
Saat kita tengah berkenalan, justru Lucy dan Nia malah sibuk berdebat ditempat lomba untuk memakaikan make up.
Nia gadis yang agak tomboy dan gak suka pakai beginian, membuatnya selalu menolak tiap kali Lucy mengoleskan make up pada wajahnya.
Melihat Nia gak bisa anteng berhasil bikin Lucy menjadi murka. “Jangan banyak gerak dong, Nia! nanti hasil make up ku bisa berantakan,” rengeknya.
“Kamu juga aneh, kenapa gak minta Putri atau Mira aja sih!” seru Nia sirap hati pada Lucy.
“Putri juga, kan jam lombanya barengan, mana bisa aku minta bantuan dia. Kalau Mira ... gak deh, terimakasih!” balasnya bermuka masam.
“Kalian masih ribut gara-gara Jhoo lagi?” tutur Nia menduga-duga.
“Ck! dasar peramal Fisika!” ledek Lucy karena gak suka dengan Nia yang sukses menerka.
...***...
Selama kurang lebih 30 menit, kita sudah berkumpul kembali dan tengah berdiri ditengah-tengah kerumunan menyaksikan fashion show yang ada dilapangan.
Aku sangat enggan berdesakan seperti ini, karena bisa saja nanti malah gak sengaja bersentuhan dengan Kaum Adam. Untung saja saat ini depan belakang sampingku semuanya ukhti.
“Itu, kan si Firuz?” celetuk Mira.
Mataku mengekor kearah penglihatan Mira memandang.
“Virus?” tanya Lucy tergemap bingung oleh perkataannya.
“Bukan Virus tapi Firuz, pakai F bukan V dan akhirannya Z bukan S.” Mira menjelaskan dengan rinci.
“Yaelah detail banget sih.”
“Emang si Firuz-Firuz ini anak baru ya?”
Tanya Nia yang pandangannya fokus pada siswa/i nang tengah memperagakan busana pilihan mereka.
Sementara itu Mira sedang sibuk bertukar pesan dengan Jhoo, pacarnya.
“Bukan ... dia itu cowok yang ngirim surat ke Putri,” singkapnya.
“Apa?!” sergah Lucy, Nia dengan kompak serempak.
Kini nayam mereka sibuk mencari pria yang bernama Firuz. Dan ... ya! lensa mata kedua temanku menangkap Firuz yang wajahnya sudah terekam dalam memori mereka.
Sebab, tindakan Firuz yang memberi kesan mendalam dalam ingatan teman-temanku membikin mereka gak bisa move on dari sosoknya.
Pria yang memiliki wajah rectangle dengan alis tajam pekat, mencetak penampilannya kian memikat.
Ia juga memiliki hidung yang mancung serta bibir nang tipis, ditambah thai lalat di dagu kanannya, membuat ia semakin terlihat manis baik saat diam maupun tersenyum.
“Kalau dilihat-lihat dia lumayan tampan juga ya?” tutur Nia yang pandangannya tak bisa lepas dari Firuz.
Aku dan Lucy saling bertukar pandang, kita sama-sama tak mengerti maksud Nia. Sepertinya ia telah terpikat oleh pesonanya Firuz.
“Kamu naksir sama Firuz, Nia?” tanya Mira.
“Nggak ...” Pandangan Nia berpindah menatapku. “Cuma sayang aja kalau wajah seperti itu kamu anggurin.”
“Hah?” Aku terkejut tak mengerti.
Mira menukas, “Putri itu gak kayak kamu, dia lebih suka cowok yang alim dan sholih.”
__ADS_1
“Iya, kan Put!” imbuhnya.
“Hahaha ... jangan sotoy, Mir! siapa tahu diam-diam tipikal cowok Putri kayak Firuz atau Fakri.”
“Lah! itu mah sama aja gak ada bedanya. Mereka berdua, kan sama-sama model.”
“Mulai sotoy lagi nih si Mira,” olok Nia.
“Bukan sotoy, tapi fakta! kalau gak percaya tanya aja sama Putri.”
“Put!” Nia menatapku.
“Iya, benar ... dia emang model.”
Saat kita ngobrol dengan Firuz, ia juga memperkenalkan dirinya. Dan pernyataan dirinya kalau dia memang bukan murid sini, juga alasan kenapa Firuz bisa masuk kesekolahan ini.
“Kamu anak IPS apa Fisika?”
“IPS.”
“Sama dong kayak Putri.”
“Iya, aku tahu.” Ia tersenyum padaku.
Ekor mataku melihat ia memandangku terus. Aku melirik, ia kembali mengalihkan pandangannya dan menatap lawan bicaranya.
“Kamu murid sini, kan?”
“Hoho ... bukan, aku dari SMK Citra Nusa Jaya.”
“Oh! jadi kamu benaran bukan murid sini?”
“Tapi kok waktu itu kamu bisa ada di depan kelas Putri? dan makan dikantin bareng Fakri, anak sekolah sini.”
Dia terus menatapku tanpa malu dengan kehadiran Mira yang masih memperhatikannya.
“Bukan mau sombong ya ... karena aku anaknya kepsek di sekolah ini. Satpam juga memberi ijin padaku, kalau soal Fakri kita memang temanan.”
Aku benar-benar gak nyaman ngobrol dengannya, walau Mira yang berbincang dengannya tapi kenapa kamu selalu melihat ke arahku.
“Stop liatin aku, oke?” batinku.
Sebenarnya beberapa hari yang lalu, saat Firuz datang kesekolah mereka dengan berdusta.
“Pak, tolong bukain gerbangnya dong, saya mau ketemu sama daddy.”
“Maaf, Nak Firuz, nanti pak kepsek bisa marah sama saya.”
“Ya Allah, Pak, saya benaran mau ketemu daddy, ini soal pesan mommy untuk daddy.”
“Oh, kalau gitu bentar, Bapak bukakan dulu gerbangnya.”
Satpam pun percaya dan langsung membuka gerbang untuk Firuz. Pasalnya kalau menyangkut nyokap nya Firuz berarti itu hak yang sangat penting.
Kasihan, pak satpam malah dikibulin sama Firuz. Dan hari itu juga kepsek memperingati satpam sekolah agar tidak membiarkan anak itu, alias Firuz, untuk masuk kesekolah ini dengan alasan apapun.
Sekarang balik lagi bersama Firuz, dan Mira yang masih penasaran dengannya.
“Wow! pantesan aja kamu bisa masuk kesini.”
__ADS_1
“Tapi kalau hari ini karena sekolah kalian memang sedang bermurah hati.”
“Haha ... btw, kamu pakai baju linto baro mau ikut fashion show juga?”
“Gak harus ikut sih, kan hari ini tanggal 21 April, memperingati hari Kartini? dan ... gak mungkin dong aku juga yang maco ini harus pakai kebaya seperti kalian?”
“Hahaha ... ternyata kamu orangnya cukup asik juga ya?”
“Terimakasih atas pujiannya, Nona.”
Aku menarik lengan baju Mira. “Kita ketempat Lucy aja yuk, Mir,” desusku.
“Oh!” Mira melirik kearahku. “Firuz, kita ngobrol nanti lagi ya, aku sama Putri mau lihat teman kita yang ikut lomba lainnya juga,” sambungnya.
“Oke, tapi aku boleh gak minta nomor kalian?” Sudah mengeluarkan ponselnya.
“Khusunya kamu, tuan Putri,” batin Firuz.
Mira pun memberikan nomornya, sedangkan aku nggak bisa, dan dia juga memakluminya. Selepas itupun aku dan Mira berjalan meninggalkan Firuz.
“Nanti kalian nonton peragaan busana ya! dan jangan lupa support aku!”
Mira menoleh. “Kamu mau lihat, Put?”
Aku menggeleng pelan. “Enggak.”
“Aku juga seorang model kayak Fakri, walau gak sering menerima job sepertinya.” [pesan terkirim]
Ting!
Mira membuka ponselnya ketika ada pesan masuk.
“Oh, dia model juga Put! lihat?”
Aku melihat pesan dari Firuz yang Mira tunjukkan. Dan Mira berbalik melihatnya memberi tanda 'Oke' dengan ibu jari dan telunjuk kirinya yang dibuat melingkar.
“Jadi gitu ceritanya,” terang Mira yang usai berkisah.
“Oh ternyata begitu ... kita gak sangka kalau kamu sama Putri bisa kenal sama dia.”
“Mau gimana lagi, dia yang memperkenalkan diri, dan kita juga harus perkenalkan diri juga,” sahut Mira.
“Oh, sudah giliran Fakri sama Firuz tuh!” ujar Nia.
“Kok bisa-bisanya mereka disandingkan dengan sesama model? kira-kira nanti yang dapat juara satu siapa, Firuz apa Fakri?” tanya Nia tanpa mengalihkan tatapannya dari lapangan.
“Fakri sih kayaknya,” ucap Mira yang masih belum usai membalas chatnya Jhoo.
“Kayaknya nggak deh, soalnya inikan berpasangan. Terus si Fakri yang solo dengan si Firuz yang berpasangan, pasti Firuz yang pertama dan Fakri kedua,” terang Nia berspekulasi.
“Kenapa?” tanya Lucy.
Nia pun memaparkannya dengan jelas dan mudah dipahami seperti biasanya.
“Karena, kan si Firuz dapat nilai double, pasangan Firuz pun lumayan dan cara jalannya juga udah kayak model, gak kaku dan santai gitu, terlihat banget menikmati semua mata yang mengarah padanya.”
Kita pun kembali menikmati peragaan busana pakaian tradisional itu, dan gak berasa waktupun berputar dengan kilat.
Kini sudah waktunya pulang, dan seperti kata Nia, yang peringkat pertama adalah Firuz, dari sekolah lain. Sedangkan aku dan Lucy gak masuk ketiga besar.
__ADS_1