
Tangisku menjadi pecah, segala kenangan buruk yang sudah aku lupakan walau masih menggoreskan luka, kini bercampur dengan luka baru, sebentuk kenangan buruk di kota nang asing.
“Mah, bawa Putri pergi dari sini!”
Pintaku memeluk erat punggung mama. Sedangkan papa dan paman Hanz masih mondar-mandir memindahi barang. Ekor mataku menangkap sosok papa nan tengah menyeka kristal bening yang jatuh.
“Putri!”
Lucy menghampiriku dan mama, ia ikut nimbrung dan berpelukan seperti kartun anak-anak.
“Tan, maafin Lucy ya karena gak bisa jagain Putri!” Lacrimanya ikut pecah, isak tangis kita menyatu.
Untuk beberapa menit dalam sebuah pelukan yang hangat ini membina kalbu kian membaik. Aku menghapus segaris air yang mengalir membuat beberapa jalan.
Nayamku menangkap semua mata penghuni kos menatapku penuh simpati, kak Mala dan kak Shelly saling menguatkan ketika melihatku.
Demikian pula dengan tante Rossa, beliau setia menyeka lacrimanya dengan selembar kertas tipis yang dilipat beberapa lipatan.
“Bu, saya benar-benar minta maaf atas apa yang menimpa anak Ibu, Putri. Saya gak tahu kalau kosan saya telah diintai beberapa hari sebelum kejadian pencurian yang berakhir—”
“Iya gak apa-apa, Bu! kalau gitu saya sama anak saya pamit pulang ya, Bu!”
Mama menukas perkataan tante Rossa yang belum tamat diucapkan. Kemudian menuntunku ke mobil yang sudah ada papa dan paman Hanz dikursi depan.
“Lucy!” panggil mama dan menghentikan langkahnya. “Kamu masuk duluan aja Sayang, Mama mau bicara dulu sama temanmu,” imbunya membiarkan aku lebih dulu masuk ke dalam.
Entah apa yang ingin mama bicarakan dengan Lucy, aku hanya berharap mama tak menghardiknya. Karena perkara inipun di luar praduga kita.
Aku menatap dari balik kaca mobil yang tertutup, Lucy yang sudah mendekati mama menundukkan kepalanya, membiarkan mama bicara terus menerus tanpa menyelanya.
“Kamu jangan khawatir, mama gak akan marah-marah sama temanmu, Lucy!” seru papa yang sepertinya memperhatikanku dari rear-vision mirror.
Aku menilik melengos menatap papa. “Iya, Pah!” Aku kembali duduk dengan tegap walau lanjamku masih memperhatikan mama yang masih belum tuntas selesai mengobrol dengan Lucy.
Selang beberapa menit, mama dan Lucy saling berpelukan. Walau tampak samar, mimik wajahnya seperti menangis. Ditambah dia menyeka pipinya dengan punggung tangan.
Usai berpelukan, mama menepuk pelan pundak Lucy dan berjalan meninggalkannya.
Aku yang masih terkesima dengan obrolan mama nan begitu rahasia dengan Lucy sahabatku membina nayamku tak melepaskan pandangan dari mana yang sudah dekat dengan mobil paman.
Mama membuka pintu mobil dan duduk di belakang bersamaku. “Kamu kenapa? kok liatin mama kayak gitu?” ujar mama menatapku.
__ADS_1
“Ha!” Aku tersentak dari lamunanku. “Oh, ng—”
“Mama cuma berterimakasih dengannya,” ucap mama. “Pasti selama kamu sekamar dengannya selalu Lucy yang memasak, kan?” sambungnya kembali.
“Hehe, iya!” Aku cengar-cengir tersipu malu dan memindahkan pandanganku.
Mobil pun telah paman Hanz lajukan, menjauh meninggalkan kosan tempatku selama tinggal di sini.
Sepertinya semua kenanganku bersama mereka di sini akan lenyap dan hanya tertinggal kenangan buruk dalam memori.
Sama halnya seperti dahulu, aku tak memiliki ingatan tentang masa kecilku. Yang kuingat hanya kejadian saat—
“Putri?!”
Mama menarik pundakku sehingga aku menoleh kearahnya. “Kamu kenapa, Nak?” lanjut mamaku bertanya.
“Eh ...” Aku melongo bengong menatap mama yang sudah berselimut kecemasan. “Aku ....”
Mama membawaku dalam pelukannya.“Sudah Sayang, jangan diingat-ingat lagi, Nak!”
Tangis isak mama membuatku sadar dan langsung menyapu lacrimaku yang sudah bercucuran sedari tadi.
Pantas saja mama terlihat cemas dan khawatir, rupanya mama melihat benda bening yang sudah memebasahi pipi tanpa seijinku.
Dalam kaca spion mobil yang tergantung, sosok papa dan paman terpantul di dalam sana, sebuah mata yang ikut berkaca-kaca walau tak memiliki suara namun terdapat kristal bening di atas sana.
...***...
Ditambah menangis yang cukup lama membuatku semakin pusing dan mual tak tertahan. Untung saja mama sudah siap membawa kantung keresek untuk jaga-jaga.
Sejuk angin yang masuk membuatku semakin membaik dan membuatku makin terlelap dalam tidurku.
Aku berharap, waktu dapat kembali menguatkanku. Album yang tak diinginkan semua wanita, semoga aku bisa lepas dari mimpi burukku.
“Put! Putri! bangun, Nak. Kita sudah sampai,” tutur mama menggoyangkan tubuhku.
Aku mengerjap-ngerjapkan lanjam, netraku mengedar keliling hingga paras mama kutangkap kembali dalam mimik wajahnya yang sendu.
“Mah! Mama kenapa?”
“Seharusnya mama yang tanya, kamu tidur atau meratapi takdir ....”
“Maksud Mama—”
Beliau menukas kalimatku yang tertangguh dengan belaian lembut jemarinya pada pipiku.
Ternyata aku kembali menangis, apa saat kutertidur alam bawah sadarku mengingat kejadian itu sehingga lacrimaku menetes?
__ADS_1
“Nak, kita sebagai orang muslim harus bisa menerima semua takdir Allah, baik itu takdir yang bagus maupun ala,” ucap papa yang masih duduk di kursi depan, sedangkan paman Hanz sudah turun.
Memang benar, sebagaimana dalam rukun iman yang terakhir—iman kepada qodha dan qodar.
Dalam Qs. Al-Ahzab/33 ayat 38 Allah berfirman : “... Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku.”
Qodha dan qodar adalah dua hal yang menjadi ketetapan Allah subhanahu wa ta'ala sejak zaman azali, atau sebelum penciptaan alam semesta.
Demikian pula dalam HR. Muslim. Rasulullah shollallahu 'alayhi wasallam bersabda : “Allah telah menetapkan takdir untuk setiap makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.”
Karena itu, kita harus mengimani bahwa kehendak Allah meliputi segala sesuatu, baik yang terjadi maupun tidak, baik berupa perkara besar ataupun kecil, baik yang tampak atau tersembunyi, baik terjadi di langit maupun di bumi.
“Iya, Put! cobalah berlapang dada, di luar sana banyak korban yang seperti kamu alami, bahkan itu terlaksana. Dan kamu masih beruntung, karena Allah telah menjaga kehormatanmu.”
Ungkap paman Hanz dengan tangan penuh barang-barangku.
Memang benar apa kata paman Hanz, aku harus bisa kembali berlapang dada dan ikhlas. Aku yakin dan percaya, bahwa semuanya terselip kebaikan untukku dibalik takdir yang telah Allah tetapkan.
“Ayo Sayang kita juga turun,” titah mama.
“Iya, Mah!”
Akupun turun, sedangkan papa dan paman Hanz masih menurunkan barang di bagasi mobilnya.
“Hari ini Mama masak semua menu kesukaanmu, kamu mau makan—”
“Putri mau langsung kekamar aja Mah.”
“Oh, ya sudah. Kamu istirahat saja, nanti kalau udah enakan langsung makan ya?”
“Iya, Mah. Assalamu'alaikum.”
“Wa'alaikumussalam.”
“Mah!” tanya papa memberi isyarat pada mama.
“Itu, katanya dia mau istirahat kekamar. Seperti Putri masih mabuk perjalanan.”
“Oh ya sudah kalau gitu biarkan dia istirhat saja.”
“Iya.”
“Adira, Imron, aku pamit pulang ya soalnya kakak ipar kalian udah nelpon terus nih.”
“Iya Kak, hati-hati ya. Terimakasih juga udah mau anterin kita jemput Putri,” seru papa.
__ADS_1
“Iya sama-sama. Assalamu'alaikum.”
“Wa'alaikumussalam warohmatullah,” jawab mama dan papa.