
Aku semakin panik, tubuhku bangkit walau kakiku lemas karena rasa takut ini. Sebisa mungkin aku mengeluarkan tenaga yang tersisa untuk melarikan diri melaju ke arah pintu.
Na'as, aku tertahan olehnya. Aku memaksa tanganku untuk lolos dari cengkeramannya.
Segala puji bagi Allah, aku berhasil lolos dari cengkeramannya usai melempar ponselku tepat mengenai sebelah mata kanannya.
Melihat kesempatan ini, aku lekas segera berlari kearah pintu.
Oh tidak! mengapa pintunya terkunci! betapa bodohnya diriku, mengapa aku malah meninggalkan kuncinya di atas meja.
Aku menilik melengos, hanya tinggal tiga langkah lagi pria itu akan sampai. Aku yang panik gercap meraih benda nang dekat denganku saat ini sebagai pelindung. Dan hanya ada sebuah sapu dipojokan pintu ini.
Ketika pria itu hendak menyerang dan menangkapku, segera kuayunkan senjata satu-satunya digenggaman tanganku dengan gesit.
Grep!
Lelaki itu berhasil menangkisnya. Aku terus mengayunkan sapu itu. “Jangan ... jangan mendekat! ucapku lirih bergetar.
Perlindunganku hanya bertahan beberapa menit, ia menarik sapunya dan melempar mengenai laptop yang masih menyala hingga menjadi padam.
Aku terperangah tersentak, dalam ketakutan yang berselimut. Aku menghindari lelaki di hadapanku, tiada tempat untukku melarikan diri, aku terpojok.
Ya Allah ... tolonglah hamba, kirim lah seseorang sebagai perantara untuk menyelamatkan diriku
Entah bagaimana hidupku kedepannya, aku takkan sanggup jika hal ini terjadi untuk kesekian kalinya.
Jangan sampai ia menyentuh tubuhku ya Robb ....
Laki-laki itu menjulurkan tangannya. Suara ketukan pintu menghentikan aktifitas pria itu.
“Permisi ... paket!” pekiknya sambil terus mengetuk pintu.
Syukurlah, terimakasih ya Allah karena engkau telah menyelamatkanku kembali.
Lacrimaku semakin bercucuran deras. Suara permintaan tolongku masih serak susah nak terdengar sampai di luar.
Pria itu menatap pintu dan berdecak kesal. Kugedor pintunya sekuat tenaga, aku terus mengulang kata 'Tolong' sampai tiga kali.
Setiap katanya memiliki tinggi nada yang berbeda, aku kembali berteriak, “Tolong, Mas! tolong!” jeritku keempat kalinya lebih lantang.
Abang kurir itu menggedor-gedor pintu semakin keras. “Mbak! kenapa Mbak?! apa Anda baik-baik saja?” tanyanya.
__ADS_1
“Mbak menjauhlah dari pintu, biar saya dobrak dari luar!” sambungnya memberi perintah, tapi aku takut dengan pria di depanku ini akan melakukan hal yang lebih berbahaya.
Apalagi akupun tidak mengetahui apakah orang ini membawa benda tajam atau tidak? Namun itu lebih baik, daripada aku dinodai olehnya.
“Mbak sudah menghindar belum?!”
Pekiknya memecahkan pikiran rumitku, segera aku menyerong dan menghindar dari pintu.
Aku menilik mengamati lelaki dihadapanku. “Syukurlah, pria itu masih mematung walau mimik wajahnya terlihat panik,” gumam batinku.
Walau demikian, aku tetap was-was dengan lelaki di hadapanku yang sedari tadi mau mengambil kehormatanku.
Kalbuku masih belum tenang, deru detak jantungku masih berpacu cepat. “U—udah Mas!” pekikku.
Brakk!
Suara pintu terbuka dengan kasar dan menghantam dinding dengan kerasnya. Pria itu langsung berlari menabrak lelaki yang berhasil mendobrak pintu dengan percobaan berkali-kali.
Kini perasaan lega menyerbuku, aku terkulai dan jatuh merosot kelantai. Aku terisak memeluk kedua lututku.
“M—Mbak ... Mbak gak apa-apa, kan? pria tadi apa sudah melukai Mbak?” tanyanya dengan hati-hati dan berjongkok di tengah pintu masuk.
“Ng—nggak apa Mas ... hiks ... Terima—terimakasih sudah menyelamatkan saya,” ujarku menangis sesegukan yang masih menyembunyikan wajahku.
Benar saja! orang itu sudah tak ada, hingga suara air galon membina lanjamku beralih kearahnya. Nayamku menatap sosok pria yang sudah menolongku.
Setelah usai mengisi benda oval dengan air, pria itu berjalan menghampiriku dengan hati-hati. Saat jarak kita dekat, langkahnya terhenti. Entah apa yang sedang pria itu pikirkan aku tak tahu.
Lelaki ini duduk dengan batasan. “Ini, Mbak! minumlah dulu,” ujarnya memberikan segelas air bening.
Bukannya menerima dan mengambilnya, aku malah menatap gelas yang masih pria itu sodorkan ke arahku.
Lelaki itu meletakan gelasnya di sampingku. Akupun meraihnya dan meminum air bening itu dalam sekali tegukan sampai lupa baca basmalah.
Selang beberapa menit, akhirnya Lucy dan yang lain sudah pulang.
“Putri!” pekiknya menghampiri dan memeluk erat diriku. “Kamu apakan temanku!!” hardiknya pada pria yang telah menyelamatkanku.
“Saya gak lakuin apa-apa Mbak! justru saya juga kaget pas teman Mbak minta tolong, dan ....”
Lelaki itu menjelaskan secara detail, tak ada kalimat yang dilebih-lebihkan maupun dikurangi. Lucy yang usai mendengarnya semakin erat mendekapku. Lacrimanya jatuh, demikian juga diriku.
__ADS_1
“Maafin aku, Put! aku udah ninggalin kamu lama sendirian dikosan,” tuturnya.
“Put, maaf ya karena aku udah nahan Lucy untuk pulang. Aku gak menduga kalau akan ada kejadian seperti ini,” ujar kak Shelly dengan nada merasa bersalah sekaligus prihatin atas kondisiku.
“Ermm ... Mbak Lucy! ini paketannya gimana?”
Lucy melengos memberi ruang untukku bernafas. “Oh! maaf Mas, saya jadi lupa, total COD-nya berapa?” ucapnya.
Lelaki yang berprofesi sebagai pengantar paket itupun memberitahu nominal yang harus Lucy bayar, transaksi pun usai dan pria itu kembali melanjutkan tugasnya untuk mengantar paket yang masih tertangguh.
Keramaian di kamarku pun berangsur menyurut meninggalkan kamar kosku. Lucy memapahku untuk berdiri dan mengajakku duduk ditepi kasur.
Deg!
Aku teringat sosok pria yang hampir melecehkanku. Refleks aku langsung bangkit dan pindah ke kursi belajar.
Pandanganku meratapi nasib laptop yang sudah pecah.
Bagaimana aku harus mengirim naskahku? bab yang hampir selesai belum sempat aku simpan.
Impresi ingatan tamat.
Sejak itu, aku dan kak Mala bertukar kamar. Aku dengan kak Shelly, dan Lucy bersama kak Mala. Walau aku sudah bertahan selama sepekan, batinku benar-benar gak bisa tenang.
Akhirnya aku memutuskan untuk kembali lagi ke Jakarta. Papa dan mama tentu tahu kejadian ini, dan mereka langsung berangkat ke Bandung setelah mendapatkan kabar buruk tentang diriku.
Hanya Elvina yang belum tau, karena aku meminta agar mama dan papa jangan beritahu Elvina. Aku khawatir akan mengganggu jalan belajarnya Elvina di pesantren.
Meski jarak antara Jakarta ke Bandung gak memakan waktu seminggu, tapi karena profesi papa yang seorang guru gak bisa beliau tinggalkan.
Seperti itulah papaku, beliau sangat amanah dalam mengemban tanggung jawabnya sebagai guru. Beliau pun tak pernah absen kecuali saat sakit.
“Assalamu'alaikum,” ucap papa yang baru datang dan mama langsung memelukku.
“Wa'alaikumussalam,” jawab Lucy mewakili kita yang ada di sini.
“Nak! kamu gak apa-apa, kan? ini alasan kenapa Mama gak mau kamu tinggal seorang diri,” hardik mama padaku.
“Mah, Putri baik-baik saja kok. Allah juga telah menolong Putri!”
Ucapku mencoba membuat mama agar beliau tidak khawatir, demikian juga papa. Meski sibuk memindahkan barang-barangku ke dalam bagasi mobil, tampak jelas raut wajahnya terlihat sedih.
__ADS_1
“Jangan bohong, Nak! Mama tahu, kamu gak baik-baik saja Sayang!”
Lacrimanya turun dan kembali memelukku dengan erat. Memang benar, aku tak baik-baik saja. Hal yang pernah menimpaku saat masih disekolah dasar, kini terulang kembali di sebuah kota tempatku menimba ilmu.