
Deg!
Jantungku terkesiap terkejut, persis seperti aku dahulu saat menyukai kak Nathan.
“Ini bahaya! jangan sampai Elvina mencintai pria itu secara berlebihan,” tutur batinku.
“Teh!”
Seruan Elvina memanggilku menyadarkan fokusku. “Kenapa, Teh? apa Teteh udah mau cerita?” Elvina tersenyum dengan sebuah kertas yang masih dijembrengnya.
Aku mendesah, “Baiklah! Teteh akan cerita sama kamu,” tuturku kembali duduk di atas kasur. Elvina pun berjalan menghampiriku sambil cengengesan.
“Jadi ...” ucapnya saat sudah dekat dan ikut duduk di sampingku.
“Ya, surat itu dari cowok yang kamu lihat saat kita antar kue—”
“Serius! terus-terus ....”
Adikku semakin antusias, aku menilik surat yang masih dalam genggaman Elvina. Aku pun tak lagi berniat untuk merebutnya.
“Terus dia itu anak kepsek di sekolahan Teteh dan murid di sekolah sebelah—”
“Jadi Teteh sama kakak itu gak satu alumni?”
Aku menggeleng dan menjawab, “Nggak!”
“Lalu-lalu, setelah itu Teteh jadian sama dia?”
“Gak! tapi gak lama setelah itu, iya!”
“Ceritain secara detail dong kenapa kalian bisa jadian?”
Aku pun berkisah tentang pemilik surat cinta itu dan memberitahu namanya pula.
“Tunggu-tunggu! namanya ... Firuz!”
Ujarnya terkejut, sama seperti aku dan Mira saat pertama kali tahu namanya. Tawa yang tertahan itupun, dulu aku juga melakukannya saat berkenalan dengan Firuz.
“Iya, namanya Firuz ... mau lanjut apa ketawa dulu?”
“Lanjut, Teh, lanjut!” ujarnya yang masih menahan tawa.
Aku kembali berkisah, dari akhir perkenalan dan Firuz memiliki nomorku dari Mira. Pesan pertamanya yang dulu ku abaikan, hingga sampai finish di mana saat Firuz mengutarakan cintanya di hari kelulusan.
“... pada hari itu juga aku menerimanya dan kami jadian—”
“Serius?! kok gak bilang apa-apa sama ElVina, itukan udah dua tahun lalu ya gak sih?”
__ADS_1
“Ya, udah dua tahun lalu. Kami juga udah putus dua tahun lalu ju—”
Dua huruf ’ga’ tertelan saat Elvina langsung menukasnya, “Apa!”
“Jadi Teteh sama dia gak lama pacarannya?” lanjutnya, “Aku kira bakal bertahun-tahun langgeng kayak yang lain gitu,” imbuhnya kembali.
“Saat itu Teteh cuma lagi khilaf dan langsung putus pas udah sadar.”
“Dia melet, Teh Putri!”
“Nggak! bukan sadar yang begitu, tapi sadar kalau pacaran itu gak ada dalam islam dan ....”
“Dalam hadist riwayat Ibnu Majah di katakan, kami tidak melihat solusi bagi sepasang insan yang saling jatuh cinta selain menikah,” terangku pada Elvina menegaskan kalimat menikah.
Jelas sekali bukan? tidak ada kata 'pacaran' melainkan 'menikah' adalah obat yang paling mujarab bagi kedua insan yang tengah dimabuk asmara.
Aku melanjutkan ucapanku, “Allah tidak akan melarang sesuatu tanpa adanya solusi. Dan solusinya adalah ....”
Elvina membalas, “Menikah!”
Aku tersenyum dan berkata, “Betul!”
“Dan, ini dia solusinya ... ‘barangsiapa diantara kalian yang mampu (al-baa’ah) maka menikahlah, karena sesungguhnya pernikahan lebih menundukkan pandangan, dan lebih menjaga ********, dan barangsiapa yang tidak mampu maka hendaknya ia berpuasa, karena puasa menjadi perisainya’ hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim.”
Kembali lagi pada hadist kedua, kata 'pacaran' pun gak ada. Hanya ada sebuah perintah untuk berpuasa jikalau kita belum mampu untuk menikah, dengan puasa sebagai tameng agar kita senantiasa bisa menahan hawa nafsu.
“Adikku Sayang, kamu ngikut mereka apa Rasulullah?” Aku tersenyum.
“Rasulullah,” jawabnya.
“Hadits yang kamu dengar tadi bersumber dari siapa?”
“Rasulullah shollallahu'alayhi wa sallam,” jawabnya lagi.
“Itu kamu tahu!” Aku tersenyum dan kembali berkata, “Vin! yang harus kamu tahu, tidak ada yang namanya pacaran syar'i yang ada hijab syar'i seperti kamu ini. Kamu berhijab sesuai dengan syari'at, bertudung labuh menutupi seluruh tubuhmu.”
“Lalu ... kenapa Teh Putri gak memakai hijab sepertiku?”
Aku tersenyum dan menjawab, “Apa hijab Teteh salah?” tanyaku menunjukkan kain yang menutupi perhiasanku.
Elvina menggeleng. Kali ini yang adikku lihat ialah sebuah tudung nan labuh menutupi dada. Meski tak sepanjang jilbab nang Elvina kenakan, yang hampir menenggelamkan tangannya.
“Teh Putri kenapa gak pakai hijab seperti ini aja setiap hari?” tanya Elvina menatap khimarku.
“Namanya manusia, yang iman nya kadang naik turun. Kamu sebagai adik Teteh, do'akan terus ya semoga Teteh selalu istiqomah.”
“Aamiin ....”
__ADS_1
“Bantu dan selalu ingatin juga ya!” Aku tersenyum dan dibalas oleh adikku, “InSyaa Allah,” jawabnya tersenyum balik.
“Ermmm ... ngomong-ngomong, aku merasa kalau Teh Putri lagi nasehatin Elvina deh!”
Aku tertawa kecil dan berujar, “Berarti kalau gitu ... adikku yang manis ini lagi jatuh cinta ya?” godaku memanjangkan kata 'ya' nya.
“Ng ... nggak jatuh cinta sih ... cuma ....”
Ucapnya berhenti ditengah-tengah. “Kamu udah dewasa, bukan lagi anak kecil. Teteh tahu, kamu juga pasti paham betul dari makna surah Al Isra' ayat tiga puluh dua,” tuturku.
“Tapi aku sama dia, kan gak pacaran yang kayak gitu!”
“Yang kayak gitu gimana? pegangan tangan, ingatin sholat—”
“Ya, cuma itu doang gak ada pembahasan la—”
“Yakin?” tanyaku dan langsung direspon oleh Elvina namun aku menyergah kalimatnya, “Apa gak cukup, seruan Adzan dengan speaker masjid untuk mengingatkan kita sholat? setuli apa telinga ini?”
“Hubungan jauh tak menjamin kita bisa lolos dari dosa. Kamu anak pesantren, kamu lebih faham daripada Teteh, zina, bukan kata yang sesederhana itu.”
Ungkapku kembali dan Elvina masih setia mendengarkan celotehku dengan posisi yang wajahnya entah mentap lantai atau kuku jarinya nang hampir memanjang.
Elvina sibuk memainkan kuku-kukunya sambil termenung.
“Memang benar, zina itu ada banyak, tidak hanya yang berhubungan badan. Itu salah satu intinya, sedangkan hal-hal kecil pun bisa mendatangkan pada zina, seperti ....”
“Pegangan tangan, aku dengan dia memang jauh dari itu karena komunikasi kita yang hanya sebatas internet. Tapi ... apakah kami sudah aman?”
“Tidak! setiap kali aku berkirim pesan dengannya, memandangi fotonya, berimajinasi dengan suka cita memunculkan bayangan tentang kami yang bebas bersua tanpa penghalang.”
“Bukankah semua itu juga dosa? astaghfirullah ... ya Robb, ampunilah aku karena telah melampaui batas.“
Untuk sekian menit seperdetik, Elvina masih diam membisu. Kuku jarinya pun menjadi pendek walau tak terpotong dengan rapih, karena Elvina menggunakan jarinya bukan gunting kuku.
Aku yang masih duduk di sampingnya tanpa beranjak sesenti pun cuma bisa menunggui adikku. Posisi seperti inikan bisa menjadi kesempatan syaithon untuk merasuki.
Na'udzubillah ... astaghfirullah, apa yang kupikirkan.
Aku tersentak dari prasangka burukku dan menghentikan keheningan ini. “Vin!” panggilku namun tak ada jawab darinya.
“Elvina?!” Aku memeanggilnya untuk kedua kali, telapak tanganku pun singgah pada bahu kanannya. Elvina melengos ke arahku. “Kenapa, Teh?” ucapnya.
“Bukan Teteh, tapi kamu.”
Elvina tampak kebingungan, jelas sekali dari raut wajahnya itu, aku tersenyum. “Kamu tuh kenapa? kok tiba-tiba malah bengong.”
“Oh ... Elvina cuma lagi meresapi kata-kata yang Teh Putri jabarkan.Sekarang Elvina sadar dan mulai saat ini, Elvina akan jaga jarak dengan ikhwan sekalipun di sosial media,” tekadnya dengan smile terukir di wajahnya.
__ADS_1