
“Lagi ada masalah sama Firuz ya?” imbuhnya kembali.
“Gak ada kok, kita baik-baik aja. Malah gak pernah berantem,” ujarku.
“Ya iyalah orang masih baru mana ada berantem-beranteman.”
Aku bengong melamun, karena faktanya aku dengan dia tak seperti itu. Justru, kesalahpahaman adalah awal pertengkaran kita.
“Astaghfirullah ...” Aku menutup seluruh wajahku dengan kedua telapak tangan. “Lupakan dia Put! lupakan!” imbuku dalam kalbu.
Lucy mengamatiku. “Dia kenapa ya? kok tiba-tiba istighfar? jangan-jangan dia sama Firuz emang lagi marahan, cuma gak berani curhat aja?” praduganya dalam hati.
Aku bangkit dari tempatku. “Aku mau ke warung depan ya?”
“Emang kamu berani?” ejeknya.
Aku melengos. “Beranilah,” ucapku meninggi.
“Oh iya aku lupa, kosan inikan penghuninya ukhti semua,” celetuk Lucy. “Warung depan juga yang jualan anak kos sini?” lanjutnya kembali.
“Hahaha, iya ... kalau gitu aku pergi dulu ya mau jajan, kamu mau nitip gak? biar sekalian!” tawarku.
“Gak deh kalau suruh bayar mah!”
“Gratis kok, tapi satu macam saja.” Aku tersenyum.
“Hehe, oke!” Lucy menunjukan simbol yang ia buat dengan ibu jari dan telunjuknya. “Keripik singkong ya!” imbuhnya lagi.
“Iya.” Aku berjalan kearah pintu. “Assalamu'alaikum,” sambungku sambil keluar dan menutup pintu.
“Wa 'alaikumussalam,” sahutnya dari dalam.
...***...
Ketika aku telah sampai diwarung kak Nita, ada beberapa seniorku yang sedang berghibah. Namun saat kak Mala melihatku, mereka menghentikan obrolannya. “Stt ... Putri lewat tuh!” ucapnya lirih.
“Jajan, Put?” tanya kak Shelly yang ikut nimbrung dengan mereka.
“Iya Kak, mari!” balasku dengan ramah, sambil tersenyum bergilir menatap semua kakak-kakak yang tengah duduk.
Selang beberapa menit, aku telah membeli beberapa yang aku perlukan, seperti detergen dan pewangi pakaian, juga beberapa keripik singkong beda rasa.
“Ini, Put!” Memberikan sekantung keresek.
Aku menerima kantung belanjaannya. “Makasih Kak Nita!”
“Sama-sama, Put!” balasnya.
Aku berbalik sambil menyapa mereka yang masih duduk di depan warung. “Putri duluan ya Kak!”
“Iya!” sahut kak Mala dan kak Shelly tersenyum ramah padaku.
__ADS_1
Aku telah melangkah beberapa langkah, dan mereka mulai mendesus kembali. Langkahku sempat terhenti karena ucapan mereka.
“Sok alim banget, bilangnya bukan pacar tapi minta dikenalin ngakunya gak dekat,” rutuk kak Mala dengan rambut terkuncir dan kaos warna hijaunya.
“He—eh! gak dekat kok masuknya barengan,” sahut salah satu kakak tingkat lagi yang sejurusan denganku.
“Udahlah, mungkin emang mereka gak dekat dan baru kenalan. Kata kalian ... kalian juga, kan gak nungguin Putri, dan milih duluan ke kelas.”
“Tapi ya gak gitu jugalah, Shel! seenggaknya kenalin kek? untuk basa basi,” ujar salah satu kakak kos yang beda kampus.
Jadi ... mereka memang lagi ngomongin aku? kayaknya tampungan pahala mereka dah penuh, makanya bagi-bagi sama aku, maa Syaa Allah.
Aku berbalik menghampiri mereka membawa senyuman. “Terimakasih banyak ya Kak atas pahalanya, assalamu'alaikum.”
Selepas kalimat itu, aku kembali berjalan menjauh dari mereka. Kakak-kakak itu tampak linglung, sedangkan yang faham hanya diam memandangku nang sudah masuk ke dalam kosan.
“Si Putri ngomong apa sih, aneh banget!”
“Aku juga gak ngerti maksudnya tuh apa? kalau dia dengar harusnya, kan marah? kok malah bilang makasih, sih?”
Kak Shelly beranjak dari tempat duduknya. “Aku pergi duluan ya, mau balik ke kamar!”
“Bareng Shel!” Kak Mala pun ikut bangkit. “Aku juga pamit ya?” lanjutnya.
“Mala sama Shelly kenapa? kok buru-buru banget?” tanya seniorku yang sejurusan.
“Mungkin mereka lupa angkat jemuran kali!” sahutnya senior beda perguruan.
Tapi aku yang pemalu dan gak pandai hanya bisa meminta maaf. Serta menjabarkan se-real mungkin, kalau aku memang gak akrab dengannya.
“Put! kok kamu malah diam aja sih?” tanya kak Mala.
“Maaf ya, Kak, aku emang gak dekat sama dia.”
“Gak dekat juga gak apa-apa, kan kalian udah saling kenalan,” ujar salah satu seniorku lagi.
“Tapi Kak—”
“Ih pelit banget sih! apa sesusah itu ngomong, temanku ada yang mau kenalan, gitu!” ucapnya lagi.
“....”
“Udahlah yuk Mala! kita aja yang kenalan sendiri.” Dia menarik tangan kak Mala, dan meninggalkanku duduk sendirian dikantin.
“Kamu gila ya? emang kamu berani gitu, samaperin dia?” tanyanya.
“Hehe ... gak berani sih, nanti dia ngira kita sok akrab lagi!”
“Ya udah kalau gitu kita balik lagi aja, kasian Putri jadi sendiri,” tutur kak Mala.
“Udahlah biarin aja, aku gak suka sama si Putri. Walaupun pendiam, gak sependiam gitu juga kali!”
__ADS_1
Impresi tamat.
Balik lagi ke masa sekarang, aku telah sampai dikamar kosku. Saat aku dan Lucy tengah ngobrol, seseorang dibalik pintu mengucapkan salam sambil mengetuk nya tiga kali.
“Assalamu'alaikum ... Put! Putri!
Tok!
Tok!
Tok!
“Siapa itu, Put?” tanya Lucy yang masih memakan cemiliannya.
“Gak tahu, tapi dari suaranya sih kayaknya kak Sehlly. Aku buka dulu ya?” Aku beranjak bangkit dari dudukku.
“Wa 'alaikumussalam,” jawabku membukakan pintu. “Kak Mala? Kak Shelly? ada apa ya?” sambung ku.
“Kita bisa bicara sebentar gak?” tanya kak Shelly menarik tanganku keluar.
“Bisa, Kak!”
Aku menurut mengikuti kak Mala dan kak Shelly ke kamar kosnya, karena mereka satu kamar juga. Hanya berjarak satu kamar dengan kamarku, hingga kita pun telah sampai di kamar mereka.
“Kakak-Kakak mau ngomong apa ya?” tanyaku yang masih tak mengerti kedatangan mereka.
“Put ... aku minta maaf ya soal yang tadi!”
“Tadi? ... oh! yang ngomongin aku dibelakang itu ya?” gumam batinku.
“Aku juga ya, Put! aku benar-benar minta maaf banget sama kamu, karena udah keterlaluan ngataian kamu sok alim,” ungkap kak Mala tertunduk menatap lantai.
“Iya gak apa-apa Kak. Perkataan Kak Mala juga gak salah kok.” Aku meraih tangan mereka berdua.
“Terimakasih ya Kak Shelly, karena Kakak masih membelaku dari sudut pandang Kakak yang lain!” imbuhku tersenyum.
“Meski aku berhijab, menutup aurat. Tapi aku masih sama seperti kebanyakan wanita yang suka lalai, karena sulitnya mengendalikan lisan. Hanya saja ... hari ini Allah menutupi semua aibku,” lanjut ku kembali.
“Jadi ... kamu maafin kita, Put?”
Tanya kak Mala. Aku membalasnya dengan anggukan juga sebuah senyuman. Mereka langsung mendekap erat diriku.
Terimakasih yaa Robb, karena engkau telah menurunkan hidayahmu, sehingga mereka mengetahui letak dosa akibat membicarakan saudarinya.
_________________________________________
Dalam Al Qur'an Allah telah berfirman, “... janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya ....”
(Qs. Al-Hujurat [49] ayat 12)
Dari Abu Barzah Al Aslami, ia berkata: Rasulullah Shollallahu 'Alayhi wasallam bersabda : “Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya namun keimanannya belum masuk ke dalam hatinya, janganlah kalian mengumpat seorang muslim dan jangan pula mencari-cari kesalahannya. Sebab siapa saja yang mencari-cari kesalahan mereka, maka Allah akan mencari-cari kesalahannya. Maka siapa saja yang Allah telah mencari-cari kesalahanya, Allah tetap akan menampakkan kesalahannya meskipun ia ada di dalam rumahnya.” (HR. Abu Dawud)
__ADS_1
Dari Jabir bin Abdillah berkata, Rasulullah Shollallahu 'Alayhi Wasallam bersabda: “Hati-hatilah kamu dari ghibah, karena sesungguhnya ghibah itu lebih berat daripada berzina.” Mereka berkata: “Bagaimana bisa ghibah lebih berat daripada zina?” Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya orang yang berzina bila bertaubat maka Allah akan mengampuninya, sedangkan orang yang ghibah tidak akan diampuni dosanya oleh Allah, sebelum orang yang dighibahi memaafkannya.” (HR. Thabrani)