
Beberapa bulan kemudian, aku telah berusaha untuk move on darimu selama ini, walau kadang tersemat roman wajahmu dalam riwayat ingatku.
Dihari kelulusan ini, kedua orangtuaku hadir dan alhamdulillah karena sekolahku dengan sekolah Elvina sama, membuat mama papa gak harus terbagi dua.
Aku dan sahabatku tengah berada di kelasku, dan acaranya pun masih belum mulai. Disela obrolan datang dua siswa menghampiri meja kita.
“Aku boleh pinjam tuan Putri kalian gak?” tanya pria yang memiliki wajah rectangle.
Nia yang mendengar itu melahirkan lidahnya menjadi gatal. “Wow! tuan Putri!” ejeknya.
“Boleh kok! boleh!” Mira mendorong tubuhku.
Aku tercengang terkesiap dan memalis melihat Mira. ’Aku gak mau!’ tolakku tanpa bersuara. Namun Mira hanya tersenyum pura-pura tak mengerti.
“Ayo, Tuan Putri!”
“Hah? ... oh, iya.”
Pandanganku beralih memandang pria di hadapanku yang saat ini ia telah melangkahkan kakinya. Kemudian disusul dengan aku yang mulai mengikuti langkahnya keluar dari kelas.
Sedangkan Nia dan Lucy hanya diam mematung tak mengerti. Tatapan mereka mengikuti aku dan Firuz yang sudah berada diluar kelas.
“Sejak kapan mereka jadi dekat? kalau Putri yang aku kenal dia akan langsung menolak,” dalam batin mereka.
Sementara temanku, Mira. Ia seolah-olah tahu dan bisa membaca gerak-gerik pria yang meminta ijin untuk bicara empat mata denganku.
“Kri, si Firuz mau nembak Putri, ya?” Mira menyenggol sikutnya Fakri.
“Gak tahu.”
“Udah dulu ngapa, jangan main game mulu! sana kamu juga cari cewek, kalau gak mau sama Lucy aja.”
Deg!
Lucy terkejut mendengar perkataan Mira. Ia tertunduk, berharap degupan jantungnya gak melonjak keluar.
Sedangkan Fakri ia menghentikan langkah jarinya, dan mengintai Lucy yang diam seribu bahasa. “Ck!” decaknya dengan lirih.
Mira kembali melanjutkan ucapannya, “Kalian juga udah kenal sejak SMP, kan?”
Fakri kembali fokus dengan game yang ada di ponselnya. “Gak ah, nanti si Jhoo malah murka.”
Mendengar itu wajah Mira langsung berubah. Nia dan Lucy yang melihatnya cuma bisa terlonjak kaget. Tapi Lucy jauh lebih khawatir melihat tatapan Mira, biasanya dia akan langsung koar-koar.
“Fakri idiot! kenapa sih dia itu gak pernah peka? dasar udang!” umpat Lucy dalam hatinya.
Mira berceloteh, “Tapi Jhoo itu, kan udah kenal kamu lama banget dan tahu sifat kamu kayak gimana. Jadi dia juga gak bakal murka, malah senang karena sahabat masa kecilnya berada di tangan yang tepat.” Mira tersenyum.
Jawaban Mira membuat Lucy dan Nia tampak tak percaya. Kalau Mira, sohib mereka bisa menahan amarahnya.
Nia membatin, “Syukurlah, si Mira gak meledak-ledak ... tapi gimana dengan Lucy ya?” Nia mengelih melirik kearah Lucy yang masih diam saja sedari tadi.
__ADS_1
Untuk beberapa menit, Mira masih berceloteh dan selalu ditanggapi dingin oleh Fakri. Kini Nia mulai sibuk dengan ponselnya, dan Lucy pun mulai bangkit berdiri dari tempat duduknya.
“Aku pergi dulu ya mau beli cemilan dikantin,” ujar Lucy mulai berpamitan.
Mira menengok Lucy yang sudah berjalan dari kursi meja sebelah tempat Lucy duduk tadi. “Oh! aku nitip keripik kentang ya!” tuturnya.
“Kalian?” tawar Lucy melihat Nia dan Fakri bergiliran.
“Aku minuman aja,” sahut Nia.
“Gak usah, aku juga mau cabut dari sini,” balas Fakri dengan dingin.
“Oh, ya udah kalau gitu.”
Lucy berjalan pergi meninggalkan kelas, langkahnya terhenti ketika melihatku seperti terkejut. Lucy ingin bertanya dan menawarkan, tapi ia urungkan niatnya dan pergi meninggalkan aku dan Firuz.
“Sepertinya Putri habis ditembak sama Virus-Virus itu,” gumam batinnya yang sudah melangkah jauh meninggalkan kelas.
Kemudian tak lama setelahnya, Fakri pun pergi keluar kelas meninggalkan Mira dan Nia.
Saat langkahnya sudah diluar kelas, Fakri menghiraukan Firuz temannya yang masih menanti jawaban atas pernyataan cintanya.
“Jadi, kamu mau gak jadi pacar aku?”
“Aku ....”
Apa yang harus kulakukan? aku benar-benar bingung. Semenjak dia punya nomorku beberapa bulan lalu dari Mira, kita memang kadang kala atau bahkan hampir sering bercanda lewat pesan.
📱“Aku suka banget lho sama kamu.”
“Oh, terimakasih.”
📱“Mau jadi pacarku gak?”
“Berhenti bercanda, kalau gak aku blok nomormu.”
📱“Iya—iya, gak lagi! sorry!”
History album memori tamat.
Meski dari awal aku memang berniat untuk membuka hatiku, tapi gak semudah itu. Walau selepas itu kamu hadir ditengah kegalauan dan dilemaku.
Kamu datang membawa seribu candamu, lalu menghibur hati yang tengah lara nan pilu. Membuat hatiku tergelitik tertawa, dan sejenak melupakan sosok pria yang telah merenggut seluruh hatiku.
Memang ada sedikit kenyamanan saat bersamamu. Tapi ... apa gak masalah jika aku memberikan kesempatan untuk hati yang baru?
Aku masih bengong mematung untuk beberapa menit, sampai mic speaker memecahkan lamunanku.
Firuz mendobrak keheningan diantara kita. “Kamu gak harus jawab sekarang kok, bisa kapan aja.” Ia tersenyum.
“Cewek itu ...” Aku ragu untuk bertanya, pasalnya Firuz pernah merangkai cinta bersama wanita yang satu sekolah dengannya.
__ADS_1
Aku tahu dari ceritanya sendiri, dan perempuan itu pun jadi pasangannya saat fashion show di hari Kartini beberapa bulan lalu.
“Oh, dia? aku udah gak ada hubungan apa-apa, kita udah putus beberapa hari setelah UTS usai.”
Dia memang pernah bilang begitu via chat WA, dan dia mengeluh curhat padaku kalau cewek itu masih belum bisa lepas darinya.
“Kalau gitu ... iya.”
“Iya ... apa?”
Hari ini aku membuka hatiku, entah magnet apa yang ada dalam dirinya. Hingga aku menjadi pikun dengan prinsip ku sendiri.
“Aku mau jadi pacar kamu.”
“Serius?”
Dia terlonjak melompat senang kegirangan dan refleks mau peluk, namun langsung terhenti ketika melihat aku langsung menghindar dengan gesit darinya.
Firuz tampak malu-malu dan menggaruk punggung kepalanya yang tak gatal. “Oh, sorry-sorry! aku kebawa senang jadi tanpa sadar ...”
“Iya, gak apa.”
Kendatipun sekarang kamu belum ada dalam hatiku, aku akan berusaha menerima kamu dan memberikan hatiku seiring berjalannya waktu.
Aku hanya berharap, hati yang memberi peluang untuk orang lain singgah, bisa menggantikan kedudukan orang itu dalam kalbuku.
Sementara itu, dua saksi mata yang ada didalam masih mengawasi dan mengamati kita dari balik jendela kelas.
“Sepertinya mereka resmi pacaran?”
“Iya, aku kira Putri bakal nolak dia,” tutur Mira.
Sedangkan Lucy dan Fakri gak tahu tentang moment ini, mereka tengah berada dikantin dan sedang mengantri untuk bayar cemilannya.
“Kenapa tadi kamu diam aja?”
“Apa?”
“Soal Mira yang menjodoh-jodohkan kita.”
Lucy mengabaikan kata-katanya, karena Lucy tahu, Fakri pasti sudah sadar, dia hanya berpura-pura saja. Jika Lucy angkat suara, Fakri akan terus mengabaikan setiap kata yang Lucy utarakan.
Dan kali ini, Lucy memilih diam dan gak menjawab soal Mira yang menjodohkan mereka. Karena bagi Lucy sekarang, mimpinya lebih utama daripada soal hati.
“Gak seperti kamu yang biasanya,” imbuh Fakri setelah gak ada respon dari Lucy.
Untuk beberapa menit Lucy masih membisu. “Bukannya kamu udah tahu? kenapa malah sok gak tahu dan milih pura-pura?” batinnya.
Kini ia mulai merespon kalimat Fakri dengan sebuah pertanyaan. “Lalu ... kamu juga kenapa? biasanya kamu abai, kenapa malah direspon?” Lucy membayar cemilan dan minuman yang ia beli. “Ini, Bu!”
“Ck!” Fakri berdecak, dan langsung mengambil semua cemilannya. “Sini! biar aku aja yang bawa.” Dengan dinginnya cemilan itu sudah berpindah tangan.
__ADS_1