Trapped In Past Love

Trapped In Past Love
(Chapter 50) Usai


__ADS_3

Apa kamu memang pernah menjalin hubungan dengannya?


Soal praduga temanmu, apa itu fakta? lalu, curhatanmu dengan sepupumu, bagaimana?


Aku benar-benar bingung. Tapi, akun yang kamu buat untuknya, itu apa? padahal dia sendiri sudah punya akun.


Bukankah, akun bersama dengan nama bersanding menjadi satu, hanya untuk para couple saja?


Banyak sekali pertanyaan yang ingin kunyatakan, tapi aku ragu dan memilih memendam semua pertanyaan ini.


“Sudah, Put. Lupain aja dia!” tekadku dalam hati sembari menguatkannya.


Lagi-lagi aku memilih lari melepaskanmu. Meninggalkanmu bersama wanita lain, kali inipun sama. Hanya saja, wanita itu pilihanmu sendiri.


Aku sendiri pun tidak mengetahui apakah aku masih ada di relung hatimu walau sedikit?


...***...


Fajar menyapa, usai berbenah membersihkan diri, seperti biasa aku pergi ke musholla kecil yang terletak di pertengahan antara ruang tamu dan keluarga.


Ash-sholâtu was-salâmu ‘alayk


Yâ imâmal mujâhidîn yâ Rosulallâh


Sholawat tarhim pun mulai terdengar, sebuah seruan sebelum adzan subuh di kumandangkan. Aku pun berjalan mendekati ruangan yang ingin kutuju.


Sesampainya di sana, aku melihat mama dan Elvina di dalam musholla. Keduanya tengah duduk berpencar, dengan tangan memegang sebuah mushaf. Aku berucap, “Assamu'alaikum.”


Mama dan Elvin melirik ke arah pintu di mana aku mulai melangkahkan kaki kananku masuk lebih dahulu. “Wa'alaikumussalaam,” balas keduanya dengan kompak dan tersenyum padaku.


“Duduk sini, Teh!” Elvina menepuk lantai di samping kanannya saat aku berjalan menghampiri.


Aku pun duduk di samping adikku, Elvina. “Udah dari tadi ya?”


“Lumayan sih ...” ucapnya kemudian melanjutkan biaranya dan melirik ke arah mama. “Gak tahu kalau mama.”


Mama memang selalu mengajarkan kita untuk senantiasa bangun di sepertiga malam. Namun tak menuntut kita untuk menunggu sampai fajar.


Akan tetapi, ketika kita terbangun di sepertiga malam terakhir, akan menjadi tanggung jika kita tidur kembali dan melanjutkan mimpi.


“Papa udah pergi ke masjid?” tanyaku.


“Udah tadi, sebelum tarhim. Mungkin cuma selang tiga menit saja,” ucap Elvina menakar waktu keberangkatan papa ke masjid.


“Stt ... jangan ngobrol,” tegur mama padaku dan Elvina.


Aku pun bangkit dan mengambil sebuah Al-Qur'an yang terletak di rak dan tak jauh dari tempat dudukku.


Kubuka surah al fatihah dan mulai melantunkannya.


Sesampainya pada ayat ke tujuh, di lafadz ghoyril magh dhuubi adzan Subuh pun berkumandang.


Allahu akbarullaahu akbar.

__ADS_1


“... ‘alayhim wadh-dhoolliin.” Kutamatkan dan mengakhirinya. “Shodaqollahul ‘adzhiim.” Al Qur'an kututup dan di letakkan kembali ketempatnya..


...***...


Beberapa jam kemudian, di meja makan. Sambil menunggu papa, mama dan Elvina, aku bermain ponsel lebih dulu.


Makanan untuk sarapan pun sudah tuntas dan berjejer di atas meja. Sedangkan yang memasak semua ini tengah pergi ke warung. Entah apa yang mama beli, aku juga hak tahu.


Sementara itu, Elvina masih bersiap-siap di kamarnya. Dan papa pun sepertinya sama, karena hari ini papa harus pergi mengajar.


Hanya ada suara denting dalam keheningan ini. Meski ada sedikit kegaduhan suara yang timbul dari arah kamarnya Elvina.


“Apalagi yang bocah itu cari? sampai membuat keributan segala,” gumamku tanpa menengok mendekati asal suara.


Sudah pasti, apalagi yang Elvina ributkan jika bukan sedang mencari ....


“Teh! minta peniti dong!” pekiknya yang masih berada di dalam kamar.


“Ambil sendiri aja,” balasku ikut teriak.


“Di mana?”


Aku meniliknya, karena Elvina tidak lagi berteriak. “Pantas saja, orangnya udah keluar kamar,” gumam batinku ketika melihat Elvina sudah berdiri di depan pintu kamarnya.


“Biasa, ada di laci paling atas.”


“Oke, terimakasih, Teh.” Elvina menutup pintunya dan berjalan ke arah kamarku.


Aku termenung, usai teleponan dengannya kemarin, tak ada lagi kata maupun ucapan diantara kita.


Saat kamu sakit, Elvira tahu sedangkan aku mungkin menjadi orang yang terakhir tahu keadaanmu. Tidak! bukan mungkin, tapi ....


“Memang yang terakhir,” ucapku dengan lirih. “Itu juga tahunya dari Elvira.”


Dan kali ini pun sama, Elvira tahu lebih dulu soal pertunangannya yang batal. Elvira juga nang hadir untuk menghibur dirinya.


Aku? tidak akan pernah tahu ketika aku memilih untuk tidak lagi hadir dalam kehidupannya.


Finish! aku menyudahi secuil keinginan untuk bisa dekat dengannya lagi.


Apa aku telah melakukan kebodohan?


Mungkin, jikalau aku memilih diam untuk tidak mengetahui kabar tentangnya. Aku takkan mengetahui status kak Nathan dan jadi berharap lagi.


Wahai hati ....


Mengapa kamu begitu mencintainya?


Tak bisakah kau musnahkan cinta itu?


Jika merasa kagum karena dia seorang hafidz qur'an. Bukankah di dunia ini, dia bukan pria satu-satunya yang menghafal al qur'an?


Apa kamu gak bisa membuka hatiku hanya untuk lelaki yang sederhana saja?

__ADS_1


Kalau memang gak bisa, kuncilah pintunya dengan rapat.


Usai itu ... sembunyikan kunci tersebut ditempat yang susah untuk ditemukan.


Puk!


Aku tersentak tertegun, ketika pundakku ditepuk oleh seseorang dari belakang.


“Teh Putri lagi ngelamunin apa sih? masih pagi gini kok bengong,” ujar Elvina dan duduk di sampingku.


“Gak bengong kok, siapa juga yang lagi melamun? nggak tuh!”


“Kalau benar gak ngelamun, kok tiba-tiba pundaknya langsung tegak gitu pas Elvin tepuk?”


“....”


“Ayo, ngaku aja deh,” desaknya.


“Apa semalam, Putri gak bisa tidur ya?” tanya Adira dalam hatinya dan terus menatap Putri dengan cemas.


Empat hari yang lalu, sebelum aku tahu kabar kak Nathan dari message insta-nya Elvira. Usai makan malam pada hari itu, aku bicara empat mata dengan mama.


“Mah!” panggilku.


“Ya?”


“Malam ini Putri mau tidur sendiri aja, Ma—”


“Apa?!” mama melengos ke samping dan menghentikan aksi cuci piringnya. “Kamu serius, Nak?”


Bagaimanapun, aku memang masih sulit untuk tidur semenjak insiden yang terjadi di kosan. Aku selalu tak nyenyak dan di bayang-bayangi seseorang yang bisa menyelinap ke kamar saat aku terlelap.


Sudah cukup untukku, peristiwa yang kualami semenjak di sekolah dasar dan pengalaman pahit saat berada di kota asing.


Aku juga gak bisa terus-terusan terjebak dalam ketakutan. Aku harus keluar dari perasaan yang gak asing namun sangat menyiksa.


Aku bertekad dan berusaha meyakinkan mama. “Iya, Mah. Lagipula beberapa hari inipun Mama udah nemenin Putri tidur. Dan kalau terus-terusan begini, Putri akan semakin sulit untuk melawan rasa takut ini.”


Mama diam tanpa meng-iya-kan keputusanku. Tak lama kemudian berselang tiga menit mama berucap, “Baiklah!” walau raut wajah mama masih was-was cemas.


Flashback selesai.


“Assalamu'alaikum.”


Seru papa yang baru hadir di meja makan dan membuat Adira tersentak sadar dari lamunannya. “Wa'alaikumussalaam.”


Aku dan Elvina menoleh, menjawab salam papa seperti yang mama ucapkan tadi.


“Teh?” Elvina berbisik dan aku pun menoleh. “Hmm, kenapa?” tanyaku.


“Tadi pas aku ambil peniti di laci atas ada ....”


Elvina belum tuntas melanjutkan ucapannya, tapi sebuah ingatan mendadak melintas ke dalam benakku.

__ADS_1


“Astaga!” batinku terkejut.


__ADS_2