Trapped In Past Love

Trapped In Past Love
(Chapter 19) Tamu


__ADS_3

Beberapa menit berlalu, kedua orangtuaku telah sampai di ponpes Elvina, adikku. Pondok Pesantren Hikmah Darussalam.


Saat papa sedang memarkirkan motornya, dari kejauhan tampak dua santri wati berjalan beriringan menghampiri mama dan papa.


Kedua santriyah itu memiliki tinggi yang sejajar, keduanya sama-sama berhijab hitam dan bersarung batik. Yang membedakan hanya dari warna sang baju.


Saat sudah dekat, rupanya yang baju bercorak putih itu adalah Elvina, putri bungsu mama dan papa juga adikku. Dan disebelahnya adalah teman sekamar Elvina, namanya Raudhoh.


Raudhoh memiliki senyum yang manis seperti Elvina, dia berasal dari Bandung. Meski berteman dekat di ponpes, Elvina dan Raudhoh beda sekolah.


Raudhoh memilih sekolah menengah pertamanya di MTS Hikmah Darussalam. Karena tak perlu berkendara, dan saat istirahat pun bisa balik kekamar untuk leyeh-leyeh beberapa menit.


“Assalamu'alaikum.” Elvina dan Raudhoh bersalaman sama mama dan papa. Tahulah salamannya anak santri kalau sama yang bukan mahromnya.


“Wa'alaikumussalam.”


“Mah, Pah, teh Putri gak ikut?” Elvina celingak-celinguk.


“Nggak, katanya lagi sakit perut karena menstruasi.”


Mama memberikan sebuah kantung keresek yang isinya setelan rok batik.


“Ini pesanan yang kamu titip kemarin sama teh Putri,” imbuh mama.


“Terimakasih, Mah!” Adikku mengambil kantung keresek itu.


Sementara itu diwaktu yang sama, aku merintih kesakitan. Mata yang sudah terpejam tapi tak bisa tidur sama sekali. Akupun bangkit dan mencomot ponsel yang tergeletak di atas laci.


Tanpa sadar aku login ke Instagram. Deg! mataku membeku saat story akun nathfarasyy__ membulat dalam penglihatanku.



Aku penasaran, tapi juga gak berani nak tengok. Pelan tapi pasti, kusentuh bulatan itu dan ternyata ....



“Oh, hanya foto bersama kawannya,” gumamku.


Aku bengong, puzzle masa itu kembali tersusun satu persatu. Hari dimana aku mengeluh tentang sikapmu yang berubah menjadi Kutub Selatan, sangat dingin sehingga tak ada yang berani menetap.


Kamu yang cuek membuatku putus asa, sedangkan tak ada tempat untukku selain sepupumu—Gilang Anggara yang tahu tentang keberadaanku, bukan sebagai Cyra tapi Putri.


“Kak Gilang tahu gak? kenapa kak Nathan jadi makin cuek gitu?”


📱“Aku juga gak tahu kenapa dia begitu.”


“Kalau memang dia udah gak suka kenapa cuma menghindari pesanku? kenapa gak bilang langsung saja sehingga aku bisa berhenti ganggu dia.”


Sepertinya aku memang telah dibutakan oleh yang namanya CINTA. Aku kembali mengeluarkan unek-unekku lewat pesan.


“Andai aku bisa cuek dan dingin sepertinya, tapi aku gak bisa cuek dan sedingin dia. Kenapa Kak? aku capek diginiin sama dia, tapi aku juga gak bisa menghilangkan perasaan ini.”

__ADS_1


📱“Kamu yang sabar ya, dia kayak gitu pasti punya alasannya.”


“Terus kalau gitu alasannya apa?”


📱“Maaf ya, aku juga gak tahu.”


Memang sungguh kekanak-kanakan bukan? jelas-jelas dia sudah tak menginginkanmu, tapi kamu kekeh mendekatinya.


Mengapa cintamu begitu besar? sehingga kode sekeras dan sebesar itu tak bisa kamu lihat? apa cintamu membuat mata hatimu ikut buta?


Impresi ingatan tuntas.


Tok!


Tok!


Tok!


Suara ketukan pintu membuatku terlonjak kaget dan sadar dari lamunan. Aku menyingkirkan bantal dan guling yang menindihi perutku.


Aku bangkit dengan tangan terus memegangi perut. Pelan-pelan berjalan dari kamar menuju ruang tamu. Kini tubuhku sudah dekat dengan pintu.


Namun sebelum itu, aku membuka tirai gorden bermotif zigzag bercorak lavender, nang berpadu dengan cat tembok rona ungu terong, dengan list jendela bercorak putih.


Lanjamku melukis sosok pria yang memiliki gaya rambut two block haircut. Dengan tinggi yang hampir menyentuh pintu, serta wajah yang tak asing.


Aku mengingat-ingat siapa pria itu, “Dimana aku pernah melihatnya, ya?” pikirku dalam kalbu.


Belum usai kuberpikir, ketukan itu memecahkan konsentrasiku. Dan salam yang ia ucapkan membuatku keceplosan, dan menunjukkan bahwa ada orang didalam rumah.


“Assalamu'alaikum.”


“Aku lupa, kan mama sama papa lagi gak ada dirumah. Gimana ini ...” gumam batinku.


Setiap kali ada tamu selalu mama atau papa yang menerimanya. Sedangkan aku selalu lari karena malu. Kadang mama suka mengomeliku karena lebih milih lari tenimbang mempersilakan tamu masuk.


Aku masih diam mematung didepan pintu. Dan seseorang dibalik pintu kini tengah berujar menyampaikan maksud dan tujuannya.


“Permisi ... saya ingin mengantarkan pesanan baju bu Adira, dan sebelumnya juga sudah di SMS oleh bunda saya.”


“Oh, baju itu ya?” ucapku lirih.


Kini aku berjalan beberapa langkah dari tempatku berdiri menuju pintu. Kuncinya telahku putar dan ... cklekk! pintu sudah tak terkunci.


Sebelumnya, beberapa hari yang lalu aku dan mama memang membeli beberapa kain. Tepatnya sih mama sama papa.


Kedua orangtuaku membeli kain wolfis untuk couplean ibu-ibu pengajian, dan kaos untuk baju olahraga disekolah papa mengajar.


Dan masih ada sisa bahan bisa dijadikan satu gamis, akupun meminta sama kedua orangtuaku untuk dijadikannya setelan rok untukku. Kurang lebih seperti itu ceritanya.


Krieett!

__ADS_1


Akhirnya aku membuka pintu itu, jantungku berdegup kencang dag dig dug seperti gong ditabuh.


Aku terus menunduk tak berani mendongak apalagi menatapnya. “Wa'alaikumussalam,” jawabku kedua kali namun sangat lirih.


“Marsha?” gumamnya dalam kalbu.


“Ada apa, Mas?” tanyaku dengan mata yang terus memandangi lantai.


“Oh! ini Mbak, pesanan bu Adira sudah jadi.”


Pria itu menyerahkan beberapa paper bag, dan memberikan kelonggaran untukku. Sehingga tangan kita tak ada secuil kulit pun tersentuh.


“Maturnuwun, Mas.” Aku mengambilnya dengan sangat hati-hati.


“Sami-sami, kalau begitu saya langsung pamit pergi ya, Mbak.”


Aku mengangguk, dan iapun berbalik pergi. Akan tetapi dia kembali lalu berujar kembali.


“Oh ya! salam buat bu Adira dari bunda saya, untuk setelan roknya bonus.”


Aku tak faham, bukankah mama sudah membayar lunas? kok jadi bonus? tapi ya sudahlah, tak penting.


“Oh, nggih Mas, jazaakallahukhoyr.” Aku tersenyum walau masih tertunduk.


“Wa iyyaki. Assalamu'alaikum.”


“Wa'alaikumussalam warohmatullah.”


Bayangannya sudah lenyap dari pandangan. Aku mendongak, hanya tampak punggung yang lebar nan kokoh.


Pria itu benar-benar telah pergi meninggalkan rumah. Akupun segera masuk kedalam rumah dan mengunci kembali pintu rumah.


Aku menyimpan paper bag itu diruang tengah, tempat biasa kita sekeluarga berkumpul atau novi (nonton tivi).


Sekarang aku kembali ke kamar tidur, namun saat nayamku terkatup tiba-tiba ponselku berdenting.


Kelihatannya panggilan masuk dari WA, dan ternyata panggilan grup yang dilakukan oleh Lucy.


“Assalamu'alaikum.”


📞“Wa'alaikumussalam.”


Ketiga sahabatku menjawabnya dengan kompak dan serempak. Walau Lucy keturunan bule, tapi ia juga beragama islam seperti kita.


📞“Besok kita couplean yuk pakai batiknya,” usul Nia diseberang sana.


📞“Kamu kira besok itu acara hajatan?” cibir Mira diseberang.


📞“Hahaha ... kali ini aku setuju dengan pendapat Mira. Mending kita couplean hijabnya aja, atau warnanya,” saran Lucy. “Gimana?” imbuhnya kembali.


“Kalau aku sih ... setuju-setuju aja,” jawabku.

__ADS_1


📞“Aku juga setuju,” balas Nia dan Mira dengan kompak.


Akhirnya kita setuju dengan saran Lucy, dan kebetulan juga aku punya rok batik dengan atasannya warna hijau mint.


__ADS_2