
Satu minggu penuh, kita tak lagi bersua. Hanya aku yang lebih dulu memulai percapakan. Sehari tak lebih dari 9 kata.
Bahkan, aku yang tak pandai membuat topik kembali membukanya dengan kata dan kalimat yang sama.
“Assalamu'alaikum.”
📱“Wa'alaikumussalam.”
“Lagi apa, Kak?”
📱“Duduk.”
“Oh ... udah makan belum?”
📱“Udah.”
“Alhamdulillah.”
Mungkin kamu bosan, tapi maaf, hanya itu yang bisa gadis ini lakukan. Ia bahkan tak pernah bersapa dengan orang lain kecuali orang terdekatnya. Semoga kamu bisa maklum.
Hari ini, aku bertanya kembali. Dan bertambah satu pertanyaan, hanya untuk memastikan keadaanmu. Karena sudah hampir dua minggu kita saling menjauh.
Kamu yang cuek dan tak peduli, ditambah aku yang menjadi segan mendekatimu. Dan tanpa sadar, akupun mulai memagari hatiku.
“Apa kabarnya, Kak?”
📱“Alhamdulillah.”
Aku hanya berharap, satu kata sekalimat itu benar-benar menunjukan kabarmu yang baik-baik saja.
“Syukurlah kalau baik-baik saja.”
📱“Iya.”
Sikap dinginmu membuat hatiku tergores, teriris. Apa karena cemburuku yang berlebihan dan tanpa sadar membuatmu menjadi ilfil?
Atau, karena aku yang tak mempercayaimu dan lebih percaya ucapan mereka?
Jika memang karena itu, aku sungguh minta maaf. Dan, bisakah kamu bersikap hangat lagi padaku seperti dulu?
Kalau aku salah, tegur aku, kasih tahu di mana letak kesalahanku. Jangan acuhkan aku seperti orang asing dalam hidupmu.
Oh, ya! aku lupa, aku memang orang asing dalam hidupmu. Tapi, bukankah kamu telah memberiku tempat di istana hatimu untukku?
Walau kedudukan sang ratu di hatimu adalah hak istimewa yang kamu berikan hanya untuk ibumu, dan takkan pernah berubah.
Kamu yang acuh tak acuh, dingin, cuek dan tak perduli. Secara gak langsung memintaku untuk menjauhi istana hatimu.
Kamu yang sekarang, sangat membuatku mboten ngertos, “Sebenarnya kamu kenapa? apa kamu udah gak ada rasa lagi?” pikirku dalam hati.
Rasanya, pelangi yang sudah kembali tidak lagi menebar pesona dan keindahannya. Dia kini sedang tidak baik-baik saja.
Entah mengapa rasanya ia seperti awan mendung, yang siap menurunkan rain dan membuat guntur berteriak menggelegar di udara.
“Tak apa, kan?! jika aku bertanya tentang isi hatinya? daripada perasaanku terus menggantung tak jelas seperti ini,” bisik batinku.
Aku masuk kedalam instagram, menengok akunmu yang sedang online. Bukannya bertanya, aku malah membisu melihat akunmu.
Rasanya jadi lebih tak enak hati, mengingat hubungan kita yang berjarak semenjak pelangi itu telah sembuh.
Kamu tak lagi sama seperti dulu, yang bisa dengan bebas aku jaili ketika sifat kekanakanku muncul. Dan bukannya marah, kamu justru sudah menduga kalau itu aku.
__ADS_1
Memori minggu kedua setelah kita saling terbuka, tanggal 19 Januari 2018 aku pura-pura menjadi orang lain menggunakan akun yang baru kubuat.
“Aku udah lama suka sama kamu!”
Jum'at sore itu aku terkekeh menahan tawa, kemudian pesanmu terkirim dan sampai padaku.
Ting! [pesan masuk, pukul 14:08]
📱“Kamu siapa sih?”
Saat aku mencari nama samaran dalam otakku, kamu berhasil menebaknya.
📱“Kamu Marsha ya?”
Sebuah nama yang membuatku merasa spesial. Karena hanya kamu yang memanggilku menggunakan nama tengah.
Juga, kamu yang berhasil menebaknya dan aku yang gagal ngprank kamu, berjaya membuat tawaku lolos.
“Hahaha ... kok tahu, sih?”
📱“Iyalah udah ketebak, mana ada cewek yang seberani kamu.”
Membaca pesanmu membuatku tersipu malu, dan teringat pada ungkapan cinta yang tak kenal jarak.
Reminisensi tamat.
Tapi, kamu yang sekarang membuatku menjadi lebih berhati-hati saat mendekatimu. Dan dinding jarak yang kamu buat perlahan tampak jelas.
Aku memulainya dengan pertanyaan inti yang selalu mengganjal dan bertanya-tanya dalam relung hatiku.
Tapi tentu saja, aku meminta ijin lebih dulu sebelum bertanya. Mungkin karena sifatku yang tak enak hati ini.
“Boleh aku tanya sesuatu?” [pesan terkirim, pukul 21:47]
“Tapi jawab yang jujur ya!”
📱“InSyaa Allah.”
“Apa kak Nathan masih cinta sama aku?”
📱“Maaf, aku gak bisa jawab.”
“Tuh, kan! berarti dia emang udah gak cinta sama aku!” ringis batinku. Aku mencoba tenang dan kembali membalasnya.
“Kenapa minta maaf? Kak Nathan, kan gak ada salah sama aku.” [pesan terkirim, pukul 21:51]
📱“Karena aku gak bisa jawab pertanyaan kamu.”
“Jadi, Kakak benaran udah gak cinta sama aku?”
📱“Maafin aku. Aku benar-benar gak bisa jawab.”
Permintaan maafnya benar-benar membuatku frustasi, kulo mboten ngertos maksud sampeyan opo.
Kamu meminta maaf saat kutanya 'cinta apa nggak?' dan saat kutanya 'udah gak cinta?' kamu kembali minta maaf.
“Kenapa kamu selalu minta maaf? apa yang harus aku maafkan? kamu aja gak ada salah sama aku,” batinku menggerutu.
Kenapa gak ada satu jawaban pun dari kamu yang bisa memperjelas isi hatimu. Aku bingung, bimbang, gelisah, dan cemas.
Jika memang sudah tak ada lagi rasa, aku gak akan menganggumu lagi dengan pesan masukku. Tapi setidaknya, tolong! beri aku kepastian.
__ADS_1
“Jadi, please! tolong jawab dengan jelas.” Aku memohon dalam hati, walau aku tahu isinya takkan sampai padamu.
Kesabaranku sudah sampai ujung, kamu yang berkata tak jelas membuat emosiku makin meluap. Aku kembali mengetik membalas pesanmu dengan wajah tertekuk.
“Kasih aku jawaban yang jelas dong, Kak! aku bingung, kenapa Kakak gak bisa jawab?!”
“Kenapa Kakak selalu minta maaf?! padahal Kakak gak ada salah apa-apa sama aku!” lanjut isi pesanku.
Ting! [pesan masuk, pukul 22:01]
📱“Aku dijodohkan.”
Pernyataannya seperti badai. Kini angin ditengah badai itu menerbangkan semua khayalku.
Tanpa terduga, sang halilintar menyambar ke lubuk hati, mematikan syaraf dan jantungku.
Aku tertegun tersendat. Bengong seperti hilang akal. Aku terlongong-longong tercengang, tidak mampu berkata-kata.
Selama aku termenung termangu sedih, ponselku terus berdenting. Pesanmu terus kubaca, namun otakku masih tertegun melamun.
📱“Maafkan aku.”
📱“Aku gak bisa menolak perjodohan ini.”
📱“Maaf ya.”
Lidahku kelu, bisu, aku termangu terdiam merasa sedih. Walau aku tampak terpangah ternganga membaca pesanmu.
Sebuah kata yang tidak hanya berat untukku. Namun juga amat sangat berat untukmu bisa menyatakannya padaku, bicara jujur dan berterus terang.
Aku benar-benar berterimakasih padamu karena sudah berterus terang, walau itu terasa berat untukmu juga.
Dan aku tetap harus bijak dalam menyikapi balasan pesannya. Aku menyiuk, menghela nafas sedalam-dalamnya.
“Apa perempuan yang dijodohkan dengan Kakak gak masalah?”
Karena aku pernah baca, dalam perjodohan keputusan tetap ada di pihak wanita. Jika dia hanya memberi senyum, maka artinya 'iya.'
📱“Dia bilang gak apa, malah dia senang karena punya calon suami ustadz.”
“Oh, mungkin maksudnya santri, ya?” gumamku dalam hati.
Aku kembali membalas pesannya, walau akupun tak tahu harus balas apa. Pikiranku kosong.
Ting! [pesan masuk, pukul 22:09]
📱“Maaf ya, aku benaran gak ada maksud untuk menyakitimu.”
“Iya, gak apa-apa. Aku faham kok. Selamat ya, jaga dia baik-baik.”
📱“Iya, terimakasih.”
Kini, kita saling mengucapkan salam perpisahan. Disambut dengan deraian air mataku, apakah di sana juga sama?
Walau aku gak tahu bagaimana denganmu yang disana. Apakah sama dengan perasaanku saat ini? apakah kita saling menahan sakit sampai terasa sesak, penuh dan pekat?
Sekarang aku faham, betul-betul mengerti. Sikapmu yang dingin, acuh tak acuh dan tak peduli. Adalah caramu untuk menghargai seorang wanita yang telah dijodohkan denganmu.
Karena sekarang ada hati yang harus kamu jaga, seseorang yang telah diikat bersamamu.
Walau tak lagi bersua lewat sosmed, aku akan selalu berkirim pesan lewat untaian doa di sepertiga malam.
__ADS_1
“Semoga kamu selalu sehat dan baik-baik saja.”