jam satu, lanjamku masih ronda. Aku yang bersemayam duduk di atas sajadah dengan hati yang bercokol keruh, kusut, aku beritakan dan uraikan pada Sang Ilahi.


“Ya Allahu yaa Mujib, yaa Allahu yaa Ghofur, ampuni dosaku, karena telah mencintai hambamu dengan berlebihan ....”


“Yaa Robb ... betapa ambruknya qolbuku. Begitu memelintir memiuh linu. Biarlah perasaan seperti ini cukup aku yang merasakan ....”


“Yaa Allah ... lindungi adikku dan saudari muslimku dari sakit ini ... jaga hati mereka dari sebutir cinta yang belum halal tuk dimiliki.”


“Aamiin Allahumma Aamiin Yaa Robbal 'aalamiin.”


Doa tamatku tutup, kurangkul kedua kakiku dengan rapat. Tubuhku meringkuk meringis bergetar karena menahan isak tangis.


Benda bening di nayamku masih longsor dengan deras. Dalam rintihan, ku bisikan kalimat istighfar yang setiap kalimatnya terjeda-jeda.


Tangisku yang bergilir-gilir mengalih memberi efek subhanallah. Kepalaku muncul nyut-nyutan hingga memicu perutku terasa mual dan pusing.


Kini aku mulai bangkit dan menaruh kembali sajadah dan mukenah pada wadahnya.


Saatku dekati kasur empukku, terdengar ketukan pintu dari luar kamar. Dengan irama pelan dan lembut.


Seakan ketukan itu khawatir membangunkan orang yang tengah terlelap, tapi bukan si pemilik kamar.


Aku melaju melangkah mendekat. Kubuka perlahan dan kutengok mengadahkan kepalaku.


Sorot mataku merekam wajah yang mirip denganku, hanya saja ia memiliki lesung di pipi. Rasa cemas dan khawatir tampak menyelimuti wajah bulatnya.


Sekarang ia langsung memeluk erat tubuhku yang berisi namun tak gemuk. Tanpa sadar, lacrimaku comeback.


Tangan kanannya bergerak naik turun mengelus punggungku dengan lembut, menenangkan hatiku yang sendu.


Aku terisak dalam pelukan hangat penuh kasihnya. Kita masih setia berdiri di depan pintu kamarku tanpa beranjak sejengkalpun.


Beberapa menit kemudian hatiku mulai damai. Aku mempersilakan seseorang itu yang tak lain adalah mamaku, dan kini kita duduk di atas kasur.

__ADS_1



“Nak, ceritakanlah semuanya pada Mama. Jangan kamu pendam sendirian, Sayang. Hati Mama lara mendengarmu tiba-tiba menangis dengan berat.”


Terang mamaku yang diiringi lacrimanya turun tanpa persetujuan. Qolbuku tersentak menatap air mata mama bercucuran karena diriku.


“Mah, maafkan Putri karena sudah membuat Mama cemas.” Aku tertunduk merasa bersalah, karena diriku mama sampai menangis.


“Jadi ... kamu kenapa, Sayang? bersediakah kamu untuk membaginya pada Mama?” tanya mama menepuk pundak ku dengan pelan.


Tanganku meremas celana tidur yang terbuat dari rayon. Aku menahan hatiku agar tak kembali mencucurkan air mata. Walau batinku masih nyeri lara.


“Aku mencintai seorang pria yang Putri kenali lewat sosial media, tapi ... kini ia telah dijodohkan oleh seorang gadis yang lebih muda tiga tahun dariku.”


“Kalau boleh Mama tahu ... apa yang telah ia perbuat sehingga bisa mengambil hati anak gadis Mama yang satu ini?”


“Putri juga gak tahu, Mah! saat pertama kali Putri melihatnya ... hati Putri sudah tertaut pada wajahnya yang menyejukkan qolbu.”


“MaaShaa Allah, sepertinya anak Mama jatuh cinta pada pria yang sholih, ya?”


Aku hanya mengangguk pelan. Dan mama mulai bertanya kembali. Mungkin, semua pertanyaan itu sudah lama menumpuk dalam benak mama.


“Dia orang mana, Nak?”


“Turki, Mah! dan dia menimba ilmu di Pondok Pesantren Al Iman, di Palembang.“


Mamaku tampak kagum dengan pemuda yang hanya tahu ceritanya dari mulutku. Seorang pemuda yang telah memiliki tunangan.


“Bukankah negara Turki mayoritas penduduknya muslim?”


“Betul, Mah!”


“Dia merantau ke Indonesia dan mondok di sini apakah ada keluarganya yang tinggal di Indonesia? atau blasteran?”


“Nggak tahu, Mah,” jawabku.


Dari persoalan yang mama lontarkan membuat aku sadar. Bahwa aku gak tahu banyak tentangmu, selain asal dan tempat kamu menuntut ilmu.


“Terus ... wanita yang dijodohkan dengannya, apa dia juga dari Turki?”


“Nggih.” Aku menjawabnya sambil mengangguk pelan.


Semalaman aku dan mama tak habis-habisnya membicarakan pemuda tampan nan sholih itu.


Walau ketampanannya tak bisa menandingi Nabi Yusuf, namun auranya laksana angin sepoi-sepoi di setiap hati yang memandang.

__ADS_1


“Kamu mau dengar kisah Mama sama papamu, gak?”


Tawar mamaku, tentu saja aku mau! bukankah mendengar kisah cinta itu sesuatu yang sangat seru? kita juga bisa mengambil hikmah dan pelajaran di dalamnya.


Mamaku mulai berkisah dari awal jumpa dengan papa. Saling lontar canda lewat surat menyurat.


Mama yang penuh dengan ekspresi saat bercerita, membuatku ikut guyon saat mama tertawa lepas.


Begitu indah kisah cinta mama dan papa semasa sekolah dulu. Dan siapa yang menyangka? kalau mama dan papa adalah sahabat masa kecil.


“Kok, Mama bisa gak tahu kalau perahu kertas itu dari papa?”


Aku yang mulai penasaran, bertanya penuh semangat, membuat mama tersenyum lega.


Aku tahu! itu perasaan lega sebab aku tak lagi bersedih hati karena pria yang bernama Nathan.


Mama kembali berkisah. “Mama juga gak tahu, Nak! tahu-tahu saat papamu minta ketemuan dibelakang sekolah!”


“Terus-terus, Mah!”


Aku meraih bantal di dekatku, dan kurobohkan tubuhku tengkurap mengahadap mama, dengan kedua tangan menopang dagu.


“Terus Mama terkejut saat cowok yang berdiri di depan pagar besi belakang sekolah itu ternyata teman masa kecil Mama ....”


“Papamu membawa setangkai bunga, meski ia juga tampak terlonjak kaget saat tahu teman perahu kertasnya adalah Mama ....”


Aku sangat bersemangat sekali mendengarnya, tanpa sadar aku mulai tunjang dan masuk ke dunia mimpiku.


“Papamu tidak mengurungkan niat awalnya untuk menyatakan cinta pada Mama, dan ... lah, dia udah molor!”


Saat mama menggerakkan ekor matanya, mama mendapatiku yang sudah terlelap di atas bantal dengan motif sama seperti sepraiku, hello kitty.


“Putri-Putri! cerita Mamanya malah dijadikan dongeng pengantar tidurnya!” gerundel mamaku, dan terlukis senyum manis yang turun ke Elvina, adikku.


Kini mama menarik selimut yang tertindih olehku dengan pelan dan perlahan. Tinggal secuil lagi, selimut itu berhasil mama tarik tanpa membuatku terbangun.


Mama mulai menyelimutiku penuh cinta. Sebelum keluar kamar, mama mengecup kening ku dalam jangka satu menit.


Entah apa yang mamaku gumam, kan. Tampak samar terdengar di telinga.


“Semoga Allah memberi pengganti yang lebih baik untukmu ya, Nak!” Doanya melambung tinggi di atas 'Arsy.


Doa seorang ibu tidak ada dinding penghalang, dan doanya amat sangat mustajab.


“Sudahkah aku membuatmu bahagia, Mah?” desus batinku.

__ADS_1


Mama mulai bangkit dan meninggalkan kamarku, kembali menemani sang ayahanda yang tengah tertidur seorang diri selama mama menemaniku.


__ADS_2