Trapped In Past Love

Trapped In Past Love
(Chapter 11) Kembali Menjadi Asing


__ADS_3

Hampir satu jam kita berkendara, alhamdulillah sebentar lagi sampai di Ponpes Hikmah Darussalam. Dan hanya setengah jaman jaraknya dari sekolahku.


“Sekolahan Putri hari pekan ramai juga, ya?” tutur papa menengok sekolahan puterinya di balik jendela depan mobil yang terus melaju.


“Iya, Pah. Ngomong-ngomong kenapa anak kita gak ada yang ikut ekskul ya?” ucap mama yang ikut menoleh memandang sekolah tersebut lewat jendela belakang mobil.


“Kalau Elvin pasti susah nak ikut juga, kan di pondok banyak kegiatannya, gak ada masa buat ekskul,” jelas papa.


“Kalau Putri, Mama tahu sendirilah anak itu sejak SMP emang sangat tertutup, untung saja sekarang dia udah punya teman,” imbuh papa beraut cemas namun perlahan pudar ketika teringat Lucy, sahabat puterinya.


“Iya, Pah, alhamdulillah. Mama juga gak ngerti, padahal waktu SD dia ceria banget. Sekarang malah lebih pendiam dan pemalu melebihi Elvin,” rengut mama yang masih belum lepas dari wajahnya.


“Apa kalian gak coba tanya ke Putri?” ucap paman Hanz ikut nimbrung sambil fokus menyetir.


“Kita udah tanya, Kak. Tapi Putri selalu bilang gak ada apa-apa, mungkin karena bertambah usia rasa malunya gak semasa kanak-kanak dulu, gitu kata Putri,” ungkap papa di penuhi kebimbangan, gelisah dan khawatir.


“Iya Kakak Ipar, sama aku juga gitu. Kita juga baru sadar saat hari kelulusannya.” Mama tertunduk, tanpa sadar air matanya berlinang jatuh menimpa tangan di pangkuannya.


Paman Hanz, hanya menyimak apa yang di terangkan oleh papa dan mama. Sedangkan seseorang yang tengah di ghibahi tak tahu-menahu dan malah asik bersholawat sendirian.


...***...


Alhamdulillah, setelah melewati sekolahku, kini kita sudah sampai di gerbang pondok pesantren. Kita pun segera pergi menuju aula untuk menunggu Elvina.


Selang beberapa menit, Elvina datang bersama temannya dan menghampiri kita di aula menunggu. Yang memang tempat ini disediakan khusus bagi keluarga saat menjenguk anak-anaknya di ponpes.


“Gimana kabarmu, Nak? gak makan sembarangan, kan?” serbu mama pada adikku yang baru sampai beberapa detik.


“Alhamdulillah, Mah. Vina sehat wal afiat,” tuturnya sambil berkeliling salaman dengan papa, aku, dan paman.


“Vina juga gak makan sembarangan kok, sesuai amanah Mama,” sambungnya tersenyum manis.


Kita bercengkrama, bersenda gurau dengan hangat selama beberapa jam. Sampai akhirnya bel mengaji berbunyi.


“Oh, udah bel tuh, Vin.”


“Iya, Teh.”


“Kalau gitu kamu lekaslah masuk,” titah papah.


“Bawa ini, dan jangan lupa bagi sama teman-teman sekamarmu,” imbuhnya memberikan sekantung snack yang kita beli sewaktu perjalanan kemari.


Ba'da Vina bersalaman dan masuk, kita juga langsung cus pergi kembali menuju rumah. Kali ini mama naik motor bersamaku, katanya ingin merasakan angin sepoi-sepoi.


Tiada menduga sudah 2 minggu, orang yang aku tunggu dan nantikan kesehatannya kembali menegur lewat instagram.


Entah mengapa, aku merasa ia sangat berubah. Jauh lebih dingin dan cuek. Betul-betul-betul seperti orang asing bagiku.


Semua pesanku hanya di read, kecuali saat aku bertanya tentang kabarnya, ia hanya membalas sebatas itu.


Pukul 07:45 hari Ahad. Aku menengok akun CR itu tengah aktif. Aku ragu untuk chat, tapi aku benar-benar ingin tahu siapa di balik akun itu.


“Assalamu'alaikum, ini kak Nathan bukan?”

__ADS_1


📱“Iya.”


Lama tak bersapa dengannya membuatku kembali di titik awal, saat aku belum mengenalmu.


“Aku rindu setiap detik yang kita habiskan. Apa kamu juga sama?” desus batinku.


“Kakak apa kabarnya?”


📱“Alhamdulillah baik.”


“Alhamdulillah, akhirnya kamu telah sembuh dan baik-baik saja. Syukron ya Robb, atas terkabulnya doa ini.” Syukurku dalam hati.


“Syukur alhamdulillah, akun Kakak yang itu udah gak aktif lagi, ya?”


📱“Iya.”


Gak ada pesan lagi. Aku terus mengetik namun kuhapus lagi. Aku mengulangi memilih kata, tapi aku delete jua.


Sampai akhirnya kuputuskan untuk mengirim pesan tanya, agar chat ini tidak terputus sampai sini.


“Boleh nanya gak, Kak?” [pesan terkirim, pukul 08:30]


📱“Boleh.”


Membaca pesanmu yang singkat membuatku segan untuk bersapa, apalagi bertanya. Tapi, banyak pertanyaan yang menumpuk dalam pikiran.


“Akun ini punya Kak Nathan?”


Pesanku telah dilihat, tapi belum ada tanda-tanda sedang mengetik. Selang beberapa menit ia mulai mengetik.


Ting! [pesan masuk, pukul 08:41]


📱“Bukan, dia minta tolong aku untuk buatkan. Jadi aku buatkan akun ini, dia bilang terserah mau pakai nama apa aja.”


Sebuah nama seperti pasangan? sungguh? aku masih buta atau memang orangnya gak peka? yang aku tahu, aku hanya percaya dengan segala kalimatnya.


Aku menahan gejolak di dadaku karena cemburu pada gadis itu. Seseorang yang berjalan melampauiku.


Gadis yang sangat cantik, bukan karena wajahnya. Aku bahkan tak menemukan satu fotopun tenang dirinya. Benar-benar tersembunyi.


Jika dia satu pondok denganmu, maka itu berarti ia sungguh sempurna. Tak hanya cantik, baik agamanya, juga sempurna dalam menutup aurat.


Jauh berbeda denganku. Aku hanya anak rumahan, meski berhijab tapi aku bukan santri. Hijabku karena janjiku pada Robbku.


Keesokan harinya, aku berangkat ke sekolah seperti biasa. Hari ini seragam putih abu, lengkap dengan segala atributnya, topi dan dasi.


...***...


Saat aku tengah berada di bawah tangga, seorang siswi menyapaku. Kemudian disambut 2 orang siswi menyapa kita, saat sudah di depan kelas Fisika.


“Hai, Put! tumben kamu sama Nia berangkat bareng?” tukas Lucy menyapaku dan Nia.


“Iya, kamu yang jemput Nia, ya?” sergah Mira dengan prasangkanya.

__ADS_1


“Nggak kok, tadi pas di bawah tangga kita papasan. Makanya bareng,” jelasku berjalan menghampiri Mira dan Lucy.


“Dengerin, tuh!” tukas Nia menyembur Mira yang sok tahu bulat.


“Ya kali aja kamu maksa Putri buat jemput?”


“Emangnya aku kamu!” Nia masuk ke dalam kelas, dan menaruhnya di meja baris ke dua dekat jendela luar kelas.


“Tapi aku jarang kok! ya gak, Put?” debat Mira menoleh ke arahku.


“Iya.”


“Tuh!” sergah Mira.


“Jarang kok seminggu ada lima kali,” cemooh Nia dari dalam kelas.


“Hahaha.”


Lucy tertawa mendengarnya, sedangkan aku hanya tersenyum dan Mira tampak malu-malu kucing, menggaruk-garuk kepalanya.


Teng tong! teng tong!


Karena bel masuk juga usai berbunyi, kita langsung melaju ke kelas. Dengan tas ransel yang masih aku gendong sedari tadi.


Pelajaran hari ini hanya 3 guru yang hadir. Waktu pun beredar amat acap, laksana flash sale shopee serba seribuan.


...***...


Aku tengah mengerjakan tugas rumah dari sekolah, tapi sangat sulit sekali sampai tak kutemukan jalan keluarnya.


Aku menatap benda kerdil mungil mini dan cekak itu. Sangat hening, tak ada pesan ataupun pemberitahuan masuk.


Tubuhku bangkit berdiri, kini mulai melangkah mendekat. Tanganku menjulur, meraih benda itu yang berbaring dengan nyaman di kasur hello kittyku.


Ku sentuh sidik jari di belakang tubuhnya, layar itu menyala. Sebuah walpaper kucing yang ramai ditemukan di toko mbah google.


Waktu menunjukkan pukul 17:05 WIB.


Dari sekian banyak ikon yang tersedia, cuma satu yang masuk kedalam lensaku. Aku membukanya, tampak sepi sekali.


Hanya ada postingan dan pemberitahuan seseorang telah menlove story dan reelku.


Saatku sentuh kembali, tampak satu pesan di sudut ikon yang bergambar pesawat terbang.


Aku menyentuhnya, dan terbukalah sebuah pesan terpampang di peringkat atas. Batinku sedikit kecewa, karena pesan itu sebentuk promosi.


'Belum menemukan tempat untuk bulan madu anda? di loe gue aja! di jamin pasti aman, murah, dan terpercaya! kami juga menyediakan hak istimewa buat para VVIP kami! kuy tunggu apa lagi! buruan hubungi loe gue sebelum penuh!'


“Bulan madu apanya?! aku juga masih sekolah, gak butuh info ginian! aaaaakhhh!!” batinku menjerit.


“Kata-katanya gitu amat, masih pemula ya?” gumamku.


Aku dan kamu kembali menjadi asing. Sama seperti awal kita saling follow. Bahkan, dulu lebih berkesan dibanding saat ini.

__ADS_1


__ADS_2